Januari 29, 2016

Kisah Perjalanan Paku Bumi (11), Rahasia Pesan Langit 2


Hasil gambar untuk langit dan bintang dan dewa


01/27/2016, 11:54 - Fulan: assalmualaikum wr wb.
01/27/2016, 11:54 - Fulan: gmn kbr om?��
01/27/2016, 11:54 - Fulan: om,mau konsul
01/27/2016, 11:55 - Fulan: ini kok 2 minggu ini bdan sy skit smua y
01/27/2016, 11:55 - Mas Thole: Walaikumsalam
01/27/2016, 11:55 - Mas Thole: Coba ceritain dr awal mulanya
01/27/2016, 11:55 - Fulan: kelenjar ketiak sm kaki bengkak sdh 2 minggu g membaik
01/27/2016, 11:56 - Fulan: awalnya g ada apa2 om..
01/27/2016, 11:56 - Mas Thole: Coba foto kaki yg bengkak
01/27/2016, 11:57 - Fulan: bkn kaki om,tp kelenjar d ketiak sma d selangkangan bagian kiri semua
01/27/2016, 11:58 - Fulan: sdh k dokter,kmungkinan infeksi. klo minggu dpan tdk mmbaik,mau drujuk k bedah
01/27/2016, 11:58 - Fulan: tp rasanya bagian tngan & kaki kiri sakit smua,,nyeri g ilang2..
01/27/2016, 11:58 - Mas Thole: Hmm...
01/27/2016, 11:59 - Mas Thole: Fulan siapin daun sirih...petik aja jumlah ganjil
01/27/2016, 11:59 - Fulan: sblmnya g prnah sm skali..
01/27/2016, 11:59 - Mas Thole: Rebus 3 gelas jadi satu gelas
01/27/2016, 12:00 - Mas Thole: Kalau sudah siap kasih tau om...nanti diminum
01/27/2016, 12:00 - Fulan: kok tb2 bdan sy kok g enak y om..
01/27/2016, 12:00 - Mas Thole: Gal enak saat wa om ?
01/27/2016, 12:00 - Fulan: iya..
01/27/2016, 12:01 - Mas Thole: Ya coba..siapin daun sirih tadi
01/27/2016, 12:01 - Mas Thole: Kalau nanti Fulan ada waktu nginep di bekasi..biar gak bolak balik
01/27/2016, 12:02 - Fulan: tak cari daunnya dl y om
01/27/2016, 12:03 - Mas Thole: Ya...
01/27/2016, 12:03 - Mas Thole: Nanti kasih tau kalau sudah siap
01/27/2016, 12:03 - Mas Thole: Jumlah ganjil..bisa 7 9 dst..mana yg Fulan sreg
01/27/2016, 12:22 - Fulan: sy rebus 3 gelas air & daun srih 7 om
01/27/2016, 12:23 - Mas Thole: Ya...jadiin 1 gelas
01/27/2016, 12:24 - Mas Thole: Nanti minumnya tunggu perintah om ya..
01/27/2016, 12:24 - Fulan: ya om
01/27/2016, 12:39 - Fulan: om,sdh siap airnya..
01/27/2016, 12:41 - Mas Thole: Ya siapan aja..nanti habis maghrib Fulan minum ya..
01/27/2016, 12:41 - Mas Thole: Sekarang rasanya gimana?
01/27/2016, 12:42 - Fulan: ya om
01/27/2016, 12:43 - Fulan: klo kaki tngan kiri nyeri semua..
01/27/2016, 12:43 - Mas Thole: Before sama after wa om
01/27/2016, 12:44 - Fulan: lbih g enak stlh wa om
01/27/2016, 12:44 - Mas Thole: Ya .  .biasa itu van
01/27/2016, 12:44 - Mas Thole: Nanti ashar kalau mutah Fulan jangan kaget ya
01/27/2016, 12:45 - Mas Thole: Ada apa apa jangan heran dan kaget
01/27/2016, 12:45 - Fulan: ky dl om,,ky lemes sm perut g enak
01/27/2016, 12:58 - Mas Thole: Iya ..kabuh lg
01/27/2016, 13:03 - Mas Thole: Yaya ..tunggu sampai ashar nanti
01/27/2016, 13:04 - Fulan: iya om
01/27/2016, 17:40 - Mas Thole: Tadi pas ashar mutah ga?
01/27/2016, 17:41 - Fulan: iya om,sdikit
01/27/2016, 17:41 - Mas Thole: Terus gimana rasanya skrg? Ada perubahan?
01/27/2016, 17:41 - Fulan: hbis shlt td
01/27/2016, 17:42 - Fulan: sy g bs kontrol bgian tubuh kiri sy om td
01/27/2016, 17:45 - Fulan: msh sama om
01/27/2016, 17:45 - Mas Thole: Ya krn itu bagian yg sakit kan? Tadi om kan pesen jangan kaget dan jangan heran. Jalani aja...
01/27/2016, 17:46 - Mas Thole: Tadi sempat bereaksikan? Ga bisa kontrol itu?
01/27/2016, 17:46 - Mas Thole: Ya nanti perlahan aja..stlh minum daun sihir. Jangan lupa habis sholat maghrib
01/27/2016, 17:47 - Fulan: g bs om,,wjah sy brasa yg sbelah kiri ngomong sndiri
01/27/2016, 17:47 - Mas Thole: Minum daun sihir..terus niat menghadap Allah mengembalikan semua rahsa sakit dan juga penyakit. Pahami datangnya semua penyakit dr Allah dan kembali ke Allah
01/27/2016, 20:29 - Mas Thole: Ada perubahan ga
01/27/2016, 20:47 - Fulan: td hbis mumtah tngan kiri langsung enteng om
01/27/2016, 21:06 - Mas Thole: Ya . harus kuat..tekad nya
01/27/2016, 21:06 - Mas Thole: Malam ini harus tuntas ngitungnya
01/27/2016, 22:09 - Fulan: iya pmo
01/27/2016, 22:10 - Fulan: om
01/27/2016, 22:30 - Mas Thole: Udah blm
01/27/2016, 22:32 - Fulan: msh dcoba
1/28/2016, 19:48 - Fulan: berasa capek banget,pdhl sdkit brkativitas
01/28/2016, 19:48 - Mas Thole: Ya

+++

Begitulah rangkaian salah satu kejadian. Satu demi satu para kesatria jatuh berdentam. Berguguran seperti daun-daun kering. Semangatnya terkikis seperti daun di makan ulat. Perjalanan ini begitu misteri. Sayangnya rahsa kesakitan itu sangat nyata sekali. Meluluh lantakan kesadaran mereka. Adegan demi adegan rangkaian kehidupan anak manusia yang berusaha menetapi jalan-jalan Tuhan. Menetapi kesadaran ingat Allah. Ujian dan musibah berdatangan silih berganti. Portal kesadaran rendah memasuki hati manusia yang ada penyakit, dari hati mereka muncul iri dan dengki. Muncul arogansi spiritual. Sebagaimana yang terus dikhabarkan disini. Sungguh hakekatnya manusia yang mengirimkan makhluk jejadian uantuk menyakiti saudaranya berada dalam kerugian yang besar. Berkali-kali sudah diulang-ulang disampaiakn disini. Bukannya mereka berhenti tokoh ‘anonim’ ini tanpa sadar telah mengerakan dimensi kesadaran rendah. Melalui raganya dimensi portal alam ghaib dibuka. Sesungguhnya dirinya tidak tahu apa yang dilakukannya.

Raga terkininya tidak menyadari, bahwasanya di dalam dirinya ada software otomatis hasil perjanjian ghaib para leluhur mereka yang kemudian menitis padanya. Dia mampu menggerakan dimensi alam ghaib, memerintahkan para parewangan mengikuti nafsu dirinya. Hanya dengan satu lintasan hati saja makhluk-makhluk tersbut akan bergerak menuju lawan-lawannya. Sebetulnya kemampuan ini adalah kemampuan yang sama dimiliki para kesatria. Semisal lintasan hati sebesar dzarah saja pasti akan terjaadi. Semisal doa mengumpat untuk mencelakakan sahabatnya, maka mereka akan bekerja menuruti apa keinginan para kesatria. Menjadi wajib bagi ara kesatria melatih hatinya. Membersihkan hatinya dari hal-hal yang akan merugikan dirinya sendiri. Sudah dibuktikan kepada para kesatria berulang-ulang. Apapun yang lintasan hati mereka,  maka akan terwujud di realitas. Semisal mendoakan kesialan pada seseorang maka kesialan tersebut akan terjadi. Sudah berulang kali ditunjukan apa akibatnya jika mereka begitu. Celakalah teman, atau orang yang mendapatkan sumpah serapah mereka. Kekuatan hati 5000x kekuatan pikiran. Maka bayangkanlah akibatnya.

Apakah itu suatu kelebihan? Tidak! Sungguh itu hanyalah fitnah bagi setiap manusia. Kemampuan ghaib seperti ini, menjadi sebuah tanggung jawab yang sangat besar sekali baik di dunia apalagi di akherat nanti. Semua manusia akan dimintakan pertanggung jawabannya. Lintasan hati sekecil apapun akan mampu menghantarkan diri kita ke neraka.  Dalam rangka mengelola kemampuan inilah setiap kesatria kemudian mendapatkan ujian ini. Apakah dengan mendapatkan ujian tersebut mereka masih berserah diri (ikhlas), tidak menaruh dendam kepada orang yang mengirimkan serangan kepadanya? Ataukah dia akan mengamuk, marah, dan membalas dengan lebih hebat? Semua yang terjadi dan menimpa dirinya adalah atas ijin Allah, maka tidak seyogyanya para kesatria menyalahkan tokoh yang sudah membuat diri mereka sakit begitu. Pengajaran yang sungguh berat adalah memaafkan, padahal meraka mampu berbuat lebih dari itu. Inilah jalan yang harus dilalui. Meniadakan dendam, prasangka, sakit hati, dan juga persepsi.Lintasan ini harus tidak ada meskipun sebesar biji dzarah.

Setiap kelompok manusia dalam setiap peradaban telah dijangkiti penyakit hati ini. Oleh karena sebab itu,  para kestria harus terus berusaha mengelola dirinya sendiri melalui pengajaran inilah budi pekerti kita dibangun. Tepo sliro, saling asah, asih dan asuh. Meskipun para penentang menggunakan selaksa perewangan, menggunakan kata-kata makian, tidak pada tempatnya jika dibalas dnegan hal yang sama.  Nusantara Baru harus dibangun dengan kesadaran ini. Kesadaran budi pekerti luhur, kesadaran yang memang menjadi jatidi bangsa kita. Kesatria harus memahami bahwa apapun yang terjadi di negri ini adalah atas kehendal Allah. Bersabar diri, menahan diri, dan terus memohon pertolongan Allah, agar kita tidak terjerumus berperilaku yang sama dengan mereka yang menuruti nafsu diri dan golongan. Bukankah Allah berjanji, bukankah Kami bersumpah untuk menolong dan mengajari manusia. Berpeganglah dengan keyakinan ini.

Sudah dikhabarkan berulang-ulang, pada saatnya nanti para kesatria akan mendapatkan giliran pengajaranNya. Pengajaran yang berupa ketakutan, berupa kesedihan sebab kehilangan, dan pengajaran-pengajaran amuk rahsa lainnya. Tidak saja badan yang hancur, remuk redam, syaraf-syaraf yang terus menjerit kesakitan, jiwa yang  akan terasa dihimpit bumi dan dibakar api. Begitulah pengajaran agar kita meyakini pertemuan dengan Nya. Agar kita yakin bahwa surga itu ada, bahwa neraka itu nyata. Bagaimana keadaannya, maka rasakanlah pengajaran Allah. Janganlah mengaku beriman sebelum datang ujian dari Allah. Kalimat ini senantiasa dan selalu diulang disini. Jangan takabur dan sombong dengan pencapaain spiritual, kehebatan kemampuan terbang, mampu menembus bumi, dan kemampun kebal senjata, dan juga kemampuan lainnya. Semua jiwa akan merasakan rahsanya mati. Maka kemampuan apapun itu tidak akan berarti bagi ilmu Allah. Semua manusia akan merasakan hal yang sama. Betapapun hebatnya ilmu yang dimilikinya. LIhatlah pengajaran rosul, bukankah rosulpun sakit saat diserang ghaib. Saat tenung, sihir, dan santet menyerangnya?

Lihatlah apa yang dilakukan rosul saat menerima serangan ghaib. Rosul hanya menyerahkan dirinya kepada Allah. Rosul hanya bertahan dari gempuran makhluk ghaib. Tidak ada perlawanan dari rosul untuk membalas perlakuan orang yang telah mengirimkan sihir padanya. Padahal jikalau rosul mau akan dengan mudah menghadapi sihir dan sejenisnya. Jangankan sihir, bahkan bulan juga mampu beliau belah dengan tangannya. Inilah pengajaran yang harus kita pahami. Melawan ilmu ghaib tidak harus dengan kesaktian kita. Hadapkanlah mereka kepada Allah. Biarkan Allah yang menghukum makhluk yang DIA ciptakan. Ini harus dalam minset dan paradigma kita sebagai umat rosul, sebab rosul memberikan teladan demikian. Sampai Allah mengutus malaikat Jibril untuk menolongnya. Tugas kita hanya menerima setiap keputusanNya. Termasuk adalah keputusan kita menderita sebab sihir, santet, atau sejenisnya. Terimalah keadaann raga kita dnegan sukarela. Sebab raga kita sudah dalam ketetapanNya. 

Sudah berulang kali Mas Thole menghadapi serangan ghaib ini. Bersyukur Allah masih memberikan kesempatan hidup padanya. Sungguh bukan karena kehebatan Mas Thole dapat lepas dari gempuran makhluk ghaib. Allah lah yang bekerja,  mengingatkan kepada makhluk-makhlukNya agar mereka sadar dan tidak melakuan aksinya. Begitu juga yang ingin disampaikan kepada rekan seperjalanan lainnya. Sabar akan memabantu kita melalui masa-masa sulit. Tenang dalah sholat, khusuk dalam menajalani takdir kita adalah bekal utama kita menghadapi serangan para penantang. Kuatkan iman kita kepada Allah. Biarkan Allah yang menghukum mereka. Tugas kita hanyalah bertahan, bertahan dnegan kesabaran agar kita dapat memetik hikmah kejadian. Semua demi lahirnya kesadaran ingat Allah yang menjadi landasan bagi lahirnya nusantara kita ini. Tetap kuatlah dalam laku spiritual. Sungguh, kesadaran rendah tidak akan tinggal diam, mereka akan terus mengkerubuti kita. Mereka akan terus berusaha memaksa kita, sampai kita mengikuti jalan mereka. Inilah kepastiannya.  

Musibah yang menimpa para kesatria datangnya dari Allah. Semua dimaksudkan untuk menanggalkan ‘ego’ kita. Menanggalkan sifat-sifat kita, menghapus semua penyakit hati kita. Janganlah kita keliru memahami. Sehingga kita kemudian menghujat TUhan, seakan-akan Tuhan sedang menyikas dirinya. Tuhan tidak adil atasnya denganrahsa sakit yang menimpa. Sungguh ujian itu perlu untuk menambah kekuatan kita. Semakin kuat kita menerima pukulan maka kemungkinan kita memenangkan sebuah pertandingan akan semakin besar. Kami sedang melatih kita, sehingga Kami mengijinkan serangn tersebut masuk ke badan. Meskipun sehebat apapun ilmu para kesatria, jika Allah menghendaki terjadi maka terjadilah. Maka pahamilah mekanisme ini, janganlah kita sebagaimana yang disinyalir ayat berikut ini. Amatilah keadaan hati kita, jangan sampai kita terjebak begini.

"Dan antara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah." Tetapi apabila mendapat gangguan dan rintangan dalam melaksanakan perintah Allah, dia menganggap gangguan itu seakan-akan siksaan daripada Allah. Dan jika datang pertolongan daripada Allah, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami berserta dengan kamu (kaum mukmin)." Sesungguhnya bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia? Dan sesungguhnya Allah mengetahui orang yang beriman dan benar-benar mengetahui orang yang munafik." (QS Al-Ankabut:10-11).


+++

Seluruh rentetan kejadian dicatat dengan apik oleh Banyak Wide, pemahaman raga terkininya sudah mencapai taraf yang menggembirakan. Memaknai apa-apa yang terjadi, memahami sebuah rangkaian sebab-akibat. Sebuah rangkaian karmapala, dan juga sebuah ketetapan Tuhan adalah sebuah tonggak yang penting bagi kesadaran. Benar bahwa para penentang akan terus berusaha menggagalkan misi bagi berdirinya tonggak kesadaran ingat Allah. Mereka akan dengan pelbagai cara memutar balikan fakta dengan makna yang sudah mereka konstruksi sedemikian rupa. Mereka menebarkan hasutan bahwa apa-apa yang diajarkan adalah kesesatan, buktinya para kesatria banyak yang sakit dan kena sihir. Mereka akan terus menghujat apapun yang dilakukan disini,  bahkan mereka akan menuduh bahwa kejadian yang menimpa kesatria akibat Banyak Wide terlalu banyak membuka portal. Sehingga akibatnya membuka portal makhluk-makhluk ghaib,  yang kemudian menyerang raga. Selalu kejadiannya akan dikonstruksi seperti itu, pemutar balikan fakta. Padahal mereka tahu kebenarannya. Inilah yang disinyalir al qur an. Kaum yang berilmu, memahami ghaib namun mereka menggunakan nafsunya. Memutar balikan keadaan demi keuntungan golongan.

Sebagaimana yang diisyaratkan Kami dalam sebuah rangkaian dialog yang panjang. Sebuah pembelajaran bagi para kesatria. Keadaan alam kesadaran memang sedang dalam situasi yang tidak mengenakan. Situasi darurat perang. Kesadaran tinggi yang akan memasuki portal dimensi kesadaran manusia, mendapatkan pertentangan hebat dari kesadaran rendah yang tidak mau keberadaannya disingkirkan dari mayapada. Kedua kesadaran ini akan terus saling berbenturan. Benturan yang akan mengkerucut menjadi dua golongan besar, yaitu kesadaran Ingat Allah dan kesadaran Ingat selain Allah. Sesungguhnya hanya dua kesadaran inilah yang berada di dimensi kesadaran. Dua kesadaran akan saling bergiliran. Mereka mencari posisi di sistem kesadaran manusia. Di alam bawah sadar manusia. Rangkaian pesan Kami menyikapi keadan para kesatria disampaikan disini sbb;

Bismillahirrahmanirrahim

Kerajaan (Al-Mulk):1 - Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,

Kerajaan (Al-Mulk):2 - Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Kerajaan (Al-Mulk):3 - Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Kerajaan (Al-Mulk):4 - Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.

Kerajaan (Al-Mulk):5 - Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

Ta, sebagai suatu keadaan yang menetapkan suatu peristiwa dengan segala penetapannya.

Ta, sebuah garis lurus yang menjadi sebuah eksekusi pada suatu keadaan yang terjadi

Ba, suatu realita keadaan yg sedang dijalani, maka kondisi tersebut menjadi penentu dari masa lalu dan masa depan, juga sebagai keadaan tanpa masa lalu dan masa depan

Ra, radiasi dari semua keadaan yg diterima makhluk sekaligus sebagai penerapannya akan hal tersebut sesuai dengan ka

Ka, yang menjadi identitas pada radiasi dan keadaan, serta penetapannya.

Tabaraka, sebuah rangkaian program yang terus bergulir dengan penetapan sistem yang sudah ditetapkan.

Alif, lam, dza dan ya, pada kata alladzi, sebuah proses dari program tersebut yang terus menerus, berputar dan berulang

Pesan: pahami dua kata tersebut dan pemaknaannya.

 Secara siklus, memang semua yang terjadi berada pada kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Makhluk dengan segala entitas dan tingkatannya, berada pada ketundukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

Carilah ta, di mana berada pada garis lurus tersebut.

Sekelompok telah mengaitkan ta, pada satu individu yang ada di mayapada

Tak perlu mengukur satu kordinat dengan kordinat lainnya, karena memang berada pada garis lintangnya

Sesungguhnya, di Mayapada sudah penuh dengan hal-hal yang memang tidak ada. Tapi ingat, setiap kordinat itu akan terus bergerak, mengikuti sistemnya.

Adapun paku-paku yang sudah ditetapkan dan disebutkan, menjadi bagian kordinat, tak ada yang menjadi masalah dalam penempatannya karena sudah sesuai dgn yang ditetapkan.

Pesan ini terbuka, sehingga siapa pun bisa membacanya.
Hanya saja, bagi orang2 yg beriman dan berakal, akan mengetahui apa yg harus dilakukan.

Lihat dan perhatikan, maka di sana ada tugas sebagai insan dan pembawa kesadaran.
Rangkaiannya dengan melihat tanda dan titik, serta garis lintang.
Padukanlah dg pesan2 sebelumnya, maka kalian akan tahu tugas yg harus segera dilakukan.
Ini bukan teka teki, tetapi inilah yang harus kalian kerjakan.
Pesannya jelas bagi orang2 yang beriman dan berakal.
Temukan dan segera jalankan tugas, maka kalian akan segera mendapatkan yg kalian inginkan dan butuhkan.

Karena itu satu kesatuan utuh, sehingga perjalanan kalian bisa terjamin dengan utuh.
Tidak, karena yg merasa memiliki kunci Ta ada banyak
Dan itu menjadi penghalang dari siklus tersebut

Lihat kembali pesannya

Tidak ada pemegang kunci Ta, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasa pemilik makhluk dan alam semesta

Ta, bisa kalian maknai juga sebagai takdir atau kehendak Tuhan
Dan garis lintang serta titik kordinatnya berada pada tugas dan fungsi Kami dalam menjalankan kehendak Tuhan

Ta, adalah sebuah penetapan sistem.
Namun banyak yg merasa menjadi Ta, maka lihat kembali ayat 5

+++

Wahai kawan, bukanlah kami benci kamu. Meskipun apapun itu yang kau lakukan pada kami. Meskipun kebencianmu menyudul langit dan menghujam bumi. Kami hanya mengkhabarkan kasih sayangNya. Tidak seharusnya kita berseteru sepanjang peradaban anak manusia.

Seribu puji dan seribu caci, aku terima lewat nyanyianku
Terkadang aku berfikir ini bukan tempatku
Tapi kaki terlanjur melangkah
Inikah arti lahir dalam hidup
Mendekati segala yang ku enggani
Dan melepaskan semua yang aku sukai
Ini selalu bertemu dalam batinku

Kalau tak lahir maka tak hidup
Dan aku akan terlepas dari rahsa dan dosa
Sementara iman setia menemaniku
Dan aku telah siap dengan segala yang kan terjadi

(Potret, Song by Rita Rubby Hartland)

Dan kami akan siap dengan segala yang terjadi. Inilah arti lahir dalam hidup. Maka sia-sialah caci maki dan hujatan yang engkau sematkan kepada alamat kami. Sebab kami senantiasa mendoakan agar terlimpah kasih sayang selalu di hatimu. Kepada seluruh anak bangsa ini.Kepada mereka yang sakit, kepada meerka yang dilukai, yang disakiti, yang tidak dipedulikan. Kami bersama mereka yang dibuang oleh peradaban. Kami akan menyebarkan wangi, wangi kehidupan negri ini. Gemah ripah loh jinawai. Jayalah nusantara jaya.


Wolohualam
Salam

Januari 28, 2016

Kisah Perjalanan Paku Bumi (11), Rahasia Pesan Langit 1


Hasil gambar untuk dewa langit

Dialah yang terbuang kawan
Dari galau kehidupan,
Kini membawa luka,
disaput dendam kesumat

Tapi dia tegar berjuang kawan,
Di tengah kemunafikan
Tanpa memperdulikan
Bibir-bibir tercibir

Oh, Sungguh dia perkasa
Bagaikan kuda liar
Meringkik memecah malam
Buat menoreh hari esok
Disepanjang lorong yang kelam
Peduli hari kemarin

Dialah yang terbuang kawan
Senantiasa berkawan malam
Cuma satu harapannya memetik matahari
(Song Rita Rubby Hartland, Dia Yang Terluka)

Dialah yang terbuang kawan, senantiasa berkawan malam, Cuma satu harapannya memetik matahari untuk nusantara. Biar matahari terbit disana, menjadi fajar yang menerangi hati. Tanpa memperdulikan bibir-bibir tercibir. Bagaikan kuda liar dia meringkik di tengah malam. Dia tegar berjuang kawan, ditengah kemunafikan. Dialah yang terbuang kawan, dari galau kehidupan. Maka dikisahkannya disini. Sekedar mengobati rahsa gundah hati. Sebuah kisah yang tak berarti. Kisah anak manusia yang menerobos kekelamam pikiran dan kekalutan pemikiran. Memberikan khabar gembira kepada mereka yang terus berjalan di jalan Tuhannya. Memberikan peringatan kepada orang-orang yang menyekutukanNya. Bersama angin yang lewat, bersama senandung yang senyap. Jayalah nusantara jaya.

+++


Pesan yang masuk ke inbox blog ini dan mengkhabarkan bahwa kelompok-kelompok penentang Pajajaran telah menetralisir Paku Bumi. Mendapat sorotan yang cukup serius dari Banyak Wide. Apalagi kelompok ini menganggap bahwa Banyak Wide adalah ruh setan kuburan. Menganggap bahwa Mas Thole tengah menipu kelompoknya sendiri, mengajak sesat manusia lainnya. Begitu tajam uraian kata-katanya, lugas dan nampak terstruktur bahasanya. Apakah yang bisa dipetik hikmah dari kebencian mereka ini? Jelas sekali permusuhan yang ingin disampaikn bahwa kelompok mereka akan terus menghalangi maksud dan tujuan kebangkitan  Pajajaran Baru. Mereka menentang bangkitnya Nusantara Baru. Sebuah keinginan yang memang sangat realistis sekali di jaman terkini.

Di tengah orang-orang sunda yang kehilangan sundanya. Di tengah-tengah euphoria sebuah bangsa dengan kemajuan pembangunannya. Lantas, apakah yang bisa diharapkan dari orang-orang sunda? Lihat saja sendiri sekarang ini, apa yang tengah terjadi di tanah mereka? Lihatlah sekali lagi dan saksikanlah sendiri, apakah ada yang peduli saat tanah mereka dikonversi menjadi bangunan, bendungan, dan pabrik-pabrik serta jalan raya. Lihatlah apakah mereka peduli jika saudara-saudara mereka terusir dari tanah-tanah kelahiran mereka bagai pengungsi di negri sendiri. Lihatlah dengan hati, apakah mereka yang terusir mendapat ganti rugi? Kemudian lihatlah sesekali dan sekali lagi disana, dikantong-kantong pengungsian. Mereka mengungsi di negri sendiri. Menjadijembel di negri sendiri. Lihatlah keadaannya, apakah ada yang peduli. Kemudian adakah orang-orang sunda yang tergerak menyelamatkan kabuyutan-kabuyutan dan peninggalan sejarah nenek moyang mereka yang luar biasa itu.

Tidak, tidak ada yang peduli. Semua sibuk dengan perut mereka sendiri. Maka sangat wajar sekali jika para penentang Pajajaran Baru berani bersuara lantang. Menatakan keadaan yang sebenarnya. Mengusurs diri sendiri saja tidak mampu. Mengurus tanah sendiri saja belum bisa. Bagaimana mengurusi Nusantara Baru!  Benarkah orang-orang sunda belum bisa diharapkan akan mampu mengawal lahirnya Nusantara Baru? Pertanyaan yang diulang oleh Mas Thole, dalam nelangsa. Inilah kenyataan disaat terkini. Nah, sudahkah itu kita berfikir lagi, atas dasar apa Kami memilih Pajajaran? Perhatikan dan perhatikan! Memang inilah fakta dan kenyataannya. Orang sunda sudah tidak ingat lagi siapa nenak moyang mereka sendiri. Tanyakan kepada mereka, seperti apakah kearifan bangsa mereka? Seperti apakah ajaran leluhur-leluhur mereka?

Di tengah orang jawa yang telah kehilangan ‘rohso’ jawa nya ini, maka keinginan kelompok penentang, memang hanyalah menyampaikan fakta kebenaran realita kondisi sekarang ini. Benar, untuk apa Mas Thole bermimpi sendiri, untuk apa berlari kesana-kemari. Toh orang sunda itu sendiri tidak peduli dengan keadaan saudara mereka sendiri. Mengapa Mas Thole yang dari Majapahit harus peduli? Maka jika kelompok mereka tertawa dan mencemooh apa-apa yang dilakukan Mas Thaole dan kawan-kawannya, rahsanya pantas sekali. Dan Mas Thole tidak menyesali atas apa-apa yangmereka ucapkan itu.  “Tolol, bodoh, dan hanya menipu publik saja dnegan segala tingkah konyol.” Begitulah perkataan pesan. Maka Mas Thole hanya diam, mengakaui kebenaran mereka itu. Yah, dirinya tolol, dan bodoh. Bukankah sama saja panggang jauh dari api? Harapan bangkitnya semangat dan spirit Pajajaran hanyalah bualan saja, fatamorgana yang menipu.  

Ugh, apa yang harus Mas Thole jawab kepada para penentang itu. Sakit dan teramat sakit rahsanya. Mendapati fakta dan kenyataan yang ada. Boleh semangat dan cita-cita setinggi angkasa, namun lihat dan bangunlah, coba  berdirilah diatas bumi ini. Bahkan bangsa ini juga tidak menyadari keadaan diri mereka sendiri. Semua terhasut alam fatamorgana, alam angan-angan yang menipu. Banyak diantara kita tidak mau mengerti arti kehidupan. Kemajuan pembangunan menjadi alasan untuk menghancurkan kesadaran dan kearifan nenek moyang. Mereka lupa tanpa pondasi kesadaran leluhur, kini bangsa ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Berapa ribu tahun manusia mampu membangun kesadaran seperti sekarang ini? Ini semua atas jasa para leluhur sehingga orang sunda, orang jawa, dan bangsa Indonesia ini memiliki kesadaran. Kesadaran dan kearifan yang akan terus menjaga nusantara. Batu-batu cadas kini merintih kesakitan.

+++

Biarlah keadaannya begitu, menjadi tugas anak keturunan bangsa ini nanti. Membangun dan membangkitkan semangat anak negri ini. Membangun kesadaran orang-orang sunda dan juga kesadaran orang jawa, batak, menado, dari aceh hingga papau, keseluruh pelosok negri ini. Banyak Wide lebih berkonsentrai kepada apa-apa yang tersirat dari pesan-pesannya. Khabar yang membuat Banyak Wide meradang adalah pernyataan mereka bahwa mereka telah menetralisir Paku Bumi. Pernyataan inilah yang ingin diselidiki. Semua harus jelas, apa maksud dan kepentingannya mematikan signal Paku Bumi. Apalagi sampai dirinya berani mengambil sumpah atas nama Allah. Jika dia salah dia rela menanggung akibatnya. “Hmm..benarkah dirinya bersedia dihimpit bumi dan dimakan api..?” Banyak Wide tersenyum kecut. Memaafkan makhluk yang tidak mengerti ini. Penentang itu, dia meminta disegerakan azab padahal Allah Maha besar ampunanNya. Hhh...sesungguhnya manusia sendirilah yang mendzolimi dirinya sendiri.

Kebocoran pesan telah terjadi. Begitulah insting Banyak Wide bekerja. Apakah yang dilakukannya akan sia-sia. Bertahun-tahun dirinya berkelana menancapkan Paku Bumi ke seantero nusantara. \demi sebuah keyakinan diri, menancapkan tonggak-tonggak kesadaran. Kesadaran ingat Allah yang harus terus di gaungkan, diperkuat dan disebar luaskan. Oleh karena sebab itu pesan-pesan inbox tersebut tidak bisa didiamkan, apalagi pesan tersebut berteapatan dengan keadaan para kesatria. Keadaan yang cukup berbahaya. “Benarkah mereka mampu mencuri pesan?” Banyak Wide tidak berani mengambil spekulasi. Sudah banyak kesatria yang jatuh sakit. Bahkan telah merambah kepada keluarga mereka. Istri, anak, atau pembantunya. Tidak saja kesatria sendiri yang terkena. Semua dalam satu rentetan yang sama. 

Banyak Wide memang harus waspada. Seluruh instrument ketubuhannya, baik yang ghaib dan juga realitas di aktifkannya. Berapa kali sempat gagal melakukan koneksi ke alam semesta. Ke pusat galaksi Bima Sakti. Galaksi Panca Buana. Ingin berdiskusi kepada Kami atas keadaan ini. Cuaca dan suasana alam tidak sebagaimana biasa. Menggiriskan, angin tornado menghantam, hujan tidak mau lagi berteman, semakin banyak manusia yang ketakutan. BUkankah layak jika ini dianggap situasi darirat perang. Syukurlah tidak begitu lama Banyak Wide menunggu koneksi dengan Kami. Berikut perbincangan, dituliskan disini sebagai pembelajaran.

+++

Bismillahirrahmanirrahim
Ingsun Darma kati soka. Keadaan yang membuat hal-hal berkaitan dgn keadaan pesan, itu memang berdasarkan pada setiap keutuhan dr pesan tersebut.
Kebocoran ataupun hal-hal yang membuat pesan berpendar, itu bukan masalah, karena memang selalu saja ada makhluk yang menginginkannya
Ketika semua bertabuh, maka jangan melihat riuhnya, tapi kenali setiap tabuhan dari bunyian tersebut.

Begitu pula dg pesan-pesan, pada dasarnya tidak ada yang bocor.
Sekalipun mengetahui dan Bapak pesannya, tetapi satu dari titik poinnya keimanan.

Paku bumi masih berfungsi, jangan terlalu berpikiran itu sia-sia, karena yg mengabari hanya sebuah gerakan Untuk menurunkan nyali dan memutuskan hubungan kesadaran dg ilahi rabbi

 Jangan pernah ragu pada Kami, terutama pada Sang Hyang Widhie
 Dia menjadi perwakilan bumi dan Buana panca tengah, atau kalian sebut bimasakti
Ingatlah, yang menguntungkan kalian dg Kami adalah Allah swt.
Begitu pula dalam pesan.

Teraplikasikannya sebuah pesan dengan mengikat kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka akan menjadi sebuah bagian dari keimanan kepada Allah Swt

Pesan-pesan yang berbicara mengenai Paku Bumi, itu sebenarnya dalam kadar Untuk menggertak kesadaran

Seutuhnya, yang menjadi pembatas pesan-pesan itu ada dalam hati.
Kekuatan hati utk membinasakan bisa saja terjadi, tetapi tetap atas kehendak Tuhan.
Jangan pernah menjadi semua sejajar dengan mereka yang tahu pesan dan memahaminya, dengan mengaplikasikannya

 Seutuhnya dalam suatu pesan yg tersebar, ada yg diam dan berjalan
Ada yang bergerak karena Allah, ada yg bergerak karena selain Allah
Semua berada dalam setiap koridor yang sudah ditetapkan.

Bentangan Langit sudah ditambal oleh para Batari dg bantuan para Sang Hyang, jejak pesan di bumi akan dihapus oleh Sang Hyang Widhi pada setiap garis lurus sinyal dan tetes embun yang menggenang.

Jangan melihatnya sebagai sebuah musibah, tata Surya yang berpolah atas kehendak Yang Maha Kuasa

Itu berada pada porosnya yang sudah beredar sesuai kondisi bumi yang ada
Titik nyata pada setiap paku bumi akan memancarkan aura, tanpa mesti ada yg menetrasilir atau menghalanginya

Karena itu bukan untuk menjadi hal yang sia-sia.
Sesuatu yang dianggap Untuk menjadi satu keadaan, maka itu yang akan terpancar.
Jejaknya menjadi bagian perjalanan, sehingga dapat mengabarkan atau mengetahui keakuan dan pengakuan.

Namun yg jelas, apakah itu kehendak Tuhan?

Guruh (Ar-Ra`d):2 - Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.

Guruh (Ar-Ra`d):3 - Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Guruh (Ar-Ra`d):4 - Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Guruh (Ar-Ra`d):7 - Orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda (kebesaran) dari Tuhannya?" Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.

Guruh (Ar-Ra`d):5 - Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: "Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?" Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Guruh (Ar-Ra`d):6 - Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.

Demikianlah, jangan pernah merasa sia-sia. Karena apa pun yang terjadi atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa

Semua penghuni Buana dan alam semesta sudah memutuskan, untuk menahan pesan sampai waktu Sang Fajar. Maka, perhatikanlah, apa yang terjadi dengan mereka saat semua informasi tertutup utk waktu yg sangat panjang.

Sesungguhnya, pesan-pesan Kami berada dalam garis yang tidak dapat didengar oleh makhluk apa pun.

Kecuali bila dalam rentang waktu terdapat kebocoran ketika pesan sudah disampaikan
Setiap hal yang hadir ke bumi menjadi abdi, hamba dalam menelusuri jejak ilahi rabbi.

+++

Tercenung Banyak Wide, kekhawatirannya berlebihan. Keadaan tidak sebagaimana yang ditakutkan. Ucapan mereka hanyalah ‘gertak sambal’, hanya untuk menakut-nakuti saja. Memang tidak dapat disalahkan sebab kondisi dan keadaan para kesatria yang satu demi satu bertumbangan. Berjatuhan bagai daun-daun kering. Bagai daun yang di makan ulat.

Dialah yang terbuang kawan
Senantiasa berkawan malam
Cuma satu harapannya memetik matahari




Bersambung…

Januari 26, 2016

Kisah Perjalanan Paku Bumi (11), Habislah Pusaka-pusaka Kami (?)


Hasil gambar untuk badai

“Di saat hujan turun dan jalanpun licin, dia berjalan menentang waktu yang selalu mengejar. Tak peduli basah kuyup. Dia berharap itu tak sia-sia. Meski dingin menggigill dia kuatkan diri. Kalau dapat berlari agar cepat sampai. Jauh, masih jauh, 0h jauh makin jauh. (Song Rita Rubby Hartlad, 1982)

Jauh, masih jauh.
Jejak hayuning brata niskala Ayu verda, ing dharma mukti badra
Sesungguhnya dalam setiap perjalanan, ada yang singgah dan berhenti,
ada yang berjalan tertatih-tatih,
Meski jeritnya tinggi membelah langit,
seakan mengejar sesuatu yang sudah pasti
Sirihnya dengan menyimpan sejuta laksa,
dalam kembang yang berpendar
Batu-batu cadas merintih kesakitan
Ditikam belatimu yang pernah tak ayal
Selamat tinggal kamu, bukan karena ku benci kau

+++
Satu perjalanan yang tidak pernah usia. Sejauh langkah, kini berujung pada waktu yang semakin sulit dimaknai. Tidak saja suasana langit, suasana jiwapun kadang hening dalam kegaduhan yang misteri. Hujan dan petir, silih berganti. Angin menandai para makhluk tataran kesadaran yang silih salah menyambangi kediaman Mas Thole. Siapa yang menduga jika rumah kecil dipinggiran, kini ramai dengan celoteh para makhluk kesadaran. Fenomena yang nampak biasa saja, angin mendadak menampar dari muka dan belakang. Daun-daun bergoyang dengan gerak yang tak senanda. Menandakan gerakan itu disengaja. Pusaran yang turun dari atas dan memutar, kemudian bermain-main di halaman depan sebrang jalan rumah Mas Thole semakin memperperkuat keyakinan. Mengapa dedaunan pohon mangga tepat dihalaman tidak bergerak sama sekali? Diam kokoh bagai patung. Maka pertanyaan menggumpal. “Siapakah yang datang?!?”

Di dalam rumah hanyalah seorang pemuda yang baru pertama datang di rumah Mas Thole. Sekedar hanya silaturahmi. Selama ini komunikasi hanya melalui WA saja. Keluhannya biasa saja sebagaimana yang lainnya. Badan yang tidak enak, dan suara ghaib terus berdentam di kepala, susah kosentrasi. Gelisah, resah, seperti sakit magh, masuk angina dll bermacam keluhan lainnya. Tidak ada yang istimewa.Gejala yang serupa dengan serangan ghaib, santet, makhluk ghaib, dan juga adanya entitas leluhur, atau lainnya yang masuk di badan. Gejala yang jika di ranah kedokteran akan dinamakan sakit kejiwaan. Sulit diejlaskan secara medis. Sebab gejala-gejalanya sulit diprediksi. Secara empiris sulit di analisa. Syukurlah, dengan dialog yang intens dengan Mas Thole, kesehatannya semakin lama membaik.

Menyimak apa yang tersirat dari sebuah pertemuan. Mengapa kedatangan pemuda itu diikuti makhluk tak kasat mata. Pesan apakah yang ingin disampaiakn mereka. Maka Maas Thole mencoba khidmat mendengarkan cerita. Syahdan, asal muasal sakitnya berawal dari kesukaannya akan ilmu ghaib. Ingin menambah kewibawaan, agar di tempat kerjanya disegani dan ditakuti. Apa yang diinginkannya terkabul. Berkat bantuan orang sakti dia mendapatkan isian bermacam makhluk yang membuat diirnya disegani dan ditakuti di tempat kerja. Takut yang benar-benar takut. Teman sejawatnya karena takutnya menjauhi dirinya. Setiap bersapa, selalu diakhiri teman-temannya menjauhi dengan menunduk dan tak banyak bicara. Belum cukup sampai disitu saja. Dia juga menambah dnegan ilmu yang lainnya. Kemampuannya luar biasa, mampu menarik benda-benda pusaka dari alam ghaib.

Entah sudah berapa banyak benda-benda pusaka yang ditariknya. Ada keris, tongkat naga, dan banyak rupa lainnya. Betapa bangganya dirinya. Banyak orang yang memuji kesaktiannya itu. Semakin seganlah orang-orang disekeliling terhadapnya. Betapa tidak, kemampuannya menarik benda dan pusaka tergolong langka. Jika benda pusaka itu dijual, berapa ratus juta harganya. Mas Thole cukup terkesima mendengar kisahnya. Masih semuda itu sudah memeiliki kemampuan yang luar biasa. Betapa banyak sekali orang-orang ingin belajar ilmu tersebut. Mas Thole tanpa sadar juga turut takjub dengan kesaktiannya itu.

Seiring waktu berjalan, kebanggan, hanyalah tinggalkebanggaan. Orang lain mungkin menyangka bahwa dirinya berbahagia dengan kesaktiannya tersebut. Orang lain tentu menyangka betapa beruntungnya dia memiliki kemampuan dan kesaktian tersebut. Prasangka tinggallah prasangka, namun kenyatannya sungguh berbalik serratus delapan puluh derajat. Semakin hari dirinya semakin sulit mengendalikan emosi jiwanya. Dirinya mudah marah, mudah tersinggung, sangat temperamental sekali. Tidak saja ayah dan ibu saja yang jadi korban kemarahannya, adik-adiknya pun juga tak luput dari hardikannya. Dia sudah menjelma menjadi sosok yang berkuasa, Berjaya, apapun perintahnya tidak ada satupun keluarga yang berani membantahnya. Benar-benar adang, adigung, dan adiguno.

Hampir setiap malam dirinya mengalami serangan ghaib. Sebuah hukum yang harus siap diterimanya. Siapapun yang terjun sebagai petinju, harus siap dipukul dan diadu. Siapapun yang mencoba belajar ilmu kesaktian maka bersiaplah untuk menerima serangan ghaib dan juga tantangan lawan. Hidupnya harus siap menghadapi segala macam ancaman dari orang-orang yang menguji kesaktiannya. Sebuah dunia yang keras. Begitulah yang dialami oleh Mas Thole juga. Walau sekedar hanya mengkisahkan saja pengalaman orang lain dan pengalaman apa-apa yang dialaminya. Sudah dianggap sebagai lawan. Kebencian dan juga dendam terus memburu disepanjang harinya. Jikalau Mas Thole memang sudah bertekad di jalan ini demi bangkitnya kesadaran nusantara baru. Nusantara yang berkesadaran ‘ingat Allah’. Maka Mas Thole sudah siap dengan segala konsekuensinya. Ada tujuang yang lebih besar dari itu semua. Namun tidak dengan pemuda tersebut. Jiwanya masih senang di materi. Maka akibatnya amuk jiwa dan raga adanya. Serangan ghaib dianggapnya sebuah ‘musibah’ baginya.

Mas Thole menghela nafas getun, beginilah keadaannya. Manusia dalam setiap melakukan pilihan selalu saja mencari bagian enaknya. Padahal setiap pilihan disana telah melekat konsekuensinya. Jika menjadi seorang Petinju maka melekat disana konsekuensi ‘Memukul dan/atau dipukul”. Kesiapan dipukul harus lebih kuat dari kesiapan kita memukul. Apalah jadinya jika seorang Petinju hanya mau memukul namun tidak mau kena pukulan. Cobalah perhatikan diri kita semua. Manakala kita kena pukulan yang disalahkan adalah wasitnya. Sungguh aneh periangai manusia itu. Fenoeman model beginilah yang sering terjadi. Maka Mas Thole mengingatkan, “Jangan begitu, sungguh jangalah begitu.”

Bagaimana dia tidak mau menerima kenyatan bahwa dirinya mengalami serangan ghaib. Orang yangmenyerangnya dianggap telah dzolim. Bahkan kemudian dirinya menyalahkan keadaan bahkan nyaris menyalahkan Tuhan. Dia tidak sadar, bahwa dia sudah berlaku dzolim kepada makhluk tak kasat mata. Menarik pusaka-pusaka dari alam ghaib, tanpa maksud yang jelas Hanya sebagai permainan belaka. Tahukah dia bahwanya pusak-pusaka tersebut adalah juga makhluk Allah. Pusaka tersebut yang menjadi patok-patok bagi ghaib bagi nusantara. Tahukah dia bahwa apa-apa yang dilakukannya itu telah mengacak-acak alam ghaib. Semisal dia masuk ke sarang ular dan kemudian menangkapi ular-ularnya untuk dibuat pajangan. Kemudian jika ada salah satu ular yang menggigitaya dia menyalahkan sang ular? Sungguh manusia memang melampaui batas!

Tentu saja alam ghaib akan mengadu kepada Tuhan, memohon keadilan Tuhan atas perlakukan manusia kepada mereka. Benar saja, pemuda tersebut menceritakan di bagian akhirnya. Teman atau guru yangmengajari ilmu tersebut, di kehidupan nyata, porak poranda. Raganya sakit-sakitan, pekerjaan terbengkelai, anak dan istrinya juga meninggalkannya. Kini dia hidup sendirian dnegan pusaka-pusaka yang menjadi kebanggannya. Meskipun itu adalah sebuah pilihan hidupnya. Namun Mas Thole mengingatkan, jika ada kehidupan yang lebih baik. Maka carilah kehidupan yang lebih baik. Janganlah mengabaikan kenikmatan hidup di dunia. Sesungguhnya banyak kita amati fenomena kehidupan realita model begini. Mas Thole sendiri mengalami. Bagaimana kehidupan sang Ayahnya yang memiliki banyak kesaktian. Tidak tanggung-tanggung Ayahnya mampu terbang diatas daun-daunan. Kebal terhadap senjata apapun, dan banyak kemampuan lainnya. Nyatanya beliau meninggal dalam keadaan menyedihkan. Ilmunya tidak mampu menolong dirinya.

Sungguh pengajaran itu amat berat bagi Mas Thole, makanya sejak kecil Mas Thole menafikan segala rupa hal-hal ghaib. Menafikan siapa jatidirinya. Menafikan apapun yang dilakukan Ayahnya yang berkaitan dengan ghaib. Ilmu ghaib, kesaktian dan segala rupa lainnya hanyalah akan menyusahkan kehidupan realitas kita. Benar ilmu tersebut sangat bermanfaat manakala kita di medan perang ataupun kita hidup di jaman kerajaan.l Tidak di jaman sekarang ini. Kalau ingin  memiliki kemampuan terbang, kita cukup mengumpulkan uang tak lebih 500rb rupiah saja. Kita bisa terbang menggunakan Lion Air, sangat mudah. Siapapun bisa memiliki ilmu ini. Mengapakah jaman sekarang ini kita harus bersusah payah menyakiti diri untuk mendapatkan ilmu-ilmu yang sudah tidak pada peruntukannya lagi? Marilah kita nikmati takdir kita yang dilahirkan di masa kini. Hidup di perdaban yang sudah modern ini Marilah kita konversi dan kita upgrade ilmu warisan leluhur, kita sesuaikan dengan jamannya.

Perlahan angin berhenti, apa-apa yang disampaikan makhluk ghaib. Kegundahan meerka bisa dipahami oleh Mas Thole. Kemudian Mas THole menjdai saksi atas kebenaran mereka itu. Syukurlah  jauh sebelum datang ke rumah Mas Thole pemuda tersebut telah menyerahkan semua pusaka-pusaka yang diambilnya dari alam ghaib ke sebuah museum. Hal ini memperingan keadaan raganya. Mendapatkan semua pesana telah diterima.l Mas Thole memerintahkan pemuda tersebut untuk memanggil makhluk yang merupakan isi dari ajian/ilmu yang dimilikinya. Makhluk tersebut diminta untuk menghadap Allah dan Mas Thole akan menjadi saksi disitu. Sedetik kemudian pemuda tersbeut meditas. Muncul pergolakan luar biasa di badannya. Dengan lemah dia berkata, “Makhluknya tidka mau menghadap Allah, dia minta dikeluarkan dari badan saya.”  Aneh saja, makhluk yang diundang dengan dzikir dan wiridan, mengapa tidak mau menghadap Allah? Hhh…betapa manusia sesungguhnya tertipu dengan ini.

Pusaka-pusaka yang hilang, entah kapan akan kembali. Sementara manusia terus saja mencari dan mengambili pusaka-pusaka negri ini. Mereka manusia tidak merasa bersalah atas habisny apusaka ghaib di bumi nusantara ini. Pusaka yang menjadi penjaga-penjaga ghaib nusantara. Satu persatu ditukarkan dengan periuk nasi atau sekedar hanya menjadi koleksi. Jika terus begini, jika terus diambili apakah tidak akan habis pusaka negri ini? Lihatlah kabuyutan dan tempat-tempat suci telah kehilangan spiritnya. Pusaka penjaga tempat-tempat ini telah habis untuk koleksi pribadi. Bumi ini menjadi panas. Batu-batu cadas menjadi begitu keras. Angin terasa sakit menusuk tulang. Apakah upaya Mas Thole akan berarti. Menancapkan paku-paku bumi untuk menggantikan peranan pusaka-pusaka yang sudah hilang dari bumi ini. Mereka manusia sakti yang terus mengambili. Akankah tidak mengerti?


 +++

Diam menatap, hujan yang berhenti. Minggu sore (21/1), Mas Thole tersungkur bersama guntur yang pergi. Sebut saja Wening mendapat pesan, agar mengambil gerabah di tempat Mas Thole. Untuk dibersihkan dan diisi air Tirta. Ilapat itu sudah sedari sore. Prosesi harus dilakukan di bulan purnama. Sayang sekali realitas tidak memungkinkan. Mas Thole mampu merasakan bagaimana rahsa siksa. Sepanjang malam Wening meronta, tugas yang tidak terlaksana akan menjadi beban di raga. Sebuah janji yang tidak di tepati akan berbalik menjadi gemuruh dan gelombang. Apakah harapan akan hilang. Apakah semua sudah didahului. Mengapa dirinya bisa terlena begini? Tidak ada rahsa, tidak ada ilapat apa-apa. Dirinya merasa benar-benar telah tertinggal, bahkan mungkin ditinggal oleh Kami.

Rahsa sesal tertelan dengan kehampaan, sebab ketidak mengertian. Apa yang salah, adakah yang terlewat. Kosong dan normal saja. Ghaib sekarang telah berada di posisinya kembali. Benar-benar aneh. Sensor ketubuhan Mas Thole kembali normal menjadi manusia biasa. Bukankah itu yang dicarinya? Mengaoa sekarang dia merasa ada yang hilang? Ingin dia menjerit. Perasan kehilanngan menggamitnya. Sehingga manakal ada pesan inbox yang disampaikan kepadanya sudah tidak dipedulikannya lagi. Sebuah pesan kesombongan, yang menyatakan bahwa jikalau tidak karena pertolongan ‘sang anonim’ ini, Mas Thole sudah mati dari kemarin ini saat menghadapi NImas Pandansari. Dialah yangmengalahkan Nimas Pandansari. Berkat pertolongannyalah Mas Thole sekarang masih hidup. SUngguh pesan yang tidak penting untuk ditanggapi. Mas Thole masih sibuk dengan realitas yang dialami. AKankah perjalanan Paku Bumi yangterakhir ini bisa terwujud. Entahlah itu…?!?

Tatkala hujan reda, dan dia tersungkur, batin telah hilang, bersama guntur yang pergi. Harapannya hilang musnah. Dan  tahu pasti telah didahului. Meski jeritnya tinggi membelah langit. Kesempatan lewat sudah tunggu hari esok. Jauh masih jauh..oh jauh makin jauh.” (Song Rita Rubby Hartlad, 1982)