Oktober 27, 2016

Turunnya Orang-orang Singoshari - Palagan (2)


Hasil gambar untuk raja raja
Merangkai ungu pada senja kala waktu
.........diam.........      
.......  kutitipkan saga  karena sempit waktu menuju isya.         
 Kulampaui kata untuk menuju senja,
meski waktu subuh terasa lama
                               .... lurus...........
 bergulir rahsa diam tanpa waktu
dimana kita terus melangkah  
                   ...                        
 kutitipkan biru pada sendu
ketika waktu begitu sempit menuju sujudku       
... ..Tuhan........                       
 dalam menyaru (biar) jangan tuntun aku ...      
 aku sedang mencari rindu..
yang hilang menuju waktu..


....diam....

(Ranggawuni)
...

Cerita terus digulirkan, kisah pemaknaan manusia atas takdir-takdir yang menimpa diri mereka. Kisah yang terus saja menghantui kesadaran manusia jawa. Benarkah begitu keadaannya? Mitos dan legenda perihal hancurnya Singoshari. Kisah kutukan dan juga harapan manusia jawa untuk selalu berkuasa. Bagaimana keadaan sebenarnya,  kisah yang melatar belakangi hingga itu semua terjadi.  Semua nampak teramu indah dalam guliran tahta-harta-wanita. Kisah cinta diantara nafsu anak manusia. Kisah yang dibungkus dengan aroma kekuasaan. Kisah cinta yang kemudian diuji oleh Sang Maha Kuasa.

Rangawuni sosok yang misterius yang hadir kali pertama menyambangi. Ternyata adalah saudara lain ibu dari Rangawunni yang raja. Sempat pada awal kisah sosok ini dipertanyakan, mengapa ada dua tokoh Ranggawuni. Rupanya, sosok Rangawuni yang datang adalah sosok putri yang luar biasa jelita. Ranggawuni merupakan anak dari Anusapati dari jalur Ken Dedes. Keduany anak-anak Anusapati yang mati sebab perebutan kekuasaan dan di bunuh oleh  Tohjaya saudara satu ibu namun lain ayah.

Sahdan Ken Arok telah membunuh Tunggul Ametung Ayah dari Anusapati.  Kali berikutnya Anusapati dibunuh oleh Tohjaya anak dari Ken Arok. Jika kemudian Tohjaya di bunuh oleh Ranggawuni, bukankah itu hukum Qisas yang adil atas mereka. Namun jika kemudian hukum balas membalas, bunuh membunuh  ini berlangsung terus,  hingga menembus dimensi apakah yang terjadi?  Maka betapa sedih Ranggawuni melihat keadaan Nusantara ini.

Bunuh membunuh antara saudara sudah menjadi tradisi. Ken Arok adalah salah satu pilar kesadaran nusantara melalui ambisinya yang ingin berkuasa, dia merebut seorang wanita. Wanita yang melahirkan raja-raja. Maka bagaiman kejadiannya. Anak-anak Ken Arok saling membunuh antara satu sam lainnya. Ken Arok memiliki satu permaisuri dan satu selir. Ken Dedes dan Ken Umang. Ken Dedes adalah wanita bijak dan perkasa penerus tahta para raja. Wangsit itu yang menyebabkan Ken Arok nekad untuk mengambilnya sebagai istri.

Benar sekali setelah Ken Dedes menjadi permaisuri Singoshari mencapai kejayaan yang belum pernah diraih sebelumnya. Sayang kisah cinta anak manusia sulit dipahami. Ken Dedes adalah wanita yang cantik luar biasa, parasnya bagai bidadari yang turun dari syuargaloka. Namun cinta tetaplah cinta. Ken Arok jatuh cinta kepada Ken Umang seorang gadis biasa. Kisah mereka inilah yang kemudian merubah segala-galanya. Bagaimana kemudian anak Ken Umang dan Ken Dedesa saling bunuh membunuh. Kisah yang mendirikan bulu roma. Kisah yang selalu saja mengikuti bapak moyang manusia yaitu kisah Habil dan Qobil.

Kisah cinta Ken Arok yang luar biasa uniknya, terpola di dalam DNA anak keturunannya. Mas Thole menghela nafas berat. Tugas menemukan Ken Arok sudah terlaksana, namun sayang sekali turunnya Ken Arok tidak merubah apa-apa. Tabiat dan perilakunya tidak berubah, dirinya merasa sebagai raja. Maka perilaku dan tabiatnya sebagaimana raja jawa. Sikapnya yang mau menang sendiri. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta-tahta-wanita. Semua masih sama. Meskipun telah menembus waktu berabad-abad lamanya, dirinya tetap tidaklah berubah. Perilakunya masih sama saja.

DNA yang terpola sebagai operating system raganya sudah built-in di dalam raga terbarunya. Dalam kehidupan nyata terjadi lagi kisah serupa. Ken Arok tidak berubah keadaannya, perangainya yang haus wanita, tahta, dan kuasa, masih sama saja. Maka tidak heran jika kemudian raga terkininya mendapatkan jalan cerita yang sama sebagaimana Ken Arok di masa lalunya. Begitu keadaanya, jelas dan sangat jelas terbaca. Khabar ini sudah disampaikan kepada yang bersangkutan, agar dirinya segera mengubah DNA nya agar tidak terjadi takdir yang sama sebagaimana apa yang menimpa Ken Arok di masa lalunya. Keadaan ini dan kekhawatiran atas takdir yang akan berulang sudah disampaikan kepada raga terkini;


10/10/16, 10.22 - Fulan: Saya sudah menangkap pesan. Pola Ken Arok akan berulang. Dia akan di bunuh oleh 'anak anaknya'. Anak 'idiology' nya sendiri. Pesannya adalah jangan terlalu berlebihan. Atau anak 'idiology' akan di masuki kesadaran 'Anusapati'

10/10/16, 10.24 - Fulan: Anusapati akan mengambil alih kesadaran dan akan menikam saat Ken Arok tidur atau terlena. Ini software dan polanya
 Bukankah begitu kejadiannya?
10/10/16, 10.24 - Fulan: Dan Kami hanya bisa mengingatkan
10/10/16, 10.24 - Fulan: Kami tidak bisa memberikan manfaat dan kemudhoritan.
10/10/16, 10.25 - Fulan: Sumpah empu gandring akan terus mengejar anak anak Ken Arok
10/10/16, 10.28 - Fulan: Ken Arok akan dibunuh oleh anak anak kesayangannya sendiri. Anak idiologinya. Anak anak yang dilatihnya dan dibesarkannya. Itu polanya. Bukankah sudah terjadi berulang?
10/10/16, 10.28 - Fulan: Maka janganlah berlebihan. Jangan begitu..
10/10/16, 10.29 - Fulan: Atau Ken Arok akan termakan KARMA nya sendiri. Dan itu rahsanya *mati* yang akan berulang ki
10/10/16, 10.29 - Fulan: kali
10/10/16, 10.30 - Fulan: Maka bagian mana pesan Kami yang tidak terjadi? Itu hanya masalah waktu saja
10/10/16, 10.31 - Fulan: Dan Kami mengingatkan dengan kasih sayang. Agar kamu tidak merahsakan bagaimana rahsanya mati yang berulang kali.
10/10/16, 10.33 - Fulan: 🙏🏻
10/10/16, 11.25 - Fulan: Berikut pesan Kami;
10/10/16, 11.27 - Fulan: Sesungguhnya berada di antara dua hal yang menjadi tumpuan dengan keadaan sekarang, sebelumnya dan yang akan datang.
10/10/16, 11.27 - Fulan: Yaitu Al Quran. Garis ini yang menyebabkan kalian terlena dengan fatamorgana sehingga melupakannya dalam setiap baris dan hurufnya.
10/10/16, 11.27 - Fulan: Sapi Betina (Al-Baqarah):1 - Alif laam miim.
10/10/16, 11.27 - Fulan: Sapi Betina (Al-Baqarah):2 - Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

10/10/16, 11.27 - Fulan: Semesta yang terkandung di dalamnya, jangan coba-coba melangkahi dengan seutas tali yang hadir di malam gelap tanpa melihat alam. Sesungguhnya setiap insan akan binasa, terutama bagi yang melupakan jiwa bagian dr alam semesta

...

Merenung kembali Mas Thole, merenungkan kembali pesan-pesan Kami, bagaimana dirinya harus menyikapi kehidupan itu sendiri. Bagaimana kepadanya telah diperlihatkan kekuasaan Kami. Kekuasaan atas para raja dan alam semesta, sebagaimana telah dipersaksikannya, (hikmah) turunnya para raja dan kesatria Ssingoshari di masa terkini. Mereka akan meramaikan bedar alam yang akan segera berlangsung. Mereka akan menjadi penanda bumi yang gonjang-ganjing. Menahan murka alam semesta. Mas Thole menunggu bersama-sama Kami yang menunggu.

“Semesta hadir bukan utk menunjukkan kekuasaannya, tetapi hadir sebagai teman, bagian dari perjalanan kalian. Jangan sekali2 kalian merasa bangga berkawan dg alam, karena itu atas kehendak Tuhan.
Ingat, jangan sombong atau takabur, karena itu Aku akan langsung kabur
Setiap langkah tetapkan karena Allah.
Dan jangan sekali-kali merasa paling dekat dan diridhai-Nya, lihatlah itu atas kehendak-Nya.
Sekali lagi, jangan pernah merasa takabur
Karena yang memudahkan kalian semua atas kehendak Yang Maha Kuasa
Jangan merasa semua sebagai tanda penjelmaan-Ku, karena aku tidak berwujud dan maujud. Ingat, Aku bukan makhluk
Suatu hari itu yang menjadi saksi adalah kehendak yang Maha Kuasa
Lihatlah semua sebagai anugerah yang Tuhan kehendaki
Aku ada, berada pada setiap makhluk
Siapakah aku? Aku dan kamu, bagian dari kami dalam menjalankan alam semesta ini
Wallahi, aku hadir atas kehendak ilahi”


Bersambung..

Oktober 24, 2016

Turunnya Orang-orang Singoshari - Palagan (1)


Hasil gambar untuk ranggawuni dan singosari
“Aku hanyalah selembar kertas, yang kemudian akan habis kau tulisi. Pada sisi muka dan sisi belakang. Hadirku bersama masa lalu dan malam yang panjang. Dalam kisaran waktu, dalam penantian yang terbuang”.

“Ranggawuni...!”

Bibir itu terkatup, membisik lirih. Dalam hitungan seperkian detik. Blaaam. Kesadaran raganya menghablur. Sosok dara cantik jelita berdiri dihadapannya. Berpakaian layaknya ratu di jaman dahulu kala. Wajahnya nampak menyimpan duka yang amat dalam. Parasnya sangat cantik, anggun dan sangat halus tutur sapanya.

“Mengapakah harus terulang lagi..”

Tatapan nanar sepanjang kehadiran, kemasgulan  panjang,  tertahan disudut nafas. Sepertinya sosok dara itu getun sekali. Seperti tengah menyesali apa-apa yang terjadi. Mungkin dalam benaknya peristiwa di masa ini tidaklah perlu terulang kembali. Siapakah Rangawuni? Jika sosok tersebut adalah anak keturunan Ken Arok, sejarah mencatatnya sebagai sosok raja, bukanlah ratu sebagaimana tampilan sekarang ini. Menurut Pararaton, nama asli Wisnuwardhana adalah Ranggawuni putra Anusapati putra Tunggul Ametung. Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Mereka memerintah secara bersama-sama. Wishnuwardhana menjadi raja dan Nara Singhamurti sebagai ratu angabhaya. Pemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari.

Mengapakah tokoh tersebut hadir di masa kini. Pertanyaan terus menggelayuti sanubari. Setelah lama para leluhur tidak hadir. Kini Ranggawuni menorehkan lembaran baru pada kisah spiritual Mas Thole.  Masih teringat bagaimana pesan Kami di awal mula perjalanan kemarin ini.

“Jejak leluhur itu tidak perlu ditafsirkan dg berbagai penafsiran, masa lalu, bukan masa sekarang. Peredaran masalah yang menjadi semua berada pada setiap peristiwa. Jangan pernah melihat pada suatu peristiwa hitam atau putih, begitu pula abu-abu. Karena semua berada pada pagar kehidupan, hidup dan hidup... hargailah hidupmu yang sekarang, masa lalu biar menjadi peristiwa yang selalu menjadi pelajaran”.

Semua terjadi setelah perjalanan Mas Thole dan mamang ke hutan Alas Purwo, Banyuwangi, tempat dimana masa kecil Ken Arok di asuh oleh para dahyang. Perjalanan yang hampir saja merenggut nyawa Mamang. Sesaat lepas ladas dari hutan alas purwo kepalanya seakan-akan mau meledak. Hal yang sama dialami Mas Thole. Ritual mereka di alas purwo demi berdirinya tongak kesadaran telah memancing datangnya para demit dan perewangan. Peristiwa mistis melingkupi Banyuwangi, awan bergulung-gulung menggiriskan sekali. Awan cumulus nimbus bergerak menuju alas purwo tempat dimana akan dilakukan prosesi. Awan membawa hujan yang nyaris memporak porandakan acara yang akan diselenggarakan oleh Mas Thole dan kawan-kawan disana. Dalam mata batinya Mas Thole dapat melihat para ghaib yang menuju alas purwo. Meerka bersiap menanti kehadiran Mas Thole dan Mamang dalam sebuah labuh pati.

...

“Mestinya tidak begini...! “

Pekikan diam menggugah sanubari, memecah kesunyian hati pada waktu dini hari. Berjalan diantara riuhnya ombak dan sepinya pegunungan. Memasuki alam-alam kesadaran yang semakin melangut tak bertepian. “Inikah mati didalam hidup.” Ujarnya tak mengerti. Mendekati segala yang dienggani dan melepaskan yang dia cintai. Menanti dalam diam yang tak terpahami. Bukankah kalau tak lahir maka   tak hidup. Kalau tak hidup apakah ada yang perlu dirasakan lagi? Bukankah kalau tak hidup tak akan mengalami bagaimana rahsanya kematian? Heeh, semua  dalam bimbangnya sendiri.

Adakah yang pernahkah merahsakan mati?
Adakah yang sanggup merahsakan mati?
Kalau begitu cobalah rasakan sendiri!
Agar mengerti..
Seperti apa itu mati!
Janganlah bergumam sendiri dan merasa mengerti.
Sudahilah sedu sedan itu
Dan...


Apakah mati itu nikmat, sehingga orang yang mati tidak mau kembali ke dunia ini? Ugh..Jikalau mati lebih baik daripada hidup itu, bukankah semuanya menjadi lebih mudah?  Kalau begitu, apakah kematian patu kita nantikan?, ataukah (apakah) harapan atas hidup yang patut kita dambakan?

“Aku bukan personifikasi alam mayapada, aku juga bukan identititas diri dari segumpal keinginan.”

Sosok dara yang menyebut dirinya Ranggawuni terus bercerita, membawa nestapa anak manusia yang melintasi waktu dan peradaban. Betapa dirinya tengah mengulang kembali kejadian yang sama sebagaiaman saat dirinya menjadi ratu disana di sebuah kerajaan yang bernama Singoshari. Entah mengapa sosok Ranggawuni yang dikenal dalam sejarah adalah sosok laki-laki, faktanya adalah seorang wanita. Sosok yang hadir disini adalah wanita. Apakah ada yang salah dalam pemaknaan dan dalam membaca? Entahlah, fakta nya sosok yang bernama anggawuni adalah wanita. Mas Thole meyakini ini. Ranggawuni adalah seorang wanita. Ini menjadi sebab mengapa pada saat memerintah kerajaan dirinya di dampingi Mahesa Cempaka anak dari Mahesa Wong Teleng.

...

“Kerajaan itu, kerajaan yang selalu kalian cari, itu sebetulnya tidak jauh dari sini, letaknya hanya seujung kuku jari, maka kemanapun langkah kaki, bukan mendekati, tetapi menjauh, kecuali berada dalam hati sanubari. Jika suatu waktu ada yang nyaru, maafkanlah ia sebagai temanmu, karena itu bagian dari pengajaran bagimu. Sekuat apa pun strategi orang-orang itu, bila keyakinanmu pada-Ku, maka itu bukan menjadi penghalang dalam setiap langkahmu. Jangan jadikan itu halangan atau batu sandungan, karena niatmu karena Allah, maka Allah yang akan melindungi setiap langkah dan helaan nafasmu.”

Suatu perumpamaan yang ada, bila sang waktu tiada, itu atas kehendak Yang Maha Kuasa.
Bila sang waktu ada, dan merajai setiap insan dan semesta penghuninya, ingatlah bahwa dia hanya ciptaan Sang Maha Kuasa.

Wal 'ashri


Bersambung...



September 28, 2016

Kisah Spiritual; Ini Jalan Pedang

Hasil gambar untuk kilatan bintang
“Jika kerinduan ini adalah  keinginan,
Bagaimana aku bisa datang padamu
Rinduku adalah penantian dalam kembara panjang
Muara ruang dan waktu yang berujung sepi
Bagaimana aku bisa ukur mampuku ?
Duh,
Maka katakanlah,
Apa yang harus kulakukan
Bila residunya saja sudah terlalu?”
+++
Mas Thole mencoba mengumpulkan sisa-sisa ingatannya. Bertanya dalam hati, apakah kisahnya kali ini layak disandingkan disini. Jika muaranya akan selalu begini ini. Apa makna yang bisa dijelaskan. Memasuki lintasan dimensi sama saja dengan memasuki belantara hutan rahsa.Selalu saja menyisakan banyak misteri. Dan berjuta pertanyaan di kemudian hari. Berasal dari dimensi manakah kerinduannya kali ini? Pedarannya mampu meliputi seluruh kesadarannya. Kepada siapakah ditujukan muatan energy dan rahsa  kasihnya? Berada diujung manakah lintasan kasih. Jika tidak di alam ini, dimana lagi, kemana lagi?   Apakah itu anugrah sebuah  rahsa ataukah hanya semisal bom waktu semata. Bagaimanakah menjelaskan belantara rahsa yang tiada ujungnya ini?
“Adakah ini inginku, apakah itu mauku ?
Ataukah setiap kerinduan harus mewujud  penantian?
Jika mengingatmu adalah kenistaan
Jika merindukanmu adalah siksaan
Jika hulu dari rahsa berupa kehampaan
Maka kemanakah aku harus mencari engkau
Jika setiap kali kupanggili namamu,
Maka maafkan saja  aku
Pahamilah manakala rindu meliputiku!“
+++
Dua kota terakhir dalam kisah perjalanan, Ujung Pandang dan kota Solo, adalah penantian usang sebuah harapan gersang. Maka dari itu, jika saja dua kota ini adalah sebuah awal dari kisah dalam peradaban nusantara baru. Jika dua kota ini adalah wakil dari keadaan kota lainnya. Bagaimanakah mencari titik temu rahsa di jiwa. Mengapa terasa berbeda antara kedua kota ini. Tarikan harapan, nuansa dendam dan pengkhianatan, meliputi udara kedua kota.Hingga diare, demam, sakit kepala, dan hembusan udara sesak meliputi seluruh sel-sel dalam sistem ketubuhan Mas Thole. Tak mampu rahsanya. Jika kemudian dia merebahkan badan di sebuah tempat kost anaknya di kota Solo itu. Sebab karena memang sedang menahan sakitnya. Rahsa benci, dendam, sakit hati, was-was, teramu di jiwa menjadi rahsa ketakutan atas sebuah tragedi yang sudah dan akan sudah dan  bakalan akan terjadi di negara ini sebuah ‘PEKHIANATAN’.
Ujung Pandang dan Solo,  adalah asal  kota tempat dari  Raja terpilih atas bangsa ini. Maka haruskah semua AWAL di mulai dari AKHIR?  Dua kota yang harus di datangi Mas Thole. Dua dimensi, dua dunia, dua keadaan, dua perupaan. Berjalan diantara gelap dan siang, meniti di kehampaan malam. Tiada lagi sedih, tiada lagi duka, tiada lagi nelangsa. Hampa dan hambar terasa. Dua kekuatan yang terbalik , dua keadaan yang menyulut kesedihan. Pengkhianatan, iri dengki, benci, dan kemunafikan. Begitu asal muasal energy peradaban bangsa ini. Sejak jaman para raja-raja jawa di nusantara ini.   Energy inikah yang berada diantara dua kota ini. Mengapa tarikannya mampu membuat Mas Thole luka dalam waktu lama.
“Maka pahamilah manakala rindu ini terlalu
Bukan saja indah matamu, atau putih kulitmu
Bukan juga halus tutur bahasamu
Bukan karena sebab itu saja,
Tuhan mencipta makhluk terindah
Itu masalahnya,
Maka wajar saja bunga, kupu-kupu, atau burung-burung
Malam juga merindu bau tubuhmu”
+++
Semua berawal di akhir, dan semua akan berakhir di awal. Maka putaran waktu akan pergulir dan terus dibalikan. Arah jarum jam berputar searah dalam putaran Mas Thole mengitari tempat semedi Paku Alam IX, di keraton Solo.Nampak dua sumur empat persegi yang terpisah disana, tempat Mas Thole mengambil air wudhu dan minum dua teguk air. Semua harus di putar dalam 7 putaran tawaf. Menembus di mensi raja-raja Mataram. Dimensi para raja yang sudah melahirkan kesadaran atas bangsa ini. Kesadaran para pembesar dan raja yang memberikan teladan atas arti pengkhianatan, permusuhan, pertentangan, perebutan kekuasaan, perebutan wanita. Nafsu keserakahan atas harta, tahta dan wanita. Mereka telah menjadi potret bangsa ini. Bangsa nusantara yang tidak pernah berhenti atas keduniawian. Maka perhatikanlah bagaimana kelanjutan generasi setelah mereka ini. Bilakah kententraman, ketenangan, keharmonisan antar suku, ras dan agama, bisa dinikmati?
Kesadaran keraton Solo menjadi daya dorong bagi kelanjutan bangsa ini. Kesadaran Mas Thole menghablur. Keriuhan keratin Solo menjadi hening, bisu tanpa suara. Gambar seperti diam tak terdengar. Kedua tangan seperti menempel di pohon beringin disana. Kuat menompang seakan khawatir pohon tersebut akan runtuh. Alam kesadaran Mas Thole mencoba menembus keadaan dimensi disana. Terpampang jelas nampak di mata, kesadaran kerajaan manakah yang saat sekarang ini tengah berkuasa dan bertahta. Yah, kerajaan Mataram. Energy kesadaran Mataram yang sekarang sedang berkuasa. Energy kesadaran yang berasal dari trah Solo.
Bagaimanakah keadaannya nanti, jika energy trah Mataram Solo berkuasa?  Terjawab sudah keadaannya nanti. Terbaca sudah pada sejarah yang terbaca disana, terpampang di pintu masuk depan keraton Solo. Sebagaimana susunan raja-raja jawa dan bagaimana mereka berkuasa. Maka nusantara akan dibangun sebagaimana  trah kerajaan Solo. Bagaimana kekuasaan mereka di tegakkan. Perhatikan saja kisah-kisah mereka. Begitulah keadaannya nanti. Tidak akan lama lagi semua akan terjadi. Hal yang sama saja keadaannya bagi trah lainnya. Trah Majapahit, Sriwijaya, dan seluruh kerajaan nusantara. Para raja membangun kekuasaan diatas pilar-pilar permusuhan danketakutan atas pengkhianatan.
+++
“Adakah kisah ini layak disandingkan? Bukankah hanya semisal khabar kesedihan lainnya. Sebuah ironi dan ketidak percayaan diri. Sebuah kegamangan atas ketidak yakinan. Pesimistis dan kekhawatiran semata. Lantas apa gunanya? “Begitu akal menghakimi rahsa. Tak peduli seperti apa? Apalagi bertanya mengapa? Semua sama saja bukan? Ya, akan sama saja keadaannya. Adakah yang akan mengerti bagaimana keadaan jiwa ini saat mendapatkan khabar-khabar yang selalu saja sama? Kisah-kisah yang terpola dan sama saja akhirnya. Dari tahun ketahuan selalu saja begitu. Dari musim ke musim selalu saja itu-itu. Khabar Al qur an adalah berita yang di ulang-ulang.Khabar bagaimana ulah manusia, bagaimana keadaan mereka nanti. Bagaimana kesudahan bagi mereka yang aniaya. Semua ada dalam hukum surga dan neraka.
“Lihat disana gadisku,
Perahu para penggali pasir
Anak-anak bersorak di tepinya
Menunggu langit terbuka”
Ingatan Mas Thole menerobos beberapa saat sebelum dirinya berada di keraton Solo. Saat mana dia bersama beberapa kawannya di Ujung Pandang. Menanti langit terbuka di perairan laut pantai  Tanjung Bayang. Menanam pohon keabadian di pasirnya. Sambil menunggu jatuhnya bayang dari matahari yang terluka. Berdoa semoga yang Maha Kuasa berkenan memberikan ridhonya atas upaya. Keindahan alam semestayang  tercipta disana. Melihat matahari terbenam dan kilau cahaya yang redup ditutup tabir malam.  Bukankah itu adalah sebuah keadaan?  Bukankah pertanda atas restu alam. Penanaman pohon kesadaran di terima langit dengan suka. Karenanya setelahnya panorama menjadi indah sekali.
Mengapakah keadaannya berbeda sekali saat dirinya masuk ke kota Solo. Energy yangmenyambut dirinya adalah energy yang tidak bersahabat. Menimbulkan gamang, dan rasa bingung.  Hingga sampai dua kali Mas Thole salah masuk ke gerbong kereta. AKhirnya harus kembali ke gerbong awal pertama dirinya salah bertanya. Kesalahan yang kelihatan biasa. Seperti salah membaca kursi tempat duduknya. Keadaan yang terus berlanjut hingga sampai sekarang ini. Lintasan yang terus menggempur pertahanan keimanan dirinya. “Adakah rahsa ini harus dinista? Aku berdiri diatas kegelisahanku sendiri. seperti orang yang tengah patah hati. Bukannya aku sedang putus asa. Atau terjatuh ke dalam lembah cinta buta.  Bukan karena itu! Sesungguhnya aku sedang memaknai bagaimana sesungguhnya CINTA itu”
Rahsa yang satu ini menjadi daya dorong bagi manusia. Bagi pergulatan rahsa di jiwa. Menjadikan manusia tak mengenali bapaknya. Bahkan tak peduli juga pada Ibunya. Cinta, kuasa, dan juga harta adalah triple helix yang sulit  di cari padaannya. Semua berguliran pada jiwa manusia. Hingga manusia harus nelangsa dibuatnya. Merasa papa dan juga nista keadannya. Lantas untuk apa sekarang harus di puja? Yah, sebab tanpa ketiga elemen ini, dunia tidak berarti apa-apa manusia. Hampa tanpa cinta, hambar tanpa kuasa, tak berdaya tanpa harta. Begitulah romantika anak manusia. Bagaimana menjelaskan keadaanya?
+++
Tak tahan atas keadaan, tak mampu mengelak atas kepastian. Seluruh dimensi di jelajahinya sampailah pada suatu kesimpulan. Ini jalan PEDANG. Bilakah pasukan nusantara baru sudah siap keadannya? Tak akan lama lagi adalah perang. Kesadaran murni harsu dilindungi dari keserakahan dan amuk rahsa para durjana. Masih kekurangan pasukan kerajaan nusantara baru dari barisan para Jin Islam. Di hubungilah Tribuana Tungga Dewi, dimintalah kesediaannya untuk mengumpulkan mereka semua. Di bawah panji-panji Majapahit. Mereka adalah pengawal setia kerajkaan Majapahit yang semenjak dahulu telah berkerjasama dengan Tri Buana Tungga Dewi. .  Mas Thole sudah kenal 7 kerajaan diantara mereka. Iskandar raja Jin yang selama ini sering ber silaturahmi kepadanya. Melalui diirnya udanngan disebarkan. Maka dimintakan kepada mereka pasukan kerajaan Jin Islam untuk tyurut mengawal lahirnya kesadaran baru.
Lengkap sudah pasukan nusantara baru, dari golongan Khodam, dari golongan Jin, Kesatria, Brahmana, leluhur, dari seluruh kerajaan yang berjumlah 700 lebih di nusantara ini.  Masih di tambah dari atlantis dan juga banyak makhluk tak tersebut lainnya yang sudah bersedia membantu perjuangan atas lahirnya kesadaran nusantara baru. Bukankah seharusnya dnegan ini Mas Thole bergirang hati? Mengapakah gundah masih saja menggayuti.
“Jika kerinduan ini adalah  keinginan,
Bagaimana aku bisa datang padamu
Rinduku adalah penantian dalam kembara panjang
Muara ruang dan waktu yang berujung sepi
Bagaimana aku bisa ukur mampuku ?
+++
Mampukah Mas Thole menjawab kegundahan rahsanya sendiri? Biarlah waktu yang akan menjelaskan itu. Perjalanannya ke Karang Hawu di Pelabuhan Ratu sudah menunggu. Dia harus bertemu dengan Ratu Kidul untuk menyerahkan Air Amarta. Namun kebimbangan atas rahsa itu masih begitu. Mampukah Mas Thole menyelesaikan lintasan yang sekarang ini meliputi dirinya?
“…Jika takdir semisal  kilatan PEDANG
Dengan apakah kita menghindar?”  

wolohualam