Januari 22, 2018

Kembalinya Bhre Wirabumi (2); Perang Yang Tak Usai


Hasil gambar untuk perang paregreg

Kanvas putih di sudut ruang. Satu titik dalam kesepian. Merayapi kegelapan malam. Menggores perlahan, satu huruf demi satu huruf dalam bahasa kawi. Tekanan tak sama dari setiap hurufnya. Seperti menahan beban. Nafasnya tertahan diantara iga dan belikat.  Kemudian dihempaskannya dalam satu erangan.

“Argh......!”

Getaran hawa magic membangkitkan alam alam kesadaran. Kesedihan yang melumatkan hati. Erangan siapakah itu? Adakah Bhre Wirabumi? Kisah Menak Jingga dan Dhamarwulan yang terbangkitkan? Kisah Majapahit Timur dan Barat yang luput dari semua kajian. Kisah rindu dendam para penguasa kerajaan. Kisah yang dibadikan oleh perang. Perang Paregreg. “Dari sisi manakah keindahan perang?”

***

Lolongan anjing bersahutan. Jemari gemetaran tak mampu ditahan. Tangan seperti ingin menuliskan. Namun diotaknya tidak ada referensi atas huruf dan bahasa yang ingin disampaikan.  Menangis dirinya terguguk, sementara dibiarkan tangan menggoreskan satu huruf demi satu huruf. Huruf yang kemudian membentuk satu kata, yang dirangkaiankannya menjadi alinea. Tubuh gadis belia itu jatuh berdetam ke lantai. Mata terpenjam, wajah pias dalam penderitaan.

Energy dari dimensi masa lalu yang menyeruak masuk mengahantam kesadarannya, seakan tak mau berhenti.  Mengangkat tubuhnya menarik, meliuk bagai selendang di tangan para penari. Lunglai sekujur persendian. Kesadaran gadis itu hanya mampu menyaksikan bagaimana raganya dibuat seperti layang-layang oleh energy yang menyusup dan menguasai. Apakah leluhur Majapahit Timur sudah mulai berdatangan?

Kedatangan demi kedatangan yang tak dipahami, untuk apakah para leluhur datang ke masa kini dan akan memulai perang lagi?  Raga raga anak keturunan mereka kini menjadi ajang pertempuran baik di ranah kesadaran maupun di ranah nyata. Hingga tubuh  gadis belia itulunglai tak mampu menahan beban,  sering jatuh pingsan di keramaian. Keadaan itu tentu saa mengkhawatirkan.

***

Sosok lelaki setengah baya itu menghela nafas berat. Hidup dan kehidupan adalah sebuah permainan yangharus dimainkannya. Semisal masuk ke dalam sebuah film petualangan ‘JUMANJI’ seluruh permainan harus diselesaikannya, jika tidak dirinya akan terjebak selamanya di permainan ini. Dirinya akan terus terjebak di raga terkini. Jikalaupun kemudian mati paling hanya akan berganti raga lagi. Mengapa ksadarannya mesti terbangkitkan. Mengapa dirinya mesti harus tahu seluruh reka kejadian. Rasanya baru kemarin ini dia mati. “Bhre Wirabumi” Desahnya memecah kesunyian.

“ Sa jane kuwi sing kuminep sumine. Lakon apik yo ja jane rambine apik kulamang sambyang. Jajane kuwi simng lambine rumatan kaminep sumkabeh lum kurine, sum kulamat singbapik yen kurane rambang.
Rumbane rumatan sing sapimen sungaben rumtangen susane suminep. Wis tak lampane kuwi singbrambine ruminep rungsi sambine runjane suminep kasimun ngambare kuriben lambine suminep rambane kuminten. Sim kulimet kurimen sunginep, yo wis sambine sing apik
Sing kuwi sing pinatan, yen rumatan kamine suwi. Kumbine sing apik, kulune pantimen junganane sing saminep”

Seperti sebuah pesan yang terbaca dalam monitor ingatannya. Bagaimana support system mengajarinya, memandunya agar dirinya mampu menyelesaikan seluruh permainan dan dapat kembali pulang ke alam kelanggengan. Betapa jiwanya sudah merindukan pulang. Merindukan berdua dengan Tuhannya yang telah mencipatkannya.

"Setiap hal yang menjadi bagianmu akan mendapatkannya dengan semestinya. Tidak ada yang mengingkari janji. Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Peran serta dalam kehidupan menjadi bagian dari rencana dan rancangan dalam pengelolaan alam semesta. Terima itu sebagai Takdir dari Yang Maha Kuasa.  Semua berada pada garis yang telah ditetapkan-Nya. Lihat dan amati untuk menjadi hikmah pada setiap peristiwa. Jangan bersedih, karena kehidupan berada pada kuasa-Nya.

Berangkat ke wetan, di sana akan menemukannya, dalam rangkaian yang menjadi perjalanan menuju kehidupan yang berperadaban. Seumpama itu memang sebagai suatu bukti, maka Kami buktikan dengan memenuhi janji Kami. Ini adalah sebuah perjalanan suci, maka hadapi dengan kesucian dan keikhlasan diri. Rintangan dan tantangan akan hilang, pasti ada penyelesaiannya dalam setiap yang dihadapkan

Ingat, semua sudah kehendak Yang Maha Pengatur Alam, terima dan jalani perjalanan sesuai kehendak-Nya."

Ketika sangsakala menggema, tak ada yang bertanya ada apa? Semua kaget karena melihat diri berada pada berbagai pecahan dengan daya yang masih ada di antara berbagai keadaan yang menjelma. Sangkakala terus menggema, tetapi manusia tetap asik dengan kesenangannya, mengikuti emosi dan keegoisan dirinya.

Lelaki itu yang menyadari hakikat setiap peristiwa, dia tak dapat berkata apa2, hanya membeku diam di antara hiruk pikuk teriakan yang menyuarakan sejatinya diri di hadapan yang lainnya. Sedangkan dia menangis, menangis sejadi-jadinya, karena sang kala sudah memecahkan semua dalam lengkingannya yang panjang namun tidak terdengar oleh sebagian orang. Hanya orang-orang yang beriman yang akan mengetahui dan mengenalnya. Tabuhan yang bersahut-sahutan membawa riang, gelombamg yang yang bergerak di dasar samudera tidak terasa karena gelombangnya pelan dan berirama dalam hempasan irama sangkala dalam cinta Sang Maha Pencipta.

Itu ada di antara berbagai hal yang menjadi nyata pada kehidupan dengan berbagai hal yang menjadi dasar bahwa perjalanan memang sedang terus berputar dan dan berputar.

Sangsakala terus meniupkan serulingnya, bersama awan dan angin menebar kerinduan akan hakikat kehidupan yang sejatinya sudah berjalan dan bergelak. Tak mengelak kuasa dan kehendak Tuhan, itulah bagi pecinta yang mencintai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kebenaran bukan berada dalam aku benar, tetapi berada dalam keikhlasan. Lirihnya dalam rintih, menjadi nyanyian penyeimbamg dalam memaknai hakikat kekuasaan Tuhan. Semua berkehendak dslam bicara, tetapi diam seribu kata dlaam cinta sang naga, naga yang menjelma dengan berbagai kuasa, bukan hanya materi tetapi dengan keegoisan pemenuhan diri sendiri.

Lirik dan lirih tak lagi menjadi asih, tetapi semua menjadi gegap gempita dalam semua rasa, menjelma pada dewa-dewa dan titisan-titisan padahal itu hanya cinta dalam emosi pemenuhan keegoisan diri. Sang diri menari dengan mewujud dan melaku dalam riang yang menjadi perjalanan tak terelakkan di antara jiwa-jiwa yang menyerap dalam jiwa yang memenuhi kehendak. Sang jiwa pun terus terkoyak pada realitas yang menjadi paduan pada setiap kehidupan yang terkapar di penghujung kehidupan.

Sementara tangkaian dalam desain yang menjadi silsilah dengan berbagai kehidupan yang menjadi kuasa atas diri sendiri yang tak bertuan. Lihat pada sebuau cerita yang menjadi perjalanan tak putus dari derita ketika ia menganggap itu sebagai sebuah bencana. Sesungguhnya kehidupan diri di antara dua perapian yang menyala, ada singa yang akan menerkam setiap baris kata yang penuh emosi jiwa

Rintang rantung rakyan rakyun wkyuni aji bati.

Perbedaannya sangat jelas, ketika keangkuhan itu terus menghantam, maka realitas yang akan terus berkurang. Tetapi bila realitas dalam satu wadah tanpa pita, maka itu di antara dua dilema. Hanya saja setiap keadaan yang bermakna dan tanpa makna menjadi keegoisan jiwa-jiwa.  Setiap lirik ini tak ada yang ajan akan terus berkembang tanpa tahu alasannya. Sebuah keyakinan yang menjadi dasar.

Bersambung...

20/012018

Januari 20, 2018

Kembalinya Bhre Wirabumi (1) Perang Yang Tak Usai


Hasil gambar untuk bhre wirabhumi

Pengantar; Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 berkat kerja sama Raden Wijaya dan Arya Wiraraja. Pada tahun 1295, Raden Wijaya membagi dua wilayah Majapahit untuk menepati janjinya semasa perjuangan. Sebelah timur diserahkan pada Arya Wiraraja dengan ibu kota di Lumajang. Perang Paregreg adalah perang antara Majapahit istana barat yang dipimpin Wikramawardhana, melawan istana timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi. Perang ini terjadi tahun 1404-1406 dan menjadi penyebab utama kemunduran Majapahit.


***

Siang menunjukan warna merahnya. Panas membakar. Tubuh itu terhuyung, “Siang ini bukanlah siang yang kemarin.” Bisiknya menahan haru.  Seluruh kesadaran dicobanya dikumpulkan. Namun aneh tidak diketemukan jejaknya. “Bukankah langit ini masih sama dengan langit yang kemarin?” Melangkah seperti tak menapak. Sementara bumi terus memanas.

Pertanyaan yang sepertinya tidak perlu dijawabnya lagi. Langit itu masih sama dengan langit semasa hidupnya di ribuan tahun lalu. Pendarannya sedikit berbeda. Nuansa kebiruan yang sering membayang kini telah hilang. Jejak aroma udara juga sudah tidak menyisakan sejuknya embun dan jatuhnya daun dari pepohonan. Semua nampak sama namun tidaklah dirasa.

Awakening..ya seperti itu. Terbangun dari kesadaran masa lalunya. Meski sekarang di kesadaran raga terkini namun rasanya tidak asing. Ah, rasa masih sama. Aroma kehidupan masih menyisakan misteri yang berulang. Sakitnya kehilangan dan hancurnya perasaan menjadi keseharian hingga mati menjelang. Semua masih saja dipertanyakan. “Mengapakah kehidupan senantiasa menyisakan rindu dendam?”

Lantas bagian manakah yang harus dikisahkannya? Jika lintasan rasanya hanya dirinya saja yang paham. Berjalan mendekati jemu. Sendiri di alam semesta. Hanya menanti pilu yang kadang ragu menjamu. Ruang tunggu kalbu telah sudahi rindu. Maka pandang saja kilatan yang menyaru. Bukankah malam senantiasa ditutupkan kepada langit yang biru?

Seketika saraf sadar lelaki setengah baya itu menghablur.  Kesadarannya tersedot ke suatu masa dimana keberadaan akan berimpit pada suatu ketiadaan.  Di kejapkannya matanya berkali-kali. Manakala nampak layar terbuka menampilkan adegan demi adegan yang tak dipahami. Kejadian dan peristiwa yang meloncat-loncat. Bagaimanakah merangkaikan puzle yang berloncatan antara dimensi. Sebentar ke dimensi para naga dimana dikisahkan Bima mencari tokoh sakti.  Kemudian meloncat lagi ke masa sesudahnya. Masa dimana Bre Wirabumi tengah berkuasa. Entah akan kemanakah lagi? 

***

Jejak sang naga menjadikan Bima menelusurinya di antara belantara, semua terhenti ketika mengingat cerita Sakuntala. Meregang dalam kesepian dan kesedihan karena ditinggal Sakuntala, ia terus berjalan untuk mencari sang naga. Naga yang akan menyelamatkan ibunda tercinta.

Langit gelap tak nenyelimuti penglihatan Bima, yang terus berjalan dan bergerak dalam kegelapan.

“Sang Hyang Naga, dimanakah kau berada?”

Bukankah dalam tutur Pujangga di Astinapura menyebutkan kau ada di dekat hutan piningit Ajis Barang Rakyat wandu.

“Duh wahai rasa yang mengemban segala peristiwa, hantarkan aku pada sang naga yang akan membantu Sakuntala dari derita?”

Sekian detik, ranting patah tak bergoyang, dedaunan menalu tak mengunci segala kehidupan. Jejaknya ada di antara belantara.

"Bima. Lihatlah itu sebagai tanda, telapak kaki naga dalam rincian batu permata yang hanya dapat kau lihat dengan mata batin.  Jejak rumpaka menjadi kaya, jejak kata menjadi sastra, semua terpatri pada jiwa-jiwa yang sedang mencari."

"Inilah aku... Tetapi bukan itu... Semua menyatu dalam setiap titian yang menjadi padu pada setiap desiran waktu. Sesungguhnya semua ini hanya perjelanan."

"Bima, temukan sang naga pada setiap dinding yang tak bertuan, dia ada di antara dedaunan dan tebing yang mencuram, di antara rintik air pegunungan. Sakuntala sebetulnya bukan sakit karena derita badan, tetapi dia terhantam oleh sejuta bayangan kelam. Itu karena Sakuntala ada pada setiap kehidupan.  Raganya pun menjadi tak bertuan."

***

Kisah Sakuntala terus saja menyisakan pertanyaan. Apakah hubungannya dengan Nagawardhani istri dari Bhre Wirabumi. Apakah mereka satu orang yang sama dalam dua dimensi berbeda? Adakah kisah tersebut akan mampu dituntaskan. Sementara pemerannya sendiri  tidak pernah menghendaki. Bagaimana tidak? Memasuki lorong waktu kembali ke masa lalu, bukanlah hal mudah. Kesadaran yang kembali dari masa lalu akan membawa residu rahsa. Energi yang akan membuat sistem ketubuhanny amengalami turbulensi. Rahsanya mau mati.  Mutah berkali-kali, batuk darah, dan banyak fenomena lainnya.

Maka biarkanlah kisah di blog ini seakan meloncat kesana kemari tiada ujung pangkalnya. Menelisik lintasan para tokoh masa lalu sama saja membuka portal antar dimensi.  Lintasan yang sama akan terbuka dan bisa saja mengundang makhluk lintas dimensi lainnya. Apakah ini realita? Sebuah pertanyaan yang terus saja menyapa setiap para pencari. Maka cobalah berfikir lebih realitas mana hidup dan mati? Lebih realitas mana antara tidur dan bangun? Mampukah kesadaran melihat perbedaan?

***

Lintasan kini mengarahkan kesadaran kepada rasa duka Bhre Wirabumi.  Perang Paregreg, perang yang menyisakan duka bagi Brhe Wirabumi.  Benarkah Perang ini akan dibawa ke masa kini? Mengapa lintasannya kuat sekali?  Marilah kita telusuri, melacak jejak-jejak orang-orang masa lalu yang sudah membanjiri kesadaran manusia terkini. Mereka merasuki dan akan mengulang kembali kisah perang ini.

Semua senyap dalam pandangan, hanya duka yang tak berkesudahan terus menjadi teman.  Duka itu bukan untuk kau genggam, bisa dilepaskan dengan melihat perjanjian yang sudah ditetapkan. Itu bukan duka, tetapi kisah nyata dari sebuah perjuangan. Semua menjadi bagian dari perjalanan, tetapi hal tersebut jangan disesalkan, karena Perang Paregreg menjadi penentu setiap pejalan, sendirian atau berkelompok dalam menjalankan kehidupan.

Perang Paregreg sebentar lagi akan dihantarkan, maka bersiap sebagai selaksa perjalanan dalam menerima segala keadaan. Allahu Akbar. Ada perbedaan unsur yang menjadi penyebab semua terbengkalai dalam beberapa hal dengan berbagai keadaan, maka itu yg menjadi bagian.  Sesuatu yang terujar sehingga Bre Wirabumi menjadi duka yang sangat mendalam. Hal tersebut karena kematian Wijaya.

Selubung yang menyerupai tirai terangkat pada dinding goa, itu suatu mukjizat, karena selama ini Wijaya menjadi hal yang utama. Namun sayang, kabut tipis namun menutupi pintu gua tak terbayangkan ada sisa-sisa jejak perjalanan. Itukah Wirabumi atau Kamanjaya?

Sanghyang menatap Sri Surya yang terlelap dalam tidur yang nyenyak. "Jangan bangunkan aku dalam tidur nyenyak wahai sanghyang, kecuali ada hal yang mendesak, seperti titah Sangkakala."

 Iya, dalam jalurnya ada berbagai hal yang membuat sanghyang membangunkan Sri Surya, dia hanya ingin mengetahui dimana Kamanjaya dan Kamandaka, karena Wirabhumi mencari keduanya dalam derai air mata.  Namun teringat pesan Sri Surya, Sanghyang pun mengulurkan keinginannya.

“Oh Wijaya, dimana kau berada?”  Terdengar ratapan menyayat di balik gua.
 Semua terasa gelap bagi rasa yang terselimuti lenyap

Kekuatan Bre Wirabumi tak sanggup membangunkan yang sudah terbujur kaku di atas singgasana batu. Dialah putri tunggalnya yang mati mengenaskan, dengan menyayat sebilah keris pada tangannya yang terluka.

“ Apakah ini gara-gara Wijaya?”

“Bukan...”

Ini hanya rasa yang tersimpan dengan serpihan luka dari mata yang menyikapi sebagai kehancuran. : Dia tidak berujar, hanga memilih menyayat tangan dengan keris titipan dari Pujangga Keastuan Hulubalang untuk Sang Pangeran.

“Rentaknya menjadi kaku, perang belum usai menurutku...”  
Bergumam Bre dalam angkara sang ayah yang ditinggal merana.

Tak hanya raungan dan sayatan perpisahan, Wirabumi pun menghancurkan portal kematian dan kehidupan dengan dinding yang membuka lebar bagi dua dimensi yang berlainan. Senyum tawa dalam perang, tangis berderai dalam kekalutan, semua menjadi hancur oleh dinding keegoisan.

Layaknya yang berduka, Brhe Wirabumi pun memilih mundur atas apa yang telah dihancurkannya karena duka yang mendalam.

Perang Paregreg akan kembali berulang. Dengan lintasan dan kisaran yang berbeda ruang. Brhe bukan menutup perang dengan damai, tetapi dendam pada kehidupan berikutnya yang menjadi palung dalam setiap relung. Penyesalan ketika pintu portal yang hancur, tak akan bisa menutup sang waktu untuk mengulang segala hal peristiwa dan kejadian. Ribuan abad kemudian, itu akan menjadi tanda dalam setiap hal yang sudah tertera.

Sanghyang menatap Brhe dengan kekalutan, dia pun membangunkan Sri Surya yang sedang terlelap dalam tidur nyenyak.

“ Ada apa Sanghyang, kenapa kau bangunkan aku?”  Tegur Sri Surya

“Maafkan aku, Surya, lihatlah di sana, manusia telah menghancurkan dinding portalnya”

“Biarkan itu Sanghyang, karena memang sudah menjadi takdir perjalanannya”

“Lalu bagaimana dengan masa depannya?”

“ Tak usah risau, setiap garis keturunan bukan berarti penghancur kehidupan pada masa kehiduoan berikutnya.”

“Ingatlah ketika semua menjadi bagian dalam setiap keadaan ketika berada di hadapan-Nya? Memang ada dampak dari hancurnya, tetapi itu bukan berati kiamat bagi alam semesta. Hanya dia yang berbuat yang akan bertanggung jawab mendapatkan balasannya. Adapun yang lain, berada pada pijar garis perisai diri dengan jenjang yang sudah Allah tetapkan.”


Bersambung....

19012018

Januari 17, 2018

Menggugat; Sang Batara Kala (3)

Hasil gambar untuk sang waktu
Aduh...apakah aku tengah diam menunggu waktu? Ataukah waktu yang telah mendahuluiku? Manakah yang benar atas prasangkaan-ku ini. Atau mungkin waktu lah yang tengah mengejarku dan aku telah jauh meninggalkan sang waktu itu sendiri.

Yah, semua serba mungkin sekali. Sebab dengan kedangkalan pemahamnku ini semua hanyalah praduga dalam ilusi sang waktu. “Aku telah sampai di akhir dan waktu telah kutinggalkan.”  Demikian prasangkaanku. Aku tak peduli manakah yang benar. Mungkin saja aku yang telah keliru dan menjadi gila.

Sejak bertemu Batara Kala ada yang aneh dalam lintasan pikiranku. Benarkah aku memasuki dimensi waktu? Ataukah waktu yang memang diam untukku? Atau ada kekuatan lain yang begitu dashyat yang telah menghantarkanku dari satu ujung waktu ke ujung waktu lainnya?

Kekuatan siapakah? Apakah Batara Kala? Entahlah, yang kupahami  saat melintasi dimensi waktu tubuhku mengalami demam yang sangat tinggi. Panas yang sulit kumengerti dan anehnya begitu selesai kutuliskan satu demi satu pemahaman perihal waktu,  demam itupun menghilang, sirna begitu saja.

Seakan-akan dimensi waktu hanya sebuah memori yang menimbulkan hawa panas yang harus segera kukeluarkan. Yah, seakan dimensi waktu itupun sesungguhnya tidak pernah ada sama sekali.

Semua manusia meyakini bahwa waktu yang bergerak? Benarkah waktu bergerak? Lihatlah yang bergerak adalah penanda yang dibuat manusia saja. Tahun 2017 yang bergerak hanya angka di kahirnya saja dan baru berganti menjadi 2018, sebentar lagi akan berganti lagi menjadi 2019. Begitu seterusnya. Pada sistem kalender hanya angka yang berubah. Perhatikan apakah yang berubah dari sang waktu? Tidak ada bukan? Yang berubah adalah bentuk materi ke materi baru sebuah proses degradasi dan deformasi partikel. Materi baru yang disusun ulang dari materi-materi yang sudah usang.

Yah..sesungguhnya materi itulah yang memiliki batas ambang untuk menahan bekerjanya hukum-hukum alam. Hukuk aksi dan reaksi yang bekerja di alam bekerja juga terhadap setiap makhluk. Batu memiliki batas menahan tekanan sehingga lama kelamaan batu akan menjadi tanah.

Setiap organisme memiliki daya tahan yang berbeda-beda. Begitu halnya manusia. Tubuh manusia memiliki keausan yang sudah tertentu. Jika tubuh diberikan asupan yang baik secara fitrah akan mampu menerima beban tekanan hukum-hukum alam secara lebih baik pula. Setiap tubuh manusia terbatas untuk menahan beban tekanan hukum alam.

Proses melapuknya materi inilah yang sesungguhnya dibuat sebagai penanda waktu. Setiap atom pasti memiliki waktu paruhnya. Yaitu waktu diperlukan oleh suatu atom agar meluruh separoh dari masa hidupnya. Demikian halnya tubuh manusia.

Berdasarkan perhitungan kemampuan tubuh manusia akan mampu menahan tekanan beban hukum alam selama 63 tahun. Sebagaimana rosululloh. Dengan beban berat atas umat manusia di pundaknya tubuh beliau hanya mampu bertahan dengan usia tersebut. Allah Maha Teliti perhitungannya.

Jika memang benar sang Batara Kala yang menuntunku memasuki dimensi satu ke dimensi yang lainnya dalam urutan sang waktu, lantas apakah yang Batara inginkan dariku? Aku bukanlah pertapa sakti, bukan pula manusia yang memiliki kelebihan di ranah materi dan juga bukan manusia yang memiliki pengetahuan, apalagi akhlak terpuji. Kekelaman perbuatan dan pikiranku sebab adanya persan sertnya sang waktu itu sendiri yang membiarkan aku dalam lingkaran angan-angan.

Apakah pesan yang ingin disampaiakan sang Batara Kala?

***

Pokok pohon jati teronggok di tengah hutan. Rimbun daunnya kini telah pergi Jalan setapak yang biasa di lalui terkubur kabut. Darah dan jiwaku menyatu di telan bumi. Anganku menari dalam kebimbangan mencari pijakan dalam gamang.

Aku berjalan dengan mata hati. Bernafas hanya dengan tekad. Aku mendaki dengan penuh teka-teki. Apakah ini sebuah ilusi? Rasanya bukan. Pikiranku masih waras bahkan ketajaman sensor panca-indraku makin tajam saja. Sedikit saja energi yang melintas di depanku pasti ku ketahui siapa dirinya.

Tanda tanya gundah hati akankah terjawab? Bagaimanakah kutuliskan kisah ini jika hanya bagian akhir saja yang kuketahui? Apakah para pembaca memahami apa maksudku. Bagaimanakah jika sebuah film hanya ada gambar pembuka dan penutup saja? Layakah film tersebut dinikmati?

Mengapa manusia selalu saja ingin membuka rahasia haib? Ingin tahu bagaimana akhir kejadian dari rangkain perjalanan kehidupannya? Manusia selalu tergesa-gesa sampai di akhir cerita. Manusia tidak sabar mengikuti  proses dan menetapi jalannya cerita, menikmati sensasi melodrama yang menguras air mata. Sehingga disana teasa benar bagaimana jiwa mengalami dinamika. Mengaduk rasa dan juga membangkitkan sensasi indrawi.

Demikian yang terjadi pada sosok maha sakti yang kemudian dikenali dengan sang BATARA KALA. Kemampuannya yang luar biasa membuatnya lupa bahwa akhir cerita adalah wewenang sang sutradara tidak ada satupun manusia diijinkan melihat bagaimana akhir sebuah cerita setiap diri manusia. 

Mengapa sang Batara ingin mengungkap rahasia dirinya sendiri? Ingin mengetahui bagaimana akhir percintaaannya? Aduh...mengapa tetap saja tingkat spiritualitas yang tinggi tidak mampu membentengi dirinya dari amuk rahsa cinta?

Manusia hanya diberikan petunjuk rambu-rambu saja agar dalam menikmati perjalanannya itu tidak tersesat. Rambu-rambu yang sangat jelas terbaca. Manusia juga diberikan sistem navigasi yang luar biasa dimana hatinya memiliki intuisi yang tajam sekali mampu merasakan sesuatu yang akan terjadi di masa depan sebagai ilham.

Masih ada sistem ketubuhan yang ampu menjaga manusia dari marabahaya taitu sistem instinct manusia. Maka mengapakah manusia tidak menggunakan seluruh kemampuannya itu untuk menyelesaikan satu etapa demi satu etapi perjalannya. Satu makom demi satu makom dengan kesabaran agar sampai ke garis finish dengan hati puas tenang dan ridho.

***

Sang Batara Kala ingin menepis anggapan dan prasangka manusia yang menganggap bahwa Batara Kala adalah sosok monster yang suka melahap manusia. Batara Kala adalah manusia yang telah menjalani sisi spiritualitasnya sehingga mencapai level kebataraannya. Sisi kemanusiaannya telah menempati satu makom lebih tinggi yaitu BATARA.  Karena sebab pencapaian levelnya tersebut alam menganugrahi kepada dirinya kemampuan untuk melintasi dimensi waktu.

Namun sebab apa dengan kemampuannya tersebut Batara Kala ingin segera menutup sang waktu, mengakhiri perjalanan setiap manusia? Sehinga manusia dengan sekejap sampai diujung waktu? Bukankah itu menyalahi jalan skenarioNYA? Apakah sebab kecintaanya akan seorang wanita? Ah...jika soal cinta ini tidak hanya Batara bahkan Dewa juga mengadapi problematika yang sama. Karena sebab cinta Dewa diturunkan derajatnya.

***

Dibiarkaannya embun menguap dari kepala. Satu demi satu pemahaman disajikan dalam sebuah harapan jangan sampai ada yang mempercayai kisah ini. Mengapa? Yah, sebab keinginan tahuan manusia yang tanpa batasan itu akan melanggar ketentuan hukum-hukum alam. Siapapun yang memasuki dimensi sang waktu pasti ingin tahu segalanya. Terutama adalah bagaimana nasib dirinya.

Wolohualam bisawab
Bekasi 1610208