April 24, 2016

Jejak Pasir Waru


Hasil gambar untuk dewa yunani

“Letakkan jarimu pada setiap garis melingkar di sudut-sudut batuan yang berjeruji, di sana ada bongkahan energi, yang Kami simpan pada pedar batu tak berisi.”

Sesungguhnya batu itu bukan seperti batuan yang selama ini kalian lihat dengan mata sendiri, tetapi batuan yang berbentuk energi di tepi bagian selatan negeri. Di sana akan menemukannya sebagai hal yang berbeda, tetapi sama. Seumpama masih menjadi hal-hal yang ada tanpa melihat semuanya, itu bukan berada pada sisi khatulistiwa, tetapi berada pada sisi durjana yang akan membawa malapetaka bagi yang tak berkeyakinan kepada Yang Maha Kuasa.

Kenapa semua terjadi?

Dan akan dianggap sebagai berita besar dari semua rangkaian peristiwa di bumi. Bukan, itu bukanlah bagian dari an naba, karena itu suatu siklus badian dari bismi (ba sin dan mi) sehingga membentuk suatu tahapan yang mengedarkan Kami pada titik bismi dengan setiap perjalanannya seiring dengan kapilawastu, yang ada di negeri ini

Suatu saat nanti, ada yang menanyakan tentang bumi, katakanlah, semua sudah ada dlm Al Qur'an. Bila ingin mengetahui hikmah, maka buka pada setiap waktu dengan satu paduan yang menuju hakikat kehidupan.

 ...

Pasir Waru. Kemarahan Mas Thole mengendap beberapa hari, dan meledak kemarin ini. Rasa sakit di kepala seperti dimasuki uap panas menurupi seluruh urat syaraf dan juga kesadarannya. Marah yang terbawa terus diranah realitas. Menjadikan dirinya limbung. Di batas waktu yang tak tentu, kemanakah dia harsu melepas ini, memadamkan api yang tak terasa telah menjerumuskannya ke jurang kelam kesadaran. “Semua ada batas waktu...semua ada batas waktu..” Dia melenguh sambil terus memegang kepalanya. Lihat saja keadaannya meringkuk bagai udang yang terkena minyak penggorengan. Dibekap rasa sakit itu dia terbaring sepanjang hari. Keberadaannya di pasir Waru, dan Pasir Akid, untuk mengungkap misteri, hilangnya mahkota Pajajaran.

Sang surya bersinar pada saat melekat dengan energi bumi, cahayanya menjadi penerang pada kedua belah pihak dengan sumbu yang bervariasi. Pelajaran dan pengajaran diterimanya dengan gugup. Dia bukanlah siapa-siapa, hanya anak manusia biasa yang sering kali khilaf dan alpa kemudian melakukan dosa. Apakah dosa yang dibuatnya akan diampuniNya? Hingga putus asa dirinya mempertanyakan mengapa, kesalahan selalu saja mengikuti dalam setiap langkahnya sebagai manusia. Tergagap dirinya menuliskannya disini dalam sebuah harap, dia mengerti apa-apa yang dituliskannya sendiri.

Rangkaian sebuah pengajaran dari Kami yag terus saja mengikuti dalam setiap perjalananya mengarungi dan membuka misteri demi misteri di bumi pertiwi ini. Alam terus saja dengan tariannya yang menyayat hati. Mas Thole  terus saja dalam diamnya sendiri. Mencoba memaknai satu demi satu perjalanannya kini. Perjalanan yang menempuh jalur pantai selatan menuju utara, dimulai dari Cadas Pangeran, Kawali, meluncur terus ke kabuyutan yang dikisahkan sebagai dengan  legenda Lutung Kasarung, disana Mas Thole bertemu dengan sepasang lutung yang menjadi penanda.

Perjalanannya masih diteruskan ke Karang Paningal, tidak sampai disitu saja. Hari berikutnya dia menyambangi Tegal Boelet, tempat dimana Sang Prabu Silihwangi memerintahkan rakyatnya untuk memecahkan diri. Kisah demi kisah ditelusurinya. Perjalanan 4 hari dan tiga malam dilalui dengan gegap hati yang terus membayangi. Pengalaman spiritual yang terus saja dialami, pertemuan dengan tokoh-tokoh yang menjadi legenda tanah Pasundan. Sebuah pengalaman yang sulit dicarikan logikanya. Salah satu rekannya saat menyambangi Kawali, mendadak tangannya harum sekali. Harum yang terus saja mengikuti. Berkali kali tangannya diciumi, nyaris tidak percaya sendiri, jika ini terjadi. Menjadi keanehan bagi diirnya sendiri, yang baru saja ikut dalam perjalanan spiritual. Apakah itu sebuah ilusi. Rasanya tidak bagi yag mengalaminya sendiri.

Berita dan kisah perjalan ini akan terus diberitakan, meskipun orang malas mendengar, meskipun orang sudah menafikan keberadaannya dan enggan membacanya. Ini adalah berita besar. Inilah sebuah pengajaran. Berita yang terus ditanyakan oleh umat manusia. Berita besar (An-Naba'):6 – “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?,” Mim, ha, dan dal, pada akhir ayat, dengan terjemahan hamparan, adalah sebuah perpaduan antara, mim, sebagai makhluk2 ciptaan Tuhan, berada pada ha dan dal, semuanya telah mendapatkan sistem atau petunjuk dalam menjalankan kehidupannya.

Ha dan dal, gabungan antara  keinginan dan alasan, seperti udara dan proses terjadinya. Ha dan dal, satu paket bentukan dengan arti petunjuk. Maka, ketika ada mim, menunjukkan bahwa semua makhluk pada dasarnya sudah diberi ketentuan dan syarat perjalanannya. Jika memandang sesuatu sebagai bagian yang tak tertera, maka itu bukan balasan atas hal-hal yang terjadi dengan kesungguhan

Memperjalankan di waktu malam (Al-'Isrā'):7 – “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”

Sesungguhnya, bumi berada pada bagian buana, yang menjadikan manusia berada di ar dhi (alif, ra mati, dhad, dan iya)

Pencipta (Fāţir):1 – “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kabut (Ad-Dukhān):7 – “Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.”

Suatu hal yang menjadi lupa akan diri, adalah ketika sang penyaksi dan bersaksi hadir dalam bentuk jatidiri, mereka seperti penyaksi, padahal itu bagian dari diri. Apa yang menjadi keadaan jiwa seseorang menjadi ada, tanpa binasa pun, mereka yang bertanya dengan hati nurani, akan mengetahui sejatinya diri, seutuhnya jiwa, dan hakikatnya ruh Yang Maha Kuasa

Benarkah semua berada pada rintisan yang menjadi hal berbeda dengan semua keadaan,
Keluarga Luqman:7 – “Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.”

Amati dan perhatikanlah rangkaian ayat: 5 4 6 9 8 3 1

Sajdah (As-Sajdah):4 – “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Semua berada pada pijakan yang sudah ditetapkan. Jangan pernah mengupas kulit dengan sebuah cemeti, tapi lihat dan bukalah dengan hati. Bila semua yang terjadi itu karena sesuatu yang membuat semua berada pada satu keadaan yang menyangkut harga diri, maka semua akan lenyap dalam sekejap. Ketika ada yang bertanya tentang urat nadi, maka lihatlah titik yang ada di sebelah kiri, di sana denyitnya akan terasa.

Bukan hal yang mudah menjadi pribadi yang diridhai, tetapi bukan hal yanh sulit menjadi pribadi yang mengingkari.

Setidaknya berada pada garis yang menuju sebuah perjalanan, maka harus membuka dengan titah ilahi rabbi.

Ada kala hanya untuk memuaskan diri, bukan untuk mencapai suatu pijakan di sisi bumi.
Seutas tali yang ada, akan membinasakan pada setiap nyawa, maka setiap raga yang berada pada ketenggelaman rasa, raihlah dengan cinta.

"Temui dia, maka katakan dengan cinta, bahwa masa itu ada."

Masa/Waktu (Al-`Aşr):1 – “Demi masa.”
Masa/Waktu (Al-`Aşr):2 – “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,”
Masa/Waktu (Al-`Aşr):3 – “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Tahukah bahwa yang datang adalah “Astrajingga Jayapurba Caraka Data,” dari Paduan Prakarsa Wangsa Kerta?

Seumpama hal yang menjadi pelita padam seketika, maka lihatlah sekitar dengan seksama, karena padamnya pelita bukan berarti berakhirnya segala.

Kelakuan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, bukan menuju pada titik sidratul muntaha. Jaraknya akan semakin membesar, ibarat bumi dengan langit kahyangan.
Tindakan yang sembarangan, akan menistakan kekuatan yang mengedepankan pada kekuasaan

Sudah sepantasnya berada pada kikis yang menuju bagian tak terperi pada setiap keadaan.
Jamgan pernah menjadi pengingkaran, pada keadaan yang akan membawamu pada suatu kenistaan

Letaknya berada pada hati, maka detaknya pada niat akan terpatri menjadi suatu hal yang terjadi dan terbukti

Sungguh, betapa dekat rasa niscaya pada keadaan yang berbeda. Bukan tentang dunia, tetapi tentang keadaan yang berfatamorgana.

Jurangnya sudah dekat, dan akan menjadi masuk ke sana kalau tidak waspada.

Sekali lagi, letaknya dalam hati. Bila pengingkaran terjadi, bukan keadaan yang terjadi, tetapi suatu patri akan tertutup dengan satu ketupan hati.

Selain menjadi bagian yang memang mendera, itu akan membahayakan semua yang ada di sekitar, seperti sebuah keadaan yang menjadi penyulut pada suatu keutuhan.

Jangan pernah bertindak dengan emosi.

Letakkan semua dengan hati.

Ingat, janji Tuhan itu pasti!

Siapa yang mengingkari, maka keadaannya akan menerima seperti yang dikehendaki.
Jangan merasa jumawa atau merasa tau diri, padahal semua berada pada kerikil duri yang akan menjadi bagian perjalanan ini. Sungguh kejam keadaan yang menyatakan aku ada padahal tiada, itu bukan hanya dalam keadaan tanpa kira, tetapi mengusung kejumawaan rasa.

Jangan pernah mengira semua ada, tetapi berada pada satu keadaan yang berbeda. Maka, lihat dengan seksama, dimana letak singgasana dan arca manusia.

Di sana ada satu bentuk yang menyerupai sebuah stupa, maka perhatikan itu sebagai wadah dari keadaan suatu peristiwa.

Jangan mengira semua akan mudah dan mendekat dengan hanya berkata, semua ada dengan pernyataan pada setiap keadaan yang melakukan hal berbeda. Itu bukan bagian dari alam semesta, ataupun manusia yg menjadi khalifah di muka bumi. Letakkan hati pada satu posisi, posisi yang tak terganti dengan kenestapaan atau keegoisan diru, satu hati yang hanya memegang janji ilahi. Ingatlah perjanjian itu, setiap Kami menjadi saksi, dan penyaksi dari setiap janji yang terikrar sebelum semua terjadi.

Asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah.

Jangan pernah ingkar janji. Itu bukti dari seorang yang berjanji.

Bukan sanksi yang didapat sebagai pengingkaran, tetapi itu sebuah energi yang membalikkan dari sebuah janji. Setiap janji ada energi, maka jangan coba2 ingkar janji, karena energi akan berbalik pada diri.

Suatu bakti tak perlu untuk mendominasi, lihatlah dengan seksama pada diri. Rangkaiannya telah tersusun dalam alif lam mim.

Lihat dan amati, maka mim akan mewujudkan menjadi iya, yakin.

Yang tak tertinggal dalam hal2 yg memang bukan untuk dipermasalahkan letakkan pada pindasi yang telah ditetapkan.

Yā-Sīn:8 – “Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.”

Yā-Sīn:9 – “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”

Yā-Sīn:10 – “Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.”

Yā-Sīn:11 – “Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.”

Bersungguh2lah dalam menerima pesan dan menjalankannya.

Bukan hanya menerima, tetapi melaksanakan dengan sepenuh hati.

Takdir yang akan mengikuti, bila kesungguhan sudah di dalam hati.

Jangan pernah lelah mendengar nasehat, dan senantiasa memohon hidayah dalam setiap gerak dan langkah perjalanan.

Ketika Kami menyadari, tugas tak akan ditepati, maka Kami ganti dengan hal yang sudah menjadi perjalanan Kami.

Bukan hanya soal perjalanan dan kehidupan, ada hal-hal yang mencerminkan akan suatu keadaan.

Lihatlah, peristiwa yang terjadi bukan karena Kami, tetapi ulah sendiri.

Bukan Kami tidak ingin disalahkan, tetapi kepekaan dalam setiap keadaan, menjadi dasar dari insan

Sesuatu yang terjadi, maka terjadilah, ada ataupun tanpa kami.

Karena semua atas kehendak ilahi rabbi.

Sekali lagi, jangan menyia-nyiakan diri menjadi merasa tinggi, karena rendah dan tinggi bukan kadar untuk mengukur hati.

Selalu saja ada hal-hal yang tak terperi, menjadi bagian atau bukan, itu sama sekali bukan urusan Kami.

Kami hanya menjalankan pesan sesuai dengan kehendak ilahi rabbi.

Semua berada pada nisti pangastuti neda rabi ingsun medal sari jati

...
Aku dalam makar
Menangis
Merebah tembikar
Kusut sebab berjajar
Dada terbakar
Saat gelisah
Penatku adalah waktu
Dan dukaku adalah sembilu
..
Yang memahami
Saat hati ini  terenjam
Menghujat melekatnya rahsa
Dalam kepahitan
Kesempitan dan kesedihan
Tak berpihak
..
Masih aku tak mengerti
Datangkanlah kesedihan
dan senang..
wahai pualam

...
“Letakkan jarimu pada setiap garis melingkar di sudut-sudut batuan yang berjeruji, di sana ada bongkahan energi, yang Kami simpan pada pedar batu tak berisi.”

“Sudah, sudah kulakukan itu,” Ucap Mas Thole membisiki, sambil terus melipat perutnya ke dada. Menahan gemuruh di kepala yang nyaris meledakannya.


Bersambung

April 11, 2016

Jejak Karang Paningal


Hasil gambar untuk karangpaningal

Pengantar: Memasuki episode berikutnya, perjalanan mencari jejak-jejak energy Pajajaran akan disungguhkan disini. Perjalanan Mas Thole dan kawan-kawan terus akan dituliskan dalam sebuah harapan dan doa. Semoga ada yang terpanggil untuk membuktikan kisah-kisah yang disajikan ini. Melakoni dan menetapi langkah para sesepuh dan pinisepuh tanah bumi jawa. Jayalah nusantara jaya.

....


Karang Paningal...
Menunggu waktu dan bumi yang menyarukan
Menunggu kilas dan bias yang tak terelakan
Menunggu batas dan cemas yang tak terhindarkan
Menunggu kalut dan maut yang menggiringkan
Menunggu anugrah dan musibah yang tersamarkan
Menunggu kala dan mala yang tak terbantahkan
Menunggu matahari dan bulan yang membenamkan
Menunggu diam, menunggu malam, menunggu kelam
Menunggu perguliran kapan kekuasaan dihibahkan?
masihkan malam sanggup menunggu pagi
(Atau diam dalam sepi)
Dari tangan-tangan serakah dan tak terpuaskan
Dari hati-hati yang hangus
 terbakarkan
Alibi, ilusi, harap
Dan...dalam
“Penantian panjang dalam guratan pemikiran. Adakah esok akan berulang dalam jeda waktu yang tak sama. Tak terbilangkan. Tak terindahkan. Tak terhindarkan. Semua dalam jejak dan kesibukan. Semua dalam pengabaian dan penistaan. Tuhan mana yang harus disembah? Arrrgh....!

Duhai puspita, duhai fatamorgana yang hilang dalam sekapan masa. Adakah kilasan rahsa sedikit saja untuk kupuja. Bukankah indahnya malam terasa jika ada bintang? Bukankah sejuknya air dingin sangat terasa ketika siang menyengat raga.

Jelaga hitam, jelaga pemikiran adakah yang ingin dikatakan disini? Katakanlah! Agar kubuat sulaman kain indah dari rangkai kejadian. Biar kutambahkan warna dari pekatnya kehidupan. Biar kusapukan sedihnya dalam pengharapan.”
...
Mas Thole menghiba, didekapnya dada, rahsa sakit menggumpal dari perut terus ke dada. Sepanjang pagi kepala terasa ada yang mengganjal dari dalam. Tidak enak sekali rahsanya. Semenjak dia datang ke suatu daerah yang sering dikunjungi oleh Sang Prabu Siihwangi untuk bersemedi. Pikirannya sering tidak karuan. Daerah yang nyaris luput dari liputan media. Kampung Adat Kota, desa Karang Paningal, namnya. Sebuah desa yang terus berusaha mempertahankan warisan nenek moyangnya. Butuh waktu berjam-jam lamanya dari Jakarta untuk menunju kesana. Bersama 2 orang temannya Mas Thole kesana.

Karang Paningal, adalah sebuah tempat yang disinyalir memiliki energy luar biasa. Di tempat ini reka jejak peradaban bisa terbaca. Jejak-jejak energy masih ketara sekali. Seperti jalannya kisah yang diputar ulang dari sekeping CD. Mas Thole diam sesaat disana. Bermeditasi mencari khabar alam. Apakah yang akan terjadi sebenarnya. Mengapa para scientis dan juga para spiritualis melihat keadaan yang tidak biasa yang akan terjadi di nuisantara ini. Sesar pasundan, sesar jakarta, dan sesar-sesar lainnya sudha mulai aktif. Apakah pemicunya? Iklim yang sudah tak karuan, udara yang seakin aneh terasa. Bahkan di jawa timur sana telah datang ‘panggebluk’. Beberapa warga Desa hampir tap hari ada saja yang mati. Ada apakh ini?

Saat diam dalam meditasi, hampir saja kesadaran Mas Thole terbang kemana. Diperlihatkan kepadanya, mayat-mayat yang bergelimpangan dengan bermandikan darah. Nusantara akan banjir darah. Bajir darah...? Hampir saja Mas Thole pingsan melihat penampakan di depan matanya ini. Sangat nyata sekali. Karang Paningal telah memberikan penglihatan kepada Mas Thole apa yang akan terjadi nanti, jika tidak dilakukan sesuatu atas negri ini. Keharuan menyergah, kesedihan menumpah, kesakitan menengadah, takdir telah terikat kuat dileher Mas Thole. Bagai kuda setan diriny limbng menabrak kesana kemari. Bagaimana dengan anak keturunannya nanti, bagaimana dengan jiwa-jiwa yang tidak menegrti. Mereka yang tidak bersalah akan menjadi korban. Duh..Tuhan. Bukankah Engkau Maha Pengampun?

Hari demi hari terus berlalu dnegan kekhawatiran yang semakin tak pasti. Ketakutan ahzab akan datang ke negri yang dicintainya ini. Maka setiap hari dalam gundahnya sendiri. Benarkah akan terjadi? Hh..dalam diamnya. Mas Thole mampu merasakan kekhawatiran sebagaimana kekhawatiran para nabi yang melihat awan bergerak dan berderak diangkasa. Ketakutan apakah itu hujan ataukah itu ahzab yang akan ditimpakan atas bangsa ini. Penglihatannya ini sangat nyata sekali, sebagaimana para nabi melihat ahzab didepan kepala mereka. Ahzab yang terus saja menghantui. Bagaimanakah jika bangsa ini tidak diberikan kesempatan lagi?

Pada saat pemahaman ini disampaikan bagaimanakah respon manusia? Entahlah itu. Mas Thole tidak memiliki kepentingan apa-apa atas hal ini. Dirinya hanyalah memberikan khabar sebagaimana apa-apa yang diihatnya. Khabar yang bisa saja dimaknai. Suka-suka. Khabar yang sellau saja akan menimbulkan konraversi. Khabar yang hanya mengulang pesan sebagaimana pesan-pesan yang telah disampaikan para nabi. Pesan atas sebuah berita besar. Berita yang akan melandasi pemikiran manusia. Pemahaman yang muatan dan essensinya sama saja. Pemahaman yang akan dituangkan disini dalam sebuah kisah. Kisah anak manusia yang terus mencari jalan-jalan Tuhannya. Inilah rangkai pembicaraan. Pembelajaran yang tidak akan pernah usai. Memaknai dan memahami hakekat Ba Sin Mim Allah. (Bismi Allah). Agar diri menjadi tenang dalam seluruh rangkai reka kejadian yang akan dan sedang terjadi di kehidupan ini. Mmebaca lambang, membaca kemungkinan dan kepastian yang akan terjadi. Inilah pembelajaran yang disajikan kali ini.
....
Jadi pesannya, bisa dilihat dari berbagai sudut, maka perhatikan alif dan ain. Semua menjadi bagian dari suatu peristiwa yang menunjukkan bahwa bagian semesta titiknya dengan sin. Ain, sebagai pengetahuan, mim, sebagai makhluk...Ain dan mim, satu kesatuan utuh dalam pengetahuan semua makhluk-makhluk Allah Semua terangkai dalam satu sistem. Untuk mengetahui ain dan mim (an naba), maka harus kenal dan tau bismi, rangkauan dari ba, sin, dan min. Hal tersebut yang menjadi sebuah hadapan akan ain dan mim, sedangkan ain dan mim sudah hampir mendekati pada rangkaian sin, ya, ain, lam, wau mati, dan nun (sa ya 'lamuuun). Sesungguhnya, untuk memahami itu bukan dengan beradu pikir, tp melihat secara utuh. Proses perjalanan utk memahami semua rangkaiannya memerlukan ain, sha dan ra.

Maka pemaknaan shad, ini berada pada tahapan berikutnya. Suatu istilah yang mudah, tetapi bila dalam prosesnya akan menghadapi beberapa tahapan. Secara utuh, akan mudah dipahami, tetapi memerlukan 'ashri yang cepat. Itu mudah, hanya saja rangkaiannya akan menyisir pada setiap sudut pandang yg berbeda. Satu tahapan dengan melihat fenomena yang berbeda, maka sebuah kesiapan harus ada pada pemahamannya. Shad, letakkan pada ayat 15, 26, dan 17.

Baca, maka akan membentuk rangkaian khatulistiwa. Kha, dengen sebuah pemaknaan, ada khouf.. Semua dengan satu digit, maka akan membentuk suatu sistem lainnya. Menuju hal yang sudah ada, maka sesungguhnya sekarang akan menuju pada na ba (nun dan ba). Untuk mengetahui nun dan ba serta alif dan hamzah, maka harus tahu ya, ta, sin, lam, wau mati dan nun. Iya, sistem nun inilah yang menjadi tujuan pemahaman, yg dimulai dari bismi. Semua rangkaian tersebut, dapat mudah dipelajari, tetapi dengan ikhlas, maka rangkaian nun, akan dihantarkan dengan sendirinya. Sejumlah hal tersebut, berada pada titik ain, untuk mengetahu sin, tidak lepas dari ba dan mim.

Maka ain dan mim, itu adalah suatu kecakupan dari bismi. Sejauh ini, untuk mencapai ba menuju nun, sangatlah mudah bila melihat dr simbolnya, hanya saja, yang menjadi pertahanan pada setiap unsurnya akan membentuk, titik. Titik di atas menjadi nun, dan titik di bawah dinamakan ba. Untuk menuju nun, mulai dari Ba, dengan mengikuti rangkaian sin dan mim, yang menjadi ain dan mim. Sehingga membentuk sin, ya, ain, lam, mim, waw dan nun.

Rangkaian tersebut bisa tanpa shad, tetapi akan menjadi suatu hal yang membentuk satu perpisahan rangkaian. Shad, sebagai pengikat, karena dari sana ada ain, shad dan ra. Pemahaman shad, bisa dilihat pada ayat 15, 26 dan 17, maka menuju pada khatulistiwa. Sebuah pembentukan dari kha, khauf. Sungguh, semuanya menuju satu titik, hanya saja dalam deret proses yang utuh. Bila ingin langsung pada titik, itu berada pada manunggaalaning langit. : Ba... Di sana bukan hanya membahas bumi, tetapi tentang buana2...

Yang terangkai dalam sin, sistem, yang membentuk pola pada hal tersebut. Ketika semua berada pd satu titik, rangkaian tersebut melebur pd titik tersebut. Itulah dalam proses menuju man arafa nafsahu pa 'arafa rabbahu.

“Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang. “ (QS;Şād:15)
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS Şād:26 )

“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” (QS Şād:17 )

Semua menjadi bagian dr hal-hal yang berbeda, tetapi ada satu dengan keadaan yang sudah ada. Seperti menggali yang memang sdh tertera pada keadaan yang nyata sudah ada. Demikianlah, pembelajaran tentang titik.... Dan sudahkan kalian mengenalnya? Semua ada pada diri kalian sendiri. Titik tetap titik, cangkangnya saja yg berbeda. Bisa dibolak balik, dg penamaan tempatnya saja. Semua ada di satu titik. Baik nun atau ba, maka lihatlah titik tersebuat. Suatu saat, akan ada yang menanyakan akan titik tersebut, tapi banyak yg memilih utk membolak balik saja, tanpa melihat rangkaian sistem di atas. Sesungguhnya, keadaan yang membuat semua hal yang terjadi berdasarkan pada titik, bukan huruf.

Tetapi rangkaian itu seringkali terabaikan, karena banyak yg mengaku berada di titik, tanpa melihat rangkaian huruf. Benarkah itu titik? Sebuah hal yang menjadi bagian dari sebuah oeristiwa yang tanpa melihat rangkaiannya dengan jelas. Semua ada pada satu bilangan kapilawastu, yang menjadi dasar pada setiap sistem yang ada.

Kapilawastu yang letaknya tidak jauh dari batu itu, batu yang seksrang membatu tanoa satu yang berpadu untuk menyatu. Batu yang menjadi rangkaian tanda dari keberadaan masa lalu, suatu keterikatan antara shad dan mim. Semua merangkai dengan satu keadaan yang tanpa memerhatikannya dengan perbedaan yang menjadi hal-hal yang berkaiatan dnegan alam smesta. Kapilawastu dengan ciri batu, itu ada di sebuah peletakkan yang terlihat tetapi tidak ada. Sesungguhnya untuk menemukannya sangat mudah, kecuali orang-orang yang merasa bersalah, berada pada kehinaan, berada pada keraguan, berada pada ketidaktahuan, berada oada kebodohan, berada pada kesombongan, berada pada keangkuhan, berada pada merasa paling benar, berada pada mengukuti keinginan, berada pada pengagungan diri.

Semua itu hanya akan menemukan bayangan batu dan kapliwastu. Bukan sesungguhnya akan hal itu. Perbedaan bayangan dan keutuhan, bisa dilihat pada satu serapan dengan mengatasnamakan Tuhan. Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Kami hantarkan titik menemukan kapilawastu dengan satu kekuatan fokus energi dari alam semesta menuju sanubari pada titik siklus sang buana mayapada. Di sana ada beberapa hal yang menjadi bagian dan perbedaan, seperti getaran dengan dua wujud yang menyatu dan berpedar. Bukan itu, lihat dengan genap keimanan... Ya... Sin...Iya, sebagai simbol keyakinan dan sin sebagai rangkaian sistem alam semesta dan makhluk. Ada pun ba, adalah rangkaiannya sistem. Dan sin, adalah sistemnya itu sendiri.

Karang Paningal..
Menunggu waktu dan bumi yang menyarukan
Menunggu kilas dan bias yang tak terelakan
Menunggu batas dan cemas yang tak terhindarkan
Menunggu kalut dan maut yang menggiringkan
Menunggu anugrah dan musibah yang tersamarkan
Menunggu kala dan mala yang tak terbantahkan
Menunggu matahari dan bulan yang membenamkan
Menunggu diam, menunggu malam, menunggu kelam


BERSAMBUNG...

Maret 17, 2016

Kisah Perjalanan Paku Bumi (Tamat), Paku Terakhir


Hasil gambar untuk dewa yunani

“Sebuah lubuk di antara kuntum yang bermekaran, ada satu duri yang menjadi penusuk pada setiap keadaan/ Bukan bumi yang menghimpit, tetapi cakrawala yang akan menyentuh bumi dengan gravitasi pada wujud sang saka/ Ketika getar yang mengantarkan para pujangga, maka di sana ada satu berita yang tak hanya akan menghancurkan raga2, tetapi alam semesta menjadi pudar dalam jejak tanpa ada ulas/ Semua hadir dalam satu ungkapan yang menghunus setiap lempengan pagarruyung, maka hancur dan musnah pada kaki sang juru kunci yang mengkhianati/

Bukan itu yang menjadi kendali, tapi ingat akan api yang telah kau dekap sejak bayi, api itu menebar mebjadi tetesan darah yang membakar hangus bumi pertiwi/ Sejumput rumput akan memadamkannya, tanpa meski ada singgasana di antara perdu yang kau tebar/ Senyawa menjadi bagian raga di antarw berbagai petaka/  Jangan salahkan astrajingga, karena itu memang sudah menjadi tugasnya/Ketika sang saka mendekati bumi, kau nemilih berdiam diri, lalu mati pada kobaran apimu sendiri/ Jejaknya tetap ada, itu akan menebar ke seluruh panca buana, kecuala mayw cakra dan maya katumba, buana yang nelampaui sang saka, tempat para pandita yang menyelesaikan astapa waca karma/

Sesungguhnya ada dalam sebuah perjanjian akan hancurnya sebuah peradaban, yang di bawah buminya sudah menjadi rangkaian besi, di antara pati2 yang menyusun sel2 yg menyebar di bumi/ Berita besar itu hanya dalam sebuah hantaran persepsi, karena semua terhantar pada kutub2 waktu yang sudah mengetahui pesan tersebut dalam paduan suhu waktu/ Jalur yang ditempuh di antara beda Karna, maka ada kada pada dua baya/ Tancapkan paku itu di antara titian bambu dan perdu, serta lagu sang pujangga yang ditelan oleh nestapa duka karena ditinggal sang panca garwa/ Sejumput rumput itu ada di kedua kakinya, pada singgasana raja manglayang yang perlaya oleh sang bima pada satu tusukan batu.”

...

Babak pemahaman dibuka dengan kesadaran bahwa rangkaian kejadian hanyalah penggalan kisah yang diulang-ulang dalam skenario akbar. Guliran rahsa yang berkecamuk di badan menjadi penanda bahwasanya kisah itu bukanlah fatamorgana. Sangat nyata sakitnya, sangat pedih merasuki sukma. Ketika sukma mengkaji lara, maka hantaran reka mereka adegan dimuka dan belakang menjadi visual. Saling menyusul tak berkesudahan. Bagaimana saat tanah di balikkan? Bagaimana saat arah mata angin dipertukarkan? Bagaiamana saat kesadaran diputar balikan? Bagaimanakah saat duka merejam? Mampukah manusia bertahan dan dengan referensinya mengenali koordinatnya sekarang? Siapakah yang mencipakan dirinya? Siapakah yang membuatnya menjadi ada dalam kesadaran kekinian ini? Rahsanya itu akan mampu membuat diri menjadi gila.

Amuk diamuk gelombang pemikiran. Menjuntai bagai kilasan pedang yang terus menuju tenggorokan. Saat perintah penancapan paku terakhir dicanangkan. Jiwa dan raga bagai bulu yang diterbangkan angin. Tidak tahu harus bagaimana, tidak tahu haru kemana, tidak mengerti kenapanya. Sungguh diri dalam keadaan papa, senyap rahsanya. Pasrah dan berserah atas laku alam. Menanyakan kepada siapa? Semua diam dalam nelangsa. Sibuk dalam misteri atas tanah negri ini.  Tidak tahu harus diapakan paku terakhir ini. Semua hanyalah potensi-potensi. Entah sudah berapa tempat yang dikunjungi. Mulai dari Kalimantan Sulawesi, Jawa dan Bali, Ternyata bukan disanalah tempatnya. Lantas kemanakah lagi? Seentara benturan realitas keadaan di dalam tataran materi sangat menyulitkan sekali. Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan jika begini caranya?

Mas Thole dalam ketermanguan sendiri. Harus bagaimana lagi? Meski uang bukanlah segalanya, namun segalanya sekarang butuh uang. Jangankan untuk perjalanan hanya sekedar buang air besar kita harus mengeluarkan uang. Benturan antara ghaib dan kenyataan menjadikan dilema. Allah akan mendatangk rejeki dari arah yang tidak terduga melawan hukum lainnya (yaitu) Allah tidak akan merubah apa-apa sampai manusia sendiri yang merubahnya. Hukum bahwa manusia harus bekerja untuk mendapatkan uang adalah sebuah hukum materi yang harus diikuti. Materi adalah sebuah parameter keberhasilan dalam hukum ini. Bagaimana dengan hukum yang satunya lagi? Bukankah Allah yag sudah menjamin rejeki? Bagaimanakah kita menyikapi? Jika semua urusan diserahkan kepada manusia mengapa alam masih ingin ikut campur? Jika seluruh urusan dunia adalah urusan sang alam mengapakah manusia terus menerus diminta untuk membantunya?

Satu dua kali Mas Thole disergah kebingungan. Pemikirannya diuji, keimanannya diragukannya sendiri. Apakah dia harus tunduk kepada hukum ‘berserah’ ataukah dia akan mengikuti alur ‘usaha’. Berusaha dengan upayanya sendiri mencari biaya untuk perjalanannya. Mampukah? Apakah kompetensi yang dimilikinya sanggup mendatangkan uang jutaan rupaih sebagai bekal perjalananya? Dirinya bukan siapa-siapa, bukan orang terkenal dan memiliki kemampuan tinggi di ranah materi yang akan mampu mendatangkan uang dalam jumlah besar? Lantas, apakah dia harus menunggu tanpa batas waktu. Sementara perintah menancapkan paku bumi sudah mendekati titik kulminasi. Pada saat gerhana matahari total paku tersebut harus sudah ditancapkan. Itulah perintah!

Sungguh betapa berat keadaan yang harus dilalui. Dirinya diberikan pengetahuan, dibukakan rahasia alam. Bagaimanakah skenario kejadian yang akan ditimpakan atas negri ini, atas tanah ini, atas bangsa ini. Sebuah pengetahuan yang terus mengejar dan menyiksa dirinya. Diri terus dibombardir pertanyaan bahkan sebuah tuntutan. Mengepakah dirinya tidak bergerak sekarang? Mengapakah dia hanya berdiam diri saja dan melihat kenyataan yang akan terjadi dengan berpangku tangan? “Arrrgh....ya Allah sang pemilik rahsa, sang pemilik segaa rupa dan segala pujian. Dengan cara apalagi aku mampu menetapi keadaan yang menyiksa jiwa?”  Gemetar jiwanya, getar dalam nelangsa. Adakah yang mampu diperbuatnya? Kemanakah lagi dia mencari letak koordinat terakhir bagi paku bumi. Hampir dia kehilangan kesadaran diri, menahan beban keinginan dihati untuk menyelamatkan bumi ini.

...
Hari berganti, dan waktu berlalu. Menyisakan bunga perdu dihalaman rumah Mas Thole. Hujan menyirami mereka. Membuat subur tanah disekitarnya. Rumput liarberaneka warna. Dan anehnya rermuptan  itu semua seperti juga tumbuh di hati sanubari Mas Thole. Rumput meranggas begitu rupa. Terlalu banyak hujan yang turun disana. Hujan tangisan yang justru menumbuhkan rumput liat. Tentu saja hal yang tidak dikehendaki. Gulma merasuki hati Mas Thole. Semak belukar menjadi penghuni ruang hati. Akibatnya arah pemikiran sudah tidak jernih lagi. Banyak sekali entitas yang kemudian datang menyambangi menawarkan aneka rupa keindahan, Godaan untuk memasuki ranah materi. Mengejar kenikmatan indrawi. Pengejaran-pengejaran yang terus dilakukannya lagi, diulang lagi, lagi dan lagi. Sehingga dirinya lalai atas kehendak ilahi. Ada hukum satunya lagi. Hukum yang senantiasa mengilhami hati manusia untuk berserah diri. Biarkanlah Kami yang bekerja. Cukuplah jika manusia berniat dengan kesungguhan hati. Begitu selalu pesan Kami.

 “Sebuah lubuk di antara kuntum yang bermekaran, ada satu duri yang menjadi penusuk pada setiap keadaan/ Bukan bumi yang menghimpit, tetapi cakrawala yang akan menyentuh bumi dengan gravitasi pada wujud sang saka/ Ketika getar yang mengantarkan para pujangga, maka di sana ada satu berita yang tak hanya akan menghancurkan raga2, tetapi alam semesta menjadi pudar dalam jejak tanpa ada ulas/ Semua hadir dalam satu ungkapan yang menghunus setiap lempengan pagarruyung, maka hancur dan musnah pada kaki sang juru kunci yang mengkhianati/ “

...

Begitulah pergolakan dalam ranah kesadaran yang dialami Mas Thole. Sayangnya  Kami tetap dalam rencanaNya. Tidak peduli apapun pemikiran manusia. Tidak peduli apapun prasangka manusia. Segala sesuatu sudah dalam perimbangan dan penataan Kami. Sebaik-baik rencana adalah rencana Kami. Maka sementara Mas Thole sedang dalam kalut pemikiran. Kami menggerakan salah satu makhlukNya. Entah bagaimana ceritanya sang tokoh ini dengan tiba-tiba menghubungi Mas Thole. Berikutnya menyiapkan tiket  pesawat dan berikut juga penginapannya. Mas Thole diam terpaku, menyikapi keadaan ini. Begitu mudahNya jika Kami berkehendak. Tanpa Mas Thole harus bekerja, tapa harus bersusah payah, seluruh akomodasi perjalanannya sudah disiapkan. Mas Thole tingal membawa badan.

Begitu keadaan yang kadang sulit diterima akal logika manusia. Rejeki manusia dalam pertangung jawaban Kami. Begitulah hukumNya. Adakah manusia meyakini dan percaya? Sulit dan sungguh berat untuk meyakini hal ini. Meskipun sudah berkali-kali diberikan bukti. Manusia akan selalu dalam keraguan. Termasuk juga Mas Thole. Sudah berapa kali dirinya diberikan bukti-bukti atas adanya hukum ini.  Namun setiap kali dia dihadapkan kepada sebuah persoalan dia akan berpaling dan kembali ‘lupaf’. Akalnya selalu tidak akan mau terima hukum yang ‘aneh’ ini. Bagaimana manusia tidak bekerja bisa mendapatkan ‘rejeki’. Manusia harus menggunakan tangannya untuk mendapatkan ‘uang’. Bukankah itu yang paling rasional. Mana ada manusia berpangku tangan mendadak kaya raya. Tidak mungkin, dan itu tidak mungkin! Begitulah akal berkata. Manusia lupa bahwa segala sesuatu tunduk kepadaNya.

...

“Bukan itu yang menjadi kendali, tapi ingat akan api yang telah kau dekap sejak bayi, api itu menebar menjadi tetesan darah yang membakar hangus bumi pertiwi/ Sejumput rumput akan memadamkannya, tanpa meski ada singgasana di antara perdu yang kau tebar/ Senyawa menjadi bagian raga di antara berbagai petaka/  Jangan salahkan astrajingga, karena itu memang sudah menjadi tugasnya/Ketika sang saka mendekati bumi, kau nemilih berdiam diri, lalu mati pada kobaran apimu sendiri/ Jejaknya tetap ada, itu akan menebar ke seluruh panca buana, kecuala mayw cakra dan maya katumba, buana yang nelampaui sang saka, tempat para pandita yang menyelesaikan astapa waca karma/”

...

Semalam menjelang gerhana matahari total, disebuah pantai berkarang. Pantai Ngobaran namanya. Paku bumi terakhir di tancapkan. Dengan serangkaian adegan dan drama peristiwa yang mengharu birukan kesadaran manusia. Sebuah portal terbuka. Membentang disana jalanyang penuh dengan warna warna. Sebuah kereta kencana terlihat oleh mata. Ribuan makhluk dari seluruh golongan hadir di bukit pantai berkarang. Nampak ular besar meliuk-liuk berjumlah ribuan. Nampak pula pasukan para dahyang berdendang riang. Nampak pula glongan perewangan, entah makhluk apa lagi yang turut serta dalam prosesi. Portal pintu masuk kerajaan Ratu Kidul terbuka. Dewi Wedari yang berkuasa di tlatah gunung kidul sebelah wetan hadi menyambut. Menampakan diri diantara sinar cahaya rembulan. Petir di kanan kiri bersahut-sahutan. Manampakan kesan mistik dan suasana yang tidak bisa diceritakan.

Turut serta dalam prosesi tokoh-tokoh spirtitual dari Nepal, Perancis, Amerika dan juga Jerman. Mereka dengan sangat khusuk mengikuti prosesi. Duduk bersila dengan khidat menghadap lautan. Ombak terus menerus berdentam. Langit semakin melangut. Pukul 12 malam prosesi masih belum berhenti. Angin dingin mulai meniupi. Satu persatu mengundurkan diri dari Gazebo tempat bermeditasi. Nampak dari ke gelapan malam. Mas Thole undur ke belakang, mencari sisi ruang di sebelah kirinya. Darisana dia memohon dalam doa panjang. Di tancapkanlah paku bumi di samping Gazebo peremedian di pantai Ngobaran. Sebuah prosesi alam yang nampak biasa saja. Namun janganlah ditanyakan bagaimana sang pelaku disana. Hati mereka diliputi sebuah tanda tanya besar. Apakah berikutnya yang akan terjadi. Di ruang portal ini, sudah berapa banyak memakan koran. Ada yang mendadak terpental ke belakang saat meditasi, dsb. Maka prosesi ini [enuh dengan tanda taya besar.

Begitulah petala langit manakala didentamkan. Amuknya akan sampai ke mayapada dalam amarah dan murka. Maka dengarkanlah keributan disana. Mereka saling bertanya-tanya, ada apa dengan bumi ini. Berita apakah yang menjadi pertanyaan para makhluk ini? Benarkan berita besar itu adalah datangnya ‘AIN. Turunnya ilmu Allah melalui raga manusia terpilih. Turunnya sang MEISAS, turunnya sang IMAM. Ataukah akan turunnya DAJAL dalam ranah kesadaran manusia, sehingga Rosul memerintahkan ummatnya untuk sujud dan berdoa di masjid-masjid saat gerhana? Manakah yang akan turun di mayapada? Sebuah pertanyaan terus berguliran. Kilatan petir nampak dari kanan kiri muka dan belakang. Nyala petir menerangi sekitar. Cakrawala seperti terbuka. Bintang-bintang diatas sana berjumlah ribuan. Seperti bernyanyi, terus berusaha menerangi seputar tempat prosesi. Diam namun sangat menakutkan.

"Sesungguhnya ada dalam sebuah perjanjian akan hancurnya sebuah peradaban, yang di bawah buminya sudah menjadi rangkaian besi, di antara pati2 yang menyusun sel2 yg menyebar di bumi/ Berita besar itu hanya dalam sebuah hantaran persepsi, karena semua terhantar pada kutub2 waktu yang sudah mengetahui pesan tersebut dalam paduan suhu waktu/ Jalur yang ditempuh di antara beda Karna, maka ada kada pada dua baya/ Tancapkan paku itu di antara titian bambu dan perdu, serta lagu sang pujangga yang ditelan oleh nestapa duka karena ditinggal sang panca garwa/ Sejumput rumput itu ada di kedua kakinya, pada singgasana raja manglayang yang perlaya oleh sang bima pada satu tusukan batu.”


BLAAAM...BLAAM...paku bumi tertancap dengan kuatnya. Dentamnya sampai menggetarkan alam-alam kesadaran manusia. Mengguncangkan ingatan dan memori manusia. Terus menohok disana dalam sebuah pertanyaan “Benarkah Imam Mahdi akan diturunkan di dalam kesadaran manusia disaat terkini?” Wolohualam bisawab.