Juli 19, 2017

Kisah Spiritual; Penjala Nyala Jejak Mataram Kuno (4)

Hasil gambar untuk candi mataram
Kabupaten Bandung
 - Gempa berkekuatan 3,7 skala Richter (SR) mengguncang wilayah Kabupaten Bandung siang tadi, Selasa (18/7/2017), sekitar pukul 12.58 WIB. Gempa tersebut mengakibatkan puluhan rumah di wilayah Kecamatan Ibun yang berbatasan dengan Garut mengalami kerusakan. Dari data yang dihimpun detikcom di website BMKG, www.bmkg.go.id, pusat gempa berada di darat 21 kilometer arah tenggara Kabupaten Bandung, di kedalaman 10 kilometer.





Khabar alam kembali mengusik kesadaran Mas Thole, berita gempa dan kondisi anak gadis Mas Thole yang limbung, terpapar energi menjadi sebab dirinya mengaktifkan instrumen ketubuhannya. Menghadirkan Banyak Wide. Tanpa Banyak Wide,  Mas Thole akan kesulitan memasuki dimensi alam kesadaran. Yah, kondisi anak gadisnya yang tak biasa,  sangat mengkhawatirkan Mas Thole. Kondisi anak gadisnya yang sangat sensitif jika terpapar energy yang tidak bersahabat.  Menjadi kegundahan Mas Thole. Sejak gempa pukul 12.58 WIB, kondisinya turun dratis, benar-benar drop. Hingga selewat maghrib Mas Thole terpaksa memanggil Banyak Wide untuk menetralisir keadaan. Dalam sholat yang panjang,  Banyak Wide memasuki kesadaran anak gadis Mas Thole. Kesadarannya (sudah) bagai lampu 5 watt. Meredup dan meredup hingga akhirnya anak gadis Mas Thole tak sadarkan diri dalam waktu yang lama. Hampir 6 (enam) jam dirinya pingsan. Mas Thole membiarkan saja keadaan anaknya demikian. Hingga baru dibangunkan Mas Thole larut malam. Sebab mereka harus pulang ke rumahnya di bilangan Bekasi.

Pertanyaan kembali mengusiknya. Ada apa? Dan mengapa harus anak gadisnya? Kadang kegeraman hampir melumatkan isi kepala Mas Thole. Naluri seorang Ayah yang selalu ingin melindungi keselamatan anak-anaknya begitu mengumpal di dadanya. Jika bukan karena sebab pengalaman spiritualnya yang mengajarkan agar senantiasa harus bersabar, ingin rasanya Mas Thole menumpahkan kemarahannya pada langit yang tidak melindungi anak gadisnya. Pada para ghaib nusantara yang selama ini dia sambangi di ujung pelosok nusantara. Kemana para penjaga ghaib? Kemana para leluhurnya? Dimana malaikat penjaga?  Mengapa mereka diam saja, membiarkan anak gadisnya tersungkur dan terluka. Hhhh...dia pandanginya wajah anaknya yang pias dan pucat pasi, yang pingsan.  Semakin di pandang dan semakin dirasakan. Darisana munculah kesadaran. “Semua adalah salahnya..” Tanpa disadari Mas Thole tertunduk lesu.

Anak gadis Mas Thole memiliki lintasan yang sama dengan Ratu Shima. Lintasan yang sudah terbaca saat dia diajak oleh Mas Thole ke Dieng. Teringatlah Mas Thole kejadiannya, betapa anak gadisnya disana telah memasuki lintasan portal masa lalunya. Dalam kesadarannya dia melihat kekasih hatinya di buang di sebuah jurang yang penuh dengan makhluk dan binatang buas, tempat para jin dan perewangan, tempat pembuangan dan pengasingan bagi orang-orang yang terhukum. Ironisnya yang memimpin pembuangan itu adalah Ratu Shima sendiri. Sementara yang dibuang adalah anak dari sang Ratu. Luar biasa! Mengapa Sang Ratu demikian tega?!? Disitulah terjadi benturan di jiwa anak gadis Mas Thole, sungguh dia tak percaya, namun apa yang dirahsakannya tidak pernah berdusta. Maka menangislah anaknya Mas Thole di sepanjang perjalanan, tanpa mampu dihentikan oleh Mas Thole dan juga Ibunya. Kesedihan yang menghujam ke syaraf dan DNA nya. Dia benar-benar tak percaya, bagaimana bisa? Mengapa tega seorang Ibu?

Sambil menahan debur di dada Mas Thole mengkisahkan ini dengan hak. Begitulah kejadian yang dialami. Kisah ini pernah dikisahkan sebelumnya disini. Lantas mengapakah fenomena ini terjadi lagi? Kesadaran anaknya bagai layang-layang yang putus talinya. Tubuhnya lemas sekali bagai kain basah yang diletakan di lantai. Apakah semua kejadian ini terkait? Ataukah hanya kebetulan saja? Haduh...pening sekali rahsanya. Dalam hanyut dan kalut perasaan, sungguh pikiran tak bisa diam. Padahal Mas Thole tengah dalam kesibukan. Dalam realita tengah mulai membangun bisnisnya. Mengapa masih saja dirinya berhadapan dengan alam misteri ! Alam ghaib yang sulit sekali dimaknai seperti apakah kebenarannya. Hah..! Hingga kisah ini dihantarkan anak gadis Mas Thole masih terbaring di tempat tidurnya. Menahan kesakitan sebab radiasi energi. Lantas,  Dimanakah salah diri Mas Thole!

Dilihatlah petunjuk alam, kejadian gempa 12.58 WIB. Dalam surah 12 ayat 58, di dapatkanlah pemahaman ini. “Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir} lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya.” (QS. Yusuf , 58). Yah, demikian keadaannya walau ada diantara mereka, satu persatu orang-orang masa lalu menyapa, melalui email dan juga WA. Mas Thole sama sekali tidak kenal energi mereka. Sensasi energi yang menyapanya, dikenalinya bukan energi orang masa lalu. Entitas yang tidak pernah dikenali Mas Thole. Energi yang dikenali adalah bukan energi orang-orang masa lalu. Bagaimana ini! Apakah karena sebab mereka sudah tidak mau mengakui keadaan diri mereka. Mereka berusaha mengubur masa lalu mereka? Entahlah itu, masih misteri keadaannya. Sungguh, tidak ada lagi sensasi getaran yang terasa. Walau mereka juga kadang mengirimkan email atau wa yang terbaca. Ataukah instrumen ketubuhan Mas Thle yang memang telah rusak? Mas Thole menggeleng tak pasti.

Mas Thole sadar, tidak ada satupun persahabatan yang kekal. Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Setiap perpisahan pasti akan menggoreskan kepedihan dan mengharukan perasaan. Namun hukum alam akan sebagaimana adanya. Hukum yang sama dari dulu hingga kini. Pada waktunya semua manusia pasti akan sendirian. Setiap diri akan mempertanggungjawabkan apa apa yang dilakukannya sendiri-sendiri. Kebersamaan hanyalah sebuah kenangan. Kenangan yang harus dikenang sebagai anugrah terindah dari alam. Setiap pejalan spiritual pada akhirnya akan sendiri. Menyepi dengan dirinya sendiri. Mereka akan menyatu dengan alam semesta. Manunggaling kawula dan gusti. Maka tidak usahlah resah sebab siklus datang dan pergi. Siklus hidup dan mati. Semua itu sudah kehendakNya. Begitulah yang dialami para kesatria alam. Mereka akan ditinggalkan. Mereka akan sendirian. Sebagaimana juga di khabarkan oleh Ki Sepuh dari Kawali.

18/07/17, 17.11 - Ki Sepuh: Mas minta do'a nya bulan Agustus saya pindah tempat jualan. Cuma ngagΓ©sΓ©r sekitar 200 M dari tmpt semula. Terlalu banyak kisah pilu kalo di cerita kan saya seperti kehilangan Power tak seperti awal mulai menapaki jejak luluhur. Smg ditempt baru lebih maju dan lebih bersemangat lagi.

18/07/17, 17.12 - Ki Sepuh: Banyak Sebetulnya yg ingin saya curhat kan sama mas smg di lain waktu perjumpaan bisa berbagi mas. Salam baktos πŸ™

18/07/17, 17.13 - Mas Thole: Ya bgtlah kang..
18/07/17, 17.13 - Mas Thole: Kita perlu bersinergi...jika tidak kita akan hilang di kesadaran
18/07/17, 17.14 - Ki Sepuh: Teman2 menjauh tak seperti di awal terlalu byk yg datang
18/07/17, 17.14 - Ki Sepuh: Ujian nya makin kenceng mas
18/07/17, 17.14 - Ki Sepuh: AnΓ©h nya kata org tua di kampung saya terlalu adil katanya loh..

18/07/17, 17.15 - Mas Thole: Benar kang...selalu saja nantinya kita akan sendirian...agar kita memahami ..hanya kepada Allah kita bersandar
18/07/17, 17.15 - Ki Sepuh: Mungkin terlalu percaya hingga byk berhianat mungkin
18/07/17, 17.15 - Ki Sepuh: Iya mas saya jd punya waktu merenung

18/07/17, 17.17 - Ki Sepuh: Apa memang harus seperti itu mas?
18/07/17, 17.17 - Mas Thole: Iya kang ..memang itu materi pembelajaran Kami
18/07/17, 17.17 - Mas Thole: Semua akan menjalani proses yg sama
18/07/17, 17.17 - Ki Sepuh: Yang saya inginkan saya bisa kembali lagi mas

18/07/17, 17.18 - Mas Thole: Keinginan kita sama kehendak Allah bisa jadi tdk sama kang.  Ikuti kehendak Nya saja ..hidup akan nikmat

18/07/17, 17.18 - Ki Sepuh: Sedih mas terkesan saya yg salah padahal saya baik mas malah niat saya terlalu baik kalo tp seolah Gak ada yg ngeuh
18/07/17, 17.19 - Ki Sepuh: Iya mas belajar ihlas susah ya

18/07/17, 17.19 - Mas Thole: Iya mas....ikhlas akan sulit sekali manakala kita tidak yakin atas pertemuan denganNya
18/07/17, 17.21 - Mas Thole: Disitulah inti pembelajaran Nya...kita sedang diuji apakah kemelekatan atas materi masih merajai jiwa kita..


...



“Writak yatmi, yada galuh pakuan ditya mangga. Manggala giri jati katyi ingkang kersa

Gemuruh Galuh di sebelah selatan, sebagai tanda adanya rasa, rasa jiwa dengan segala daya yang mengumpulkan segenap kehendak yang membalikkan rasa. Tiada angkara tanpa cinta, tiada rasa tanpa tresna, semua seperti sama, tetapi sesungguhnya berbeda. Bukan perbedaan yang menjadi titik tekan rasa, bukan hanya cinta dengan segala sarwana ratya manggala

Kelahiran seseorang bukan pada adanya kematian, tetapi itu sebagai sebuah perpaduan. Writak widya, menjadi padya padma batsa.

Sesungguhnya semua itu berada jejaknya sang Naga, yang kadang berada di atas terang, sering juga bergerak dalam gelap. Hal yang menjadi bagian dari perjalanan yang menyebutkan bahwa itulah sang jiwa, itulah sang raga, sesungguhnya bukan demikian, itu berada pada sapuan sang hyang padma. Padwa writak padya
Tidak mesti merasa gelisah atau marah, karena bukan untuk hal yang diberi pemahaman akan pemaknaan yang sesungguhnya. Seumpama writak, dikya mangun sada

Allahu Akbar
Jiwa-jiwa berada dalam genggaman-Nya, menjadi suatu hal yang menunjukkan bahwa itu berada pada sanubari nastiti ratyi padyi.

Indah di mata, tak sekelam dalam tutupan pelupuk mahkota, jangan melihat dalam gelap, tetapi lihat di antara kegelapan yang kau rasakan.

Melihat dengan cahaya, yang terpancar pada setiap jiwa-jiwa yang menggenggam kasih sayang

Seumpama semua menjadi usang, itu bukan dalam perjalanan, tetapi hanya penglihatan pada kedipan mata yang berada pada sang jiwa

Allahu akbar
Setiap yang melihat akan diminta pertanggungjawabannya. Selaksa rasa itu bukan untuk sebagai pengejawantahan dari rasa, tapi umpama yang menunjukkan akan tersembunyi rasa

Padma dugya wakya
Sebentar lagi sang hyang mayang digya kitya
Yung nang is the qwuit aryu katyu dyupna swutya

Manusia sering bertanya tentang rasa. Rasa yang tak dapat dihindari oleh sang penyimpan jiwa. Ketika semua bertanya, tak ada yang tahu, kecuali memang jiwa itu berada dalam keadaan emosi yang tak tertuju”


Demikian pesan Kami mengalun bagai nada suara. Suara nyanyian semesta. SOng of The Lord. Nyanyian para raja. Gita para brahmana. Nyanyian yang melenakan jiwa. Meski kemasgulan masih saja tersimpan di dada. Mas Thole bersaha memahami, bahwa setiap jiwa akan menerima pengajaranNya. Demikian juga dengan anaknya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebenarnya.  Perlahan pesan Kami membasuh jiwa, memberikan khabar kepastianNya, memberikan kesejukan atas jiwa yang lelah ditempa kesedihan. Selama berhari-hari. Melalui alam pesan-pesan Kami dihantarkan. Menyambangi jiwa-jiwa yang mau membuka hatinya. Jiwa yang mau bersapa dengan Kami. Jiwa yang mau memahami bahwa raganya terbuat dari unsur bumi. Tanah, air, dan api. Maka dengarkanlah burung bernyanyi, lihatlah gunung-gunung yang bergerak sepanjang hari merayapi bumi. Alam senantiasa ingin menyapa manusia. Semua makhluk bertasbih kepadaNya. Hanya manusia tak mau pahami hakekat ini.

...

Setelah selesai dengan dirinya. Mas Thole melanjutkan kisahnya lagi. Kawan-kawan seperjalannya, masing-masing menuju portal yang telah di tetapkan.  Mereka semua dalam pembelajaran Kami. Mas Thole harus bergerak dalam irama nyanyian. Song of God. Ketika Arjuna mengenal Song of God yaitu Bagawad Gita maka tidak ada keraguan baginya membunuh saudara-saudara dan teman sepermainan sejak kecil. Dengan kefahamanannya dia bersama alam. Diapun mengerti kalau dirinya tidak membunuh maka alam yg akan mengeksekusi mereka dan juga dirinya termasuk krn diapun menolak sunatullah. Ketetapan Alam. Perintah alam. Maka tidak ada pilihan bagi Arjuna selain maju perang. Suka tidak suka datang mengikuti perintah Tuhan. Arjuna bisa saja berada dalam kebenaran relatif tidak membunuh saudaranya (banyak pasukan yg hanya ikut perintah berperang). Peperangan akan membunuh ribuan atau jutaan manusia yg mungkin tidak tahu apa-apa. Inilah song of God. Kidung Perang Bagawat Gita. Kidung Tuhan. Ketetapan. Atau sunatullah. Tidak ada pilihan bagi Ksatria yaitu Arjuna. Selain gugur dalam peperangan atau membunuh lawan sebagai tangan Tuhan. Inilah dzikrun lil alamin. Kidung Alam. Bagawat Gita. Kidung Agung. Song of God. Sunatullah. Dan inilah lambang Nun yang dimaksudkan.

Nun yang mencerdaskan kesadaran  Mim. Pengajaran Nun yg berat bagi Ksatria. Bagi Arjuna. Bagi kita semua. Pengajaran Rasa. Pengajaran Nun ini bertingkat-tingkat seperti simbol Nun ada N di dalam Nun dan ketika dituliskan lagi ada N di dalamnya. Dan seterusnya tak hingga. Inilah kebenaran relatif yg akan terus menerus dipegang. Bila ada pengajaran yg lebih tinggi dan tidak mereka fahami. Mk mereka akan memusuhi. Padahal yg ingin disampaikan justru pengajara  kasih dan cinta tetapi yg difahami pasti arah yg terbalik yaitu kebencian dan permusuhan. Benci dan cinta adalah energy yg sama hanya wajahnya yang beda. Adakah yg bisa menjelaskan suasana nada yg hilang ini. Pasti tidak ada. Harus ada yg bernyanyi. Menyanyikan atau ber tasbih menggunakan song of God. Tasbih Alamin. Sunatullah. Dan kita mampu mendengarkan tasbih alam semesta. Tasbih alamin. Demikianlah pengajaran kepada kesatria alam. Pengajaran yang saat ini juga tengah di alami oleh Ki Ageng. Demikianlah tekad dalam kesadaran.

...

Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (723 – 732M) Cicit Wretikandayunini bernama Rakeyan Jamri. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya. Ratu Shima sendiri ternyata berasal dari bumi Sriwijaya, di daerah Banyuasin. Beberapa kisah spiritual Mas Thole banyak bertemu dengan lintasan Ratu Shima dan juga bertemu dengan lintasan kisah cinta Raden Panji. Menjadi pertanyaan apakah lintasan Raden Panji hanya ada di satu orang saja? Ternyata tidak. Setiap jiwa akan pecah terdifraksi. Maka sering terjadi titisan Ratu Shima misalnya akan ada di banyak raga manusia. Oleh karena sebab itu tidak ada jiwa manusia yang utuh. Semisal kisah Siwa yang menyatukan jiwa Devi Parwati adalah rangkaian perjalanan Mas Thole dan kawan-kawan. Lintasan yang sering kebetulan bersinggungan dengan rekan lainnya.

...

02/06/17, 01.37 - Ki Angin: Maaf lebih ke face to face dulu mungkin dengan Mas Thole πŸ˜‚ kaliii
02/06/17, 01.50 - Ki Angin: Hal kemarin begitu campur aduk rasanya dan tulis,tulis dan tulis hanya yg sanggup saya alirkan hingga saat tiba hari-hari ini saya sudah tak ingin mengungkit/mengungkap sejatinya jiwa ini.namun ketika salah satu teman saya mengatakan hari Rabu kemarin,beliau menyampaikan pesan bahwa mbaknya bilang kalau saya sudah ditutne orang 3 yg sudah menyatu, itu kira kira pesan yg di sampaikan mbaknya lewat teman saya ,

02/06/17, 01.53 - Ki Angin: Saya sebenarnya malu dengan hal yg sudah sedemikian umum menurut saya kepada Mas Thole, namun hanya hal-hal seperti biasa saja ini yg hanya saya bisa bagi, smoga semakin dipahamkan bagaimana peran sejatinya hidup yg akan saya emban nantinya,meski sedikit hal yg saya tahu namun banyak hal yg lebih dan lebih yg tidak selayaknya saya tahu..

02/06/17, 01.55 - Ki Angin: Saya rasa pemahaman dan pengetahuan Mas Thole yg begitu luaaas sekali ditambah pengalaman dan umur Mas Thole yg saya rasa matang, mungkin Mas Thole seyogyanya mau berbagi pengalaman, perjalanan, cerita dll kepada saya, kejadian yg Mas Thole pernah alami hingga sampai saat iniπŸ™πŸ˜‚
02/06/17, 03.24 - Mas Thole: Subhanallah...

02/06/17, 03.26 - Mas Thole: Ya mas... catatan saya sebagian besar telah di tuliskan di blog pondikcinde mas. Dalam kisah Mas Thole. πŸ™πŸ˜ŒπŸ™
02/06/17, 03.30 - Mas Thole: Spiritual adalah by experience yaitu pengalaman langsung. Pemahaman yang Allah susupkan akan menumbuhkan keyakinan yang tidak menyisakan keraguan. Sementara informasi dari makhluk akan semakin membuat diri kita mencari dan terus mencari. Berita di televisi hanyalah berita asupan untuk akal fikiran. Sangat berbeda sekali jika kita mengalami kejadiannya.

02/06/17, 03.30 - Mas Thole: Maka untuk mengetahui kebenaran apa yang mas dengan informasi tersebut layaknya langsung bertanya kepada Allah
02/06/17, 03.33 - Mas Thole: Setiap orang akan berbicara dengan spesialisasi nya masing2. Ahli fisika akan bicara tentang air sedikit berbeda sudut pandangan nya dengan ahli biologi. Termasuk mbak Ponorogo akan berbicara dr sudut pandang pemahaman nya
02/06/17, 03.34 - Mas Thole: Bagaimana ketika para ahli bicara dengan ilmunya masing2 dan mereka masing-masing merasa diri mereka yang benar?

02/06/17, 03.35 - Mas Thole: Manakah yang akan kita percayai dari salah satunya? Atau mampukah kita mempercayai semuanya dan menyatakan mereka semua benar?
02/06/17, 03.35 - Mas Thole: Sayang kita tidak pernah mampu utk melihat kebenaran yang ada pada semua ahli saat mereka bicara sebab kita hanya menginginkan kebenaran yang kita maui saja

02/06/17, 03.36 - Mas Thole: Kita ingin mendengar apa yang ingin kita dengar. Pikiran berfikir atas apa apa yang ingin kita lihat
02/06/17, 03.45 - Mas Thole: Bagitu saja yang bisa saya sampaikan mas. Mengenai pengalaman spiritual sudah saya tuliskan di blog. Silahkan berselancar. Alam semesta ini disusun dari ratusan dimensi. Kebetulan yang mbak masuki adalah salah satu dimensi saja. Masih banyak dimensi lainnya yang menyusun memori kita. Jiwa dan raga kita.

02/06/17, 05.48 - Mas Thole: Nah kembali kan kepada diri saja mas. Kemanakah muara pencarian kita. Menjawab 4W dan 1H. Jika sudah terjawab makan Pastika langkahnya. Dalam perjalanan pencarian kita selalu akan bertemu dengan orang2 yang mewakili dimensi yang kita lalui. Kadang itu akanembingungkan sekali. Seringkali kita asik disana. Dimensi masa lalu adalah kenangan yang melekat dan sulit sekali ditinggalkan. Kita akan selalu tertarik kesana. Padahal semestinya kita bergerak ke depan. Jiwa kita adalah apa yang kita lakukan saat sekarang ini.

02/06/17, 05.50 - Mas Thole: Maka yang mas alami itu amati dan maknai saja apa adanya sampai Allah menurunkan Keyakinan. Sebab hanya keyakinan inilah yang akan menjadikan perjalanan spiritual kita bermakna.

02/06/17, 05.51 - Mas Thole: Dalam perjalanan spiritual tidak ada kebenaran absolut. Semua sangat tergantung kerangka acuan ruang dan waktu. Oleh karena sebab itu tidak ada benar dan salah.

02/06/17, 05.51 - Mas Thole: Yang mas alami bisa benar namun juga bisa salah...maka nikmati saja perjalanan ini sambil terus menganggukkan asmaNya
02/06/17, 05.53 - Mas Thole: Tuliskan saja kisah perjalanan nya sehingga bermanfaat bagi para pencari jalan lainnya

02/06/17, 05.53 - Mas Thole: Bagaimana kita memaknai ghaib tsb? Sebab  Informasi yang kita terima sulit diuji dengan akal dan logika. Semua berdasarkan atas keyakinan saja
02/06/17, 05.54 - Mas Thole: Maka yakini lah salah satunya dan kemudian bersiap menerima perbedaan

10/07/17, 00.50 - Ki Angin: "Paser nyanding Emas"
...  yen mencolok di simpen, sing kesawang reget mung di sebol lan di idek.
Sejatine lemah sing nyiptakne wes ndadekne siji.
Ora ono endi apik ndi elek'e sekabehe manfaat, ning krono kandungane okeh banjur sing ketok kasar ning mripat dadi di pisah dewe karo pikirane, pasir di bentok, emas ditumpok akhire di pakemne dadi barang kedanan wis lali tujuane lek mung mamper ngombe haha πŸ–πŸ˜‚
10/07/17, 00.52 - Ki Angin: ntah tiba tiba ingin menuliskan tapi tidak tahu makna apa yg sebenarnya tersirat, maap Mas Thole menambah banyak ukiran di kepala heeπŸ˜‚πŸ™
10/07/17, 00.53 - Ki Angin: Masih sebagai penyaksiπŸ™πŸ˜”πŸƒ

10/07/17, 08.27 - Ki Angin: Iyaa mas dari mana ya saya mau mengawalinya  mungkin beberapa hari ini saya serasa mengecil mungkin juga di kecilkan (mungkin persepsi/mungkin juga keadaan hati yg di menimpa) keadaan yg sangat sangat saya sendiri kurang mampu menangkap rahsa apa yg sebenarnya terjadi dalam diri, 😭mungkin yg begitu nampak dan sudah tertuliskan dalam kisah rakyatnya  adalah kisah _*Panji-Sekartaji*_ tatkala suara itu memanggil lagi dimana sebuah tidak pantasan saat *"lemah' tidak pantas bersanding dengan "intan berlian"* namun dalam hati seperti nya selalu membela dan menguatkan bahwa semua tak jadi masalah ,bukankah yg mempermasalahkan hanyalah akal-pikiran saja..πŸ˜”

10/07/17, 08.30 - Ki Angin: Tak disangka keadaan ini seakan menangkap dua hal yg berbeda ,bisa karna *asmara* bisa juga tentang *pandangan hidup* yg lebih *melebar* entahlah mas ..gejolak dalam dada sepertinya belum bisa mewakili seutuhnya yg ingin di keluarkan πŸ˜”πŸ˜­

10/07/17, 08.31 - Mas Thole: Pembelajaran paradoksal
10/07/17, 08.33 - Ki Angin: Apakah ini sebuah pengalihan ataukah ada sebuah petunjuk yg benar atas doa-doa yg terpanjatkan masπŸ˜‚πŸ™
10/07/17, 08.34 - Mas Thole: Amatilah dg kesabaran.

Bekal kita dalam mengarungi perjalanan ini hanya ada dua. *Sabar dan Sholat*
10/07/17, 08.35 - Mas Thole: Hanya itu mas. Setiap diri tidak sama. Kita hanya bisa menangkap pola kejadian yg sama. Namun pemaknaannya sangatlah personal. Kemampuan sistem sensorik juga berbeda maka level sakit mungkit tdk sama. Semua unik dan personal sekali. Hanya mas dan Allah saja
10/07/17, 08.35 - Ki Angin: πŸ˜”πŸ™ Semoga selalu di kuatkan *Nya* dengan segala keadaan apapun

10/07/17, 08.36 - Mas Thole: Yah...doa ayat terakhir surat Al Baqarah ayat 286 itulah doa para pencari jalan
10/07/17, 08.37 - Ki Angin: Insyallaah mas terimakasih masukan dan suport nya πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜‚
10/07/17, 08.40 - Mas Thole: Selamat memasuki pengajaran2 Nya mas
10/07/17, 08.41 - Mas Thole: Sebagai pembanding mas bisa buka kisah yg lama di blog. Kisah para pecinta. Mahabah

12/07/17, 23.49 - Ki Angin: Sekedar ingin berbagi Mas Thole, πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”Ntah dari sebelah mana atau yg bagaimana rasa ini satu persatu ingin mencoba memasuki bergiliran mengambil alih dan memainkan perannya yg lalu.. kini karakter yg lebih tangguh setelah *panji"*.  seperti yg terkisahkan sosok, *damar*..  *damar* yg bertemu *kencana* mungkin juga *Anjasmara* ... πŸ˜” Mencoba tak mau mengaitkan apalagi _menggatok"an_ tapi apalah daya..  hingga beberapa hari kemarin, seakan mendapat suatu suasana yg tak asing ,rasa yg begitu mengalir begitu saja, rasa yg pernah terasakan sebelumnya.sbuah  peristiwa yg begitu dahsyat yg pernah terulang kembali.bagaimana rasa ini kemudian seharusnya ditempatkan ,langkah seperti apa yg seharusnya di lakukan ,sementara informasi/kabar tentang rambu" itu telah tertanam kan sejak agama penyempurna ini masuk..

12/07/17, 23.50 - Ki Angin: Apa mungkin ada kaitannya dengan sebuah energy yg kuat  seperti yg di sampaikan oleh mas imam tadi yaa massπŸ˜₯😭
12/07/17, 23.51 - Ki Angin: Berkaitan tentang jati diri juga mungkin masss 😭
12/07/17, 23.51 - Mas Thole: Ya...beberapa rekan malah pingsan..sdh terasa beberala hari belakangan

12/07/17, 23.52 - Mas Thole: Semua berkaitan
12/07/17, 23.58 - Ki Angin: Kalau menurut sinyal yg mas rasa mungkin mas baca juga tentang saya  apa ini ada sebuah energi yg menghalangi saya tentang apapun yg mas rasakan/lihat. atau sebaliknya sebuah petunjuk untuk pribadi ini memang harus menapaki proses ini.. atau bagaimana mass Mohon masukkanyaaπŸ˜”πŸ™
12/07/17, 23.59 - Ki Angin: Dari segi mana pun mungkin ada yg mas rasakan mohon wejangannya mass..

13/07/17, 00.03 - Ki Angin: Nampaknya saya begitu tertuju dengan segala rasa yg di Tampakkan Tuhan kepada jenengan Mas Thole.. mungkin juga seakan akan perantara dari mas  membantu saya lebih  mudah mencerna pengalaman yg mas paparkan mulai awal pertama bertemuu mohon bimbingannya massπŸ™πŸ™πŸ™

13/07/17, 07.16 - Mas Thole: Mohon maaf ketiduran semalam hehe...πŸ˜„πŸ™
13/07/17, 07.17 - Mas Thole: Raden Panji memiliki banyak pecahan jiwa...salah satunya di saya
13/07/17, 07.19 - Mas Thole: Semua akan mengalami pembelajaran dan pengulangan atas pelajaran takdir. Pemaknaan yg salah akan menyebabkan siklus berulang. Dalam dimenis kesadaran waktu menjadi realatif. Maka waktu akan datang  dan yang lalu akan  bertemu di titik sekarang now. Waktu sekarang ini yg Allah berikan...

13/07/17, 07.20 - Mas Thole: Kita akan membaca memori yang di hadirkan Allah ke kesadaran kita. Kita hanyalah head atau optic pada alat pemutar CD.
13/07/17, 07.20 - Mas Thole: CD ini berisi rekaman kita di masa lalu dan masa depan
13/07/17, 07.21 - Mas Thole: Lintasan Raden Panji ada irisan dengan saya. Sebuah pembelajaran tentang cinta. Pembelajaran yg sama atas kisah Nabi Yusuf

13/07/17, 07.22 - Mas Thole: Maka kisah cinta terbaik adalah kisah Cinta Nabi Yusuf. Raden Panji di minta belajar dan meneladani bagaimana nabi Yusuf memperlakukan cinta. Dia rela di balik jeruji besi. Itulah pengorbanan cinta

13/07/17, 07.23 - Mas Thole: Kisah Raden Panji ada di blog
13/07/17, 08.20 - Ki Angin: Bukan jetlag lagiii tapi jleb jlebb jlebbb...πŸ˜‚
13/07/17, 08.45 - Ki Angin: Apakah pecahan seperti _*Dewi Asmorowati*_,_*Dewi Purbasari*_ , dan_*Dewi Sekarwangi*_ adalah sebuah kesalahan pemaknaan kehidupan lampau saya masπŸ™πŸ˜‚ apakah ini sewajarnya menurut Mas Thole?

13/07/17, 08.49 - Mas Thole: Yups...benar
13/07/17, 08.49 - Mas Thole: Harus dimaknai ulang
13/07/17, 08.50 - Mas Thole: Lihat di al qur an bagaimana kisah2 di hantarkan...bagaimana mrk memaknai kehidupan
13/07/17, 08.51 - Mas Thole: Pemaknaan yg benar menjadikan mrk utusan atau modeling bg kesadaran

13/07/17, 08.51 - Mas Thole: Simbol Na Bi
13/07/17, 08.51 - Mas Thole: Na = adalah pemaknaan yg diinginkan Kami
13/07/17, 08.52 - Mas Thole: Atas Bi...keadaan Now sekarang...simbol i itu adalah presepektif atau ilmu atau anggapan
13/07/17, 08.53 - Mas Thole: Pemaknaan atas apa yg mas rasakan itu lah hakekat simbol Na Bi

13/07/17, 08.53 - Mas Thole: Apakah locus kita pada Ba atau pada Na
13/07/17, 08.54 - Mas Thole: Manusia yg locusnya pada Ba akan mengalami siklus waktu..lahir dan mati berulang
13/07/17, 08.55 - Mas Thole: Tapi jika locus pada Na...pemaknaaj atas takdir atau lintasan pikiran maka kita akan pulang atau menjadi utusan Kami utk model kedasadaran
13/07/17, 08.56 - Mas Thole: Beralihnya locus dr Ba ke Na inilah perjuangan hidup tanpa akhir...penerimaan total

13/07/17, 08.57 - Mas Thole: Ibarat mata optic pemutar CD maka dia hanya ikut mau tuannya saja..terserah film apa yg di putarNya
13/07/17, 08.57 - Mas Thole: Sekarang di putar film romantisme ala bidadari...πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜‹
13/07/17, 08.57 - Mas Thole: Ngeri ..ngeri ..sedap
13/07/17, 08.57 - Mas Thole: πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„
13/07/17, 08.59 - Mas Thole: Atau nanti akan di putar film perang sprt yg dialami Banyak Wide? Semua terserah Kami...kesadaran kira hanyalah sekeping optic yg membaca kepingan CD

13/07/17, 09.11 - Mas Thole: Harus kita satukan...pernah membaca kisah dewa Siwa mencari pecahan jiwa istrinya
13/07/17, 09.18 - Mas Thole: Siwa harus mengumpulkan serpihan2 jiwa Parwati
13/07/17, 09.19 - Mas Thole: Hakekat jatidiri Parwati akan utuh jika semua trinitas disatukan Dewi Uma dan Dewi Kali (Durga)
13/07/17, 09.19 - Mas Thole: Dan Sati

13/07/17, 09.20 - Mas Thole: Ketiga pecahan ini di minta disatukan...pergilah ke gunung Arjuna
13/07/17, 09.38 - Mas Thole: Perumpamaannya sprt kita buka game online yg sama maka kita sama sama terkkneksi saat sedang di game yang sama...disana kita bermain peran2 yang ada...ada Panji...ada Banyak Wide..dll

13/07/17, 09.40 - Mas Thole: Optic yg membaca game itulah diri kita...namun kita tunduk kepada sistem game online...disana ada banyak OS...ada listrik..ada windows .dll
13/07/17, 09.46 - Ki Angin: Uuuhh menghujam, menghantam Mas Thole akan lebih banyak belajar lagiπŸ˜”πŸ˜₯😭

13/07/17, 09.53 - Ki Angin: Beberapa waktu lalu ada semacam sinyal yg begitu kuat  mencoba mendorong  saya untuk menuju mt.arjuno lantas apakah itu merupakan ego pribadi,atau sekedar halusinasi Mas Thole .. melihat penjelasan Mas Thole sinyal ini menguat lagi
13/07/17, 09.54 - Mas Thole: πŸ˜„πŸ™πŸ˜˜


BERSAMBUNG

Juli 17, 2017

Kisah Spiritual; Penjala Nyala Jejak Mataram Kuno (3)

Hasil gambar untuk mataram kuno kerajaan
Pengantar; Kembali kisah perjalanan menelisik jejak Wangsa Sanjaya di hantarkan dengan doa dan harap cemas. Mungkinkah nanti akan ada yang menyerangnya lagi? “Bukankah ini hanya kisah ?” Dirinya menghela nafas tak mengerti. Semua dipasrahkannya kepada Tuhan sang pemilik alam ini. Mas Thole hanya ingin membuat buku catatannya sendiri, yang dituliskan disini. Semoga Allah ridho.

"Sanghyang Agung, menggalung di samudera Galuh dengan luruh pada setiap hal yang menjadi bagian pada setiap keadaan yang menjadi beberapa hal yang ada, seperti perjalanan Bujangga Manik, maka catatlah pada setiap perjalan, itu yang terbaik pasa singgahan jati diri"

Lihatlah langit. Bulak bulan mencangkul tabir malam. Kisarannya seperti lajunya pedati. Perlahan namun pasti, semua jeda menjadi misteri tersendiri. Terbangun dari mimpi. Kisah ini kembali menyambangi dalam balutan kesedihan dan iba yang semakin menguliti.  Tentang seorang putri, tentang harapan yang  tersudahi, tentang cintanya yang pergi, tentang sunyinya sebuah hati. Tentang kisah yang tidak pernah mampu dia akhiri.  Seperti mati yang berulang kali. Terbangun saat gumpalan bara menyekat kerongkongannya.Berulang dalam siklus reinkarnasi. Hiks..! Hidup dan mati, mati dan hidup. “Sampai dimanakah kini?” Dirinya bertanya dan bertanya lagi. Mungkin seribu lamanya dia mati. Semua serba misteri. Tak percaya namun rahsa tak pernah berdusta. Bukan hanya sebab iba, tapi lara membokah di dada. Menyamar disudut iga. Terus mendekam dalam waktu lama. Hingga suatu masa, bara hawa bertumpu di raga, meledak  pada amarahnya. Letupan itu bagai dentuman meriam, membongkar sunyinya angkasa.

Mas Thole tersungkur menahan gempuran energi kata. Semua bagai cerita dan kisah fiksi saja. Bagai film-film laga yang mengumbar visual sinema. Kata bagai sebuah pedang, menjadi energi yang menyerang kesadaran. Mematikan instrumen ketubuhan. Ya, energi tak kasat mata telah merasuk dijiwa. Terus membelit bagai ular phyton yang meremukan mangsa. Begitulah keadaan Mas Thole. Berhari-hari dirinya berusaha melepaskan diri dari belitan rahsa. Berbagai cara telah dicoba agar dia bisa terbebas dari energi dendam yang tak pernah bisa terbaca.  “Ada apa dengan Ratu Shima?” Batinnya tak percaya. “Mengapakah begini rahsanya. Aduh...Ya, Allah Tuhan  penguasa alam. Jika begini rahsa sakit ini. Ijinkan hamba tak terlahir lagi. Jika saja atas semua yang terjadi, nyawa ini, mampu mencukupi. Hamba rela dan ikhlaskan berjanji.” Begitulah keadaan Mas Thole dalam eksplorasi diri.  Alam kesadaran terus di masukinya. Memasuki rahsa sakit itu sendiri. Menghujam jauh ke lubuk hati.

Kata demi kata bagai hantu yang terus meliputi kepala. Menyerangnya sedemikian rupa, jauh setelah kata-kata terangkai menjadi alinea yang terbaca.  Mungkin keadaan ini tanpa di sengaja oleh pemilik kata itu sendiri. Mungkin saja mereka yang menggoreskan pena tak berkaca. Kata-kata itu bagai pedang yang langsung menikam siapa saja. Kata mampu mendamaikan dan mampu mengobarkan perang. Yah, perang kesadaran tersulut sebab rangkaian kata. Energy kata meluncur bagai dentuman meriam. Meledakan semuanya! Lihatlah berapa banyak sudah nyawa melayang, mungkin saja jutaan jumlahnya, atau lebih dari itu. Mari kita telusuri peradaban, dan juga jejak-jejak kesadaran manusia. Darimanakah asal mula perang antar manusia? Kata ‘kafir’,  ‘pendusta’, ‘sesat’, dsb telah mampu mengobarkan perang antar golongan. Siapakah yang mau terima jika orang-orang yang kita kagumi dan kita sayangi disebut sebagai ‘pendusta’, ‘penipu’, dan juga kata-kata nista lainnya? Tidak! Tidak ada yang mau. Maka sebutan manusia atas manusia lainnya lewat kata-kata menjadi pemicu perang dimana-mana. Betapalah ironisnya manusia yang tidak sadar, bagaimana mekanisme ini.

Maka coba katakanlah, bagaimanakah manusia harus menyikapi kata-kata yang tidak patut? Marah? Dendam? Sakit hati? Ataukah harus diam tak mengindahkan! Perhatikanlah lintasan pemikiran ini. Perhatikanlah! Adakah yang diam saja? Sejarah telah mencatat fakta bagaimana saat kata ‘KAFIR’, kata “SESAT’ kata ‘PENDUSTA’ dan kata-kata semisal itu disematkan pada satu manusia atau satu kaum, darisanalah asal mula manusia mengibarkan bendera perang. Perang yang akan akan meluluh lantakan peradaban. Bahkan jauh setelah kata-kata itu dilontarkan. Tiada maaf disana, wanita dan anak-anak, bahkan semua akan dihancurkan. Sungguh betapa dahsyatnya energi kata ini!  Lihatlah bagaimana kelompok Syiah dan Suni. Kelompok Islam dan Kristen. Lihatlah! Saat mana ketika kepada mereka disematkan kata kata yang tidak mereka suka. Maka jawaban kepastian adalah; Peranglah jawabannya! Adakah manusia mau berkaca? Dan mau meredam egonya untuk tidak melontarkan kata-kata tak pantas? Sudahkah manusia paham akibatnya? Apakah orang-orang berilmu diantara mereka tidak memperhatikan?

Mengapa? Apakah perjalanannya menyusuri jejak Nusantara menjadi awal itu semua? Apakah perjalanannya mencari jawaban atas sebab  apa tragedy menimpa bangsa ini, menjadi mula membaliknya kesadaran yang memusuhi kepada dirinya? Ataukah karena sebab dirnya sedang dalam upaya menyusuri jejak kesadaran Sanjaya. Tokoh luar biasa yang telah menorehkan sejarah bagi Nusantara. Pada jamannya tekhnologi dan juga ilmu pengetahuan berjaya. Pada jamannya dibangunlah candi-candi yang megah tak terkata. Candi yang sekarang    diakui oleh dunia internasional, sebagai karya yang fenomenal bagi sejarah peradaban manusia.

...

Perjalanan Mas Thole sempat terhenti kemarin, semua  menyoal ini. Telah dikisahkan dalam 6 episode. (Dimana) Kisah kemarin mengkisahkan bagian yang lain dari kisah perjalanannya. Dirinya harus berhenti sejenak seblum melanjutkannya lagi. Yah, sebuah perjalanan spiritualnya sendiri. Semua untuk keperluan dirinya sendiri,  dalam upaya mencari jawaban atas musibah yang menimpa bangsa ini. Jawaban atas gundah hati melihat nasib bangsa nusantara ini yang  terus saja seperti sekarang ini. Jika kemudian dikisahkan disini itu hanyalah dalam upaya berbagi disamping agar menjadi pengingat diri. Sebuah perjalanan panjang anak manusia yang mencari jatidiri. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus saja bergumulan di dalam batinnya sendiri. Jika kemudian kisah perjalanannya mengantarkan kepada jejak kesadaran Raden Patah yang sempat kontraversi, sehingga admin menghapusnya dari folder. Itu adalah konsekuensinya. Perang kesadaran pasti akan menimbulkan korban. Ini adalah pilihan!  Entahlah dengan kisah perjalanannya kali ini menuju lintasan Wangsa Sanjaya.

Dan jika saja pemaknaan dirinya tidak sebagaimana kesadaran kolektif manusia, bukankah itu sah dan wajar saja. Mengingat bahwa pemaknaan atas sebuah kejadian hanya untuk dirinya sendiri dan akan dibuatkan sebagai buku catatannya sendiri. Kitab (buku) catatan yang akan menjadi pertanggung jawaban dirinya kepada Tuhan atas pemaknaan yang dia berikan dari suatu kejadian. Jika kejadiannya mengenai lintasan yang bersinggungan dengan masa lalu ataupun masa depan, bukankah tetap saja semua merupakan pemaknaan? Bukanlah perihal salah dan benar. Pemaknaan adalah  itu buah dari hasil pemikirannya. Pemikiran yang sangat subyektif sifatnya. Maka pemaknaan disini tentu saja akan berbeda satu sama lainnya. Pemaknaan yang dalam bahasa simbol yang diajarkan Kami telah disimbolkan dengan Nun.

Persoalannya adalah mengapa pemaknaan yang diyakini Mas Thole mengusik manusia lainnya sehingga mereka menyerang dengan energi kata-kata? Apakah pemaknaan yang didapatkannya sebagai hikmah harus sama dengan yang lain? Apakah dia harus berdusta? Atau lintasan Sanjaya telah membangkitkan kesadaran lainnya. Kesadaran yang dahulu telah membantu Sanjaya dalam membangun candi-candi? Benarkah Itu? Adakah entitas tersebut, adalah mereka yang membantu Sanjaya? Hhhh...Apakah mereka itu (makhluk) yang telah menghantarkan energy kata dan menyakitinya? Aduh...!  Siapakah entitas yang dihadapi Mas Thole? Luarnya saja kata-kata, namun sesungguhnya setiap hurufnya sudah terisi dengan  makhluk tak kasat mata. Mereka yang tak rela jika kisah Sanjaya diungkapkan sebagai fakta.

....

Langit dan bumi menjadi saksi, saat mana kemudian Dieng memutahkan air, lava dan api. Benarkah ledakan itu membawa khabar dan menjawab resah? Hhhh...Kisah perjalanan ini  ingin diungkapkan kepada sahabat,  menjadi senandung kesedihan tersendiri. Kesedihan yang pernah tertangkap, dan menjadi syair dan lagu  di kemudian hari. ‘Berita Kepada Kawan’.  “Perjalanan ini/Trasa sangat menyedihkan/Sayang engkau tak duduk/Disampingku kawan”  Hhh...siapakah yang mampu merasakan kesedihan perjalanannya ini?  Hampir selama 10 hari jiwa Mas Thole dihimpit kepedihan. Namun semua tentu ada hikmah. “Perjalanan ini pun/Seperti jadi saksi/Gembala kecil/Menangis sedih/Kawan coba dengar apa jawabnya/Ketika  kutanya mengapa?..dst”  Perjalanan yang tak terungkapkan sehingga kemudian Mas Thole melanjutkan perjalanananya ke pantai selatan. “Sesampainya di laut/Kukabarkan semuanya/Kepada karang kepada ombak/Kepada matahari/Tetapi semua diam/Tetapi semua bisu/Tinggal aku sendiri/Terpaku menatap langit.”

Barangkali di sana
ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana

Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang
(Syair Berita Kepada Kawan by Ebiet G Ade)

Selesai sudah pembelajaran, selesai sudah pemaknaan. Kemudian saat Mas Thole melihat kejadian jam dan menit saat kapan  Dieng meletus. Dirinya luruh dan menangis. Rupanya hikmah ingin dihantarkan Kami melalui seluruh kejadian yang menyakitkannya, rupanya apa-apa yang diterima sebagai makian dan hujatan dan juga tentangan adalah untuk menguatkan keyakinannya. Semua demi (hanyalah) serangkaian pemaknaan atas kebenaran al qur an.  Kejadian meletusnya Dieng antara waktu 11.27 s/d 11.32 WIB. Dibukalah al qur an surah 11 ayat 27-32 dari sana Mas Thole mendapatkan pemahaman. Ayat ini seperti mengkisahkan tuduhan yang dialamtkan kepadanya. Perkataan yang sama. Sungguh aneh. Mengapa perkataan yang diemailkan kepadanya bisa sama redkasinya? Mereka menuduh Mas Thole. Sebagaimana dialektikanya sudah dituliskan di al qur an di surah Hud. . Allah hu akbar!

“.....dst: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS; 11: 27)

Dan seperti kebetulan saja, bahwa Mas Thole selalu mengkhabarkan bahwa dirinya adalah manusia biasa, dirinya tidak memiliki pengetahuan atas hal-hal ghaib. Kepada siapapun. Apa-apa yang dikisahkan adalah menyoal pemaknaan atas apa-apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Bahkan kepada rekan-rekan Mas Thole lainnya yang satu perjalanan spiritual dikatakan hal yang sama. Tidak ada kelebihan pada diri Mas Thole. Hari ini ingat besok bisa lupa. Semua terjadi hanya atas ijin Allah. JIka para nabi saja mengatakan demikian apalagi Mas Thole. Sungguh Mas Thole termasuk orang yang zalim jika mengatakan bahwa dirinya mengetahui perbendaharaan ghaib. Demikianlah Mas Thole diingatkan Kami.

“Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak (pula) aku mengatakan: "Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat", dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim. (QS; 11: 31)

...
Berjalan melintasi malam. Melintasi rangkaian pemikiran dan kejenuhan atas kejumudan yang terus saja mencengkrami. Ada apakah dengan negri ini. Mengapa semua khabar seperti tak bisa dimaknai dengan sekali dua kali perjalanan. Sebuah dialektika dihantarkan, mungkin saja dari sana kita akan paham dari manakah harus memulai. Mencari jejak mula asal kesadaran akal. Menelisik jejak Sanjaya di Bumi Nusantara.

Diskusi 1
12/06/17, 22.21 - Fulan: Iya mas saat ini kita kembali ke zaman 500 tahun yll dimana agama menjadi sumber inspirasi fitnah
12/06/17, 22.25 - Fulan: Agama dengan mudah menjadi tameng menghukum seseorang benar dan salah  seperti mereka menghukum isa bin maryam
12/06/17, 22.26 - Mas Thole: Kemunduran kesadaran...πŸ™πŸ˜°πŸ™
12/06/17, 22.27 - Mas Thole: Ada inside kita mulai dr mana mas?
12/06/17, 22.28 - Fulan: Keliatannya polarisasi ini akan semakin meruncing sampai pada titik yg jelas siapa yg kalah dan siapa yg menang sebagai puncak dari siklus zaman
12/06/17, 22.30 - Mas Thole: Benar mas...petunjuk yang sama...πŸ™πŸ˜°πŸ™
12/06/17, 22.33 - Fulan: Seperti yg mas sering sampaikan yg perlu dilakukan adalah membangun kembali kesadaran hanif meskipun dilakukan dalam 'diam' dan mengikuti hukum gravitasi bergerak kemana...
12/06/17, 22.36 - Mas Thole: Iya mas...πŸ™
Alhamdulillah...dalam perjalanan yang sama...
Meskipun nantinya kita bersiap utk tidak dianggap...😰
12/06/17, 22.37 - Fulan: πŸ™
12/06/17, 22.39 - Mas Thole: Iya mas...sebab kita bukan ahli agama yang hapal kitab kitab 😰
12/06/17, 22.42 - Fulan: Mas dulu mas bilang kita mulai dari medang kamulan di barat
12/06/17, 22.45 - Mas Thole: Iya benar mas...ada inside kah...πŸ™
12/06/17, 22.48 - Fulan: Ada bbrp tempat yg berasosiasi dengan nama medang kamulan selain yg dibangun sanjaya di sekitar merapi. Pertama adalah gunung padang, kedua adalah cihunjuran atau gunung mandalawangi.
12/06/17, 22.50 - Fulan: Konon diatas cihunjuran  (gunung mandalawangi) juga ada situs cuma jarang dikunjungi krn jalan kaki nya lumayan keatas.
12/06/17, 22.51 - Fulan: Kalau yg paling barat jelas cihunjuran atau tepatnya areal gunung mandalawangi
12/06/17, 22.52 - Mas Thole: Wah...kenapa bisa saling terkoneksi ya mas...sepertinya acak namun seperti menyusun puzle
12/06/17, 22.53 - Mas Thole: Benar sekali..klik mas
12/06/17, 22.59 - Mas Thole: πŸ™
12/06/17, 23.00 - Fulan: Apa perlu di eksplore lebih dalam ya hehe
12/06/17, 23.14 - Mas Thole: Keliatannya iya mas...bagian dari perjalanan kita...πŸ™πŸ˜ŒπŸ™

Diskusi 2;
12/07/17, 22.40 - Mas Thole: Bagaimana keadaan mas? Ada pengajaran?
12/07/17, 22.41 - Fulan: Sabtu kemarin sambil nganter si eneng testing di undip. Malemnya ke candi angin rame2.
12/07/17, 22.41 - Mas Thole: Candi mana mas?
12/07/17, 22.43 - Fulan: Termasuk akang, eneng, Jaya, pakde, dan bbrp org semarang. Mas Bejo  tidak bisa naik krn tiba2 ngantuk di rmh kuncen nya.
12/07/17, 22.43 - Fulan: Candi angin di keling jepara. Dideket gng muria.
12/07/17, 22.43 - Mas Thole: Wah...Mas Bejo kok bisa ngantuk ya?
12/07/17, 22.44 - Fulan: Aneh tuh mas
12/07/17, 22.44 - Mas Thole: Oh...yaya
12/07/17, 22.44 - Fulan: Saya hampir drop di sepertiga perjalanan. Kt akang sih ada yg ganggu.
12/07/17, 22.46 - Mas Thole: πŸ€”...benturan mas...seperti roda bandul...
12/07/17, 22.47 - Mas Thole: Terbuka disana...beberapa pintu terbuka
12/07/17, 22.47 - Mas Thole: Sudah kehendakNya
12/07/17, 22.47 - Fulan: Feeling saya disitu tpt mandito nya Sanjaya
12/07/17, 22.48 - Mas Thole: Bisa jadi mas
12/07/17, 22.48 - Fulan: Ada clue apa ya mas
12/07/17, 22.48 - Fulan: Kata usup dia dapat pesan dalam bahasa sunda
12/07/17, 22.49 - Mas Thole: Iya mas...setiap tempat akan selalu berpasangan Yin dan Yang
12/07/17, 22.49 - Mas Thole: Portal juga demikian
12/07/17, 22.50 - Mas Thole: Portal yg lebih dahulu terbuka dg kehadiran mas dkk disana portal yg dimaknai negatif
12/07/17, 22.50 - Fulan: Maksudnya gmn mas
12/07/17, 22.50 - Mas Thole: Temen temen mulai terasa dr hari minggu
12/07/17, 22.51 - Mas Thole: Hari senin ada teman yang mendadak pingsan
12/07/17, 22.51 - Fulan: I c
12/07/17, 22.51 - Fulan: Dimaknai negatif itu gmn ya mas
12/07/17, 22.52 - Mas Thole: Nah ...renteran kejadian ini bagai kartu tersusun...yg di sentuh ujungnya akan merobohkan yang lain
12/07/17, 22.53 - Mas Thole: Akan merubah tatanan alam kesadaran...dimana di realitas akan muncul kejadian2
12/07/17, 22.54 - Mas Thole: Dalam konsepsi manusia....dalam hukum alam negatif dan positip sama saja
12/07/17, 22.54 - Fulan: Saya notice ada 3 kejadian gempa setelah itu: sukabumi, toba dan wahau (kudungga)
12/07/17, 22.55 - Mas Thole: Benar mas....seperti kebetulan...namun kalau mas mau perhatikan akan ada dinamika tren yg bisa kita lihat pola nya
12/07/17, 22.55 - Fulan: Bisa dijelaskan mas
12/07/17, 22.55 - Mas Thole: Apalagi kalau mau kita amati jam menit dan detik
12/07/17, 22.59 - Mas Thole: Siklus angin...ada tekanan tinggi dan rendah...tanpa perbedaan ini tdk akan ada flow...
Arus listrik tidak ada positip san negatif tdk mengalir..
Bgt halnya kesadaran..
Negatif di maknai sebagai musibah atau sebagai kesialan..malapetaka dll..dan positip sbg anugrah..naik gaji...pangkat dll..
Nah...portal yg terbuka adalah portal negatif...apakah negatif...?
12/07/17, 22.59 - Mas Thole: Tidak !..alam kesadaran hrs ada flow...
12/07/17, 23.01 - Mas Thole: Kita buka ayat al qur an...di jam trsbt...maka akan ada hikmah dr perjalanan kita
12/07/17, 23.02 - Mas Thole: Banyak pertanyaan kita akan di jawab alam
12/07/17, 23.03 - Mas Thole: Rangkaian trsbt akan menjelaskan peta atau pola perjalanan
12/07/17, 23.03 - Fulan: Saya coba cerna dulu mas
12/07/17, 23.03 - Fulan: Kira2 yg kasih pesan ke akang itu siapa ya mas
12/07/17, 23.04 - Mas Thole: Boleh share pesannya mas
12/07/17, 23.05 - Fulan: Kata dia ketika saya  meditasi di bagian paling atas..ada angin dan kabut..terus ada sosok seorang yg tua tapi gagah di dekat saya..lalu berpaling ke akang..bicara..setelah itu menghilang dengan kabut dan angin
12/07/17, 23.07 - Fulan: Pesannya dalam bahasa sunda...yg kalau saya tdk salah tangkap kira2 artinya: sampaikan sama dia (maksudnya ke saya) perintahkan ke rakyatnya agar hidup dengan benar...kira2 spt itu...
12/07/17, 23.07 - Fulan: Akang gak jelas ngomongnya jadi saya juga gak yakin apa spt itu
12/07/17, 23.08 - Mas Thole: Kakek tsb Sanjaya mas
12/07/17, 23.08 - Mas Thole: Sanjaya langsung yg datang
12/07/17, 23.08 - Fulan: Gt ya mas
12/07/17, 23.08 - Mas Thole: Iya mas
12/07/17, 23.09 - Mas Thole: Sanjaya memiliki ilmu angin...
12/07/17, 23.09 - Fulan: πŸ™
12/07/17, 23.09 - Mas Thole: Ciri2 kedatangan beliau bgt
12/07/17, 23.10 - Fulan: Ada bbrp hal yg aneh
12/07/17, 23.11 - Mas Thole: Boleh di share mas
12/07/17, 23.12 - Fulan: Akang bawa hanjuang dari kampus undip. Tiba2 Pakde nggak tau drmn tau kalau Akang bawa hanjuang. Dan nyuruh ditanam diatas. Dilalah pas naik keatas si akang lupa bawa dari mobil.
12/07/17, 23.13 - Mas Thole: Wah
12/07/17, 23.13 - Mas Thole: Ga ke tanam mas
12/07/17, 23.14 - Fulan: Iya. Saya fikir apa emang disuruh tanam diatas.
12/07/17, 23.16 - Fulan: Mas Bejo begitu mau berangkat (hrs naik ojeg dulu). Tiba2 pusing dan ngantuk. Saya taunya dia gak ikut pas mau jalan kaki naik. Dia juga nanya kenapa ya dia gak boleh ikut keatas.
12/07/17, 23.17 - Mas Thole: Sprt nya benturan energynya dg mas bejo
12/07/17, 23.18 - Fulan: Pas sampai di candi brubah dibawahnya candi angin. Pakde nanya...kenapa katanya saya disebutnya rayi (adik) sama 'mereka'.
12/07/17, 23.20 - Mas Thole: Masih sama sama dr pasundan
12/07/17, 23.21 - Fulan: Oya mas Bejo itu siang sebelumnya coba naik ke atas..tapi gak tau kenapa belum jauh udah turun lagi. Saya blom nanya kenapa2 nya. Katanya gak enak badan.
12/07/17, 23.22 - Mas Thole: Iya mas...kalau nekad keatas..pulangnya bisa di gotong mas...😰
12/07/17, 23.22 - Mas Thole: Oh ya kalau boleh tahu...kondisi badan skrg bgmn mas
12/07/17, 23.23 - Mas Thole: Coba nanti scaning
12/07/17, 23.23 - Fulan: Baik2 aja mas..cuma ada sedikit sakit perut kemarin
12/07/17, 23.24 - Mas Thole: Diare?
12/07/17, 23.24 - Fulan: Jadi kalau saya hubungkan dengan cerita mas dan pendapat Pakde saya melihat benang merahnya.
12/07/17, 23.25 - Fulan: Situs keling itu dikenal sbg situs Ratu Sima
12/07/17, 23.25 - Mas Thole: Bagaimana mas?
12/07/17, 23.27 - Fulan: Kata Pakde kalingga atau medang kamulan kemudian dibagi 3. Yaitu barat dia menyebutnya daha itu sanjaya, tengah saya lupa namanya dia sebut apa, satu lagi timur yg kata dia namanya kahuripan.
12/07/17, 23.27 - Fulan: Mas kan pernah menyebut kita mulai dari medang di bagian barat.
12/07/17, 23.27 - Mas Thole: Yaya...cocok itu mas
12/07/17, 23.28 - Mas Thole: Benar
12/07/17, 23.28 - Mas Thole: Alhamdulillah
12/07/17, 23.29 - Mas Thole: Simpul2 nya mulai terbuka
12/07/17, 23.30 - Fulan: Jadi pemahaman yg saya dapatkan dari candi angin itu mas...masih meraba2 dgn apa yg dimaksud di mulai dari medang barat ini..
12/07/17, 23.32 - Fulan: Saya tadinya mau nyuruh orang utk nanam hanjuang di sana. Tapi saya masih ragu2 krn belum tau niat dan maksud Pakde utk menanam hanjuang diatas itu apa
12/07/17, 23.33 - Mas Thole: Secara realitas kita liat respon dan tanda alam mas..utk membantu pemahaman...petunjuk alam
12/07/17, 23.33 - Fulan: Siap

...

Pesan alam terbaca, sebagai pengingat kepada manusia. 

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS; Jamuan (Al-Mā'idah):48)

Dan itulah rangkaian pesan Kami, bumi bergoyang untuk menandai pembelajaran anak manusia.

Wolohualam

BERSAMBUNG

Perjalanan Mas Thole memasuki babak baru, kepadanya diperintahkan agar menuju titik portal segitiga. Titik segitiga yang telah memakan korban ratusan manusia. Titik portal antara Gunung Halimun, gunung Salak dan gunung Gede. Dalam kesadarannya, tidak lama lagi ketiga gunung ini akan meluapkan amarahnya. Sebagaimana Uga Wangsit Silihwangi. Dan pada tataran realitas lihatlah keadaan negri ini. Situasi politik yang bagai magma gunung berapi. Realitas dan ghaib sedang sama-sama di titik kulminasi. Apakah yang bisa manusia lakukan? Mas Thole hanya diam berdoa dalam tiwikramanya.