April 20, 2017

Kisah Spiritual; Daun Yang Berhimpun (1)

Hasil gambar untuk daun meranggas
Sang waktu kini menungguiku. Sehingga kadang kadang  batasan siang dan malam menjadi tak menentu. Seperti sebuah lagu senandung Ibu saat menidurkanku. Melenakan, menenangkan, namun kadang menakutkanku. Betapa tidak, bagaimana jikalau aku tidur dan terbangun nanti Ibu tidak disampingku. Beribu alasan yang menjadi sebab aku tidak mau memenjamkan mataku. Dan itu berlangsung hingga kini. Mata ini sulit sekali kupejamkan. Satu demi satu dimensi berdatangan hadir dalam lipatan pemikiranku. Maka memejamkan mata adalah sebuah siksaan bagiku.

Langit terang dalam cahaya sang surya                       
Mawar mekar di antara gemulir warna                       
Semua menyapa sang astrajingga, yang hadir di antara dua singgasana                       
Melihat embun bergulir, di sana daun menggantung, dengan Batang tumbuh hijau, tanda ranting siap bercabang                       
Sebuah pohon yang kuat, di antara mawar dan sinar terang, segumpal awan bukan halangan, karena seiring suhu akan menurunkan hujan                        
Angin yang menerpa, di antara teriknya sinar Surya, membawa angin segar bagi yang memahami sejuknya angin                       
Besar atau kecil angin, sudah disesuaikan, dengan suhu yang menjadi atmosfir dalam tumbuhnya pohon                       
Ada lima cabang yang dapat diandalkan, dengan setiap sikunya terdapat ranting yang membuka awan                       
Bukan hanya dalam sebuah patahan, tetapi setiap sikunya memiliki kekuatan pada setiap bukunya         
              
Penyair (Ash-Shu`arā'):5 - Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan Yang Maha Pemurah, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.                       
Penyair (Ash-Shu`arā'):6 - Sungguh mereka telah mendustakan (Al Quran), maka kelak akan datang kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.                       
Penyair (Ash-Shu`arā'):7 - Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?                       
Penyair (Ash-Shu`arā'):8 - Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak beriman.                       
Maka, setiap pohon yang tumbuh, itu sebagai bukti yang nyata bagi orang-orang yang beriman     
                  
Jejakmu ada pada sang waktu, maka lihat dengan mengambil sebuah palu. Jangan pernah dalam setiap saru ada radu, maka itu yang akan membinasakanmu.                        
Kami hadir pada setiap hal yang menjadi prioritas di antara dua kesempatan, yang semuanya berbicara tentang alam.                       
Bila sekali dalam pijakan hanya demi keegoisan, maka kebinasaan terletak pada sangsi diri yang menyebut diri sang nabi.                       
Itu bukan bagian Kami, ada beberapa hal yang menjadi padri, ada juga yang memilih menjadi sati                       
Letaknya pada sisi yang menjadi bagian dari hal yang tak bertepi.                       
Aku berhimpun dalam waktu, aku menuju keagungan-Mu. Seandainya semua berlalu, maka kamu yang menjadi benalu pada persinggahanmu.                        
Seumpama itu, jangan harap semua berada pada tataran Sang Maha Kuasa. Jika semua berada pada tahap realita, maka lihat secara cinta dalam menempuh sebuah rasa.                       
Hijrah Tahta Artha berada pada penanggungan Kami, bila kalian memasrahkan diri pada ilahi rabbi.                       
Jangan pernah sekali-kali ego diri hadir sebagai sang pemilik rabi, maka itu yang akan membinasakan setiap diri.                        
Ketika air mengalirkan segala manfaatnya, maka ambil pada setiap rasanya suatu perjalanan                       
Aku hanya mengatakan yang sudah tertera, karena yang menghalangi perjalanan bukan dari luar, tetapi berada pada lingkungan yang menjadi suatu perjalanan.                       
Yang kau genggam adalah fitnah, atau hiasan. Bila kau genggam erat, maka itu akan melukaimu sampai sekarat.                       
Bila kau peluk mesra, maka itu akan membuatmu terpenjara.                       
Serahkan alurnya pada Yang Maha Kuasa, maka titiknya ada pada muara.                       
Menggenggam bukan berarti menyimpan, karena bukanlah untuk penyembahan                       
Laksana bulan dan bintang, maka menjadi alat dalam proses penerangan pada jalan-jalan terang.                       
Lepaskan setiap persoalan pada Sang Maha Pencipta, lepaskan alurnya pada yang Maha Pengatur Semuanya                       
Brahma datra yuda, nasti warta atya padma.                       
Seperti muara, setiap alirannya dari berbagai aliran yang berbeda.                       
Maka, lepaskan air muara pada laut lepas, sehingga bisa mengembun membentuk awan, dan menjadi jalan turun hujan dalam proses penguapan.                        
Muara bukan akhir, tetapi muara melepaskan yang kau genggam pada laut luas                       
Seandainya itu kau laksanakan, maka hujan deras pun akan memberi aliran air pada tumbuhan, tanah, sungai, kembali ke muara dan terlepas pada laut lepas.                       
Sirkel yang menjadi suatu hal yang jelas dan pasti, walau pun dalam prosesnya mendapatkan berbagai hal keadaan.                       
Ini bukan hanya tentang Hiratha, tetapi tentang kehidupan.                       
Seumpama kau kubur itu lebih dalam, maka lumpur akan memenuhi muara dan merusak lepasnya laut luas                       
Pohon yang tumbuh menjadi hal yang penting dalam kejernihan muara                       
Sesungguhnya, ini tentang niat dan sistem yang jelas. Bukan aji mumpung seperti sirkel dalam kelas, setiap kasta yang menjadi setiap hal tak berdaya pada sebuah penilaian                       
Anggap saja pada setiap keadaannya menjadi suatu keyakinan, tetapi pada setiap sesuatu menjadi suatu keadaan yang tak dapat terhindar.                       

Langit Jakarta belum lama menunjukan keadaannya, kemudian kemarin ini langit Bandung, kembali ikut serta menunjukan jatidirinya pula, hujan es, air dan juga angin mulai menyambangi negri ini. Kisaran waktu yang akan terus memburu anak abak negri. Setiap daerah akan disambangi misteri yang selalu menghantui peradaban. Yah, alam akan segera bergerak mencari titik keseimbangan baru. Pergerakan yang mengakibatkan nergesernya portal-portal dimensi. Sehingga keadaan ini akan memungkinkan bagi semua uga dan semua ramalan terjadi. Ramalan Joyoboyo, Uga Wangsit Silihwangi, dan Sumpah Sabdopalon menjadi keniscayaan. Bagaimana dengan manusia manusia yang tidak memahami?

Para dewi dewi yang di pusaran awan seperti terperangah. Sayap mereka luka luka disana sini, mereka mengkhabarkan keadaan yang tak disenangi. “Duh, Gusti akan seperti apakah keadaan negri ini?” Bukankah DKI Jakarta telah mendapatkan pepimpin yang diinginkan manusia? Bukankah itu doa memanusia? Lantas apakah yang salah! Mengapa tangisan terdengar disana sini. Alam sepertinya merintih sedemikian menyayat hati. Lihatlah seperti apa tangisan mereka. Kini Nusantara dalam suasana mistis yang misteri. Kabut suci telah menyelimuti seantero nusantara.

Yang Maha Pemurah (Ar-Raĥmān):17 - Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya                       
Yang Maha Pemurah (Ar-Raĥmān):18 - Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?                       
Yang Maha Pemurah (Ar-Raĥmān):19 - Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,                       
Yang Maha Pemurah (Ar-Raĥmān):20 - antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.                        
Yang Maha Pemurah (Ar-Raĥmān):21 - Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?                       
Yang Maha Pemurah (Ar-Raĥmān):22 - Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.                 Yang Maha Pemurah (Ar-Raĥmān):23 - Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

“Bila kau siap, 30 hari mendatang, ijinkan Kami hadir dalam setiap perjalanan, dengan pengajaran yang akan menjadi sebuah jalan terang. Insya Allah.                       
Siapkan sumber bacaan, dari setiap sudut dengan lima mata angin yang menjadi petunjuk. Titahkan itu dengan waktu yang mengkhusus dalam kurun waktu tertentu.                       
Itu saja akan menjadi penentu. Untuk selanjutnya, Kami menunggu persetujuanmu.”                        
Aku, Wadya Padri Sanghyang Guru Mukti                       
Kami                       

Maret 26, 2017

Bukit-bukit Pasir (2), Kelana Darma


Hasil gambar untuk pohon dan bukit pasir

Bukit pasir. Terhampar dihadapan mata. Sekejapan mata kemudian menghilang. Berpindah atau kadang lenyap. Angin telah membawanya pergi bersama kisah kisah spiritual disini. Menyedihkan sekali. Kisah perjalanan spiritual yang hanya ada dan berada di alam kesadaran manusia yang mau memperhatikan kasunyatan alam ini. (Yaitu) adalah  mereka yang dengan senang hati menyelami dimensi-dimensi ini dengan kesadarannya. Sehingga meyakini dimensi ini memang ada dan sama saja berada bersama (dalam) ketiadaan. Dalam kesunyatan yang nyata.
Dimensi alam-alam ini sungguh  sulit dipahami dan dimengerti. Sehingga keberadaannya lebih sering tidak dipedulikan. Keberadaan alam ini tertutup tabir realitas keriuhan dunia. Menyatu dalam kesadaran manusia itu sendiri. Maka bayangkan bagaimana menemukan keberadaan alam dimensi ini. Sementara panca indera manusia tidak mampu memindai keberadaannya. Walau  keadaan sesungguhnya sangatlah dekat dengan manusia itu sendiri. Keberadaan mereka lebih dekat dari urat leher. Maka cobalah perhatikan kesepian. Maka keberadan alam kesadaran yang nanti teramati tidaklah kalah dengan  riuhnya kehidupan direalitas itu sendiri.
Beruntung banyak manusia yang kemudian  berusaha menemukan alam-alam dimensi ini. Saking besarny keingin mereka sehingga akal mereka terjebak sendiri. Mereka itu kemudian menciptkaan alam alam ini dengan nafsu mereka. Mereka reka reka sesuka suka diri mereka saja. Mereka anggap alam ini tidak memiliki penjaga. Mereka anggap bahwa alam ini mudah saja dikuasai. Mereka lupa bahwa setiap alam dimensi ada masing-masing pemeliharanya. Mereka menjaga keberadaan alam-alam atas nama Tuhannya. Mereka hanya mengikuti perintah Tuhan yang Maha Kuasa.
Sejak awal pembentukan bumi dengan segala isinya, ada makhluk yg menjaga pada setiap tempatnya. Yang menjaga, memelihara dan menyimpannya dalam setiap suratan yang sudah ditetapkan. Bukan perjanjian, tetapi memang tugas mereka sejak diciptakan. Menjadi pemelihara Semua sudah menjadi tugas mereka, maka tiap-tiap makhluk memiliki tugasnya masing-masing. Termasuk menjaga tempat mereka. Yang mereka perlukan adalah ijin dan kebijaksanaan dalam hidup, mereka hanya mengamati dan mengawasi. Bukan untuk menyakiti, tetapi mereka hanya menjalankan tugas saja.

Sudah tugas mereka sejak ditetapkan, termasuk peristiwa sekarang, itu sudah tugas mereka. Para Kelana Darma. 
Darmaraja
Darmasatria
Darmabatara
Darmasatya
Masing-masing melaksanakan darmanya. Namun manusia tak pahami bagaimana darma mereka ini. Bagaimana mereka berdarma hanya tunduk kepada Tuhan. Maka perhatikanlah bagaimana selanjutnya, manakala manusia mencoba mereka-reka,  apa yang terjadi di bumi nusantara ini. Bagaimanakah polah sang raja berdarma, sang kesatria berdarma, sang batara berdarma, sang satya berdarma. Dan ketika semua berbicara tentang keinginan sudah tentu pada gilirannya hanyalah sebuah pengharapan yang mengabaikan kebutuhan. Sangat ironis. Betapa tidak. Alam sudah mengajarkan banyak hal tentang arti kebutuhan dan juga keinginan serta pula telah diilhamkan kepada mereka arti sebuah kehendak.
Apakah ada yang mengerti? Semua manusia tanpa disadari hanyalah mengejar keinginan saja. Keinginannya yang dianggapnya sebagai kebutuhannya. Keinginan ini telah diciptakannya dari serangkaian angan-angan. Lihat dan perhatikanlah alur kesadar yang berada pada alir nya. Kebutuhan manusia akan oksigen adalah sebuah kehendakNya. Bagaimana saat manusia diberikan sesuatu tanpa batasan. Free dan berlimpah ruah! ApPakah manusia bersyukur? Tidak! Amatilah kesadaran ini, saat ketika  diberikan kepada manusia oksigen tersebut tanpa batasan. Sungguh,  tiada lagi keinginan manusia untuk memintanya. Apalagi memohon kepada Tuhan agar oksigen (nafas) ini tetap diberikan. Alam sudah memberikannya tanpa batasan. Sehingga manusia lupa meminta bahkan selintas dalam anganpun tidak. Apalagi dalam keinginan. 
Manusia tidak pernah menginginkan oksigen padahal dirinya tahu oksigen adalah kebutuhan yang sangat vital baginya. Sebuah ironi kesadaran yang dimiliki manusia. (Yaitu) Manakala dirinya baru sadar bahwa sesungguhnya oksigen itu sangat penting (yaitu) saat nafasnya sudah di tenggorokan. Namun demikianlah kenyataan atas kesadaran manusia. Manusia selalu meminta atas keinginannya bukan atas kebutuhannya. Manakah yang dibutuhkan raga, manakah yang dibutuhkan jiwa, dan manakah yang dibutuhkan ruh mereka, sulit sekali dipahami kesadaran mereka ini Manusia selalu mengejar keinginan-keinginan yang diluar dirinya. Dan ini tentu saja akan melawan kehendak-kehendak alam yang sudah diguratkan pada raga-raga mereka. Demikianlah keadaan manusia yang senantiasa dalam kerugian.
...
“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”  (QS. Adh-Dhāriyāt23)
Tergetar hati Mas Thole mendapat jawaban Kami atas keresahannya. Apa-apa yang dijanjikan Kami pasti akan terjadi sebagaimana apa-apa yang diyakininya dan apa-apa yang telah disampaikan di alam dimensi. Sebagaimana diuraikan oleh al qur an. Rasionalitasnya tentu saja mendebat. Mempertanyakan apakah bukti-bukti yang bisa dikemukaan atas semua keadaan. Mengapa mengambil kesimpulan dari sebuah kemungkinan yang tidak memiliki bukti? Sungguh sulit sekali membuktikan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan dengan panca indera manusia. Bukti-bukti tersebut hanya ada dan tersimpan di hati manusia. Bagaimana menjelaskan keadaan ini, sementara manusia yang mendebat itu  tidak mau menggunakan hatinya untuk mengerti. Heeh..!
Perjalanan Mas Thole menelusuri jejak Dyah Pitaloka menemui titik terangnya. Bahkan keberadaan Prabu Silihwangi sedikit banyak sudah bisa dipahaminya. Bagaimana keadaan prabu Silihwangi?
“Sudah dr sana bisa ke Bubat, sebelah selatan barat daya, itu tempat nghyang Putri Pitaloka. Sebelah utara dari Gunung Cupu, itu tempat nghyangnya Batari Guru, gurunya Pitaloka dan Putri Kadita, dan Putri Campaka. Menelusurinya akan berbeda, tetapi memang demikian. Sudah saatnya semua terlihat dan terbuka, kecuali Hyang Prabu Siliwangi terakhir, krn dimensinya sangat dekat dengan bumi (bisa siapa saja bolak balik ke sana sini) , maka jangan heran kalau Sribaduga seperti masih ada, tetapi tidak ada. Dia masih tertahan di dimensi yang terjangkau oleh para pertama dan pandita. Bukan hal yang aneh, semuanya sudah dalam kehendak yg Maha Kuasa. Uga ada karena karsa, karna dan kerta. Berjalanlah atas nama Yang Maha Kuasa, dengan telusuri jalan Kehendak Yang Maha Kuasa, berjalan dengan kekuatan dari Yang Maha Kuasa”
“Sebetulnya semua orang akan berada pada setiap kehidupan, yg penuh perjuangan dalam kehidupan bila selalu memikirkan peran dan tugasnya di dunia. Dia berada pada garis kehidupan yang menyerap semuanya secara bijaksana, tetapi Untuk semua itu, dia berhadapan dengan berbagai hal yang tidak bijaksana. Semuanya merunut pada satu keegoisan diri dan perilaku sebagai diri yang mandiri dengan segala ilmu pengetahuan yang dimiliki.”
“Bukan ISA, Musa ataupun Isti'adzah, yg sering kalian sebut dgn Khidir. Suatu proses yang akan menuju pada suatu hakikat kehidupan bila berlaku dengan bijaksana sesuai dengan kehendak dari perjalanan. Ketika berada di Padang mahsyar, bukan hal yang ada sekarang menjadi tolak belakang, tetapi hati atau niat tulus yang akan menjadi cerminan.”
“Ketika semua berada pada satu entititas dgn paduan yg berbeda, maka akan merasakan perbedaannya itu sendiri. Bukan tentang nestapa, tetapi bagian jiwa yg memang ada pd setiap hal yg ada. Biarkan saja dia berfatamorgana, karena itu akan menjadi hal yg akan menyeretnya menjadi yg dia kehendaki. Seperti empedu yg ditelan sendiri.”
Demikianlah pemahaman yang dihantarkan bahwa sesungguhnya Prabu Silihwangi sendiri sedang menjalani suatu proses kehidupannya sendiri. Menuju suatu keadaan yang dipahami manusia sebagaimana proses perjalanan nabi Khidir. Maka menjadi tidak aneh manakala Prabu Silihwangi masih ada dan bertahan di kesadaran manusia. Sebagaimana manusia meyakini keberadaan nabi Khidir. Sebab keadaan Prabu Silihwangi memang dalam proses siklus tersebut.
Siapakah yang mampu membuktikan keberadaan nabi Khidir? Tidak ada! Sesungguhnya hanya keyakinan dalam kesadaran saja. Semisal inilah keberadaan Prabu Silihwangi. Ada namun tiada. Dan masyarakat meyakini ini dalam kesadarannya. Maka usai sudah pencarian Mas Thole menyusuri keberadaan Prabu Silihwangi. Maka dalam Uga dikatakan bahwa siapa saja yang ingin mencarinya dengan logika dan rasionalitas semata, mereka akan mengalami kesesatan. Keberadaan Prabu Silihwangi berada di dlaam hati anak-anak keturunan Pajajaran. Keberadaan sang Prabu sangat dekat sekali, lebih dekat dari urat leher mereka.
...
Mas Thole terus melangkah melanjutkan perjalanan spiritualnya. Perjalanan melintasi dimensi dan alam kesadaran. Berada diantara keriuhan realitas kehidupan manusia. Kini dirinya sendiri tiada teman. Berada dalam kesunyian jiwa. Berada dalam kelangutan yang nyata. Memasuki relung-relung syarafnya sendiri, mencari bukti dan analogika atas apa-apa yang dialaminya. Walau sesungguhnya bagi orang yang melihatnya dia berjalan sebagaimana manusia lainnya. Berjalan di pasar-pasar. Berjalan di mall-mall, berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Membuka lawang dengan gerbang yg ada gawang tanpa penghalang.Jalan yang panjang, ada di karangkamulyan. Di sana terbentang perjalanan sang hyang padang dalam membimbing sang pajang, pujangga dari medang, pajang, karang anyar, pajajaran dan sumedang larang. Suatu jalan untuk melihat ke belakang, dan memandang ke depan, tanpa ada penghalang selain gambaran yg ada pada pikiran. Sekat belakang dan depan pada setiap jalan, itu bukan karena tempat ataupun waktu yang terentang.
Tetapi berada pada sudut kehidupan, dengan pijakannya bukan di lawang ataupun gerbang, tetapi ada sepanjang jalan yang memanjang antara gerbang sampai lawang pakuan. Bentuknya berada di sudut sebelah selatan, di sana ada yang memajang sang hyang, tanpa tahu itu untuk penghujam pada setiap keadaan. Sang hyang tak akan datang pada hati yang tertawan atau tertekan. Tetapi akan menghampiri sang perindu akan kasih sayang Tuhan.
Mencintai alam tanpa berpikir ulang tentang perjalanan, belakang atau depan, masa lalu atau masa depan. Suatu paduan yang menyapa hyang, tanpa menitikkan hayang. Seiring perjalanan, bukan gelap menjadi terang, tetapi lihat dengan hati nurani yang matang, bahwa ada perjalanan untuk memutar dan lurus memanjang, maka itu menjadi pilihan. Suatu hal yang akan menjadi bagian dari sebuah perjalanan, adanya hilang tanpa gilang, yang menyilang pada jejak sang hyang di antara para peraba segala keinginan gang tak pernah hilang atau terbuang
Sungguh, semua menjadi keadaan yang menyulitkan bila itu ada pada sudut yang sulit, tetapi lihatlah dan perhatikan jalan dan perjalanan, maka tapaknya akan terasa sampai tulang sendi terasa hilang. Di sana akan diketahui semua yang menyebabkannya sampai seperti sekarang. Beradalah di jalan hyang, untuk melihat ke belakang dan ke depan.
Bukan untuk sekedar tahu, tapi serap dalam kalbu, bahwa itu atas sebuah perjalanan, akan berakhir dimanakah sebuah pesan? Teraktualisasikan, atau hanya sekedar pengetahuan tanpa menyerap dalam iman, islam dan ihsan. Jalannya tidak panjang, tetapi dengan iman akan menjadi penguat perjalanan. Jalannya tidak terjal, tetapi dengan islam akan menjadi pijakan perjalanan. Jalannya tidak curam, tetapi dengan ihsan akan terlihat bentangan bak di padang ilalang
Semua ada pada sebuah perjalanan, dengan cerminan yang menjadi bagian dari setiap keadaan yang berbeda. Tetapkanlah dengan sebuah keyakinan, bukan hanya dengan berjalan tanpa pijakan dan ketentuan
Selamat jalan...
Jalan, bukanlah suatu tempuhan tanpa bebas dari segala hal
Sang hyang padang, akan menjaga setiap perjalanan
Kerajaan (Al-Mulk):12 - Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
Kerajaan (Al-Mulk):13 - Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

Maret 03, 2017

Bukit-bukit Pasir (1), Sang Saka

Hasil gambar untuk bukit pasir
Alam telah merenda benang-benang yang kusut. Mewujud kini dialam nyata. Menjadi bukit bukit pasir yang tinggi menjulang. Entah angin dari mana yang membawa pasir-pasir itu. Bukit pasir yang akan dengan mudahnya berpindah tempat dari satu bukit ke bukit lainnya. Dari satu tempat ke tempat lainnya. 

Membentuk kesadaran yang terus menggeliat.  Esklasi kesadaran yang terus meningkat. Ranah realitas yang semakin tidak menentu. Lihatlah kedatangan para penguasa alam materi ke nusantara. Kekuatan naga dan kekuatan harimau. Kekuatan ular dan kekuatan rubah. Kekuatan hitam dan putih, kekuatan langit dan dasar bumi. Kekuatan yang akan berbenturan di negri ini. Maka kemudian lihatlah, hujan silih bergantian tak menentu. Apa yang kita saksikan yang hitam ini memerah, yang merah menggupal darah. Bagaimana dengan yang putih.

“Aku kata tak berbuku.Mengerumuti  waktu. Desah resahku,  dalam rahsamu. Aku bilah sembilu .
Kisahkan kalbu yang  terkoyak kata-katamu.”

Berkata Mas Thole mengurai kesepian yang terus meyerang. Ketidak mampun diri untuk mencegah apa-apa yang akan terjadi, menjadikan malam-malamnya menjadi sebuah siksaan. Apa artinya tahu jikalau sesungguhnya rahsa tahu itu tidak membantu. Apa artinya mengerti jika pengertian yang diminta akan menghancurkan.  Apa artinya berilmu jika pengetahuannya semakin memperbesar rahsa bersalahnya. Suungguh, entah apakah masih ada gunanya jika kisah spiritual ini masih terus dikisahkannya disini. Apa gunanya jika semua yang dikhawatirkanya sudah terjadi.  “Hh...entahlah..”
...

Layar buku ini dibuka dalam kekalutan. Menyisiri hati dan  keinginan, sebuah keadaan nuansa ketenangan yang tidak pernah didapatinya di negri ini. Menghablur bersama kereta pagi. Menuju sudut kumuh sanubari. Ada yang tertinggal.  Kesepian. Maka biarkan ini dalam sepi, dalam penantian yang terus  menjejali . “Setiap mimpi adalah harapan.”  Keluh  dalam  penantian. Pengharapan yang terhibar pada setiap malam, akan datangnya sebuah keajaiban bagi negri ini. Dalam satu senyum dalam satu kecupan kecil, “Selamat malam”. Selanjutnya, biarkan aku bertanya sepi. Terbangun dalam satu harap, rindu ini berpadu. Bersama Kerinduan Ibu Pertiwi. Setiap mimpi ku berharap dan bertanya. Sebuah angan engkau menyambut  dalam satu kecupan seorang Ibu. Keindahan tentu saja akan terasa panorama surga dalam buaian alam semesta. Dalam bekap kasih sayang dan kehangatan. Meniti sebuah arti kehidupan.

Sang saka merah darah menangisi
Kibarannya mengombak
Diantara wangi  dan  jeda ilusi
" Selamat pagi"

Inilah mimpi;
yang terpungut dari yang terpingit
Yang tersingkap dari yang tersurat
yang terpapar dari yang terkapar
yang terlupa dari yang ter papa

Benarkah disana ada nusantaraku? Sudah sekian lama Mas Thole diam dalam meditasinya sendiri. Alam khayal telah menjadikan dirinya diam diatas gerak sang raga yang terus saja belari kian kemari. Berlari, mendekati pusat-pusat kekuasaan negri ini. Entah bagaimana caranya dia bisa masuk ke lingkaran keukuasaan. Mungkin saja Kami yang menghantarkannya. Seiring dengan kondisi negri yang semakin memanas.  Dirinya harus masuk ke dalam pusaran polituk yangtak dimenegrtinya sendiri. Apakah perannya? Siapakah dirinya? Sehingga petinggi ini mau menerimanya?.

Bertanya dan terus bertanya kepada Kami. Benarkah gelombang lautan manusia yang memenuhi ibukota sebagai akibat telah bangkitnya kesadaran ingat Allah? Yang bertahun-tahun ini tanpa lelah terus diusungnya. Baik dalam diam maupun berdiri. Benarkah? Pertanyaan tersebut bertubi-tubi menghantam jantung dan kepalanya. Siapakah yang tak bangga. Jutaan manusia menyemut , mereka datang hendak dengan kehendak sendiri. Demi panggilan hari nurani mereka. Benarkah demikian? Layaknya Mas Thole harus bersyukur jika demikian. Perjuangannya di alam kesadaran telah mewujud menjadi sebuah gerakan di alam materi. Jutaan manusia bagai tsunami memenuhi jalan-jalan di Ibukota. Adakah ini ilusi? Apakah yang terlihat sama dengan yang tersurat?

“Ataukah ini ilusi; yang ter aliensi dari yang ter difraksi, yang terjaga dari  para pen dusta, yang siaga dari para penista, yang sisakan jejak rahsa bagi pecinta. Ketika rindu tak berbalas kata. Sendu tak berbekas rahsa. Bermain bilas asmara dalam sabana. Mengurai  alinea pada semesta. Telah diukir kata kunisbatkan kepadaNya. “Aku bukan pualam yang tercipta dari puisi sang pujangga. Aku adalah lara yang menyesal dari relung dada” Aku bersama cahaya, tersekat diantaranya. Sekarat tanpaNya. Menunggu waktunya tiada” . Maka benarkah alam sebagaimana keadaanya ini? Semua dalam pertanyaan saja.

Kisah Mas Thole telah dimulakan. Kisah Bedar Alam 1 yang terasa mengiris tulang. Berangkat dari pesan-pesan Kami. Makhluk lintas dimensi telah memasuki portal-portal Bumi. Mahluk langit,  makhluk dasar bumi, bahkan mahluk-mahluk, dari luar guguusan galaksi Bima Sakti sudah berdatangan. Merka turut serta dalam perhelatan akbar.  Mereka terus membombardir udara bumi. Mereka bermunculan di dalam kesadaran manusia. Maka lihatlah bagaimana keadaan  bumi. Maka perhatikanlah bagaimana perilaku manusia. Maka lihatlah dengan hati. Kita akan dapati bagaimana keadaan sesungguhnya di alam kesadaran. Perang telah di canangkan. Gong telah di tabuh bertalu-talu saatnya Bedar Alam telah tiba. Mas Thole diam dalam sendirinya. Semua yang diwartakannya bertahun-tahun telah terjadi. Kebenaran Kami tela dinampakanNya.  Mka  kisah Mas Thole dimulai disini. Inilah bukit pasir kesadaran.

...

Bismillahirrahmanirrahim
Astrajingga membangun istana, adanya di Mekarsari, dekat dengan Jaya Pudi. Daerah Wadya Manggala, Kecamatan Jatinunggal, Sukakersa, Tasikmalaya. Sebuah istana untuk membangun peradaban yang tertinggal dan tenggelam oleh Jaya Drupadi, Pasukan Wangsu Aji Mayu, yang menjadi latar dari perbedaan di antara dua kerajaan yang berbeda. Semua menuju lautan, seperti bertempur dengan pasukan langit dan mayapada, tak ada yang menang, tetapi bumi menjadi tumpur oleh peperangan. Astrajingga yang tersisa dari Kerajaan Wangsu Aji Mayu, membuat kerajaan di bumi, dia mulai meniti menjadi manusia bumi sebagai manusia yang memiliki keistimewaan dari makhluk lainnya. Astrajingga makhluk bumi, ketika mendekati gravitasi, dia mewujud menjadi manusia sakti, dalam geraknya cepat menandingi pusaran bumi.

Semua yang ada dia buat seperti api, tanpa melihat adanya bumi. Semua menjadi sakti, Astrajingga menikah dengan Dewi Sawitri, istrinya yang ikut turun ke bumi. Tak ada yang tau dari mana keduanya berasal, tetapi Mangkubumi tahu Astrajingga dan Dewi Sawitri bukan makhluk bumi. Sesungguhnya semua yg terjadi berada pada kitab Syang Yu Aji Puti, dalam bab Astrajingga dan Dewi Sawitri menuju bumi. Semua yang terjadi menjadi hal yang tidak dapat menggambarkan, bahwa kehidupan pada lintas dimensi menjadi suatu hal yang menjadi bagian dlm perjalanan ini. Ketika semua menjadi satu, tak ada yang nyaru, semuanya hanya bersujud pada ilahi rabbi.

Peradaban di bumi, dibangun atas banyak dimensi dan lintas galaksi, tak ada yang utuh menjadi penghuni bumi. Adapun manusia kini, berada pada titik perjalanan galaksi Bimasakti dan galaksi Asterius. Kedua galaksi yang awalnya menyatu dan terpecah karena gesekan dari perputaran yang terjadi. Seluruh yang ada di bumi bukan hal yang abadi. Semua yang menjelma di kahyangan pernah ada di dalam putaran manusia. Seingat malam dan siang, semua menjadi bagian tak tertera pada perjalanan peradaban. Ketika bertanya tentang makhluk bumi, maka lihat diri dalam raga yang berbentuk kini. Ketika bertanya tentang makhluk langit, maka lihat diri dalam raga yang berbentuk sekarang. Ketika semua menjadi satu paduan, membentuk satu keutuhan yang mencakup semesta alam. Jangan pernah mengira semua yang ada hanya kebetulan, semua sudah menjadi takdir Tuhan
Bahkan Kami pun ciptaan atas kehendak-Nya.

Semua yang ada pada garis bujur selatan Khatulistiwa, pernah ada negara yang bernama Mekarsari, dipimpin oleh raja langit yang turun ke bumi akibat peperangan antar dimensi. Semua menjadi bagian pada setiap kutubnya yang membentuk salib di Jayagiri. Semuanya bisa terlihat dengan jelas pada diri yang menjadi bagian dari titah ilahi rabbi. Bukan untuk menghantui atau menjadi perbedaan di muka bumi. Dia satu dari sekian banyak pasukan yang turun ke bumi. Memimpin menjadi kerajaan yang takntertandingi, membentuk sebuah jaring aplikasi yang sinyalnya menyatu dan terikat pada satu kesatuan yang berpadu pada keadaan yang menyebar di seluruh alam semesta
Hal yang ada pada titik berbeda. Jiwa akan menuntun pada pertemuan dua hal yang berbeda, tetapi pada dasarnya berada pada satu rasa.

Semua menganggap akan membentuk bumi pada pribadi yang menjadi sebuah keuntungan bg yang memegang kuasa. Bukan itu yang akan menjelma pada titik yang berbeda. Pada setiap keadaan dan peristiwa, berbeda dengan keadaan yang menuju satu keadaan yang “drupa du in sa yu da ni ka tu pa gi”. Hal itu yang akan mengajak kalian pada satu keadaan yang melihat semuanya tanpa melihat tujuan yang tidak nampak. Lihat, dan berbuatlah dengan suatu keutuhan. Jangan melihat pada hal-hal yang tidak ada, tetapi berada pada satu jiwa yang berbeda; Pembukaan (Al-Fātiĥah):6 - Tunjukilah kami jalan yang lurus,Pembukaan (Al-Fātiĥah):7 - (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Lihatlah ayat 5 4 6 9 8 3 1. Berada pada deretan tiga angka akhir, maka kamu akan tahu siapa Astrajingga dan apa keterkaitannya dgnmu.

Gemuruh laut selatan akan terdengar di batas singgahan antara astana gede dengan panyileukan. Suatu keadaan yang mengukur akan selaksa pasukan sudah datang mengepung sang baya wang sangkan. Suatu hal yang membuat semua orang melihat, bahwa tidak ada yg berbuat tanpa itikad
Sesungguhnya pada setiap hal ada peristiwa besar, sang pusat panembah rasa tinggal di Giri Laya, dekat dengan Gaja yana. Semua menjadi sirna ketika berhadapan dengan pasukan perang dari astina pura yg sebentar lagi datang. Lihat ke depan, di sana ada Ki Bayu Pamanah Rasa yang memang ada untuk menjaga titik yang tersedia di dua sudut khatulistiwa.

Semua bergerak pada satu simultan peradaban dengan berbagai rangkaian yang menjelma pada satu keutuhan yang menjadi bagian dari perjalanan. Semua menjadi suatu kekuatan pada jiwa yang merasa benar, padahal benar ada pada keadilan, bukan pengakuan Ketahuilah apa yang akan kalian katakan. Suatu saat, titik garis yang membingkai di sebelah selatan, akan bergerak ke utara dengan kecepatam 1000 kali cahaya. Saat itu, gunung-gunung melayang, jiwa-jiwa berlarian, semua menuju tempat perlindungan.

Ketahuilah, pada setiap ain, ada sin dan mim. Semua membentuk sebuah penyebutan atau istilah yang asing tetapi sering muncul. Sin, itu ada sebelah hilir dari bendungan. Ain, adanya sebelah girang dari bendungan. Mim, ada di sebelah selatan dari bendungan. Dan menjadi titik pusat pada bendungan. Adapun nun, itu bertingkat-tingkat pada dimensi yang tidak dapat dilhat tetapi dapat dilihat. Suatu hal yang menjadi keyakinan akan keadaan, maka ih dinash shirathal mustaqim
Suatu kerja yang membentuk istana dekat swisaya adi paya data mura. Pencipta (Fāţir):3 - Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)? Pencipta (Fāţir):4 - Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan) maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.

Pada setiap peristiwa akan hal-hal yang berbicara tentang alam semesta. Semua bicara tentang kehendak Tuhan. Pada dasarnya semua menu nggu pada satu prasasti yang menjadi bagian dari diri yang menyatu dengan sang ilahi rabbi. Ain, dalam paduan ba, sin dan mim, akan hadir pada setiap generasi yang mengimani akan Tuhan dan kehendak-Nya. Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan berbagai makhluk dalam rentang hal yang konsisten dan terus berproses. Tahapan demi tahapan, akan terlihat pada setiap suasana yg menjadi hal2 yang tak terlihat tetapi nampak. Suatu keadaan yang menjadi kesepakatan antara setiap jejak dengan suatu buliran yg melukiskan pada daur dengan baluran yang berbeda. Jamgan pernah menghina atau mencela. Setiap orang berbeda. Ingat, bukan kelebihan atau kekurangan yang dilihat, tetapi wujud dlm satu keadaan yang sama.
Seluruh yang berdaya akan menjadi suatu kekuatan pada segenap kehendak Yang Maha Kuasa
Salurannya membentuk purna pada setiap keadaan.

Guruh (Ar-Ra`d):3 – “Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” Seluruh alam berada pd kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Laba-laba (Al-`Ankabūt):7 – “Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”

Suatu perjalanan harus dilalui dengan sabar, tak akan lekas dengan sekejap pandang. Kalau sudah ada pada keyakinan, maka semua jalan akan terbuka lebar. Pembeda (Al-Furqān):3 – “Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” Penyair (Ash-Shu`arā'):6 – “Sungguh mereka telah mendustakan (Al Quran), maka kelak akan datang kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.”  Penyair (Ash-Shu`arā'):13 – “Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun.”
Bukit-bukit pasir (Al-'Aĥqāf):4 - Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar." Bukit-bukit pasir (Al-'Aĥqāf):5 – “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?”

Bukit-bukit pasir (Al-'Aĥqāf):6 – “Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” Bukit-bukit pasir (Al-'Aĥqāf):7 – “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari kebenaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka: "Ini adalah sihir yang nyata". Suatu saat, hal tersebut menjadi sesat dengan pandangan banyak manfaat, tetapi jg akan menjadi berkah bagi yang menginginkan kebenaran atas kehendak Tuhan. Maka, niatkanlah karena Allah, karena kehendak Tuhan Yang Maha Esa. 

Bersambung...