April 01, 2018

Sang Guru Bumi (1): Misteri Kematian


Hasil gambar untuk malaikat



Hamparan ilalang kedukaan. Bentangan awan kesedihan serta turunnya  hujan.  Mengiringi air mata kedatangan. Membasahi rimba  dan gelapnya  jiwa.

“Aduhai kekasih dimanakah kau letakan hati” 

Ujarnya menghiba. Kematiannya telah membawanya ke dimensi yang tak diketahuinya. Sementara lekat pekat cinta akan kasihnya terus saja mencengkeramnya,  memakunya di bumi. Lengkingan kesedihan menyayat malam yang panjang.

+++

“Cinta model apakah ini”  Gumam lelaki setengah baya, yang entah mengapa dirinya terkoneksi dengan alam ghaib yang terbuka. Sehingga seharian perasaannya tidak tenang.

“Cinta bukan hanya menerima namun cinta juga adalah keberanian untuk melepaskan” Gerutunya kepada jiwa yang menyambanginya.

Enggan rahsanya mengkisahkannya kejadiannya disini. Namun entah mengapa tangan ini tak mampu ditahannya. Kesendirian adalah sebuah perjuangan.  Bukan hanya mahluk itu saja yang menderita sebab kekasih. Semua makhluk pasti sempat merasakannya. Lantas apa maksud kedatangannya menyambangi dirinya. Apalagi  membawa duka kematian?

Heh, kekesalannya terbawa ke alam tidur. Dihadapkan jiwanya kepadaNya agar tidak terbawa arus pusar  tornado yang terbawa oleh   jiwa makhluk tersebut.

“Lepaskanlah wahai jiwa!. Kematian bukanlah akhir dari sebuah cinta. Kematian justru akan menghantarkan kepada cinta yang sesungguhnya. Butalah mata jika tidak mengenali cintaNya. Kembalilah, tinggalkan dunia dan isinya. Tenanglah di alam sana. Tiada satupun makhluk yang akan dirugikan.”

Masih dalam menahan kekesalan, laki-laki itu terus saja menasehati.

“Telah ditahannya 99% cinta dilangit sana untuk para kekasih. Tidakkah engkau tahu hanya  1% yang dibagikanNya untuk seluruh makhluk di alam semesta.  Dan bagian yang sedikit  itu yang engkau perebutkan bersama kekasihmu? Celakalah engkau wahai pecinta. Sesungguhnya bukan matamu yang buta. Namun hatimulah yang buta. Sedemikian besar cinta yang akan DIA berikan, namun engkau menyelingkuhiNya. Tinggalkanlah kekasih semu. Kembalilah kepadaNya. Dan itulah sebenar-benarnya cinta.”

Lelaki itu diam dalam kesadarannya. Disapanya langit dan bumi dan segala makhluk yang melintasi pikirannya.

+++

 “Tiadalah makhluk mampu memberikan cinta, sebab untuk dirinya saja mungkin tidaklah cukup. Manusia sesungguhnya telah bangkrut. Jiwa mereka telah miskin akan kasih sayang. Mereka mengharap pasokan kasih sayang dari makhluk lainnya. Jiwa mereka membutuhkan pasokan energi kasih sayang jika tidak mereka akan berubah menjadi monster yang mengerikan. Maka jika kalian memilikinya, maka  sodakohkanlah barang sedikit. Mungkin saja sedikit cinta akan menentramkan jiwa-jiwa yang mengelana”   


Mendadak sang Guru Bumi menyelinap dalam kesadaran laki-laki tersebut. Menghentakan kesadaran jauh ke lubuk hatinya. Dirinya tersadar bahwa sesungguhnya energi kasih sayangnya pun sebentar lagi akan padam. Jiwanya akan berubah laksana vampir yang akan menghisap kasih sayang dari makhluk lawan jenisnya. Dirinya akan mengejar dan memintanya dari lawan jenisnya. Berupa perhatian, berupa pengorbanan, berupa apa saja yang dibtuhkan jiwa.  Dirinya akan selalu meminta dan tidak akan pernah mampu memberikan kasih sayang. Jiwanya telah berubah menjadi monster adanya.

Iba dirinya akan menenggelamkannya ke palung kesadaran. Jiwa kemanusiaannya akan tertutup maka perhatikanlah bagaimana nanti perilakunya? Bentuknya saja manusia namun jiwanya sesungguhnya adalah makhluk haus darah. Makhluk yang akan senantiasa menumpahkan darah. Makhluk yang akan senantiasa menuntut dan menuntut kepada siapapun. Jiwanya haus kasih sayang bahkan jika air  lautan diubah menjadi air minum, itu tidak akan cukup untuk meredakan hausnya walaupun sedikit.

Sang Guru Bumi tersenyum kepadanya. Wajahnya teduh, jenggot tipis di elusnya dengan perlahan. Membiarkan lelaki tersebut tercenung sendirian. Sudah saatnya manusia memahami hakekat kematian. Kematian sesungguhnya adalah kelahiran. Begitulah pesan sang Guru. Kematian dari seluruh nafsu manusia akan melahirkan kehidupan berkasih sayang. Maka jangan salah memahami. Oleh sebab itu janganlah tangisi kematian. Sebab kematian itu sendiri adalah pembebas dari penderitaan. Lahirnya kehidupan berasal dari kematian.

Manusia yang hidup wajib belajar mati. Matikan seluruh nafs yang hidup. Hidupkan lampu kasih sayang yang mati agar hati menjadi terang. Nyalakan terus hingga semua makhluk yang mati, terterangi jalan-jalannya.  “Mati sak jroning urip”  Bukankah itu pengajaran para nabi? Matikan nafs dan hidupkan hati. 

+++

“Matikan nafs dan hidupkan hati?”

Laki-laki itu bergumam sendiri tak mengerti. Ingin dirinya menanyakan kembali. Sayang sang Guru Bumi telah pergi. Menyisakan tanda tanya dihati. Bagaimanakah caranya? Bagaimana dengan arwah yang mendatanginya? Bukankah dirinya telah mat? Mengapa dirinya diminta mengajarkan hakekat kematian kepada makhluk yang sudah mati? “Rasionalnya dimana?”

Sungguh kemampuannya memasuki alam-alam ghaib kini menjadi dilema tersendiri. Bukan salah para makhluk itu datang dengan jiwa-jiwa mereka yang penasaran atas hakekat kematian. Mereka tidak merasa mati. Karena tidak merasakan mati maka mereka menyambangi lelaki itu memohon pertolongan agar dirinya mampu tetap bersama kekasih hatinya.

“Kalau begitu apakah hakekat hidup itu sendiri?”

+++

Laki-laki itu tak mampu melanjutkan kontemplasinya lagi. Dari tempat yang jauh, rekannya sedang menyambangi rumah temannya. Katanya suaminya baru saja meninggal belum lama. Sering dia bersapa-sapa seakan akan suaminya masih ada. Laki-laki itupun menghela nafas. Berdoa agar mereka berdua suami-istri ditenangkan jiwanya dalam menghadapi takdir kematian dan kehidupan diantara mereka berdua. Dua keadaan yang terpisah namun sama hakekat keadaan bagi mereka.  Hati mereka masih terpaut satu sama lainnya.

“Hhh...Hidup saja begitu misteri apalagi kematian?”

Laki-laki itu kembali berguman. Melanjutkan perjalannya kembali belajar bersama sang Guru Bumi.

Salam



Maret 24, 2018

Kembalinya Sang Guru Bumi (1)


Hasil gambar untuk sufi dan wali



B
iarkan kisahku ini untuk aku sendiri. Biarlah yang hilang tetap hilang. Biarlah yang pergi tetap pergi. Biarlah akan kukisahkan kisahku sendiri. Biar menjadi catatan perjalanan dikehidupan terkini. Biarlah menjadi kenangan tentang sebuah diri yang terus berjuang dan berusaha mengenali makna keberadaannya di bumi. Perjalanan yang sungguh sepi. Tak bisa diri menerima. Tak bisa perasaan ini mengingkari semua terwujud begitu saja dalam kesadaran. Memaknai Cinta ini yang begitu tersembunyi.  Cinta yang sendirian. Hingga diri tak mengenali ujudnya. Meyadarkan aku. Bahwa ini adalah kenyataan.

Kesaksian yang sulit diceritakan. Sebuah rahsa yang hilang dari peradaban. Rahsa kasih sayang. “Hhhh...benarkah hilang”. Tersungut diri dalam ingatan. Benarkah telah hilang kasih sayang dihati. Seperti angin yang pergi dan tak menyapa lagi. Tidak saja hawanya, bahkan aromanya pun tak terasa. Lantas harus kucari kemanakah? Sebab semua keadaan adalah menyoal keyakinan. Rasanya tidak ada yang hilang namun mengapa terasa hilang? Lantas apakah hilang dan pergi itu? Apakah kehidupan itu? Sebuah pertanyaan yang tidak pernah tuntas mendapatkan jawaban. Dan ketika hujatan demi hujatan berdatangan disini, maka diri hanya memilih pergi dan berdiam diri cukup lama. Yah, sudah cukup lama kisah tidak dihantarkan lagi disini.

Membuka kembali catatan. Mencoba berdiri dan berani lagi menuliskan disini. Meski kadang kekhawatiran menghampiri, adakah yang akan menyerang dan menghujatnya lagi? Mengapa tidak, bukankah ini hanya sebuah kisah yang berguna untuk diri sendiri. Sebuah catatan yang kebetulan digoreskan disini. Biarkan saja yang datang dan kemudian mencaci maki. Biarkan saja yang bernyanyi kecil dengan sinis sambil pergi. Begitulah memang alam memberika panca indra kepada manusia untuk dan agar mampu merasakan apa saja. Indra penciuman misalnya mampu mencium yang harum dan juga yang bau busuk. Biarkan bau busuk lewat atau pindahlah ketempat yang wangi. Bukankah hanya itu pilihannya? Mengapakah harus dirisaukan lagi?

Ketetapan diri ingin begitu, menggoreskan lagi kisah demi kisah agar tidak terlupa. Sehingga jika suatu saat lagi ingin kembali membuka kenangan bisa kesini. Bukankah hidup adalah serangkaian kenangan? Maka wajar saja jika kemudian manusia selalu ingin tahu masa lalu. Ingin tahu siapakah dirinya di jaman dahulu. Meski dengan itu dirinya akan merasakan reka adegan, bagaimana saat dahulunya dendam rindu membekap pikiran memaksa jiwa melayang berusaha menghindar dari bayang kelam. Cinta akan selalu mencari muaranya. Seumpama air yang akan terus mencari jalan pulang. Demikianlah cinta dan perasaan. Dimanakah muara sumber kasih sayang? Demikian jiwa hilang timbul dan tenggelam dalam ketidakpastian. Hanya sebuah kesadaran yang sayup terdengar. “Aku ingin pulang” Lirih saja diucapkannya. Sungguh jiwa tak sanggup menahan beban rahsa jika semua kenangan terbangkitkan dikekinian.

Waktu ingin dihentikan namun disisi lainnya waktu juga ingin diputar ulang. Mengapa jiwa begitu? Terbolak-balik keadaannya. Demikian sulitnya memahami ini. Terkadang ingin menghentikan kisah ini agar tidak menjadi beban bagi orang yang mendustakan, namun anehnya seiring dnegan itu ada saja orang yang menghubungi kemudian merasa ikut merasakan atas apa-apa yang dikisahkan. Dua perasaan dua keadaan jiwa yang bertentangan membombardir kesadaran. Diri kembali ingin mengurai catatan. Mencari jawaban apakah maknanya?

“Sa jane kuwi sing kuminep sumine. Lakon apik yo ja jane rambine apik kulamang sambyang. Jajane kuwi simng lambine rumatan kaminep sumkabeh lum kurine, sum kulamat singbapik yen kurane rambang.
Rumbane rumatan sing sapimen sungaben rumtangen susane suminep. Wis tak lampane kuwi singbrambine ruminep rungsi sambine runjane suminep kasimun ngambare kuriben lambine suminep rambane kuminten. Sim kulimet kurimen sunginep, yo wis sambine sing apik
Sing kuwi sing pinatan, yen rumatan kamine suwi. Kumbine sing apik, kulune pantimen junganane sing saminep”

Sesungguhnyha setiap hal yang menjadi bagian masing-masing kamu akan mendapatkan bagianmu  dengan semestinya. Demikian juga mereka. Masing-masing akan mendapatkan bagiannya. Tidak ada yang mengingkari janji. Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Peran serta dalam kehidupan menjadi bagian dari rencana dan rancangan dalam pengelolaan alam semesta. Terima itu sebagai Takdir dari Yang Maha Kuasa.

Semua berada pada garis yang telah ditetapkan-Nya. Lihat dan amati untuk menjadi hikmah pada setiap peristiwa. Jangan bersedih, karena kehidupan berada pada kuasa-Nya.

Berangkat ke wetan, di sana akan menemukannya, dalam rangkaian yang menjadi perjalanan menuju kehidupan yang berperadaban. Seumpama itu memang sebagai suatu bukti, maka Kami buktikan dengan memenuhi janji Kami. Ini adalah sebuah perjalanan suci, maka hadapi dengan kesucian dan keikhlasan diri. Rintangan dan tantangan akan hilang, pasti ada penyelesaiannya dalam setiap yang dihadapkan.

Ingat, semua sudah kehendak Yang Maha Pengatur Alam, terima dan jalani perjalanan sesuai kehendak-Nya.

+++

Diri dalam guratan panjang kesedihan. Ketika sangsakala menggema, tak ada yang bertanya ada apa? Semua kaget karena melihat diri berada pada berbagai pecahan dengan daya yang masih ada di antara berbagai keadaan yang menjelma. Sangkakala terus menggema, tetapi manusia tetap asik dengan kesenangannya, mengikuti emosi dan keegoisan dirinya. Lelaki itu yang menyadari hakikat setiap peristiwa, dia tak dapat berkata apa2, hanya membeku diam di antara hiruk pikuk teriakan yang menyuarakan sejatinya diri di hadapan yang lainnya. Sedangkan dia menangis, menangis sejadi-jadinya, karena sang kala sudah memecahkan semua dalam lengkingannya yang panjang namun tidak terdengar oleh sebagian orang. Hanya orang-orang yang beriman yang akan mengetahui dan mengenalnya. Tabuhan yang bersahut-sahutan membawa riang, gelombamg yang yang bergerak di dasar samudera tidak terasa karena gelombangnya pelan dan berirama dalam hempasan irama sangkala dalam cinta Sang Maha Pencipta.

 Itu ada di antara berbagai hal yang menjadi nyata pada kehidupan dengan berbagai hal yang menjadi dasar bahwa perjalanan memang sedang terus berputar dan dan berputar.

 Sangsakala terus meniupkan serulingnya, bersama awan dan angin menebar kerinduan akan hakikat kehidupan yang sejatinya sudah berjalan dan bergelak. Tak mengelak kuasa dan kehendak Tuhan, itulah bagi pecinta yang mencintai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kebenaran bukan berada dalam aku benar, tetapi berada dalam keikhlasan. Lirihnya dalam rintih, menjadi nyanyian penyeimbamg dalam memaknai hakikat kekuasaan Tuhan.

Semua berkehendak dslam bicara, tetapi diam seribu kata dlaam cinta sang naga, naga yang menjelma dengan berbagai kuasa, bukan hanya materi tetapi dengan keegoisan pemenuhan diri sendiri.

Lirik dan lirih tak lagi menjadi asih, tetapi semua menjadi gegap gempita dalam semua rasa, menjelma pada dewa-dewa dan titisan-titisan padahal itu hanya cinta dalam emosi pemenuhan keegoisan diri. Sang diri menari dengan mewujud dan melaku dalam riang yang menjadi perjalanan tak terelakkan di antara jiwa-jiwa yang menyerap dalam jiwa yang memenuhi kehendak. Sang jiwa pun terus terkoyak pada realitas yang menjadi paduan pada setiap kehidupan yang terkapar di penghujung kehidupan.

Sementara tangkaian dalam desain yang menjadi silsilah dengan berbagai kehidupan yang menjadi kuasa atas diri sendiri yang tak bertuan. Lihat pada sebuau cerita yang menjadi perjalanan tak putus dari derita ketika ia menganggap itu sebagai sebuah bencana. Sesungguhnya kehidupan diri di antara dua perapian yang menyala, ada singa yang akan menerkam setiap baris kata yang penuh emosi jiwa.

Rintang rantung rakyan rakyun wkyuni aji bati.

Perbedaannya sangat jelas, ketika keangkuhan itu terus menghantam, maka realitas yang akan terus berkurang. Tetapi bila realitas dalam satu wadah tanpa pita, maka itu di antara dua dilema. Hanya saja setiap keadaan yang bermakna dan tanpa makna menjadi keegoisan jiwa-jiwa.

Setiap lirik ini tak ada yang ajan akan terus berkembang tanpa tahu alasannya. Sebuah keyakinan yang menjadi dasar.

+++

Aduh, apakah diri dalam supata?

Sesungguhnya ada hal-hal yang terlewat dan terlihat dengan berbagai rangkaian dalam melihat kehidupan. Aku menyaksikan itu, ketika semua berperang demi ego masing-masing. Maka dalam perjalanannya ada yang memilih diam, ada yang berbicara lantang, ada yang kemaruk dengan segala hal yanh sudah didapatkan, maka itu kan berulang, dan terus berulang

Kalian akan menyaksikan itu berimbas pada proses rangkaiannya. Tetapi berdasarkan rangkaian dari perjalanan kemaren, maka lihat dengan hikmah mata batin sebagai manusia, khilafah di bumi.

Kami khawatir perjalanan ini malah akan menyesatkan dan menyambung pada keegoisan diri, tetapi kami merasa bangga dan tersanjung bahwa jejak ini masih ditelusuri dan pengajaran akan aji luwung pangesti asih menjadi perjalanan kalian. Memang yang menjadi kekahwatiran itu bagian titak yang menjadi kesaksian kalian. Itu terlalu berlebihan, tetapi kalian akan menyaksikannya. Hal yang utama, adalah mawas diri, dan penghasutan yang menerka pada setiap diri yang mengaku turunan suci. Tak ada yang mengingkari, ego itu ada dalam diri, tapi lihat setiap hal yang nampak, itu dalam jiwa. 

Nun jauh dalam dimensi tak kasat mata, hanya mampu dipindai oleh kesadaran manusia yang sudah mensucikan jiwanya nampak dialektika dua insan.

 Harisbaya, berkata.  “Sesungguhnya aku menjadi saksi dalam perjalanan ini, seumpama aku menjadi bagian diri itu bukan untuk menjadi hal yang semestinya smaa sekali, aku ada du angada relung-relung itu yang menunggalkanku dalam djri yang menjadi wanita piliham suci. Seumpama semua yang berlanjut dalam hal ini aku mengerti, tak ada yang melaju dalam satuan waktu, maka lihatlah itu bahwa aku menjadi batu karena ulahku sendiri, apakah kau akan meniruku seperti itu? Seumpama bumi berputar dan aku kembali ke dunia, tak akan aku lakukan itu, tetapi aku menjadi bagian itu, maka lihatlah itu sebagai bagian perjalanan itu. Jika ada yang bertanya dimana rupa dunia? Itu ada di wajah2 alam semesta yang menjadi butiran kehendak Yang Maha Kuasa.”

Batara Giiri menimpali, “Ah Jejak langkahmu tak menentu Harisbaya, kenapa kau lebar pilu pada semua anak keturunanmu, bila dendam itu ada, maka lihatlah itu sebagai dirimu selaku manusia?”

“Yah, aku bangga, karena aku berada dalam barisan yang mereka banggakan saat ini, bahkan banyak yang mengaku keturuananku, bukankah itu membuktikan bahwa aku masih menjadi bagian panutan itu? Hahahaha...padahal meraka tidak tahu, untuk gelar putri itu aku membunuh kemanusiaanku” Menjawab Harisbaya.

Langit meredup dalam ketidakpastian. Adakah diri yang mampu menyaksikan manakala duan insan makhluk alam semesta berbincang. Batara Giri kemudian menutup perbinjangan ghaib dengan Harisbaya. Disaksikan angin, awan dan hujan batara Giri berpesan. Sang diri diam menyaksikan perbincangan itu. Diam menjadi saksi yang menyaksikan.

“Jejaknya menjadi hal yang seperti pilu, tetapi itu keutuhan yang menjadi perjalanan. Gandasuka dan Ajiwinarya bukan bagian dari yang membanggakan, tetapi tetap dibanggakan, begitu oun dengan dirimua Harisbaya? Kenapa demikian.: Karena itu kehendak Tuhan, maka dalam sing winarsih aji pangestu rangkyan asih, wista aji waktu.  Deru debu yang menjadi luapan angin, seumapama itu seuatu perjalanan, apakah tetap akan membanggakannya?

Tetapi memang demikian adanya, ada orang yang berbangga dengan silsilah keturunan, malah tak jarang yang mencari pengukuhan pada makhluk yang hadir dengan sejenak entitas yang menyertainya. Itu hal yang biasa dan wajar. Ketika ada yabg hadir, maka lihatlah itu sebagai kasaksian, bukan keyakinan. Karena yang menyertainya bukan para keluhur itu, tetapi entititas yang menyertainya makhluk2 yang kekal, yang hadir dalam perjalanan sampai dia mebyaksikan keberadaan manusia sekarang. Maka, ketika hadir dalam wajah keinginan, mereka tampil sesuai dengan yang harapkan.

Sesungguhnya yang harus diperhatikan oleh jiwa-jiwa kalian, bukan bayangan atau kisah-kisah di balik kesaktian atau kehadiran, karena itu bukan manusia atau yang dianggap leluhur yang hadir, tetapi para entitas yang ada, seperti makhluk siluman, setan, jin dan segala nama dimensi yang tak perlu aku sebutkan. Dia hadir untuk membantu pikiran kalian, yang menerjang, ingin menjadi bagian dari keturuanan. Sesungguhnya itu sungguh memprihatinkan, tetapi tugas mereka demikian.

Maka semua kembali kepada perjalanan kalian, karena Allah, atau kebanggaan pada ego diri yang menerjang. Letaknya dalam hati, letaknya dalam jiwa. Setiap bidadari menyadari kesalahan jiwanya, setiap putri memahami keadaan nasib, setiap hal yang menjadi bagian dari ego-ego yang menyertainya, maka itu bak hamparan yang saling bekejaran pada setiap jiwa yang melayang dan membangkang. Wallahu'alam

Selamat jalan jiwa-jiwa yang bertebaran dalam genggaman keinginan, selamat menumukan apa yang diharapkan. Maka, itu yang akan kalian saksikan, wallahu'alam”



Salam
Noted: Kisah Kembalinya Guru Bumi ini mengakhiri kisah perjalanan Mas Thole yang tidak akian dikisahkan lagi.

Januari 22, 2018

Kembalinya Bhre Wirabumi (2); Perang Yang Tak Usai


Hasil gambar untuk perang paregreg

Kanvas putih di sudut ruang. Satu titik dalam kesepian. Merayapi kegelapan malam. Menggores perlahan, satu huruf demi satu huruf dalam bahasa kawi. Tekanan tak sama dari setiap hurufnya. Seperti menahan beban. Nafasnya tertahan diantara iga dan belikat.  Kemudian dihempaskannya dalam satu erangan.

“Argh......!”

Getaran hawa magic membangkitkan alam alam kesadaran. Kesedihan yang melumatkan hati. Erangan siapakah itu? Adakah Bhre Wirabumi? Kisah Menak Jingga dan Dhamarwulan yang terbangkitkan? Kisah Majapahit Timur dan Barat yang luput dari semua kajian. Kisah rindu dendam para penguasa kerajaan. Kisah yang dibadikan oleh perang. Perang Paregreg. “Dari sisi manakah keindahan perang?”

***

Lolongan anjing bersahutan. Jemari gemetaran tak mampu ditahan. Tangan seperti ingin menuliskan. Namun diotaknya tidak ada referensi atas huruf dan bahasa yang ingin disampaikan.  Menangis dirinya terguguk, sementara dibiarkan tangan menggoreskan satu huruf demi satu huruf. Huruf yang kemudian membentuk satu kata, yang dirangkaiankannya menjadi alinea. Tubuh gadis belia itu jatuh berdetam ke lantai. Mata terpenjam, wajah pias dalam penderitaan.

Energy dari dimensi masa lalu yang menyeruak masuk mengahantam kesadarannya, seakan tak mau berhenti.  Mengangkat tubuhnya menarik, meliuk bagai selendang di tangan para penari. Lunglai sekujur persendian. Kesadaran gadis itu hanya mampu menyaksikan bagaimana raganya dibuat seperti layang-layang oleh energy yang menyusup dan menguasai. Apakah leluhur Majapahit Timur sudah mulai berdatangan?

Kedatangan demi kedatangan yang tak dipahami, untuk apakah para leluhur datang ke masa kini dan akan memulai perang lagi?  Raga raga anak keturunan mereka kini menjadi ajang pertempuran baik di ranah kesadaran maupun di ranah nyata. Hingga tubuh  gadis belia itulunglai tak mampu menahan beban,  sering jatuh pingsan di keramaian. Keadaan itu tentu saa mengkhawatirkan.

***

Sosok lelaki setengah baya itu menghela nafas berat. Hidup dan kehidupan adalah sebuah permainan yangharus dimainkannya. Semisal masuk ke dalam sebuah film petualangan ‘JUMANJI’ seluruh permainan harus diselesaikannya, jika tidak dirinya akan terjebak selamanya di permainan ini. Dirinya akan terus terjebak di raga terkini. Jikalaupun kemudian mati paling hanya akan berganti raga lagi. Mengapa ksadarannya mesti terbangkitkan. Mengapa dirinya mesti harus tahu seluruh reka kejadian. Rasanya baru kemarin ini dia mati. “Bhre Wirabumi” Desahnya memecah kesunyian.

“ Sa jane kuwi sing kuminep sumine. Lakon apik yo ja jane rambine apik kulamang sambyang. Jajane kuwi simng lambine rumatan kaminep sumkabeh lum kurine, sum kulamat singbapik yen kurane rambang.
Rumbane rumatan sing sapimen sungaben rumtangen susane suminep. Wis tak lampane kuwi singbrambine ruminep rungsi sambine runjane suminep kasimun ngambare kuriben lambine suminep rambane kuminten. Sim kulimet kurimen sunginep, yo wis sambine sing apik
Sing kuwi sing pinatan, yen rumatan kamine suwi. Kumbine sing apik, kulune pantimen junganane sing saminep”

Seperti sebuah pesan yang terbaca dalam monitor ingatannya. Bagaimana support system mengajarinya, memandunya agar dirinya mampu menyelesaikan seluruh permainan dan dapat kembali pulang ke alam kelanggengan. Betapa jiwanya sudah merindukan pulang. Merindukan berdua dengan Tuhannya yang telah mencipatkannya.

"Setiap hal yang menjadi bagianmu akan mendapatkannya dengan semestinya. Tidak ada yang mengingkari janji. Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Peran serta dalam kehidupan menjadi bagian dari rencana dan rancangan dalam pengelolaan alam semesta. Terima itu sebagai Takdir dari Yang Maha Kuasa.  Semua berada pada garis yang telah ditetapkan-Nya. Lihat dan amati untuk menjadi hikmah pada setiap peristiwa. Jangan bersedih, karena kehidupan berada pada kuasa-Nya.

Berangkat ke wetan, di sana akan menemukannya, dalam rangkaian yang menjadi perjalanan menuju kehidupan yang berperadaban. Seumpama itu memang sebagai suatu bukti, maka Kami buktikan dengan memenuhi janji Kami. Ini adalah sebuah perjalanan suci, maka hadapi dengan kesucian dan keikhlasan diri. Rintangan dan tantangan akan hilang, pasti ada penyelesaiannya dalam setiap yang dihadapkan

Ingat, semua sudah kehendak Yang Maha Pengatur Alam, terima dan jalani perjalanan sesuai kehendak-Nya."

Ketika sangsakala menggema, tak ada yang bertanya ada apa? Semua kaget karena melihat diri berada pada berbagai pecahan dengan daya yang masih ada di antara berbagai keadaan yang menjelma. Sangkakala terus menggema, tetapi manusia tetap asik dengan kesenangannya, mengikuti emosi dan keegoisan dirinya.

Lelaki itu yang menyadari hakikat setiap peristiwa, dia tak dapat berkata apa2, hanya membeku diam di antara hiruk pikuk teriakan yang menyuarakan sejatinya diri di hadapan yang lainnya. Sedangkan dia menangis, menangis sejadi-jadinya, karena sang kala sudah memecahkan semua dalam lengkingannya yang panjang namun tidak terdengar oleh sebagian orang. Hanya orang-orang yang beriman yang akan mengetahui dan mengenalnya. Tabuhan yang bersahut-sahutan membawa riang, gelombamg yang yang bergerak di dasar samudera tidak terasa karena gelombangnya pelan dan berirama dalam hempasan irama sangkala dalam cinta Sang Maha Pencipta.

Itu ada di antara berbagai hal yang menjadi nyata pada kehidupan dengan berbagai hal yang menjadi dasar bahwa perjalanan memang sedang terus berputar dan dan berputar.

Sangsakala terus meniupkan serulingnya, bersama awan dan angin menebar kerinduan akan hakikat kehidupan yang sejatinya sudah berjalan dan bergelak. Tak mengelak kuasa dan kehendak Tuhan, itulah bagi pecinta yang mencintai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kebenaran bukan berada dalam aku benar, tetapi berada dalam keikhlasan. Lirihnya dalam rintih, menjadi nyanyian penyeimbamg dalam memaknai hakikat kekuasaan Tuhan. Semua berkehendak dslam bicara, tetapi diam seribu kata dlaam cinta sang naga, naga yang menjelma dengan berbagai kuasa, bukan hanya materi tetapi dengan keegoisan pemenuhan diri sendiri.

Lirik dan lirih tak lagi menjadi asih, tetapi semua menjadi gegap gempita dalam semua rasa, menjelma pada dewa-dewa dan titisan-titisan padahal itu hanya cinta dalam emosi pemenuhan keegoisan diri. Sang diri menari dengan mewujud dan melaku dalam riang yang menjadi perjalanan tak terelakkan di antara jiwa-jiwa yang menyerap dalam jiwa yang memenuhi kehendak. Sang jiwa pun terus terkoyak pada realitas yang menjadi paduan pada setiap kehidupan yang terkapar di penghujung kehidupan.

Sementara tangkaian dalam desain yang menjadi silsilah dengan berbagai kehidupan yang menjadi kuasa atas diri sendiri yang tak bertuan. Lihat pada sebuau cerita yang menjadi perjalanan tak putus dari derita ketika ia menganggap itu sebagai sebuah bencana. Sesungguhnya kehidupan diri di antara dua perapian yang menyala, ada singa yang akan menerkam setiap baris kata yang penuh emosi jiwa

Rintang rantung rakyan rakyun wkyuni aji bati.

Perbedaannya sangat jelas, ketika keangkuhan itu terus menghantam, maka realitas yang akan terus berkurang. Tetapi bila realitas dalam satu wadah tanpa pita, maka itu di antara dua dilema. Hanya saja setiap keadaan yang bermakna dan tanpa makna menjadi keegoisan jiwa-jiwa.  Setiap lirik ini tak ada yang ajan akan terus berkembang tanpa tahu alasannya. Sebuah keyakinan yang menjadi dasar.

Bersambung...

20/012018