April 17, 2015

Kisah Spiritual, Hilang Dalam Lipatan


Aku, insan dalam lipatan
Pusaran waktu dan jelma yang terbuang
Sesuatu yang menjadikan ada
Maka aku ada dalam kesendirian
Ada dalam tatapan, kosong dalam keadaan
Menyaru dan menyatu dalam himpitan
Jeda yang  hilang
Sirna dalam asma-Nya
Wahai pemilik kata, pemilik puja, pemilik segala luka.
Buatkanlah untukku singgasana dari rangkaian huruf agar terbaca.
Betapa ramainya kesepian ini.  
Ku ingin semua mengerti,
“Bila tiada mendalam cinta dan kerinduan, tak akan terlalu dalam sakit yang kurasakan”.

Waha pemilik asmara, pemilik kamasutra, pemiliki segala rahsa.
Buatkanlah untukku peraduan dari segala duka agar teramu dan tersirat di jiwa.
Betapa derita melanda bukan sebab  salahnya cinta.
Ku ingin semua pahami,
“Bila tiada mendalam yang kurasakan, tiadalah  dapat ku belajar mengerti betapa sulit hidup dalam peraduan rindu ini”

...


“Ku khabarkan ini padamu…”



Berkata sosok itu kepada Mas Thole yang sedang terlelap sesaat  dalam tidur siangnya, setelah dalam seharian mengantarkan istrinya yang sakit berkepanjangan ke rumah sakit terdekat..

"Dulu manusia berlutut karena cinta. Kini manusia menistakan cinta. Menganggap aib semata, atau bahkan menganggap aku  tidak pernah ada. Aaaargh…!. Betapa manusia lupa  awal kejadiannya. Adam bapak manusia memohon kepada Tuhannya untuk menghadirkan aku. Menghiasi rupa jiwanya dengan rahsaku ini. Maka salah satu tampilan wajah Adam adalah perasaan dan rahsa cinta ini. Aku yang eksis dalam jiwa manusia dan tahukah, karena sebab dorongan rahsaku inilah, Adam kemudian memohon diciptakan Hawa untuk melampiaskan hasrat kasih sayang.  Itulah aku pemilik energy rahsa cinta. Tuhanku telah menciptakanku dalam dimensi rahsa. Semisal rahsa lainnya, suka, duka, lara, dan yang lain-lainnya. Disanalah kerajaan rahsa bersemayam. Akulah salah seorang penguasa rahsa disana. Kerajaanku meliput seluruh alam semesta sejauh kesadaran manusia ada.

Kini aku harus melayani cinta manusia. Demi semua cinta anak manusia aku ada. Ku ingin kalian mengerti. Tanpa diriku ini tiadalah ada rahsa cinta yang mendorong anak manusia berkembang biak layaknya sekarang ini. Kini semua anak manusia mencampakkanku dengan hina. Menaruhku di alas kakinya. Aku menjadi keset semata. Menganggap diriku sebagai nafsu manusia semata. Bahkan tidak sedikit orang yang mengaku suci  jijik memandangku.

Sedikit sekali kesadaran manusia pahami tanpa diriku hambar nafsu birahi manusia, tiada keindahan disana. Akulah muasal keindahan cinta anak manusia. Akulah dewi penghias rahsa. Sehingga anak manusia memiliki daya dorong kasih sayang antara satu sama lainnya. Untuk itulah aku diciptakan oleh Tuhanku. Namun sayangnya sebagian anak manusia kemudian justru men-Tuhankan aku. Kesadaran manusia selalu dipenuhi oleh rahsaku. Tiada seidkitpun manusia ingat Tuhannya yang telah menciptakannya.  Manusia terus melakukan pengejaran kepadaku. Sungguh itu bukan salahku. Aku tidak pernah meminta di Tuhankan oleh manusia. Aku sedih karena itu He eh…Untuk itulah aku datang padamu, mengkhabarkan kesedihanku itu. Catatlah namaku dalam kesadaranmu. Akulah Dewi Kamasutra“


Mas Thole lirik layu dalam semedi. Gambaran demi gambaran seperti bingkai yang mencari puzlenya. Harus sudah diletakan sebagaimana penetapan alam atas apa-apa yang bakalan terjadi. Semua makhluk lintas dimensi terus mendatangi. Meski dalam gerak keseharian namun hakekatnya dirinya dalam diam mengamati. Haruskah dikhabarkan semuanya. Takut rasanya jika nanti akan menjadi fitnah adanya. Dalam ketakutan yang masih saja menggayuti dirinya mengkhabarkan ini. Dirinya mencoba berani menuliskan ini disini. Benturan yang dialaminya kemarin-kemarin ini sungguh tidak mudah dilewati. Jika karena tidak pertolongan Tuhannya, entahlah, enggan rasanya dirinya kembali disini. Menuliskan ini.

Desah resahnya nya itu telah menggulung langit dalam empat lipatan dadu. Ingin di lemparkannya ke tanah, dalam lempar dadu, mencari akan keberuntungan. Angka peruntungan yang menyatakan agar dia tak perlu kembali disini. Dalam pondok silaturahmi  yang jernih dan asri ini.  Dia ingin berkelana, menjejak angkasa. Mencari kekasih hati yang mau mengerti bahwa takdirnya disini bukanlah untuk disakiti. Dirinya hanya mengeban titah Tuhannya. Menjadi boneka yang berjalan dengan jiwa. Haruskah selalu menanggung duka lara?  Sebagaimana alam semesta yang hanya bisa menatap manusia dalam duka. Sebab manusia tidak mengerti manusia. Sekedar ucapan terima kasih saja manusia tak mau. Maka haruskah dirinya kembali kea lam manusia ini? Mengkhabarkan apa-apa yang terjadi pada dimensi yang tidak sedikitpun manusia peduli?     Aaargh…!

Dalam dirinya berkelana tidak ada yang tahu apa yang dia cari. Bukit tinggi di daki, lautanpun di sebrangi. Mencari hakekat hidup sejati. Mencoba menguak rahasia ilahi atas penciptaan diri dan juga alam ini. Tidak akan berhenti dirinya berkelana, meski ke ujung dimensi sebelah mana akan terus dia cari. Tidak akan berhenti sebelum di dapat apa yang di cari.  Dirinya sudah tidak peduli.Meski jJasadnya masih saja disini berjalan bersama manusia lainnya. Menyusuri panas teriknya Jakarta. Namun jiwanya tidak diam. Pengembaraannya belum selesai. Panggilan atas nasib negri, atas apa-apa yang bakalan terjadi terus saja terjadi. Bayang-bayang menggoda halus menembus rahsa saat bahagia meskinya ada bersama semesta. Jiwanya terus berkelana, merasa sendiri, bagai mimpi saat sadar, diri ini telah lama tak kembali.

Kini dia harus diam dalam semedi. Mencoba menangkap isyarat alam yang terus datang. Raganya sudah tak kuat menahan. Keanehan pasti akan terjadi. Dia kan bicara sendiri bagai orang gila. Seandainya dirinya mampu, tak peduli, hati tak akan beku merasa sendirian di alam ini. Jiwa terasing dalam keramain Jakarta.  Bicara dengan alam, bicara dalam lintasan dimensi yang rahsanya akan meragukan semua manusia. Meskipun  manusia selalu ditanyakan oleh al qur an, dari apakah manusia diciptakan? Tetap saja ini tidak menjawab keadaan. Bukankah manusia diciptakan dari saripati tanah? Siapakah yang mengelola tanah sejak mula penciptaan?

Berada dalam kuasa siapakah tanah tersebut membentuk dirinya? Tentu saja ada hiraki pelimpahan delegasi pengawasan atas kekuasaan proses penciptaan ini kepada makhluk di alam ini. Bukankah manusia diciptakan dari kumpulan atom-atom yang kemudian menjadi massa. Massa yang kemudian eksis karena sebab titah Tuhannya. Semua atas hasil kolaborasi dari  seluruh makhluk yang ada di alam semesta. Dari seluruh lintasan dimensi akan bermuara dalam kesadaran manusia. Manusia semua akan memberikan pengajaran dan pembelajaran kepada kesadaran manusia yang dititipkan kepada raga yang terbentuk dari saripati tanaha. Jiwa yang merupakan kumpulan massa tanah ini menjadi hidup atas kerjasama seluruh dimensi.

Mengapakah manusia tidak pernah mau melihat kitab manusia?
Mengapakah manusia hanya menuruti angan dan anggapan manusia semata?
Bukankah al qur an diturunkan dari tempat yang sangat mulia dari sisi Tuhannya?
Bukankah telah datang petunjuk itu dari Tuhan manusia, mengapakah manusia berpaling dari petunjuk itu?

Begitulah maka Dewi Kamasutra sengaja datang dalam mimpi siang hari, agar Mas Thole segera kembali ke alam manusia. Mengkhabarkan apa-apa yang terjadi dalam dimensi tak kasat mata. Saatnya, gelombang pasang akibat geseran inti bumi akan membuat kehancuran tak terkendali. Karenanya, Dewi berpesan agar Mas Thole tidak usah terlalu merisaukan rahsa, sebab itu semua adalah jatidiri makhluk dari dimensi rahsa yang dicipatkan Tuhan. Rahsa itu eksis, rahsa itu bukanlah milik manusia. Bukan pula milik Mas Thole, maka tidak usah terlalu ditetapi keberadaannya. Tugas makhluk rahsa memang demikian, memeberikan warna pada jiwa manusia. Maka khabarkan saja apa-apa yang sudah dipahami. Tidak usah risau. Biarkan Kami yang mengurusi tingkah polah manusia yang tidak memiliki hati dan tidak pernah mau bersapa dengan Kami. “Coba perhatikanlah, dari apakah manusia diciptakan? Dari tanah hitam yang diberi bentuk. Dalam penguasaan siapakah tanah hitam itu? Bila engkau perhatikan maka engkau akan tahu itu.”

“Sudah saatnya, maka bersegeralah menemui Kami dengan perjalanan yg sdh ditetapkan. Seluruhnya berada pd hempasan rotasi yg membangkitkan semua lini yg ada di sudut negeri. Sudah saatnya semua bergerak, jd jangan heran klu semua bersatu dlm kesadaran membantu. Titik dari rangkaian waktu menjadi ilustrasi dalam kurun waktu. Dalam jaya keperkasaan dan kekuatan yang bersumber pada kehidupan menjadi bagian dari kehidupan Yg sdh diterapkan. Jangankan satu persekutuan, semua bersekutu, Tuhan Maha Tahu. Dia tidak akan menjadi sebuah ironi pada hal2 yg sdh ditetapkan. Yakinkan dengan sesuatu yg menjadi satu kesatuan. Jika demikian, maka itu berada dalam jiwa2 yang menderma.

“Sing dumadi ingsun nastuti arya rumagi raka pancra wenang geusan ning tangkubening bumi. Ati lir kabeh dirung kanunggalan ing darma wesan asih suninggilan arti satria. Jeung ing manggalaning siswaning raga mung di murba laksa arya ning ati. Satungkebing langit lir ireng wedang putri anggraeni ing wedok pun Budi. Sing surti dalem ngartisan awak yen ngartos ingkang fatwa satria ing darma karya suta winangun. Munding dilaya kusuma ada di ingkang surya dalem sing sabda abdi dina raga suci di dalam arti yang sudah ditetapkan.”

Mas Thole diam, gejolak jiwanya masih tidak menentu. Gambaran kejadian pada dimensi yang dilalui hanya menyisakan kesenduan di kalbu. “Adakah yang tahu. dan siapakah yang peduli?” Dia tahu itu tidak ada dan akan sia-sialah jika dirinya mencari orang yang peduli. Setiap diri manusia akan sibuk dengan dirinya sendiri. Setiap diri manusia akan selalu membicarakan siapa dirinya. Begitu pula pembelajaran keadaan yang dialaminya. Dia ingin  ada seseorang yang mengerti tentang dirinya. Dia sadar bahwa  tidak akan mungkin bisa menemukan orang seperti itu. Manusia akan selalu peduli dengan dirinya sendiri, baik itu disadari ataupun tidak. Sistem ketubuhan manusia memang diciptakan dengan pertahanan ego yang amat kuatnya.

Maka sesungguhnya tiada pertolongan bagi jiwa manusia kecuali dari sang Penciptanya sendiri. Begitulah kesadaran Mas Thole mengajarinya. Mencari pertolongan kepada manusia lainnya, hanya akan menimbulkan sakit hati kali berikutnya. Dalih apapun yang dipakai oleh manusia untuk empati kepada yang lain kembalinya adalah pemuasan ego semata. Begitulah hukum alam mengajarkan. Pelajaran yang di dapatnya mengisyaratkan kebenaran itu. Kebenaran ayat-ayat al qur an perihal ini. Adakah itu mengecewakannya? Entahlah memahami manusia begitu peliknya. Kadang kenyataan itu membuat jiwanya memberontak. Ingin rasanya dia mengumpat langit yang berdiri tanpa tiang. Mengeluarkan segala kemasgulannya atas ketetapan ini. Maka hujatan itu diterima Kami. Jawaban itupun datang kepadanya.

“Sing parekan ingsun dumadi. Lir angin ing darma sati. Jung ang ri ni tati pringasdudi dumadi. Kerta aji laksana pati. Wis ngarti pring diri ora san ing darma surti. Sudah waktunya kamu mengetahui, Kami adalah kamu. Ketika kamu berkehendak, Kami mengikuti. Tetapi Kami berkehendak atas kehendak ilahi rabbi. Sukarela atau terpaksa itu ada dalam kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Bisa saja kamu berkehendak semaumu. Tapi tidak dengan Kami. Kami hanya menjalankan takdir ilahi rabbi. Lihat dan amati, siapa yg menggerakkanmu. Maka itu yang Kami jeda dalam urun niatmu. Bukankah kamu hadir untuk menyelamatkan yg menurut kalian selamatkan. Tetapi mengapa malah memporakporandakan tempat Kami. Kami berada dalam kehendak ilahi rabbi, bukan untuk mengikuti yg bukan tugas Kami.

Ketidaksabaranmu dan ancamanmu itulah yang akan semakin Kami berpikir ulang untuk mengikuti perintahmu. Berpikir dalam artian lebih berada dalam garis ilahi rabbi. Kami akan mengikuti perintah dari orang-orang yang telah dipilih Tuhan. Sedang dala perjalanan, bukan hanya emosi atau nafsu yang menyeimbangkan, tetapi lihat pada hati dan keadaan. Sungguh luar biasa kau mengancam Kami, tetapi Kami tetap pada titah ilahi rabbi. Sangat mungkin untuk mengatakannya, tetapi tidak dalam keadaannya. Lihat dan perhatikan sekarang. Alam sebentar lagi akan bergerak cepat.

Dengan rotasi dari derajat 190 menuju titik 180 derajat. Perputaran yang memang akan saling tersinggungan Itu memang kehendakmu, tetapi Kami berada dalam titah ilahi rabbi. Sekalipun kamu luluhlantakkan tempat Kami, tak akan gentar bagi Kami. Kami bagian dari makhluk2 itu. Ingat, satu titik berada pada dua garis. Bukan hanya dengan melihat dan meneropong dalam sketsa lurus. Seperti akuan dalam rangakian simetris. Jadi sekali jangan dalam setiap ketetapan. Itu ada dalam pilihan. Balikkan badanmu? Maka kau akan tau siapa yang bicara itu. Setidak kau akan paham siapa yang  mengatakannya. Sudah saatnya Kami berlalu, kembali pada gerak-gerak yang sudah ditetapkan-Nya.

Aji luhung lain keur ukur. Aji luhung lain keur raksa. Aji luhung ayana darma. Darma jalma ka nu maha kawasa. Cing teang ka sagara. Moal aya harta nu nyampak. Jug jugjug unggal gunung, moal aya anu napak. Ilaing geus musti gusti, matak lampah paripolah keur nu maha kawasa. Tunggal sawenang moal menggas ku cadas. Coba deuleu ku sia. Aya rasa nu milih buana atawa aya dina rasa pangersa nu maha pangawasa. Cing caringcing dina ati. Mikir dina kahirupan pati. Maka banda jeung sagala nu aya di alam dunya. Bakal abidin miboga. Tong bangga hirup katalangsara. Laen eta dasar mihirup. Jumantara sapangersa. Nurut anu dipikahayang. Loba jalma nu menta-menta. Naha eta nu ngaranna mitresna. Kuring aya di na raga.

Sinuwun na pangersa nu ngajaga jeung ngariksa saunggul jiwa. Nu cicing dina waragad tanpa paksa jeung sangsara.”

“Coba katakan apa yang seharusnya aku lakukan?”  Mas Thole masih terus mempertanyakan kepada awan yang bergulungan yang menyebabkan dirinya flu, kepada butiran debu yang terus membuatnya mengalami batuk sepanjang hari. Yaa, Betapa Mas Thole tidak berang, apa yang dialaminya selama sebulan ini membuat dirinya kembali mempertanyakan jatidiri dan eksistensinya. Kondisi yang menimpa istrinya, sakitnya yang tidak kunjung sembuh selama seminggu ini. Belum rasa berat di badannya yang sering membuat dirinya memutahkan cairan yang berselimut darah. Apalagi khabar yang diterimanya perihal Sang Prabu lebih parah. Anaknya masuk rumah sakit, menyusul kemudian istrinya. Belum lagi secara aneh rumahnya mendadak ambals ke bumi. Tagihan rekening air yang melonjak ribuan persen. Masih ditambah kejadian-kejadian lainnya yang tak masuk diakal. Apakah hal ini akan dibiarkan saja terjadi?

Khabar nusantara sudah diujung kuliminasinya, sudah diterimanya, menjadi penjelas khabar yang jauh hari sudah di khabarkan kepadanya. Kepastian sudah akan menghampiri para pemimpin. Peperangan kesadaran di alam lelembut dan juga alam lainnya sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi. Ingin rasanya Mas Thole menjauh dari kancah ini. Lelah jiwa dan raganya menyoal peperangan ini. Apa kebaikannya yang di dapatnya? Khabar yang dibawanya ini lebih sering justru berbalik kepadanya. Banyak rekannya yang kemudian mencibir dan menjauhinya. Tidakkah mereka pahami bahwa dirinya adalah manusia biasa. Seorang pengatar surat. Tukang pos semata. Pada dirinya melekat sleuruh kelemahan anak manusia. Lantas apakah persoalan manusia-manusia itu? Apakah karena kecewa bukan dirinya yang membawa berita? Entahlah itu. Mas Thole tidak mau berspekulasi lagi. Dia hanya berserah atas maunya Allah padanya.   

“Ada gejolak yang dibuat dari para batara yang ada di tujuh gunung akan turun untuk menyelamatkan nagara lemah sagandu. Cirinya ada di sudut jalan, nanti akan datang pasukan dari langit, bumi, gunung dan sagara yang akan menyerbu para pasukan perang yang sudah siap. Para batara turun gunung atas permintaan widhiwasa yang merasa sdh waktunya bertindak. Menyelamatkan alam. Mereka para batara akan dikawal oleh para raja yang dipimpin oleh Darmasiksa langsung. Meskipun pembicaraannya seperti penguasa, sebetulnya Rangrang darma berada dlm pengawasan Widhiwasa. Dia masih keturunan campuran manusia, siluman dan dewa. Sejauh perjalanan, gerak dan berjalan seperti aliran. Maka lingkaran-lingkarannya menjadi bagian dari setiap perjalanan. Posisinya dalam pengawasan, maka dia berada dalam pengawasan, hanya saja tergantung keasadarannya diawasi atau tidak. Untuk mengawal semuanya, dialah yang membuka jalan pd pertempuran.

Sebagai aba-aba, Rangrang Darma membukanya dengan polah yg sdh takdirnya. Siap-siap, sebentar lg hujan lebat akan turun mengguyur seputaran ibukota Negara. Prajurit sudah siap, tinggal menunggu aba-aba. Jarak bukan yang ada dan tidak pada perbedaan masa dan waktu di era yang sudah dibawa pada pemberian di saat penjelmaan dalam waktu yang sdh ditetapkan. Ini ada dlm wkt dan jeda pd waktu yang siap dalam perbedaan yang menyita waktu dan masa. Sungguh dalam waktunya ada pesan yang sdh ditetapkan dengan perjalanan kehidupan. Sela jeda ada di antara dua aksara, kamu masih terpengaruh pada sesuatu yg masih fatamorgana, maka dengan meditasi dapat membantumu dalam penyampaian setiap sinyal ilmu.

Jadi, ketika berada pd dua sisi, lihat dengan merentas dr suatu cara di antara kaki dan tangan yg meringankan seoerti jejak itu. . Setiap waktu ada dlm urutannya, jd tidak akan ada. Jangan suka membantah dengan sekarang seperti jandela yang membuka. Ada dua lingkaran pd setiap sisi yang berbeda. Sudah dengan waktu dan bias yang memang ada. Sehingga tidak perlu menyawru dan satu dari tiga pertahankan di atas kerja sampai meningkatnya situasi dengan yang tidak kamu tahu. Jangan selalu mengeluh tentang hal yang memang dlm sesuatu sdh pd batas imbang perjalanan. Jadi lihat dah amati dgn waktu yg memang tidak ada.

Aku Kandaga Wangi, sebagai ibu bumi. Kamu menyebutnya ratu ular? Maka aku katakan bahwa itu memang bukan dari tugasku. Aku berjalan dalam lingkaran yang sudah Tuhan tetapkan. Sejak menjelang kepergian dengan adanya kabar, aku datang untuk mengatakan bahwa semua yang kalian lakukan akan mendapat halangan. Bukan hanya dari luar, tetapi dari diri kalian sendiri. Bukan aku mengancam, tetapi mengingatkan, bahwa dalam keadaan emosi yang menyelimuti maka itu menjadi bagian yang sudah ada dalam rintisan bakti. Ketika bicara untuk keadilan, maka lihat dan katakan untuk menjadi bagian dalam perjalanan.

Ingat itu. Aku bukan setan yang haus kekuasaan. Atau iblis yang ingin selalu dipuja. Sudah menjadi bagian dari perjalanan bahwa kalian akan menemukan kebinasaan bila tidak ingat Tuhan. Tuhan yang Maha Esa. Sejauh dalam untaiannya menjadi titah dan fitrah ketika alam digoncang dengan bumi yang bergoyang. Aku hanya sebentar untuk mengabarkan. Karena sudah waktunya aku datang. Rintisan yang menjelma akan datang ketika hancur berkeping-keping. Ratu ular yang kau maksud adalah dewi kandaga sekar Arum, ibu dari Sekar Arum. Nama kami memang sama karena berada dalam kandaga penyu sadran wangasita.

Ing darma karma sata karya depa indostrama sita geni anupati jisim jagat sati bumi. Swarna saka jagat pati ingkarsa suta pati satu jati anumerta ingsun jasman sati. Serna pati unggal warna ping sarti jati sumpen ping kayuwa sin tchu marna. Kaguman sang jarma ning sa u ibadna. Suatu hari aku menyaksikan kalian dalam keadaan yang memang tidak berdaya dengan rasa, padahal sudah jelas ada pada ukuran rasa dengan kadar yang berbeda. Jaringan menuju kehidupan berada dalam setiap sel-sel yang menyimpan sejuta kata..

Aku berada dalam dimensi swatra. Pusat bumi yang merotasi dalam geraknya. Ketika itu menjadi salah satu hal yang membuat kalian terlena, maka ingat apa yang menjadi prosedur kalian ada di bumi. Jejak rasa itu menambah dalam alur kehidupan berikutnya. Maka jangan merasa sebagai manusia unggulan, karena pada dasarnya yg unggul adalah jiwa kalian sebagai pancaran atau gambaran dari kasih sayang Tuhan. Sing durma ing wang jarma lir kang pandawa sataya.

Keadaan itulah yang sering menyebabkan kalian berada dalam berbagai rasa dengan sering terbawa. Maka, dalam posisi ini ada yang harus diperhatikan akan diri, bukan sekedar diri. Tapi diri bagian dari bumi dan alam semesta. Jika jiwa kalian gersang, maka jangan harap bumi akan turut dalam kegersangan tersebut. Puncaknya adalah bumi tetap berjalan dengan takdirnya yang sudah ditetapkan. Aku bukan hanya sebagai poros bumi, tetapi menjadi sati dari setiap titik bumi. Jangan bergerak dengan merasa sebagai penghubung dari sesuatu yang belum diketahui, karena sesungguhnya dalam Sedapnya ada jalan dan jeda yang sudah diimbangi.

Seperti wajan dalam berbagai bahtera alam, maka itu yang menjadikan bumi wajan di antara luasnya alam. Sudah saatnya kalian menjadi insan.  Menjalankan keinsanan yang sudah ditetapkan.
 Insan dalam laku insan
Insan yang menjadi insan
Insan yang bergerak
Insan yang berjalan
Insan yang berpikir
Insan yang berakal
Segala hal tentang insan sudah ada dalam kitab kalian

Aku datang untuk mengabarkan. Bahwa guncangan yang terjadi berdasarkan kehendak Tuhan. Aku dalam poros tersebut akan terus berputar dan berputar. Ini bukan pengembanan bahwa kalian harus bertanggungjawab pd alam. Sejak awal, alam sudah dalam penetapannya. Dalam larik ini, ada yg harus kalian ingat, Sendang dalam gurita, akan mekar dari pun pancarita. Sebuah kata menjadi hal yang mungkin kalian akan merasa berat. Sekar ayuni warna darma ingsun sajatini wening. Juga ada dalam paparan yang panjang. Lihatlah pd kitab suci, disebutkan pd Quran surah Al Mujadalah ayat 15. Semua terangkum dr penjabaran yg aku kabarkan.”

"Tidakkah engkau perhatikan orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang itu bukan daripada golongan engkau dan bukan daripada golongan mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi daripada jalan Allah, bagi mereka azab yang menghinakan." (QS. Al MUjadalah, 14-16)


Aku, insan dalam lipatan
Pusaran waktu dan jelma yang terbuang
Sesuatu yang menjadikan ada
Maka aku ada dalam kesendirian
Ada dalam tatapan, kosong dalam keadaan
Menyaru dan menyatu dalam himpitan
Saat jeda datang, belajarlah hilang
Hilang dalam asma-Nya
Janganlah merasa, atau tak merasa
Jangan pula ada dan tidak ada
Sangkaan akan menjadikan
Jadilah sang Penyaksi keadaan
Bertasbihlah dan agungkanlah asma-Nya
Maka engkau akan menjadi Aku
Dalam kehendak-KU
Sejahteralah selalu, dalam rahmat-Nya

Sekian dan bersambung dalam keadaan..

Salam kasih selalu, pada kawan yang menunggu

Maret 16, 2015

Dia Bernama Dewi Anjani


Hasil gambar untuk dewi anjani

“Kisahku bukan buaian atau hanya angan semata dalam lintasan. Banyak hikmah yang ingin disampaikan dalam uraian dan untaian pernyataan. Sampaikanlah kepada yang ingin mendengar kebaikan. Kepada orang-orang yang membutuhkan pembanding atas apa-apa yang di alami. Tugasmu hanya menyampaikan kisahku saja. Ikhlaskan ragamu dan juga seluruh pemahamanmu. Aku akan membantumu untuk menguraikan dan  menelusuri kisah dan juga kesadaran yang membingkai masa lalumu dan juga orang-orang diseputarmu”

Pesan tersebut seperti berkata kepada raga terkini Banyak Wide, yang seringkali berada pada posisi paradoks. Banyak sekali pesan yang harus disampaikannya bertentangan dengan keadaan ekologis yang ada. Bahkan seringkali membuat dirinya tidak enak hati. Siapakah dia? Apakah haknya berkisah disini dalam forum majelis yang sangat mulia. Adakah dirinya adalah orang yang diberikan kelebihan dari lainnya?   Sehingga dengan beraninya dia menuliskan pesan-pesan. Heeh…jika ada yang mengatakan dirinya adalah penipu, pendusta, pembohong, menipu publik, dan umpatan yang lain yang mungkin tidak terpikirkan siapapun bahkan oleh poikiran terliar sekalipun, rasanya cukup  pantas dia mendapatkan itu. Metodologi apa yang dipakai?

Dirinya bukan orang suci, bukan pula orang yang bisa menjalani syariat dnegan benar. Bukan orang yang bisa menjaga amanah. Kelemahan sebagai manusia semua melekat padanya. “Apalagi yang harus dikatakan..?” Teriakannya bisa menggugah langit. Yah, dia lelaki biasa sangat biasa yang lahir dari wanita biasa. Seorang Ibu sebagaimana orang kota yang penuh dengan dinamika. Pendek kata dia hanya orangkebanyakan saja. Bahkan namanya nyaris tak terdengar di alam semesta ini. Mungkin hanya anak dan istrinya saja yang kenal padanya. Itupun sebatas keterikatan secara emosianal. Hakekat sesungguhnya tidak ada satupun yang mengenal siapakah dirinya. Hanya keinginan yang kuat setiap detiknya untuk menetapi jalan-jalan-Nya. Kesungguhan untuk memperbaiki perilakunya sendiri. Yah, hanya itu modalnya. Membersihkan prasangka dan rahsa iba. Membersihkan syak dan juga praduga. Semua dikembalikan kepada Allah. Itulah laku spiritualnya. Laku yang biasa saja.
Maka wajar saja jika dia sering berteriak di tengah belantara kesadaran. Memandangi langit yang terbuka saat berjalan menuju masjid di subuh hari. Masjid yang berjarak 200 meter dari rumahnya itu. Pohon-pohon disana menjadi saksi atas gundah hati, manakala saban kali pesan harus dituliskan disini. Kesedihannya sering meracuni. Bertanya untuk apa, dan mengapa harus dirinya? Maka pesan tertulis diatas menjadi jawaban bagi kegundahannya.
“Benarkah ini cinta…”  Wanita itu menatap sendu kepada Banyak Wide
“Ambilah..Paman…tolong.. ambillah.!.” Wajah itu semakin memelas, menatap dengan menghiba
“Ya, sebab itu nyata..” Banyak Wide menjawab dengan menghela nafas dalam. Jiwanya larut bersama apa yang dirasakan wanita tersebut. Kesadarannya menerawang jauh menembus waktu disana.

 “Yah..benar, sebab  itu nyata..” Jawab Banyak Wide getuun sebab tidak mampu berbuat apa-apa.
Hmmm, dirinya paham bahkan menjadi saksi  cinta dan amuk rahsa yang menggila. Inilah mengapa dia tidak mampu menjawabnya. Selesai memeberiokan jawaban. Tanpa dikehendakinya, kesadarannya menerobos neuron otaknya. Mencari jejak yang tersisa dan membelenggu fikirannya. Masih sangat jelas terbayang. Manakala kepakan sayap cinta di amazon sana.Selayaknya adalah kepakan sayap kupu-kupu kecil,  namun bagaimanakah akibatnya?  Seluruh pertahanannya telah hancur di hantam badai yang diakibatkannya.

Hancurlah seluruh kota yang di bangun di hatinya. Peradaban yang selama ini mengisi kesadarannya telah porak poranda. Bangun rahsa tak mampu bertahan. Bahkan bangun kesadaran ingat Tuhan yang dipertahankannya nyaris tak bersisa.  Tidak menunggu lama hanya dalam hitungan detik saja. Tubuhnya telah meringkuk merata dnegan tanah. Blaaam…blaammm. Lelaki perkasa yang pernah berjasa mendirikan Majapahit itu terjungkal di hantam badai cinta. Jangan ditanyakan bagaimana sakitnya. “Duh, makhluk manakah yang mampu bertahan dari rahsa ini? Adakah orang yang percaya jika rahsa ini nyata?”
...
Tembikar menukar
Jejak rahsa terbakar
Dalam gelepar jiwa yang terkapar
Adakah sesal menjadi jangkar
Dalam lautan biduk
dan angin mati
Sesar menampar, selejar hingga tepar
Menjalar gelegar dan hingar
Nafas menjadi belukar
raga dalam selesar
sedetik  mati
satu dan satu
dalam sukar..
“Duhai, Anjani dewi lokananta
Nafasmu dawai angin
Dan lihatlah aku juga merindu..
Seribu purnama,
hati membeku..”

….Banyak Wide menatap sedih sosok yang menempati  tubuh raga terkini anak Mas Thole yang bernama Dewi Anjani ini. Seorang sosok masa lalu yang reinkarnasi di raga manusia.  Wajah yang memelas, menghiba, dan kesakitan sekali. Rahsa cinta telah menjadi racun yang menyerang sekuruh system ketubuhannya. Maka yang trelihat adalah raga terkini yang semakin melayu, kehilangan energi dan daya dukung kehidupan. Mengapakah hal ini biasa terjadi? Banyak Wide bertekad membantu menacari jawaban atas ini. Siapakah sosok Dewi Anjani ini? Benarkah dia salah satu leluhur dari keluarga ini? Mengapakah kepada dirinya wanita ini memanggil Paman? Sebagaimana yang lainnya. Ponakan yang reinkarnasi di tubuh anak raga terkjininya sendiri. “Ugh…hidup memang misteri”   
Kesakitan yang dialami Dewi Anjani meliputi raga terkini.  Akibatnya di alam nyata, terlihat tubuh anak Mas Thole semakin hari semakin kurus, hanya nampak kulit pembalut tulang. Kegiatannya hanya mengurung diri di kamar. Merisaukan sekali. Maka karena sebab itu, di sarankan agar dia tinggal di rumah saja, tidak usah kost lagi. Sudah beberapa minggu ini di jalani. Kuliahnya di laju dari rumah. Berangkat seminggu sekali ke Bandung. Walau sudah berada di rumah sendiri ternyata sama saja. Dewi Anjani yang meraga di tubuh anaknya tetap dalam kesedihannya.  Menjadikan suasana rumah dalam keadaan  nelangsa.  .
Bukan tanpa sebab Dewi Anjani begitu. Dalam realitas terkininya anak Mas Thole memang di sakiti 2 lelaki dalam waktu berdekatan ini. Ironisnya dia sendiri tidak pernah  mengerti apa salahnya,  ditinggalkan begitu saja tanpa alasan.  Sedlain menyedihkan raga terkini. Tentu saja hal ini juga turut menyulut kesedihan orang masa lalu yang ada pada raganya. Rahsa sakit tersebut menguliti kembali kesadaran mereka bersama-sama. Menjadikan rahsa sakit yang dialami  menjadi semakin berlipat ribuan kali. Keadaan inilah yang menyebabkan anaknya Mas Thole tidak mampu bertahan. Saban hari menangis, mengeluhkan sakitnya. Sakit yang menyerang  di ulu hati, begitu nyata. Maka hanya erangan, dan duka nestapa saja yang bisa dilantunkannya. Tentu saja halini menyedihkan bagi kedua orang tuanya.
Mengerang, menangis, tatapannya mulai melayu, kosong tiada ruh disana.  Begitulah keadaan raga terkini anak Mas Thole. Kurus sekali.  Menyebabkan nelangsa di jiwa Mas Thole. Banyak Wide mengerti dan memahami apa yang dirasakan Mas Thole. Mereka bagai satu mata uang. Maka apa yang dirasakan satu sisi akan menjadi rahsa disisi sebaliknya. Ingin sekali Banyak Wide membantu atas apa  kesulitan yang dialami oleh raga terkini. Namun apa daya, dirinyapun juga gagal memaknai rahsa yang satu ini. Karena sebab itulah dirinyapun harus reinkarnasi.  
Dewi Anjani adalah anak dari Raden Angga Wijaya. Masih satu trah dengan leluhur Majapahit.  Hidup pada jaman Empu Sendok. Suaminya seorang raja yang bernama Ganda Prawita, dari sebuah kerajaan kecil yang tidak memiliki catatan sejarah di nusantara ini, yaitu kerajaanan Damar Angkasa. Dia pergi  meninggalkan kerajaannya untuk menaklukan wilayah lainnya. Namun apa mau dikatakan suaminya justru takluk kepada seorang wanita yang Sekar Sari seorang putri yang berasal dari kerajaan Panarukan. Sepeninggal suaminya itu, Dewi Anjani bermuram durja sepanjang hidupnya. Cintanya merasa di khianati oleh kekasihnya. Suaminya bertekuk lutut di bawah ketiak wanita lain. Betapa pedih apa yang dirasakan, duka lara sebab cinta.
Belum habis sampai disitu. Anaknya yang semata wayang, baru berumur lima tahun meninggal karena sakit panas saat dalam perjalanan menyusul suaminya. Putrinya yang bernama Dyah Lara Kusuma satu-satunya yang menjadi harapan hidupnya pun juga meninggalkannya. Luar biasa sakit yang dirasakannya.   Pukulan terakhir itu mampu menumbangkan pertahanan dirinya. Cobaan yang bertubi-tubi membuatnya limbung. Dalam gundah dirinya maka diapun mengasingkan diri bertapa dalam sebuah hutan yang tidak diketahui namanya. Beratus-ratus tahun berlalu tidak diiangtnya lagi. Begitu terbangun dia mendapati dirinya berada di dalam raga seorang manusia baru. Rahsa yang dikenalinya itu telahmembangunkannya dari tidurnya. Karuan saja dia berontak, menangis sebagaimana dahulu kala. Dia merasakan sakit yang sama. Dia merasakan rahsa, sebagaimana dia baru bangun dari tidur kemarin sore saja. Perasaannya tidak ada yang berubah. Hanya lay out disekelilingnya saja yang berubah.
Tembikar menukar
Jejak rahsa terbakar
Dalam gelepar jiwa yang terkapar
Adakah sesal menjadi jangkar
Dalam lautan biduk
dan angin mati
Sesar menampar, selejar hingga tepar
Menjalar gelegar dan hingar
Nafas menjadi belukar
raga dalam selesar
sedetik  mati
satu dan satu
dalam sukar..
Semua hanya menunggu, bersama waktu, bersama keadaan semu, hingga jemu.

Salam

Maret 13, 2015

Kisah Banyak Wide-Apabila Langit Terbelah


Hasil gambar untuk langit terbelah
"Kita hanya menyaksikan ... Walau sakit, tp hanya bisa menyaksikan ��
Sebentar lagi
Gongnya sdh bertalu-talu
Cepatlah menuju koordinat itu
Titik itu akan bergeser pd waktu yg belum tentu kalian masih ada di usiamu
Bergerak cepatlah
Titik itu sdh mulai tampak dalam tumpuan waktu
Genderang kehancuran pertiwi sdh mulai bergaung setiap waktu
Aku siapkan semuanya untuk membantu kalian
Karena ini titik waktu yg sudah tertentu
Besok berangkat dalam urut waktu
Kalian akan mendapatkan semua tanpa ada yang menghalangi perjalanan Kami
Bersiaplah
Titik kordinat itu sudah di ufuk waktu
Satu
Dan menyatu
Itu satu
Dalam kurun waktu
Satu
Dalam waktu


Hanya itu..”
...
Tidak beranjak dari pertapaannya Banyak Wide terus menatap langit hijau yang terhampar. Kerinduannya pada malam-malam sebelumnya. Pada waktu yang sama saja keadaannya. Telah merusak jaringan fikirannya. Langit yang sama namun mengapa rahsa menjadi tak sama. Kini dirinya merasa sendirian. Menyepi tiada langutan. Impian sudah menjadikenyataan. Lantas apa lagi yang harus ditungguinya. “Sebentar lagi awan akan menghitam, langit akan dibalikan.” Begitu desahnya lirih.

Raga terkininya telah pasrah berserah, membiarkan kesadaran Banyak Wide yang menguasai pikirannya. Banyak Wide sangat berterima kasih kepada raga terkininya itu. Pemebelajaran untuk dirinya harus di ulang. “Pesannya Kami, setiap makhluk memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Ada yang menjadi tarik dan menarik seperti larik yang terjabarkan dengan gerak gerik.Ketika sidratul muntaha menarik, maka semua lepas dalam gerak larik. Berjalan di antara tarian jiwa yng dimengerti ataupun tidak. Jangan mengharap semua dalam perjalanan seperti kerikil dengan segala ketajamannya, lihatlah pada yang dirasakan dan perhatikan reaksinya. Yah pergi menjadi titah kami untuk kalian segera pergi ke tujuan yang sudah kami tetapkan. Uangnya besok kami siapkan, dan segeralah kalian berangkat sebelum gerak kordinat berputar dalam rotasi yang sdh ditetapkan.

Kami tetapkan untuk segera berangkat, dalam dua hari kalian akan mendapatkan semua transportasi dan akomodasi, dengan laku tersebut menjadi jalan yang sudah ditetapkan. Segera, dan laksanakan...Ini bukan dalam wacana perbincangan antara realita dalam kasus yang tak bertepi. Tetapi akan menjadi suatu hal yang pasti untuk menjalankan misi tersebut. Pesan sudah selesai. Gitarnya liat dalam garis lurus cakrawala biru
Negeri ini akan porakporanda... ��

Pembelajaran di awal


Pesan tersebut mengisyaratkan sudah saatnya dirinya harus terus berjalan. Pembelajaran akan terus dilakukan. Kami akan mengajarkan bagaimana memahami al qur an. Perhatikan dan amatilah serta resapi dalam keyakinan diri, bagaimana pembelajaran ini;

 “ A'udzubillahiminasysyaithaanirrajiiim. Bismillahirrahmaanirrahiim.  1) apabila langit terbelah.  ěž alif ada hamzah di bawahnya, dibaca "i" sebagai sebuah peringatan sekaligus perintah.  Dza dengan di depannya ada huruf alif sebagai petunjuk. Petunjuk yg mengarah ke arah jarak yg jauh.  Perpaduan huruf2 tersebut membentuk tulisan .... (hrs ditulis arabnya) dgn dibaca idza, yg terjemahan bebas Indonesia adalah apabila. Namun secara simbol huruf mengandung makna akan keyakinan dan menafsirkan ketidak yakinan makhluk atas perintah tersebut. Kata idza (hrs ditulis arabnya), menjadi suatu sistem dari keyakinan dan ketidakyakinan. Perintah sekaligus keraguan pd makhluk atas perintah tersebut.  Kenapa demikian? Karena perintah itu menunjukkan pd sesuatu yg jauh dr panca indra Tetapi dirasa oleh panca indra

Simbol ini akan selalu berdampingan dengan makhluk-makhluk tersebut. Yaitu, jauh dr panca indra tetapi dirasa oleh panca indra manusia. Kenapa ditujukan kepada manusia? Karena Al-Quran ditujukan bagi manusia. Pahami kata idza sebagai suatu keyakinan akan perintah. Dza dipatah sebagai simbol getaran. Sedangkan huruf alif yg bersyakal mati sebagai petunjuk arah akan tegaknya perintah tersebut. Maka, kata idza adalah perintah untuk percaya atau yakin akan kekuasaan Allah yg jauh dr panca indra, tetapi terasa oleh panca indra. Assamaau... Terdiri dari alif, lam sin, mim, alif dan hamzah. Secara arti bahasa Indonesia artinya langit.  Maka ingatlah simbol assamaau (hrs tulis dlm bahasa Arab) dengan penjabaran. Alif mati sebagai penegak yang lurus. Lam mati sebagai lapisan-lapisan yang membentang. Sin fatah dibaca sa sebagai simbol sinar yang terang. Mim sebagai makhluk Allah swt.  Alif mati tegak membentang. Hamzah sebagai penekanan dr bentangan sinar. Syakal yang membentuk bendera, maka itu juga sebagai penekanan sinar yang membentang dalam pandangan manusia.

Alif mati, nun mati, sya, qaf tasydid, dan ta mati. Dibaca ingsyaqqat, yg dlm bahasa indonesia diartikan terbelah. Alif mati sebagai penegak. Nun sebagai wadah. Sya fatah sebagai saksi-saksi.  Qaf fatah sebagai lekukan dalam sebuah wadah yang menunjukkan adanya kehidupan.  Tasydid sebagai penekanan akan wadah2 tersebut. Bukan satu, tetapi dua. Ta mati sebagai titik dari pertemuan.  Ingsyaqqat menjadi simbol keterpaduan dalam sebuah wadah yang tegak, namun ada titik yang menjadi mati dan hidupnya penghuni tempat tersebut. Dalam deskripsi simbol dari tiga kata simbol di atas membentuk suatu simbol bahwa adanya perintah Allah bagi penghuni langit atau sinar yang memudar dan menjadi titik-titik atau terbelah dalam pandangan manusia.

Memahami ayat pertama ini harus dengan keyakinan. Bahwa Allah yang memberi perintah atas langit. Begitu pula manusia harus sadar akan keterbatasan dirinya. Baik dalam ilmu atau raganya sendiri. Pemahaman yg biasa bg yg menganggapnya biasa. Tetapi menjadi titik poin dalam pembelajaran untuk mengenal perintah, keyakinan, dan keterbatasan makhluk. Segala sesuatu atas perintah Allah. Simbol2 di atas tidak mesti kau jabarkan, krn dalam pemaknaannya akan dibantah. Kami mengabarkan bahwa setiap kata dlm al Quran adalah simbol. Termasuk huruf. Namun dalam penjabarannya harus paham dr setiap huruf dan titiknya. Kembali pd terjemahan apabila langit terbelah.... Itu seperti "jika", padahal itu pasti. Langit terbelah. Secara ilmu pengetahuan bisa dibawa pada teori-teori fisikia. Adanya benturan benda-benda langit sehingga berguncang penghuni bumi. Namun secara kejiwaan, pada dasarnya pandangan atau pikiran yang melihat atau memandang sesuatu keyakinan yg jauh dr indera tetapi dirasakan oleh indera yg cahayanya pedar. Sering menjadi ragu. Maka itulah yang dimaknai dlm terbelah.

Allah menciptakan para makhluknya. Berinteraksi satu dgn lainnya menjadi belahan dalam proses kehidupan. Demikian pemaknaan ayat pertama. Dan berkaitan dgn ayat kedua.  Apakah masih siap menerimanya?

Dan langit patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit patuh.  Dalam setiap gerak makhluk atas ijin atau kehendak Allah. Dan mereka bergerak sesuai dengan ketetapan yang telah Allah tetapkan.  Langit sebagai salah satu makhluk yang memiliki rotasi yg sesuai dengan porosnya. Ketika titik pion rotasi bergeser bukan pd poinnya, maka benturan akan terjadi.  Namun, semua yg terjadi atas kehendak Allah.

3) dan apabila bumi diratakan; Kembali pada bentuk perintah ketika bumi diratakan. Rata tanpa ada tiang penyangga, yaitu gunung2...Tentu dalam sekilas pandang bahwa bumi itu rata. Sekali-kali tidak, bumi memiliki pancang-pancang penyangga yang mengelilingi bumi.  Yaitu gunung-gunung yg betebaran dengan susunannya yang telah Allah tetapkan.  4) dan dilemparkan apa yg ada di dalamnya dan menjadi kosong. Isi bumi dimuntahkan keluar semuanya. Tahukah kamu amteri apa yg berada di dalam isi bumi?  Api, gas, batu, air, dan tanah berhamburan keluar untuk mengosongkan setiap lapisannya.  5) dan patuh kepada Tuhannya dan sudah semestinya bumi itu patuh. Pergerakan bumi atas ijin Allah swt. Benturan-benturan yang terjadi atas kehendak Allah swt. : 6) Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dgn sungguh2 menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Berkenaan dengan kehidupan manusia yang menjalankan proses hidupnya.  Takdir yang telah ditentukan

Tetapi manusia harus tetap dlm usaha dan niat kesungguhannya.  Keraguan seringkali menjadi penghalang bagi manusia itu sendiri dalam menemui Tuhannya.  Langit dan bumi disebutkan di awal menggambarkan bahwa mereka adalah makhluk-makhluk Allah.  Setiap geraknya atas ijin dan kehendak Allah. Ketika terjadi benturan gerak atau pergeseran titik poin, maka mereka patuh atas perintah Allah. Benturan gerakan tentunya akan memberi efek juga kepada makhluk2 tersebut. Namun, kepatuhan dan keyakinan atas semua yg terjadi atas kehendak Allah, maka mereka patuh. Begitu pula dgn manusia. Bila dihadapkan pd benturan2 atau interaksi, tetap dlm kepatuhan dan keyakinan kpd Allah dlm proses perjalanan hidupnya, maka manusia itu dapat menemui Allah.  Dalam perputaran lintas dimensi makhluk, pemahaman ini bisa dlm terapan-terapan kepatuhan mengikuti sistem dan kehendak Allah. Meski diturunkan ke bumi, atau berada dlm raga tak berarti, maka makhluk tersebut akan mengikuti petunjuk Allah. Jejak-jejak manusia dlm perputarannya kadang dlm lintasan yg dekat, kadang jauh dr titik poros. Tetapi bila terus mengikuti rotasi, maka akan bertemu dengan ilahi rabbi.

Ayat 7 menjelaskan catatan kitab yg menampilkan saksi-saksi atas setiap kitabnya.  Kesaksian yang memudahkannya utk kembali dan bersama Kami dlm anugerah ilahi, itu ayat 8. Dan ayat 9. Adapun ayat 10 tentang kitab dr belakang, maksudnya banyak saksi yg berpaling dan enggan menjadi saksi atas perbuatannya. Kitab di sini adalah alam semesta yg menjadi saksi atas perbuatannya...Kitab ini sangat enggan dan berpaling dr manusia yang durhaka.  Sehingga memilih utk membelakanginya.  Menghindar dr orang tersebut.  Kitab setiap diri manusia? Krn pada dasarnya alam semesta berada dlm kesadaran ilahi rabbi. Penjelasan tentang ini bisa dibuka dlm QS Al Hijr. Penjelasan tentang manusia dan kitabnya.  Ingin dilanjutkan Surah Al Insyiqaq atau beralih ke surah Hijr?

Belajar kitab dan manusia, lihat surah Al Hijr. Ayat 11... Dengan keengganan para saksi utk hadir menjadi tanda bahwa dia dlm keadaan celaka.  Manusia paham akan hal tersebut.  Namun kadang, paham bukan berarti sadar. Inilah yg menjadi masalah. Banyak yg paham akan sesuatu makna atau peristiwa, tetapi sayang dia tidak menyadarinya.  Tidak tergerak hatinya. Tidak dalam kesadaran utk dapat melaksanakan atau menjauhinya. Begitu pula dengan tanda tersebut...manusia paham, dan baru sadar bahwa dia dlm keadaan celaka. Sayang hal tersebut akan terasa sia-sia bila itu terjadi pd saat perhitungan amal.

 Lanjut ayat 12
Dalam keadaan tersebut, maka manusia menjadi kacau. Seumpama api yang menyala dia masuk ke dalamnya.
Pada dasarnya, kegundahanlah yg membuat hatinya bak api yang panas, dan itu akan menghanguskannya sendiri.

Ayat 13, pada masa dalam perjalanan hidupnya, dia mengikuti hawa nafsunya. Segala emosi yang ada ia ikuti, padahal hal tersebut adalah fana.
Masrura yg sering diartikan bergembira, Kami maknai sebagai mengikuti hawa nafsu atau kemudahan dalam menjalankan nafsu dan emosi.
Di dalam keluarga atau lingkungannya, orang tersebut cenderung mengikuti hawa nafsu atau emosinya sendiri.
Sifat-sifat itulah yang menguasai raganya.

Ayat 14, Orang tersebut dalam arus hidup mengikuti emosinya, tanpa sadar bahwa hidupnya adalah perjalanan.
Perjalanan dalam menjalankan takdir Allah swt.

Berlanjut ayat 15, karena dikuasai oleh nafsunya, maka ia tidak sadar sedang menjalankan takdirnya sebagai hamba dan khalifah
Dan Allah melihat atau menyaksikan apa yang diperbuatnya

Ayat 16, Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja...
Aku di sini bukan khaliq. Tetapi aku saksi dan yang menyaksikan.
Kenapa cahaya merah senja atau lembayung dijadikan sumpah? Karena di sana ada proses peralihan atau perpuataran matahari.
Siang dan gelap
Batas waktu itu terkhibar dalam cahaya merah
Pantulan cahaya merah yg diterima oleh panca indera
Maka, Kami menyebut aku di sini sebagai saksi dan penyaksi, bukan khalik
Masa peralihan ini sering menjadi proses yang dinikmati atau diingkari
Tergantung dr panca indera yang menerima hal tersebut.

Ayat 17, Malam yang menyelebungi berada dlm rasa manusia
Adanya malam sebagai bukti keterbatasan manusia
Perputaran matahari sehingga bagian yg tidak disinari menjadi gelap, bak selubung yg menyelimuti
Dalam kegelapan itu, satelit bumi hadir dlm pendar cahaya dr pantulan sang bintang
Bulan pun sama berputar dlm rotasinya.
Sehingga dapat membentuk binar cahaya terang yg dinamakan bulan purnama

Ayat 20, Dari pelajaran cahaya...
Merah, kemudian gelap, dan terang dlm redup cahaya bulan...
Ada proses dan tingkatan alam
Begitu pula dengan manusia
Sinar itulah yang terang bersinar
Kemudian keterbatasa panca indera, melihatnya dalam tahapan-tahapan cahaya
Lapisan-lapisan yg dilewati, menjadi tahapan-tahapan kehidupan
Namun semua berada dalam satu sistem
Langit, bumi, dan manusia berada dlm sistem alam semesta.
Ayat 20, Menunjukkan penekanan
Bahwa orang yang paham dan mengetahui semua hal dengan ilmu pengetahuannya, mengapa masih belum sadar untuk beriman?
Padahal Allah sdh menjelaskan semuanya
Baik tertulis maupun tidak
Bahkan, banyak manusia yg paham tetapi tidak sadar

Ayat 21, Apabila mereka dibacakan akan kesadaran, mereka mengingkarinya...
Mereka tidak mematuhinya
Padahal mereka mengetahui bahwa mereka harus patuh

Ayat 22, Mereka lebih memilih berdusta atas pengetahuan dan pemahaman yg mereka ketahui
Dan hanya kembang dalam hidup mereka tanpa sadar
Padahal dlm ayat berikutnya disebutkan, Allah Maha Mengetahui atas hati dan niat mereka.
Sekali-kali tidak. Hati itu hanya Allah dan pemilik hati yg mengetahuinya.

Ayat 24, Keadaan mereka yg demikian, dapat menjadi bumerang dalam setiap apa yg dilakukan.
Siksa yg pedih dianggap bualan
Padahal mereka sudah merasakannya sendiri
Buaian-buaian nafsu mereka menjadi kabar gembira bagi mereka, tetapi sebetulnya itu adalah siksaan bagi mereka.

Ayat 25, Tetapi bagi orang yg beramal saleh dan beriman, kebahagian mereka tidak akan terputus.
Mereka yakin akan kasih sayang Allah, maka Allah pun menyayangi mereka.
Pahala di sini bukan seperti transaksi jual beli.
Tetapi pahala yg tidak putus-putus adalah keikhlasan dalam setiap ketetapan yg Allah berikan.
Shadaqallahul'adzhim”

Nafas menjadi belukar
raga selesar telah mati
dalam sukar..
Perhatikanlah dan 5 menit ini misteri…


Salam