Juni 29, 2015

Gending Pharmeswara






Gending Preswara dalam raga tak berkalang tanah, munuju singgasa tak bertuah. Ada banyak yg sudah berkalang tanah, merah, putih, coklat dalam batasan yang sudah memanah dalam setiap panah.
Gending Prameswara akan berbunyi besok, ketika sang fajar bersinar. Gending itu sudah kami siapkan
lalu, seiring dengan prototipe tanah.
Gending Prameswara tak akan yang bisa mencegah, bila sudah berbunyi, lekaslah beribadah
itu tanda sudah waktunya sang kala menyapa dewi durga
kala bicara dengan gending sebagai tanda
gending prameswara menjadi satu dari lima perintah
 yg sudah menjadi titah dalam setiap pepatah

Gending Prameswara sudah menjadi sedah, dalam sedu dan sada para satria dalam menghampar sajadah
gending prameswara akan mengiringi langkah, sang Batari mengemban titah
mengajak kala dalam setiap langkah menuju setiap ketetapan dalam satu tujuan perintah sang penyabda Kun Fayakun

Gending Prameswara akan mnjadi tanda berkumpulnya orang-orang dan semua makhluk yang diperintah, untuk menjejaki titah sesuai dengan kehendak yg Maha Kuasa
Gending Prameswara menjadi tanda, Widhiwasa bersabda akan bumi dalam tata kehidupan yang menyapa semua penghuninya
Gending Prameswara ada dlm setiap titah, menuju dentingan perintah Yang Maha Kuasa
Gending Prameswara akan berbunyi selama semua pasukan dalam proses pengumpulan titah 
 gending prameswara berhenti dlam titah, sesuai ijin Sang Maha Kuasa

Gending Prameswara seperti denting yang ada pada setiap makhluk untuk menetukan tujuan
gending prameswara menjadi rundayan dari selaksa keadaan
gending prameswara bagian dr kehidupan menjadi tatanan yang sesuai dengan keadaannya, seperti dalam sebuah sistem yang memang sudah ditentukam.
gending prameswara dalam setiap dentingan menjadi nyanyian alam untuk bergerak dan terus bererak
gending prameswara berada dalam titah, titah yg sudah diperintah.
gending prameswara sudah ada dalam genggaman, hanya tinggal membunyikannya
gending prameswara satu dari seribub keadaan akan berubah
gending prameswara siap untuk dibunyikan
dalam nada gending yang tak ada satu makhluk pun yg tidak mendengarnya
semua menari dan menyanyi dalam gending prameswara mengikuti sistem yang sudah ditetapkan
gending prameswara menjadi sebuah keadaan, seutuhnya bumi tidak utuh
seadanya langit bukan langit
sebisanya bergerak bukan dalam gerak
gending prameswara berada dalam lautan suka cita
sang pembawa kabar gembira akan datang dengan menyampaikan banyak cerita
Hasil gambar untuk ksatria meditasi
gending prameswara sudah berbunyi dalam lagu tak pasti
di antara jajaran planet yg dilalui
kini bumi menjadi bagian dalam tuas geding prameswara
selamat datang dalam mengemban sebuah titah
kurang menjadi karang
kurung menjadi larung
semua berada dalam gerak-Nya
sehingga tak dapat dalam pola yang tidak menjadikannya keterkaitan dalam pejalanan satu tujuan
gending prameswara ada pd setiap tahapannya
gending prameswara berbunyi dallam sunyi dan senyap
sudah dua dekade menunggu geding prameswara ditabuh untuk mengembalikan alam pada keutuhan yang seutuhnya
gending prameswra dalam ikatan tak terikat
selalu enjadi bagian yang tak terbagi
gending prameswara...
gending prameswara
 gending prameswara
tiba dan segera hadir
sudah saatnya menggerakkan bumi dalam rotasinya
gending prameswara mengabarkansemua tanda
bukan dua atau tiga
 tetapi banyak tanda yg berlimpah dalam setiap dentingannya
tetapi membahana
nyaris tak terdengar
gending prameswara suaranya mengelegar dan sunyi
suara yg menjadi suatu sistem membangkitkan yg sudah dalam kelayakannya
sehinga menjadi bagian yg tak terhingga
gending premeswara itu ada
 iya, ada
...

Mei 15, 2015

Menjemput Bunga Sakura


Hasil gambar untuk bunga sakura

Himpitan rahasia rahsa,
Nurani bersimbah air mata
Jelmakan jiwa dalam nikmat aroma
semesta bersama kidung prameswara
..
“Dimanakah dikau dinda puspita?”
Penantian tak ujung usia
Merindu, merindulah sendiri
Wangi peluhmu kesturi perindu
..
Rindu merindulah sendiri
Janjimu tidak sampai  sewindu
Kini aku hanya mengukur WAKTU
Aku hilang dalam kelebatan
Pada ujung penantian daun kesepian
Rontok dari dahan sang malam
..
Malam..oh malam..
Jangan usik gadisku
Biarkan bersama bunga sakura
Menunggu bumi terbuka
..
Lihatlah disana, ketika langit
Menjalari sang fajar
Anak-anak bertopi koran
Menyusuri pematang sungai liar

...
Malam oh malam
Jangan usik gadisku..
Biarkan ku disini menunggu pagi
..
Kutemukan diriku bersama mimpi
Dalam gundah hati dan mau mati
Anak-anak desa riang berlari
Menuai padi bertelanjang kaki
..
Malam oh malam..
Jangan usik gadisku
Kulepas sepi  anak panah
Bahkan tak dapat ku tarik kembali
..
“Dimanakah engkau dinda puspita nirvana”
Kisahkan risalah dikau berada
Adakah di kuncup matahari terbit?
Engkau menisbat sang bunga
Aku tak pernah mengerti mengapa?

..
'Bungaku tak bersemi di nusantaraku?!?'

Puspita raja merajai istana
biarkan kurangkai selaksa kata
memuja rahsa yang tak pernah sirna,
daun pandan kini jadi mahkota
kusiapkan singgasana karena yakin engkau ada
terbanglah kau bersama semilirnya angin,
beri senyum pada kasih yang tak sempat bertemu
waktu...


..
Medio, Mei 

April 17, 2015

Kisah Spiritual, Hilang Dalam Lipatan


Aku, insan dalam lipatan
Pusaran waktu dan jelma yang terbuang
Sesuatu yang menjadikan ada
Maka aku ada dalam kesendirian
Ada dalam tatapan, kosong dalam keadaan
Menyaru dan menyatu dalam himpitan
Jeda yang  hilang
Sirna dalam asma-Nya
Wahai pemilik kata, pemilik puja, pemilik segala luka.
Buatkanlah untukku singgasana dari rangkaian huruf agar terbaca.
Betapa ramainya kesepian ini.  
Ku ingin semua mengerti,
“Bila tiada mendalam cinta dan kerinduan, tak akan terlalu dalam sakit yang kurasakan”.

Waha pemilik asmara, pemilik kamasutra, pemiliki segala rahsa.
Buatkanlah untukku peraduan dari segala duka agar teramu dan tersirat di jiwa.
Betapa derita melanda bukan sebab  salahnya cinta.
Ku ingin semua pahami,
“Bila tiada mendalam yang kurasakan, tiadalah  dapat ku belajar mengerti betapa sulit hidup dalam peraduan rindu ini”

...


“Ku khabarkan ini padamu…”



Berkata sosok itu kepada Mas Thole yang sedang terlelap sesaat  dalam tidur siangnya, setelah dalam seharian mengantarkan istrinya yang sakit berkepanjangan ke rumah sakit terdekat..

"Dulu manusia berlutut karena cinta. Kini manusia menistakan cinta. Menganggap aib semata, atau bahkan menganggap aku  tidak pernah ada. Aaaargh…!. Betapa manusia lupa  awal kejadiannya. Adam bapak manusia memohon kepada Tuhannya untuk menghadirkan aku. Menghiasi rupa jiwanya dengan rahsaku ini. Maka salah satu tampilan wajah Adam adalah perasaan dan rahsa cinta ini. Aku yang eksis dalam jiwa manusia dan tahukah, karena sebab dorongan rahsaku inilah, Adam kemudian memohon diciptakan Hawa untuk melampiaskan hasrat kasih sayang.  Itulah aku pemilik energy rahsa cinta. Tuhanku telah menciptakanku dalam dimensi rahsa. Semisal rahsa lainnya, suka, duka, lara, dan yang lain-lainnya. Disanalah kerajaan rahsa bersemayam. Akulah salah seorang penguasa rahsa disana. Kerajaanku meliput seluruh alam semesta sejauh kesadaran manusia ada.

Kini aku harus melayani cinta manusia. Demi semua cinta anak manusia aku ada. Ku ingin kalian mengerti. Tanpa diriku ini tiadalah ada rahsa cinta yang mendorong anak manusia berkembang biak layaknya sekarang ini. Kini semua anak manusia mencampakkanku dengan hina. Menaruhku di alas kakinya. Aku menjadi keset semata. Menganggap diriku sebagai nafsu manusia semata. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku suci  jijik memandangku.

Sedikit sekali kesadaran manusia pahami tanpa diriku hambar nafsu birahi manusia, tiada keindahan disana. Akulah muasal keindahan cinta anak manusia. Akulah dewi penghias rahsa. Sehingga anak manusia memiliki daya dorong kasih sayang antara satu sama lainnya. Untuk itulah aku diciptakan oleh Tuhanku. Namun sayangnya sebagian anak manusia kemudian justru men-Tuhankan aku. Kesadaran manusia selalu dipenuhi oleh rahsaku. Tiada seidkitpun manusia ingat Tuhannya yang telah menciptakannya.  Manusia terus melakukan pengejaran kepadaku. Sungguh itu bukan salahku. Aku tidak pernah meminta di Tuhankan oleh manusia. Aku sedih karena itu He eh…Untuk itulah aku datang padamu, mengkhabarkan kesedihanku itu. Catatlah namaku dalam kesadaranmu. Akulah Dewi Kamasutra“


Mas Thole lirik layu dalam semedi. Gambaran demi gambaran seperti bingkai yang mencari puzlenya. Harus sudah diletakan sebagaimana penetapan alam atas apa-apa yang bakalan terjadi. Semua makhluk lintas dimensi terus mendatangi. Meski dalam gerak keseharian namun hakekatnya dirinya dalam diam mengamati. Haruskah dikhabarkan semuanya. Takut rasanya jika nanti akan menjadi fitnah adanya. Dalam ketakutan yang masih saja menggayuti dirinya mengkhabarkan ini. Dirinya mencoba berani menuliskan ini disini. Benturan yang dialaminya kemarin-kemarin ini sungguh tidak mudah dilewati. Jika karena tidak pertolongan Tuhannya, entahlah, enggan rasanya dirinya kembali disini. Menuliskan ini.

Desah resahnya nya itu telah menggulung langit dalam empat lipatan dadu. Ingin di lemparkannya ke tanah, dalam lempar dadu, mencari akan keberuntungan. Angka peruntungan yang menyatakan agar dia tak perlu kembali disini. Dalam pondok silaturahmi  yang jernih dan asri ini.  Dia ingin berkelana, menjejak angkasa. Mencari kekasih hati yang mau mengerti bahwa takdirnya disini bukanlah untuk disakiti. Dirinya hanya mengeban titah Tuhannya. Menjadi boneka yang berjalan dengan jiwa. Haruskah selalu menanggung duka lara?  Sebagaimana alam semesta yang hanya bisa menatap manusia dalam duka. Sebab manusia tidak mengerti manusia. Sekedar ucapan terima kasih saja manusia tak mau. Maka haruskah dirinya kembali kea lam manusia ini? Mengkhabarkan apa-apa yang terjadi pada dimensi yang tidak sedikitpun manusia peduli?     Aaargh…!

Dalam dirinya berkelana tidak ada yang tahu apa yang dia cari. Bukit tinggi di daki, lautanpun di sebrangi. Mencari hakekat hidup sejati. Mencoba menguak rahasia ilahi atas penciptaan diri dan juga alam ini. Tidak akan berhenti dirinya berkelana, meski ke ujung dimensi sebelah mana akan terus dia cari. Tidak akan berhenti sebelum di dapat apa yang di cari.  Dirinya sudah tidak peduli.Meski jJasadnya masih saja disini berjalan bersama manusia lainnya. Menyusuri panas teriknya Jakarta. Namun jiwanya tidak diam. Pengembaraannya belum selesai. Panggilan atas nasib negri, atas apa-apa yang bakalan terjadi terus saja terjadi. Bayang-bayang menggoda halus menembus rahsa saat bahagia meskinya ada bersama semesta. Jiwanya terus berkelana, merasa sendiri, bagai mimpi saat sadar, diri ini telah lama tak kembali.

Kini dia harus diam dalam semedi. Mencoba menangkap isyarat alam yang terus datang. Raganya sudah tak kuat menahan. Keanehan pasti akan terjadi. Dia kan bicara sendiri bagai orang gila. Seandainya dirinya mampu, tak peduli, hati tak akan beku merasa sendirian di alam ini. Jiwa terasing dalam keramain Jakarta.  Bicara dengan alam, bicara dalam lintasan dimensi yang rahsanya akan meragukan semua manusia. Meskipun  manusia selalu ditanyakan oleh al qur an, dari apakah manusia diciptakan? Tetap saja ini tidak menjawab keadaan. Bukankah manusia diciptakan dari saripati tanah? Siapakah yang mengelola tanah sejak mula penciptaan?

Berada dalam kuasa siapakah tanah tersebut membentuk dirinya? Tentu saja ada hiraki pelimpahan delegasi pengawasan atas kekuasaan proses penciptaan ini kepada makhluk di alam ini. Bukankah manusia diciptakan dari kumpulan atom-atom yang kemudian menjadi massa. Massa yang kemudian eksis karena sebab titah Tuhannya. Semua atas hasil kolaborasi dari  seluruh makhluk yang ada di alam semesta. Dari seluruh lintasan dimensi akan bermuara dalam kesadaran manusia. Manusia semua akan memberikan pengajaran dan pembelajaran kepada kesadaran manusia yang dititipkan kepada raga yang terbentuk dari saripati tanaha. Jiwa yang merupakan kumpulan massa tanah ini menjadi hidup atas kerjasama seluruh dimensi.

Mengapakah manusia tidak pernah mau melihat kitab manusia?
Mengapakah manusia hanya menuruti angan dan anggapan manusia semata?
Bukankah al qur an diturunkan dari tempat yang sangat mulia dari sisi Tuhannya?
Bukankah telah datang petunjuk itu dari Tuhan manusia, mengapakah manusia berpaling dari petunjuk itu?

Begitulah maka Dewi Kamasutra sengaja datang dalam mimpi siang hari, agar Mas Thole segera kembali ke alam manusia. Mengkhabarkan apa-apa yang terjadi dalam dimensi tak kasat mata. Saatnya, gelombang pasang akibat geseran inti bumi akan membuat kehancuran tak terkendali. Karenanya, Dewi berpesan agar Mas Thole tidak usah terlalu merisaukan rahsa, sebab itu semua adalah jatidiri makhluk dari dimensi rahsa yang dicipatkan Tuhan. Rahsa itu eksis, rahsa itu bukanlah milik manusia. Bukan pula milik Mas Thole, maka tidak usah terlalu ditetapi keberadaannya. Tugas makhluk rahsa memang demikian, memeberikan warna pada jiwa manusia. Maka khabarkan saja apa-apa yang sudah dipahami. Tidak usah risau. Biarkan Kami yang mengurusi tingkah polah manusia yang tidak memiliki hati dan tidak pernah mau bersapa dengan Kami. “Coba perhatikanlah, dari apakah manusia diciptakan? Dari tanah hitam yang diberi bentuk. Dalam penguasaan siapakah tanah hitam itu? Bila engkau perhatikan maka engkau akan tahu itu.”

“Sudah saatnya, maka bersegeralah menemui Kami dengan perjalanan yg sdh ditetapkan. Seluruhnya berada pd hempasan rotasi yg membangkitkan semua lini yg ada di sudut negeri. Sudah saatnya semua bergerak, jd jangan heran klu semua bersatu dlm kesadaran membantu. Titik dari rangkaian waktu menjadi ilustrasi dalam kurun waktu. Dalam jaya keperkasaan dan kekuatan yang bersumber pada kehidupan menjadi bagian dari kehidupan Yg sdh diterapkan. Jangankan satu persekutuan, semua bersekutu, Tuhan Maha Tahu. Dia tidak akan menjadi sebuah ironi pada hal2 yg sdh ditetapkan. Yakinkan dengan sesuatu yg menjadi satu kesatuan. Jika demikian, maka itu berada dalam jiwa2 yang menderma.

“Sing dumadi ingsun nastuti arya rumagi raka pancra wenang geusan ning tangkubening bumi. Ati lir kabeh dirung kanunggalan ing darma wesan asih suninggilan arti satria. Jeung ing manggalaning siswaning raga mung di murba laksa arya ning ati. Satungkebing langit lir ireng wedang putri anggraeni ing wedok pun Budi. Sing surti dalem ngartisan awak yen ngartos ingkang fatwa satria ing darma karya suta winangun. Munding dilaya kusuma ada di ingkang surya dalem sing sabda abdi dina raga suci di dalam arti yang sudah ditetapkan.”

Mas Thole diam, gejolak jiwanya masih tidak menentu. Gambaran kejadian pada dimensi yang dilalui hanya menyisakan kesenduan di kalbu. “Adakah yang tahu. dan siapakah yang peduli?” Dia tahu itu tidak ada dan akan sia-sialah jika dirinya mencari orang yang peduli. Setiap diri manusia akan sibuk dengan dirinya sendiri. Setiap diri manusia akan selalu membicarakan siapa dirinya. Begitu pula pembelajaran keadaan yang dialaminya. Dia ingin  ada seseorang yang mengerti tentang dirinya. Dia sadar bahwa  tidak akan mungkin bisa menemukan orang seperti itu. Manusia akan selalu peduli dengan dirinya sendiri, baik itu disadari ataupun tidak. Sistem ketubuhan manusia memang diciptakan dengan pertahanan ego yang amat kuatnya.

Maka sesungguhnya tiada pertolongan bagi jiwa manusia kecuali dari sang Penciptanya sendiri. Begitulah kesadaran Mas Thole mengajarinya. Mencari pertolongan kepada manusia lainnya, hanya akan menimbulkan sakit hati kali berikutnya. Dalih apapun yang dipakai oleh manusia untuk empati kepada yang lain kembalinya adalah pemuasan ego semata. Begitulah hukum alam mengajarkan. Pelajaran yang di dapatnya mengisyaratkan kebenaran itu. Kebenaran ayat-ayat al qur an perihal ini. Adakah itu mengecewakannya? Entahlah memahami manusia begitu peliknya. Kadang kenyataan itu membuat jiwanya memberontak. Ingin rasanya dia mengumpat langit yang berdiri tanpa tiang. Mengeluarkan segala kemasgulannya atas ketetapan ini. Maka hujatan itu diterima Kami. Jawaban itupun datang kepadanya.

“Sing parekan ingsun dumadi. Lir angin ing darma sati. Jung ang ri ni tati pringasdudi dumadi. Kerta aji laksana pati. Wis ngarti pring diri ora san ing darma surti. Sudah waktunya kamu mengetahui, Kami adalah kamu. Ketika kamu berkehendak, Kami mengikuti. Tetapi Kami berkehendak atas kehendak ilahi rabbi. Sukarela atau terpaksa itu ada dalam kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Bisa saja kamu berkehendak semaumu. Tapi tidak dengan Kami. Kami hanya menjalankan takdir ilahi rabbi. Lihat dan amati, siapa yg menggerakkanmu. Maka itu yang Kami jeda dalam urun niatmu. Bukankah kamu hadir untuk menyelamatkan yg menurut kalian selamatkan. Tetapi mengapa malah memporakporandakan tempat Kami. Kami berada dalam kehendak ilahi rabbi, bukan untuk mengikuti yg bukan tugas Kami.

Ketidaksabaranmu dan ancamanmu itulah yang akan semakin Kami berpikir ulang untuk mengikuti perintahmu. Berpikir dalam artian lebih berada dalam garis ilahi rabbi. Kami akan mengikuti perintah dari orang-orang yang telah dipilih Tuhan. Sedang dala perjalanan, bukan hanya emosi atau nafsu yang menyeimbangkan, tetapi lihat pada hati dan keadaan. Sungguh luar biasa kau mengancam Kami, tetapi Kami tetap pada titah ilahi rabbi. Sangat mungkin untuk mengatakannya, tetapi tidak dalam keadaannya. Lihat dan perhatikan sekarang. Alam sebentar lagi akan bergerak cepat.

Dengan rotasi dari derajat 190 menuju titik 180 derajat. Perputaran yang memang akan saling tersinggungan Itu memang kehendakmu, tetapi Kami berada dalam titah ilahi rabbi. Sekalipun kamu luluhlantakkan tempat Kami, tak akan gentar bagi Kami. Kami bagian dari makhluk2 itu. Ingat, satu titik berada pada dua garis. Bukan hanya dengan melihat dan meneropong dalam sketsa lurus. Seperti akuan dalam rangakian simetris. Jadi sekali jangan dalam setiap ketetapan. Itu ada dalam pilihan. Balikkan badanmu? Maka kau akan tau siapa yang bicara itu. Setidak kau akan paham siapa yang  mengatakannya. Sudah saatnya Kami berlalu, kembali pada gerak-gerak yang sudah ditetapkan-Nya.

Aji luhung lain keur ukur. Aji luhung lain keur raksa. Aji luhung ayana darma. Darma jalma ka nu maha kawasa. Cing teang ka sagara. Moal aya harta nu nyampak. Jug jugjug unggal gunung, moal aya anu napak. Ilaing geus musti gusti, matak lampah paripolah keur nu maha kawasa. Tunggal sawenang moal menggas ku cadas. Coba deuleu ku sia. Aya rasa nu milih buana atawa aya dina rasa pangersa nu maha pangawasa. Cing caringcing dina ati. Mikir dina kahirupan pati. Maka banda jeung sagala nu aya di alam dunya. Bakal abidin miboga. Tong bangga hirup katalangsara. Laen eta dasar mihirup. Jumantara sapangersa. Nurut anu dipikahayang. Loba jalma nu menta-menta. Naha eta nu ngaranna mitresna. Kuring aya di na raga.

Sinuwun na pangersa nu ngajaga jeung ngariksa saunggul jiwa. Nu cicing dina waragad tanpa paksa jeung sangsara.”

“Coba katakan apa yang seharusnya aku lakukan?”  Mas Thole masih terus mempertanyakan kepada awan yang bergulungan yang menyebabkan dirinya flu, kepada butiran debu yang terus membuatnya mengalami batuk sepanjang hari. Yaa, Betapa Mas Thole tidak berang, apa yang dialaminya selama sebulan ini membuat dirinya kembali mempertanyakan jatidiri dan eksistensinya. Kondisi yang menimpa istrinya, sakitnya yang tidak kunjung sembuh selama seminggu ini. Belum rasa berat di badannya yang sering membuat dirinya memutahkan cairan yang berselimut darah. Apalagi khabar yang diterimanya perihal Sang Prabu lebih parah. Anaknya masuk rumah sakit, menyusul kemudian istrinya. Belum lagi secara aneh rumahnya mendadak ambals ke bumi. Tagihan rekening air yang melonjak ribuan persen. Masih ditambah kejadian-kejadian lainnya yang tak masuk diakal. Apakah hal ini akan dibiarkan saja terjadi?

Khabar nusantara sudah diujung kuliminasinya, sudah diterimanya, menjadi penjelas khabar yang jauh hari sudah di khabarkan kepadanya. Kepastian sudah akan menghampiri para pemimpin. Peperangan kesadaran di alam lelembut dan juga alam lainnya sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi. Ingin rasanya Mas Thole menjauh dari kancah ini. Lelah jiwa dan raganya menyoal peperangan ini. Apa kebaikannya yang di dapatnya? Khabar yang dibawanya ini lebih sering justru berbalik kepadanya. Banyak rekannya yang kemudian mencibir dan menjauhinya. Tidakkah mereka pahami bahwa dirinya adalah manusia biasa. Seorang pengatar surat. Tukang pos semata. Pada dirinya melekat sleuruh kelemahan anak manusia. Lantas apakah persoalan manusia-manusia itu? Apakah karena kecewa bukan dirinya yang membawa berita? Entahlah itu. Mas Thole tidak mau berspekulasi lagi. Dia hanya berserah atas maunya Allah padanya.   

“Ada gejolak yang dibuat dari para batara yang ada di tujuh gunung akan turun untuk menyelamatkan nagara lemah sagandu. Cirinya ada di sudut jalan, nanti akan datang pasukan dari langit, bumi, gunung dan sagara yang akan menyerbu para pasukan perang yang sudah siap. Para batara turun gunung atas permintaan widhiwasa yang merasa sdh waktunya bertindak. Menyelamatkan alam. Mereka para batara akan dikawal oleh para raja yang dipimpin oleh Darmasiksa langsung. Meskipun pembicaraannya seperti penguasa, sebetulnya Rangrang darma berada dlm pengawasan Widhiwasa. Dia masih keturunan campuran manusia, siluman dan dewa. Sejauh perjalanan, gerak dan berjalan seperti aliran. Maka lingkaran-lingkarannya menjadi bagian dari setiap perjalanan. Posisinya dalam pengawasan, maka dia berada dalam pengawasan, hanya saja tergantung keasadarannya diawasi atau tidak. Untuk mengawal semuanya, dialah yang membuka jalan pd pertempuran.

Sebagai aba-aba, Rangrang Darma membukanya dengan polah yg sdh takdirnya. Siap-siap, sebentar lg hujan lebat akan turun mengguyur seputaran ibukota Negara. Prajurit sudah siap, tinggal menunggu aba-aba. Jarak bukan yang ada dan tidak pada perbedaan masa dan waktu di era yang sudah dibawa pada pemberian di saat penjelmaan dalam waktu yang sdh ditetapkan. Ini ada dlm wkt dan jeda pd waktu yang siap dalam perbedaan yang menyita waktu dan masa. Sungguh dalam waktunya ada pesan yang sdh ditetapkan dengan perjalanan kehidupan. Sela jeda ada di antara dua aksara, kamu masih terpengaruh pada sesuatu yg masih fatamorgana, maka dengan meditasi dapat membantumu dalam penyampaian setiap sinyal ilmu.

Jadi, ketika berada pd dua sisi, lihat dengan merentas dr suatu cara di antara kaki dan tangan yg meringankan seoerti jejak itu. . Setiap waktu ada dlm urutannya, jd tidak akan ada. Jangan suka membantah dengan sekarang seperti jandela yang membuka. Ada dua lingkaran pd setiap sisi yang berbeda. Sudah dengan waktu dan bias yang memang ada. Sehingga tidak perlu menyawru dan satu dari tiga pertahankan di atas kerja sampai meningkatnya situasi dengan yang tidak kamu tahu. Jangan selalu mengeluh tentang hal yang memang dlm sesuatu sdh pd batas imbang perjalanan. Jadi lihat dah amati dgn waktu yg memang tidak ada.

Aku Kandaga Wangi, sebagai ibu bumi. Kamu menyebutnya ratu ular? Maka aku katakan bahwa itu memang bukan dari tugasku. Aku berjalan dalam lingkaran yang sudah Tuhan tetapkan. Sejak menjelang kepergian dengan adanya kabar, aku datang untuk mengatakan bahwa semua yang kalian lakukan akan mendapat halangan. Bukan hanya dari luar, tetapi dari diri kalian sendiri. Bukan aku mengancam, tetapi mengingatkan, bahwa dalam keadaan emosi yang menyelimuti maka itu menjadi bagian yang sudah ada dalam rintisan bakti. Ketika bicara untuk keadilan, maka lihat dan katakan untuk menjadi bagian dalam perjalanan.

Ingat itu. Aku bukan setan yang haus kekuasaan. Atau iblis yang ingin selalu dipuja. Sudah menjadi bagian dari perjalanan bahwa kalian akan menemukan kebinasaan bila tidak ingat Tuhan. Tuhan yang Maha Esa. Sejauh dalam untaiannya menjadi titah dan fitrah ketika alam digoncang dengan bumi yang bergoyang. Aku hanya sebentar untuk mengabarkan. Karena sudah waktunya aku datang. Rintisan yang menjelma akan datang ketika hancur berkeping-keping. Ratu ular yang kau maksud adalah dewi kandaga sekar Arum, ibu dari Sekar Arum. Nama kami memang sama karena berada dalam kandaga penyu sadran wangasita.

Ing darma karma sata karya depa indostrama sita geni anupati jisim jagat sati bumi. Swarna saka jagat pati ingkarsa suta pati satu jati anumerta ingsun jasman sati. Serna pati unggal warna ping sarti jati sumpen ping kayuwa sin tchu marna. Kaguman sang jarma ning sa u ibadna. Suatu hari aku menyaksikan kalian dalam keadaan yang memang tidak berdaya dengan rasa, padahal sudah jelas ada pada ukuran rasa dengan kadar yang berbeda. Jaringan menuju kehidupan berada dalam setiap sel-sel yang menyimpan sejuta kata..

Aku berada dalam dimensi swatra. Pusat bumi yang merotasi dalam geraknya. Ketika itu menjadi salah satu hal yang membuat kalian terlena, maka ingat apa yang menjadi prosedur kalian ada di bumi. Jejak rasa itu menambah dalam alur kehidupan berikutnya. Maka jangan merasa sebagai manusia unggulan, karena pada dasarnya yg unggul adalah jiwa kalian sebagai pancaran atau gambaran dari kasih sayang Tuhan. Sing durma ing wang jarma lir kang pandawa sataya.

Keadaan itulah yang sering menyebabkan kalian berada dalam berbagai rasa dengan sering terbawa. Maka, dalam posisi ini ada yang harus diperhatikan akan diri, bukan sekedar diri. Tapi diri bagian dari bumi dan alam semesta. Jika jiwa kalian gersang, maka jangan harap bumi akan turut dalam kegersangan tersebut. Puncaknya adalah bumi tetap berjalan dengan takdirnya yang sudah ditetapkan. Aku bukan hanya sebagai poros bumi, tetapi menjadi sati dari setiap titik bumi. Jangan bergerak dengan merasa sebagai penghubung dari sesuatu yang belum diketahui, karena sesungguhnya dalam Sedapnya ada jalan dan jeda yang sudah diimbangi.

Seperti wajan dalam berbagai bahtera alam, maka itu yang menjadikan bumi wajan di antara luasnya alam. Sudah saatnya kalian menjadi insan.  Menjalankan keinsanan yang sudah ditetapkan.
 Insan dalam laku insan
Insan yang menjadi insan
Insan yang bergerak
Insan yang berjalan
Insan yang berpikir
Insan yang berakal
Segala hal tentang insan sudah ada dalam kitab kalian

Aku datang untuk mengabarkan. Bahwa guncangan yang terjadi berdasarkan kehendak Tuhan. Aku dalam poros tersebut akan terus berputar dan berputar. Ini bukan pengembanan bahwa kalian harus bertanggungjawab pd alam. Sejak awal, alam sudah dalam penetapannya. Dalam larik ini, ada yg harus kalian ingat, Sendang dalam gurita, akan mekar dari pun pancarita. Sebuah kata menjadi hal yang mungkin kalian akan merasa berat. Sekar ayuni warna darma ingsun sajatini wening. Juga ada dalam paparan yang panjang. Lihatlah pd kitab suci, disebutkan pd Quran surah Al Mujadalah ayat 15. Semua terangkum dr penjabaran yg aku kabarkan.”

"Tidakkah engkau perhatikan orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang itu bukan daripada golongan engkau dan bukan daripada golongan mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi daripada jalan Allah, bagi mereka azab yang menghinakan." (QS. Al MUjadalah, 14-16)


Aku, insan dalam lipatan
Pusaran waktu dan jelma yang terbuang
Sesuatu yang menjadikan ada
Maka aku ada dalam kesendirian
Ada dalam tatapan, kosong dalam keadaan
Menyaru dan menyatu dalam himpitan
Saat jeda datang, belajarlah hilang
Hilang dalam asma-Nya
Janganlah merasa, atau tak merasa
Jangan pula ada dan tidak ada
Sangkaan akan menjadikan
Jadilah sang Penyaksi keadaan
Bertasbihlah dan agungkanlah asma-Nya
Maka engkau akan menjadi Aku
Dalam kehendak-KU
Sejahteralah selalu, dalam rahmat-Nya

Sekian dan bersambung dalam keadaan..

Salam kasih selalu, pada kawan yang menunggu