Oktober 22, 2017

Kisah Spiritual Mawangi: Pembelajaran Makhluk Ghaib



Atom tanah, air, udara dan api yang menyusun raga ini berasal dari Ibu Pertiwi. Ibu meminjamkan semua yang ragamu butuhkan. Kehidupan dan kasih sayang. Langit dibiarkan hijau tanpa tiang. Agar engkau mampu melihat bintang bintang.

Ketika Ibu memperjalankan ragamu untuk suatu keperluan, mampu kah dirimu berserah diri, membiarkan ragamu dipinjam oleh Ibu barang sebentar. Tidak akan lama...hanya sebentar saja...agar diri paham dari mana manusia diciptakan. Dari tanah Nusantara ini. Dari atom atom yang berganti ganti menyusun raga. Semua dari debu-debu tanah milik Ibu.

Tidakkah perhatikan manakala Ibu mengganti sel sel yang mati  dengan atom atom tanah yang baru. Setiap bangun tidur raga mu sudah baru. Jutaan atom tanah sudah diganti. Sel sel selalu baru. Tidakkah Ibu penuh kasih? Mempersiapkan segala kebutuhan ragamu. Membersihkan dan memberikan udara untuk di hirup. Menumbuhkan pohon2 untuk hidup. Menundukkan binatang utk ternak. Pendek kata semua yang engkau butuhkan untuk hidup di dunia sudah Ibu persiapkan dengan baik.

Masih adakah yang kurang anakku? Sehingga engkau perlakukan Ibu sedemikian rupa. Adakah engkau punya hati anakku, yang dengan hati itu engkau mampu melihat keadaan Ibu. Sungguh bukan matamu yang buta, namun hatimu bagai batu. Tidak mampu melihat apa yang nampak di depan matamu itu.

Salam
Ibu Pertiwi

***

Membaca skenario Tuhan? Allah akan memberikan kemenangan kepada umat Islam?  Janganlah terlalu bermimpi tentang kemenangan itu. Lihatlah bagaimana keadaan umat Islam yang kalah dimana mana. Tidakkah sadar bahwa , banyak syarat dan prasyarat untuk kemenangan disana?. Situasi yang hampir tidak mungkin terwujud pada dasawarsa ini. Entah di masa depan nanti.  Hhh...lihatlah sekali lagi,  diseluruh dunia, apakah disana nampak kemenangan?  Umat Islam tertatih tatih dihantam prahara perang antar saudara. Perang klaim kebenaran dari satu mahzab dan mahzab lainnya. Peperangan yang tiada ujung akhirnya.

Padahal perang kebenaran tersebut sudah lebih dari seribu tahun lamanya. Dendam antara golongan menjadi warisan dalam DNA umat Islam. Tanpa mereka sadari, semua dibalut oleh kebenaran yang diyakini kelompok masing-masing. Reka kejadian yang sulit dilupakan dalam kesadaran kelompok masing-masing menjadi sebab muasal segala murka manusia. Sulit sekali manusia memaafkan manusia lainnya atas suatu kejadian yang sesungguhnya adalah kehendak Tuhan sendiri.  Jangan harap kemenangan akan datang kepada umat Islam selama mereka saling memakan darah saudara seiman. Begitulah keyakinan. Namun entahlah kebenarannya. Namun adakah penjelasannya sebab mengapa?

Manusia sulit memahami arti ‘maaf’ jika dalam keadaan sakit dan disakiti. Keadaan yang merasa terdzolimi menjadikan manusia merasa belum puas jika belum menjatuhkan siksa yang pedih kepada manusia dari kelompok lain yang menjadikan dirinya menderita. Namun anehnya jika yang melakukan hal tersebut dari kelompok mereka sendiri, manusia gampang sekali melupakan bahkan dengan mudahnya mereka menganggap bahwa kejadian tersebut tidak pernah ada. Untuk kejadian yang sama manusia memiliki standar ganda dalam memberikan penilaian. Hm..begitukah manusia? Manusia akan mudah memaafkan jika yang melakukan kesalahan adalah bos mereka. Namun sebaliknya akan sulit memaafkan jika yang melakukan adalah orang terdekatnya sendiri, misal istri atau kekasihnya. Jiwanya kan begitu murka manakala istrinya melakukan kesalahan. Sebab apakah ini? Demikiankah?

Begitu sulitkah manusia mamhami sebuah skenario Tuhan? Untuk apakah manusia diajarkan penderitaan, kesakitan dan juga kehilangan? Begitu tabiat manusia? Hhh..manusia memangmakhluk yang gampang menumpahkan darah. Benar sekali apakata Iblis. Maka sebab itu Iblis menolak diciptakan manusia. Iblis sangat menentang kehendak Tuhan yang ingin menciptakan manusia. “Lha..makhluk model begitu kok mau diciptakan. Lebih bagusan saya” Begitu kata Iblis. Sampai saat sekarang ini analisa Iblis masih benar. Manusia yang ada sekarang ini adalah manusia-manusia yang mudah menumpahkan darah. Iblis sangat khawatir jika ada makhluk yang memiliki sifat demikian. 

***

Banyak Wide tercenung atas kesadarannya yang terus menerus menggugahnya dari tidur panjang. Kami terus mengingatkan bahwa manusia belum selesai belajar nama-nama benda. Setiap diri manusia harus belajar nama benda. Dalam realitas manusia harus belajar ilmu pengetahuan yang mempelajari hakekat sebuah benda, baik itu penamaannya, sampai kepada sifat kimia dan fisikanya. Dalam ranah dimensi ghaibnya, manusia harus mampu mengenali makhluk-makhluk tak kasat mata (ghaib) yang memasuki kesadarannya. Mengenali setiap entitas yang mengalir dalam darahnya. Setiap lintasan hati dan pikiran berisi memori perihal makhluk. Tugas kesadaran manusia adalah mendokumentasikan keadaan makhluk tersebut.  Misal rahsa was-was, jelas itu setan, rahsa arogan itu dari Jin,rahsa sombong dan iba diri adalah rahsa Iblis,  rahsa takut biasanya dari golongan hantu gentayangan, dll. Semua rahsa yang menjadi lintasan prasangka hati harus dikenali dan dihadapkan kepada Allah. Sebagaimana layaknya manusia belajar.

Betapa sulitnya mengjarakan nama-nama benda ini kepada manusia. Meskipun Kami terus mengajari manusia. Namun keadaannya manusia memang melampaui batas. Manusia merasa dirinya serba cukup Itulah masalahnya. Manusia jarang yang mau belajar kepada Kami. Manusia belajar dari mansuia lain. Padahal setiap pembelajaran adalah spesifik dan unjik. Pembelajaran yang Kami ajarkan adalah hikmah kejadian. Bukan saja menyoal hakekat saja. Namun lebih kepada bagaimana setiap diri memberikan makna terhadap apa-apa yang menimpa dirinya itu.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan jiwa masing masing. Membaca spirit spirit yang berlintasan di ruang kesadaran masing masing. Spirit spirit inilah yang di mohon kepada manusia untul di kenali. Spirit ini membawa rahsa dan informasi juga memiliki jatidiri. Mengenali spirit spirit ini adalah hakekat belajar sang aku. Belajar mengenali benda.

Spirit spirit ini dihadirkan oleh Allah. Sebagai materi pembelajaran. Spirit ini banyak sekali macam dan ragamnya. Mulai dari bidadari sampai kuntilanak. Mulai dari dewa sampai genderuwo. Mulai dr malaikat sampai iblis. Manusia dipersilahkan memilih mau tunduk dan belajar nama nama benda. Yang artinya membiarkan ruang kesadarannya di jadikan ruang belajarnya. Satu spirit dipelajari dikaji dan dikenali. Kemudian dibiarkan satu spirit berikutnya lagi hadir..dst dst..

Spirit ini ada yang sangat halus melankolis romantis dan penuh cinta. Dan ada yang tenang menghanyutkan kemudian mampu mengamuk amat ganasnya. Dll dll...semua terjadi di ruang kesadarab manusia. Spirit bersama dengan rahsanya. Semisal gula lengkap dengan rahsa manisnya. Namun jangan ditanya ketika rahsa manis itu terlalu. 

Pada tatataran informasi spirit ini membawa informasi dr dimensi asalnya. Apakah yang di bawa oleh gula? Informasi apakah?  Gula membawa informasi energy utk tubuh. Demikian halnya spirit membawa sesuatu utk kebutuhan manusia. Setidaknya adalah hikmah yang dibawa oleh setiap spirit. Semisal itulah spirit2 yang lalublalang di kesadaran.

Spiritual adalah mengakaji spirit spirit yang hadir dalam jiwa. Namun adakalanya ruang kesadaran kita overload dipenuhi oleh banyak spirit. Pada situasi inilah dibutuhkan meditasi. Mengosongkan ruang kesadaran. (Zero mind). Otak yang terus disuguhi informasi akan sangat lelah. Namun demikian tugas aku adalah belajar maka bagi aku wajib utk membaca dan mengenali setiap entitas yang menjadi masuk berupa input di pikiran (mind). 

Sang aku harus diberikan materi2 yaitu dalam ruang belajarnya. Agar sang aku mampu mengisi memorinya. Inilah mengapa zero mind tidak disarankan dilakukan terus menerus. On dan off harus di aktifkan. Saat overload kita off kan artinya posisi di zero mind.

Posisi otak kosong menjadi paradoks di realitas jika tidak ada memori maka sistim refleks tubuh tidak bekerja. Maka dinamika on dan off menjadi penting. Istirahatkan otak dan tubuh dalam sebuan meditasi. Kemudian melanjutkan lagi dalam sebuah kontemplasi. Berfikir dan berfikir...mengamati dan terus belajar mengenali apapun yang datang kepada kesadaran kita. Pengajaran kehidupan ..pengajaran takdir..pengajaran Qolam.

Belajar dr takdir yang menimpa diri. Belajar bagaimana keluar dr belitan rahsa. Belajar dari tekanan2 kesadarab kolektif. Mengenali daya daya yang menekan sistem ketubuhan. Membedakan daya spirit dan daya Nya. Pengajaran sang aku melalui spirit adalah dimaksudkan agar sistem tubuh belajar bagaimana jika aku adalah kamu. Belajar merasakan bagaimana rahsanya menjadi orang yang terbuang...tak dianggap..dll.

Spirit spirit ini akan menjelaskan keadaan tersebut. Spirit spirit ini adalah entitas lintas dimensi. . Entitas yang membawa rahsa marah. Entitas yang membawa rahsa sedih. Entitas yang membawa rahsa was was..Membawa...rahsa sombong..dengki...kecewa...dsb

Berjalan di spiritual adalah berjalan diantara duka-lara spirit. Kita kenali mereka sebagai Raden Panji, Durga, Sabdo Palon, Ratu Kidul...dsb dsb...Spirit spirit ini menjadi daya bagi manusia. Bagaimana rahsa kehilangan? Nah ada spirit yang akan mengajari rahsa kehilangan.

Bagaimana rahsa ketakutan? Ada spirit yang mengajari rahsa ketakutan. Spirit spirit ini eksis...ketakutan dan kesedihan..entitasnya dikenali sebagai *kuntilanak*. Dsb dsb.
Spirit spirit ini berdimensi dimensi...sampai ke galaksi...galaksi...Spirit ini dalah Islam dikenali sebagai ilah. Sebab mereka penguasa di dimensinya masing masing. Mereka adalah Tuhan di dimensi mereka.

Ruang kesadaran selalu terisi oleh memori jangka pendek dan jangka panjang. Rahsa ingat disebabkan adanya memori.  Memori inilah yang menjadikan kesadaran kita hidup. Persoalannya adalah berisi apakah memori memori kita. Apakah masa lalu? Apakah kenangan? Apakah lainnya?


Setiap posisi atau makom bukan lah posisi yang stagnan. Posisi ruang kesadaran adalah sustainable. Jika ingin stabil maka ruang kesadaran disarankan diisi dengan rahsa ingat Allah. Setiap kejadian yang dialamk manusia akan membekas menjadi ingatan. Ingatan yang baik menjadi kenangan. Ingatan yang buruk menjadi trauma atau tension.

Sel sel tubuh manusia akan menyimpan memori ini. Memori rasa takut, memori rahsa was was..dll. Memori yang baik berasal dari hikmah. Memori yang buruk berasal dr setan. Memori ini akan mempengaruhi gerak kesadaran. Maka penting sekali bagaimana manusia menyikapi kejadian dr serangkaian takdirnya. Apakah suatu kejadian akan menjadi hikmah atau justru akan menjadi trauma..Bagaimana sistem sel tubuh yang menyimpan banyak trauma? Bagaimana gerak refleks senyumannya?

Anugrah dan musibah menjadi pembelajaran yang sangat penting bagi kesiap siagaan sel sel tubuh manusia. Jika respon tubuh salah dalam mendeteksi nya maka respon perilaku kita akan salah. Apakah tidak gajian adalah musibah?
Apakah hutang adalah musibah?
Apakah dilecehkan adalah musibah?

Respon tubuhlah yang menentukannya. Lihat bagaimana sisten ketubuhan bereaksi terhadap masing masing kejadian.  Melalui pembelajaran spiritual diharapkan respon tubuh akan terlatih. Tidak terlalu sedih jika kita tidak mendapatkan apa yang dimaui.
Dan
Tidak terlalu senang jika mendapatkan apa yang diingini.

Berada di tengah tengah...selalu mengembalikan kepada Allah.

Kesabaran dan kesabaran serta kesabaran ...demi terlatihnya sel sel tubuh.

Memasuki realitas bekal latihan ber spiritual akan teruji. Apakah masih sebatas pemahaman (knowledge) ataukah sudah inferen di sistem DNA. Semua akan keliatan saat di ajarkan langsung di kelas kehidupan. Bagaimana rasanya di miskinkan, bagaimana rasanya dihinakan, bagaimana rahsany disepelekan. Dll dll...Pada saat pembelajaran takdir itu datang setidaknya kita sudah paham teorinya.

Mungkin saja  lolos di ujian teori banyak kajian yg di hantarkan, banyak buku telah di tuliskan namun sangat sedikit yang lolos diujian prakteknya. Ujian praktek langsung berhadapan dengan realitas...langsung kita rasakan dampak nya dengan orang orang. Bagaimana akibat perbuatan sy orang menderita. Betapa remuk jiwa...diri seakan akan tdk ingin menghukum mati jiwa.

Namun akibat salah diri mau tidak mau jiwa harus terima hukumannya. Padahal sungguh bukan diri yang melakukan reka adegan. Tidak saja di perbuatan bahkan di level niat saja tidak. Bagaimana diri berbuat keburukan? Semua akan dihadirkan dan sangat nyata. Seluruh panca indra menjadi saksinya. Hati menjadi saksi. Penglihatan dan pendengaran. Tangab dan kaki. Kulit dan juga syarafnya.
Sistem gerak perilaku manusia di atur oleh dua kutub ini: Yaitu kutub akal yang terletak di ubun-ubun dan kutub hati yang terletak di jantung. Ubun ubun : mengatur gerak sadar, sistem pendeteksi perilaku. Jantung (hati): mengatur gerak tak sadar, sistem lendeteksi niat..Semua sistem ini di pegang Allah..Jika tidak ada memori i

Rahsa ingat Allah. Maka Allah mengirimkan pengusik atau pengganggu atau penyesat yang di sebut setan.  Perbedaan tekanan dua kutub ini akan menyebabkan rahsa tidak nyaman di badan. (Kajian simbol dapat dibaca di forum kajian science)

M -à memori kecerdasan) ada di ubun ubun
N -à (memori hikmah) ada di jantung

M -à akan menghasilkan gerak refleks yang berupa *insting*. Peltihan yang terus meneruskan  akan mendapatkan suasana mindfullness 
N -à akan menghasilkan ketajaman hati ataun *intuisi*. Pelatihan pembersihan hati akan  mendapatkan uasana meaningfullness

M dan N harus terus sustainable...terus bergerak menuju titik titik keseimbangan baru. M akan terus belajar dari kesalahan...mengubah insting nya...belajar berfikir benar...Mengkaji dan mencatat tial kejadian..melihat bagaimana instingnya bekerja. Bagaimana akibat kalau berbohong...Semua dicatat dalam memorinya. Kemudian di lakukan perbaikan terus menerus...hari ini berbohong 3x....besok harus sudah berkurang...Setiap minggu masih saja bohong...maka perbaiki..minggu depan sudah nol...Satu tahun masih bohong sekali...tahun depan sudah nol...

Dst dst...

Demikianlah pembelajaran, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Disinilah hakekat spiritualitas. Belajar nama nama benda. Pembelajaran makhluk ghaib.


Bersambung....

Oktober 21, 2017

Kisah Spiritual Mawangi: Makhluk Lintas Dimensi


“Relung di ujung waktu dalam putaran yang tak ingin kutunggu. Sepiku telah merambah sanubariku. Menghadirkan muara segala ragu. Benarkah ini jalan yang menjadi kehendakNya ataukah hanya sensasi rahsa yang tak menentu. Berjalan ke timur, selatan, utara, dan menuju ke barat. Duhai Tuhan pemilik dua timur dan dua barat. Penggenggam ubun ubun semua makhluk. Pemilik segala arah. Kemanakah pandanganku. Jika yang merah kini menjadi hitam dan yang putih kini hilang. Duhai angin khatulistiwa, tiupanmu tak lagi meredakan panas yang membakar jiwa. Katakan bagaimana jika nafas tersengal dan terhimpit di ujung jemari. Terjebak diantara dua masa. Masa lalu dan masa kini. Disini di dalam jiwa ini bergumpal tanya pada apa yang mengikuti setiap langkah diri”

Bumi ini kembali mengulang siklusnya lagi. Putarannya seperti berawal dari akhir dan berakhir di awal. Reka adegan peradaban manusia kini nampak hitam pekat di balik pemikiran. Kelahiran demi kelahiran orang-orang masa lalu menjadi pertanda bahwa peradaban bangsa ini semakin tua. Entah sudah berapa ribu tanda yang diberikan kepada manusia. Mulai dari gempa-gempa yang senantiasa mengkhabarkan pesan-pesan, sampai diulangnya sebuah kejadian yang menyayat kemanusiaan. Entah ramalan membekas apa di kesadaran.

Banyak Wide dalam termangu ditariknya nafas, dihempaskan sesekali, seakan ingin mengurangi beban. Di kejauhan butiran ombak pecah di batu, menepis  karang. Membesut semua angan. “Sepi ingin menjauhi.” Berkata malam.  Berjalan ke depan, bersama angin yang perlahan pergi. Teringat segala pesan. Jauh sebelum kedatangan Raden Wijaya di pulau ini.  Jauh sebelum datangnya titah sang Paduka Maharaja Singosari Kertanegara. Saat itu diambilnya titah langit. Menancapkan paku kesadaran untuk bangsa ini. Diarunginya tujuh samudra. Berjalan di ujung pula jawa hingga dirinya lenyap di balik awan. Hingga dirinya kemudian mendapatkan pesan. Kpeadanya diminta untuk mengiringi langkah-langkah para pemimpin Nusantara.

Mengapa semua kembali terulang di masa kini? Pertanyaannya tidak mampu dijawabnya lagi. Apakah akan sama kejadiannya sebagaimana saat dirinya mengawal Raden Wijaya dengan segala siasat yang diajukannya. Kemudian sejarah telah mencatatnya dengan tinta emas. Darisanalah mula Majapahit. Namun itu dahulu. Kini Banyak Wide tak yakin, jika misinya kembali ke dunia manusia ini akan mengulang kembali kisah kesuksesannya dahulu. Raga terkininya tak pahami. Raga terkininya tidak sebagaimana raganya di masa lalu. Layon ngesti aji. Sudah saatnya tahun terganti dan bumi mengadakan tetirah. Lantas apakah peranannya kali ini akan berarti?

“Hhh...apakah yang menyebabkan langit berduka ini?”

***

Ketika indah di rangkai dan di ramu dalam sebuah harmonisasi. Angin awan dan hujan. Bunga bunga bermekaran. Tumbuh indah di pandang. Ketika saatnya kemudian bunga layu dan mati menjadi debu. Tertinggallah disana kenangan bunga. Banyak kata yang kemudian merangkai. Mencoba mencari makna. Mengungkap ribuan tanya. Mengapa indah begitu sulit dilupakan. Mengapa kematian tega mengambilnya "Lihatlah. Setangkai bunga di taman hati setidaknya bukanlah  mati. Dia hidup dan terus bernyanyi" Kekesalan merajuk hati. Mencoba berdialog dengan diri. Mengapakah perjalanan penuh onak dan duri.

“Hhh...Sebentar lagi langit akan menjadi saksi pertemuan anak-anak keturunan para sultan dan raja-raja Nusantara. Kehadiran anak keturunan ulama besar dunia juga akan menjadikan pertemuan tersebut menjadi sakral. Kapan lagi momentum sebesar itu terjadi di bumi Nusantara ini?  Malam akan menjadi siang sebab ramainya keadaan. Gejolak Gunung Agung sudah menandai perhelatan akbar ini. Alam akan meneruskan skenarionya. Mempergilirkan kekuasaan diantara anak manusia. Sudah sekian jauh berjalan..”: Banyak Wide berdialog dengan dirinya sendiri.

“Siang di antara berbagai bintang, ada tanda bahwa suatu keadaan menjadi perjalanan dengan berbagai kehidupan. Sesungguhnya ini bukan hal yang pertama, kesabaran sebagai penahan, maka itu tidaklah akan sia-sia.

Surosowan dalam pancaran Ki Jaya Kusumah, akan bersinar dengan terangnya, maka peganglah Sanghyang wandu di ujung Bandung, di sana ada beberapa hal yang menjadi bagian perjalanan.

Jangan pernah putus asa, karena semua pembelajaran dari yang Maha Pencipta.
Kami senantiasa membantu perjalanan, sesungguhnya setiap keangkuhan yang dihadapkan, maka itu menjalan menemukan jiwa-jiwa yang berada dalam kegelisahan.

Itu wajah dari kegelisahan rasa, maka biarkan dan ajarkan tentang cinta dan rasa yang menjadi perjalanan dalam sebuah cerita.

Langit terang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang yang hanya memajang Sanghyang dengan dasawarsa yang tak terbatas pada jiwa-jiwa yang membutuhkan

Bismillahirrahmanirrahim...

Tiada makna dalam setiap tata Krama seperti tunai di antara dua pelita yang menjadi penunjuk dari beberapa hal yang sudah ada”

***

Sementara Mawangi kembali melanjutkan perjalanannya lagi. Menancapkan paku kesadaran. Entah sudah berapa kota dia datangi dalam bulan ini. Setiap minggu dia diperjalankan Kami. Walau sering tanpa sadar ribuan makhluk mengikuti dirinya. Jiwanya seperti medan magnet yang menjaid lintasan portal kesadaran antar dimensi. Bagaimanakah memberitahukannya tanpa harus menyinggung perasaaannya? Menjadi kesulitan tersendiri bagi Banyak Wide. Betapa sulitnya mengkhabarkan bahwa alam semesta ini tidak hanya tersusun dari makhluk-makhluk yang mampu dilihat mata. Namun dunia ini tersusun dari banyak dimensi. Setiap dimensi dihuni makhluk-makhluk sebagaimana di alam nyata. Sama saja keadaannya disana. Kehidupan dan peradaban yang sama dengan di dunia.

“Tadi pas mau pulang balik lagi ke area belakang, terus kayak prosesi, baca Al ikhlas 3 kali kayaknya mah. Kan saya nggak ngajak.  Saya nggak niat mindahin juga. Kan cuma jalan dan baca doang.”

“Nggak boleh sembarang prosesi tanpa tahu sebab dan utk apa serta mengapa”

“Habis saya nggak ngerti dan nggak paham”

“Bukan alasan, tp memang saya nggak tau dan nggak ngerti. Mindahinnya ke kebun raya Bogor gimana?  Iya, habis saya nggak paham yg ghaib2.  Tadi niatnya krn Allah. Tp memang nggak paham yg di sana itu makhluk apa atau bagaimana keadaannya. Itu yg membuat saya nggak ngerti. Kalau soal mindahin atau bagaimana mungkin memang saya yg salah, ngikutin aja dg hanya niat krn Allah. Untuk tau itu apa dan siapa, lalu tindakan selanjutnya bagaimana, saya jg nggak paham. Diikuti atau nggak, pilihan itu memang di saya. Tapi kan saya jg nggak tau kenapa keluar lg... Untuk niat, saya juga sdh berusaha meluruskan niat. Saya memang yg punya raga dan panca indera, tp kan raga dan panca indera saya terbatas.  Adapun niat yang lurus dan benar, selalu saya usahakan, Baik, saya yg salah dg prosesi tadi dan mungkin membawa banyak makhluk yg saya sendiri tdk tau dan ngerti.  Saya minta maaf, saya jg akan berusaha melihat niat lagi. Karena soal makhluk ghaib, saya memang nggak paham dan nggak ngerti”

“Dan jangan tersinggung kalau sy bilang itu makhluk2”

“Iya, habis saya pusing jd banyak makhkuk2an”

“Rahsa2 itu makhluk2.. yang harus di kenali bukan diikuti”

“Mendingan jd orang biasa aja”

“Allah lebih tahu mana yang terbaik.  Berprasangka baik sama Allah”

“Iya ... Tp kan saya jd uring2an”

“Kita perang kesadaran..jangan ikuti rahsa2.  Uring2an itu makhluk2 jejadian. Bukan fitrah manusia”

“Saya ingin pulang”

“Jangan diikuti ...yang pengin pulang  “

“Tp bukan pulang ke rumah”

“Ya.  Semua pengin pulang”

“Pulang ke sisi Allah itu yang menjadi tujuan setiap manusia.  Jangan salah pulang”

“Nggak tau pulang ke mana”

“Ingat Allah.. Arahkan. Kesadaran utk pulang ke Allah”

“Iya  baik”

“Jangan risau kan keadaan raga mau dimanapun...raga hanya menjalankan tugasNya. Jiwa harus tetap ingat Allah ..kuatkan diri untuk kembali ke Allah.  Biarkan raga menjalankan tugas kekahlifahan di muka bumi. Mau jadi apapun raga kita itu urusan Allah. Tetap kan bahwa semua itu adalah jalan utk kembali kepadaNya. Jangan risaukan lagi keadaan raga...ragami milik Kami. Kami pinjamkan kepadamu utk menjadi jalan kepadamu pulang. Lakukan kebaikan sebanyak2 nya. Hanya dengan itu kamu akan dapat kembali pulang. Yang ingin pulang dari sini. Pulang kan juga makhluk2 itu kesini.  Kesadaran kembali pulang ke Allah. Makhluk2 kembalikan ke habitatnya masing-masing.”

“Iya, baik

“Smg Rahmat Allah menyertai. Hati hati dengan niat dan hatimu. Kelak hati akan dimintakan pertanggung jawaban. Kita tahu namun tidak tahu... demikianlah pengetahuan makhluk2 ghaib. Tidak tahu bukan berarti tidak mengerti. Sadar bahwa kita atas ijinNya tahu. Tahu yang tidak kita kehendaki. Maka akan muncul rahsa terserah Allah saja. Terserah kehendak Allah. .Kalau tau di syukuri tidak tahu juga ga masalah.  Ga ada persoalan mau tahu atau tidak: Kita hanya ikut mauNya Allah. Pengetahuan makhluk2 ghaib tidak perlu kita kejar. Namun jika Allah berkehendak mengajar kan ya kita terima dengan keikhlasan. Sekuat apapun sy membuang pengetahuan tsb akan sia sia..bahkan sy menjadi melawan kehendak Nya. Terima saja sebagai kasih sayangNya. Pengetahuan tsb menjadi ujian. Siapakah yang akan lbh bertakwa”

“Maaf klu saya sering ngeyel, mohon bimbingannya”

“Sama sama..sy juga sekedar menjadi perantara rahsa tahu. Jika salah tentu saja dr saya.”

***

Demikianlah berjalan di alam-alam dimensi tidaklah mudah. Apakah perang asimetrsi hanya menyoal perang antar manusia? Tidak! Sesungguhnya perang asimetris selalu menyoal penguasaan makhluk kesadaran atas kesadaran makhluk lainnya. Kesadaran yang lebih tinggi akan menguasai kesadaran di bawahnya. Para mahhluk lintas dimensi akan senantiasa berupaya dengan segala macam cara mengisi kesadaran manusia. Mereka akan bertahta disana sehingga kesadaran manusianya hilang dari raga-raga mereka. Instalsi kesadaran makhluk lintas dimensi demikian masif.

Banyak Wide meneropong masa masa dimana dirinya selalu berhadapan dengan mahkluk lintas dimensi ini. Entah sudah berabad-abad lamanya. Lonceng dentuman kiamat dari satu masa ke masa berikutnya, dari dimensi ke dimensi lainnya. Silih berganti, waktu seakan mengejarnya. Kemanapun dirinya sembunyi Allah maha mengetahui lintasan ini. Hingga dirinya kembali dilahirkan dimasa kini dalam wujud yang tak sama. Sebuah tugas tengah menanti. Yah, perhelatan akbar itu harus tejadi. Dirinya harus mengawal kebangkitan kesadaran Nusantara Baru. Puncak acaranya penancapan paku kesadaran akan dilakukan disebuah tempat yang disebut sebagai ruang BATIN. Mungkin orang mengenalnya sekarang sebagai BANTEN.

Geliat kebangkitan kesadaran Nusantara sudah mulai terasa. Di ruang publik gaungnya sudah mulai menguat. Kesadaran ingat Allah juga semakin mengakar dalam kesadaran manusia. Banyak Wide  meyakini bahwa apa yang dilakukannya ini tidaklah sia-sia. Maka kepada Mawangi terus diyakinkannya. Tidak ada yang mampu menghinakan jika Allah tidak mengijinkannya. Maka terus tetapkanlah langkah. Lihatlah sudah sejauh ini perjalanan. Nampak diufuk manusia mulai berbondong-bonong menyambut kebangkitan Nusantara Baru. Bangsa ini mulai sadar siapakah jatidiri mereka. Tidakkah ini membahagiakan? Maka teruslah berjalan wahai mawangi. Genapilah takdirmu demi dan untuk Ibu Pertiwi.


 Salam

Oktober 15, 2017

Kisah Sipirtual Mawangi, Perjalanan ke Timur (2)


Hasil gambar untuk ombak laut timur

Ombak laut timur
menggiriskan hati
sayang sekali Mawangi harus pergi kesini

Rahyang Mangkubumi, giri Mukti dati sati
Rahayu nampak Waja Saketi datyu mandu
Widya mukti ratri yadmi

Sesungguhnya dalam setiap peristiwa akan menemukannya pada sebuah perumpamaan, yang mana langit yang luas hanya dapat menatap bintang, padahal semua ada dalam hamparan semesta dengan Titian yang tak dapat dipahami oleh orang yang tidak memahaminya

Seruling di ufuk timur sebentar lagi bersenandung, maka segeralah letakkan dirimu pada posisi segi tiga siku yang mentudut pada telapak tangan sang dewi wakyu dan ratu madyu. Diselamatkanlah semesta oleh Yang Maha Kuasa atas kehendaknya. Amin

Melintas ke Timur

Serbuk sari telah jatuh
Diatas tanah tumbuh tembikar
Disana dia letakan khabar

Di dengar suara kejauhan
Tidak di timur tidak di barat
Suara tasbih merambah

Bagai air bah tsunami
Saga memerah
Di langit ada air mata

"Serbuk sari tinggalkan putik"
Angin merajuk hati
Janji adalah misteri

Letakan saja tanganmu
Pada air yang menyiangi
Mayang terurai

Paru-paru menggumpal darah
Mengingatkan sebuah hati
Telah mati walau disirami

Siapkah dirimu memulai perjalanan ini Mawangi? Siapkah menjadi saksi jiwa-jiwa manusia yang mengawali perjalanannya bersama waktu? Engkau akan melihat deru dan debu disana. Lihatlah kepada siapakah jiwa-jiwa manusia itu mencinta? Mereka merasa telah mencintai Allah. Sesungguhnya keadaan jiwa mereka itu mencintai selain Allah dan cinta mereka sungguh-sungguh. Sebagaimana cinta mereka kepada Allah. Tahukah engkau bagaimana keadaan jiwa yang seperti itu?

Perhatikanlah sesudahnya keadaan mereka. Allah akan menunjukkan kepadamu keadaan mereka. Perhatikanlah manakala cinta mereka hanya kepada kekasih hatinya. Jiwa mereka serasa dan merasa tengah mencintai sesuatu karena Allah. Jiwa mereka merasa bersama kekasih hatinya itu dan tengah mengabdi kepada Allah. Jiwanya berdusta! Mengabdi kepada Ibu Pertiwi, membangun peradaban baru katanya? Hh.. Tidak! Sesungguhnya dia mencintai syahwatnya sendiri. Cinta dibalik syahwat cinta masa lalunya sendiri. Nafsunya yang menjadi hijab antar dia dan Allah.

Maka perhatikan dan perhatikanlah Mawangi. Manakala kejadiannya tidak sebagaimana yang dia inginkan. Kekasih hatinya telah mengecewakannya. Kekasih hatinya telah tidak lagi menuruti kemauannya lagi. Siapakah yang kemudian akan disalahkannya? Begitu nelangsa jiwanya. Kiamat di rahsa. Kehancuran melanda di jiwa sebab cinta tidak membawa suka. Yah, dia telah menduakan Allah. Dan amati saja. Saatnya manakala cinta membawa dampak sebaliknya. Maka kepastiannya adalah Allah akan menghadirkan Kebencian dijiwa. Begitulah keadaan jika manusia mencintai selain Allah. Benci dan cinta adalah seperti cermin adanya. Disanalah semestinya jiwa menghadapkan wajahnya.

Kemudian perhatikan sekali lagi wahai Mawangi, jauh setelah kejadiannya. Setelah berlalu waktu. Lihat ke dalam jwanya itu. Sangat nyata keadaannya. Jiwa manusia itu kemudian sibuk mencari siapa yang salah. Kesalahan akan ditimpakan kepada siapa saja. Jiwanya sendiri kemudian sibuk mencari pembenaran atas apa-apa yang telah dilakukannya. Termasuk melakukan cinta terlarang. Pelbagai ayat digunakannya agar jiwanya tenang. Ayat-ayat yang pas akan dijadikan sebagai kontruksi kesadarannya yang baru. Jiwanya tidak mau disalahkan atas kejadian yang menimpa. Jiwanya tak mampu menerima atas pengkhianatan kekasih hatinya. Jiwanya tidak mampu menerima takdirnya sendiri. Yang demikian itu dia akan sebut sebagai hidayah Allah (?) 

Perhatikan manakalah jiwa manusia itu kemudian sibuk mencari kambing hitam atas penderitaan yang dirinya alami. Sekali lagi perhatikanlah disekelilingmu itu. Begitulah kenyataannya. Sebagaimana, apa yang telah terjadi pada Banyak Wide. Begitu sedih dan  nelangsa keadaannya sebab dirinya selalu menjadi kambing hitam. Menjadi sasaran bulan-bulanan amuk murka, kebencian para putri istana. Dirinya dianggap sebagai biang bencana segala cinta. Sampaipun dirinya,  menjelajah bumi dan samudra. Berada  dimensi ke kini,  para putri terus mengejarnya. Membawa  ramuan balutan keingkaran juga buaian sutera kebencian. Demi membungkam mulut Banyak Wide.

"Semua karena sebab dan ulah Banyak Wide, yang senantiasa membuai dengan kata-kata indah perihal cinta. Kata-katanya memabukan."  Demikian alasan.

Sunguhkah itu? Bukankah yang dibawakan oleh Banyak Wide hanyalah berita gembira dan peringatan? Berita perihal kepastian bahwa siapa yang berjalan di jalanNya adalah surga balasannya. Adakah yang dibuat-buat olehnya. Banyak Wide bicara perihal keyakinan. Hidup sesudah mati, dan lain sebagainya. Apa yang disampaikannya adalah sebagaimana berita para nabi. Lantas apakah kesalahannya itu? Sehingga mengenaskan sekali keadaanya.

Amuk di muka dan belakang, serangkaian dendam dan sakit hati. Selalu menyerang Banyak Wide. Apa yang diucapkan Banyak Wide mungkin terjadi dan itu dianggap sebagai supata oleh mereka itu. Kebencian saat ini menjadi raja di jiwa mereka. Maka bilapun hancur seluruh jasad dan jiwa Banyak Wide tetap saja itu tidak akan mengurangi nafsu dan kebencian mereka iu. Mereka akan mencari sasaran lainnya. Kepada sahabat dan handai tolan Banyak Wide. Dendamnya benar benar telah membatu. Hatinya telah terisi api yang akan mampu membakar kayu dan batu. Menyulut neraka dari dunia.

Kontruksi kesadarannya telah hancur sebab anggapan bahwa kekasih hatinya telah menipunya. Jiwanya benar-benar kehilangan realitas. Tidak lagi mampu memilah, mana kefasikan dan manakah ketakwaan. Kebenciannya telah merasuk tulang, hingga iganya membengkok sult diluruskan lagi. Kefasikan disangkakan ketakwaan. Mencintai selain Allah disangkakan mencintai Allah. Kemudian dengan keyakinannya itu berkata bahwa dirinya adalah wakil Tuhan. Dirinya berkata sebagai lisan Tuhan.

Maka kepada Banyak Wide diminta mengatakan kepada para putri firmanNya ini, "Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul , dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki" (QS: Al Falaq 1-5). Ya, saat mereka dengki, segala macam cara akan bisa saja dilakukan, termasuk mengerahlkan para ghaib untuk memburu Banyak Wide.

***

Perjalanan lintasan akan membawamu kesana wahai Mawangi. Hiruk pikuk jiwa manusia dan kesadaran yang meliputinya akan membawa rupa angkara. Sudahkah engkau persiapkan itu. Ke timur engkau akan menuju. Disana arah matahari terbit. Lihatlah bagaimana cahayanya menyapa bumi. Bahkan Allah bersumpah demi matahari. Demi waktu sepengalah naik. Perhatikanlah sebab mengapa Allah bersumpah demikian. Sungai waktu akan membawamu. Lintasan demi lintasan dimensi akan menyambangimu. Disana engkau akan saksikan bagaimana rupa jiwa manusia. Terompah Izrofil akan menemanimu.

Langkahkan kakimu, penuhi janjimu. Berjalanlah ke pelosok Nusantara. Singkaplah kejayaan bangsamu. Jejak Selakanegara, Tarumanegara, dan juga jauh sebelum kerajaan-kerajaan itu. Amati dan perhatikanlah sebab mengapa kerajaan-kerajaan besar yang menghuni katulistiwa di benamkan jauh ke dalam tanah. Ungkapkanlah rahasia dan kebenaran keberadaan mereka semua itu. Tanah yang tinggi, bukit yang mendaki disana tersimpah sejarah bangsamu.

“Bismillahirrahmanirrahim...
Dalam suatu perjalanan, ada lintasan menuju beberapa tempat yang menjadi tujuan atau singgahan, di sana ada beberapa tempat yang memang Kami hadirkan beberapa perjanjian dengan berbagai tempat dan wilayah yang menjadi tujuan perjalanan.

Untuk menjadi yakin, lihatlah pada setiap titiannya, di sana akan menemukan mutiara yang hilang, sehingga tidak menjadi risau dalam perjalanan. Sanghyang datu itu berada dalam perjalanan waktu, sebentar lagi akan menemuimu. Dia ada karena memang sedang menempuh hal yang semestinya.

Lirih waktu itu menjadi hal penting bagiku, untuk mengetahui jejak dalam perjalanan waktu

Di sini ada beberapa titik energi, baik dan buruk menjadi suatu hal yang menjadi tradisi. Lihatlah pada setiap deriknya, ada memang beberapa yang terpaku dalam pancangan sang waktu. Garis hitam, itu ada tanda singgasana dari negeri Jayamukti, ada dari Batununggal dan pratu watu, kerajaan2 yang ada dan tiada. Untuk Tarumanagara sendiri lihatlah pada garisan tersebut, maka kamu akan menemukan Salakanagara itu

Di sini, letaknya para brahmana dalam manunggal cinta, maka bila kalian ke sana akan menemukannya. Adapun yang menjadi titik garis hitam, itulah letak chandramukti

Dari sini telusurilah Aryuveda, maka akan menemukan cahaya yang terpendam dalam bintang segi lima, Cakra loka buana

Wakyu datyu, sang suhu berada pada garis yang menjadi titik batas antara perjanjian sangswakarsa dengan maladewa pada setiap generasi, yang menjadikan wikramyandu menjadikan batu penghias dinding pada sudut segi lima bintang utara timur jauh

Aryu padyu datu. Rumuhun menjadi pananjung dalam perjalan Gusti Adipati Wikrambumi, yang memang ada dengan menyembunyikan sebilah belati.

Di sini juga, wikramyadi datu padyu membunuh satyu datu padu. Itu cerita dari kerajaan Datu Wakyu. Sebelum Tarumanagara ada, tetapi masih menjadi aliran dalam dimensi sekarang sehingga pada perjalanannya menjadi datyan wadi kerta. Rumahung yaknu abyu.”

***

Mulailah menuliskan kisah perjalananmu wahai Mawangi. Abaikanlah siapapun yang akan mencoba menghalangi jalanmu itu. Diantara mereka akan selalu mencari cara agar engkau mengurungkan niatmu itu. Mereka penuh benci, caci maki, dan juga iri dan dengki. Bukan karena sebab mereka tidak punya kemampaun sebagaimana yang kamu lakukan, namun lebih sebab karena mereka merasa bahwa engkau tidak layak menyandang titah Kami. Mereka beranggapan siapakah engkau ini?

Ketahuilah Mawangi, Allah berkehendak semau diriNya. Maka berjalan sajalah dan kemudian kisahkan semua rangkaian perjalanan penyaksianmu itu. Dari kisah kisah yang dihantarkan nanti akan ketemu jodohmu. Lakukkan semua dengan ikhlas...inilah takdir yang harus dijalani dengan penerimaan yang utuh..Jodohmu sebentar lagi...namun itu semua tergantung dari pembelajaran mu..Berdoalah untuk orang disekitarmu...orang2 yang engkau lihat dengan penglihatan mu.. istighfar lah utk mereka. Lakukanlah semua untuk Allah.

Kami sudah memberitahu kan bahwa jodohmu sudah dekat...namun bukan karena itu engkau diciptakan. Pahami bahwa semua sudah ditetapkanNya. Semua hanyalah rangkaian perjalanan mu..agar kamu bersyukur. Telah banyak nikmat yang Dia berikan dan amat sedikit kamu bersyukur...itulah yang ingin diingatkan kepadamu...

Mulailah perjalananmu dengan syukur bahwa telah diperjalankanNya dirimu, bersama sang waktu. Lihat dan perhatikan lah...bukankah Dia yang mengatur segala sesuatu? Demikianlah agar manusia mampu menjadi Penyaksi atas kekuasaan dan kebesaran Allah. Kemudian perhatikanlah sekali lagi, bagaimana keadaan jiwa manusia saat mana mereka mendengar kisah-kisahmu itu. Bagaimana mereka tetap sajalah menyalahkan takdir yang saat dulu, sekarang dan juga nanti. Mereka akan selalu menganggap bahwa kamu tidak pantas. Mereka tidak mampu melihat tangan-tangan Allah tengah bekerja atas ragamu itu.

Mereka hanya melihat apa yang nampak di luar saja...gagal lagi gagal lagi. Mereka gagal dalam memaknai bahwa bukan sy yang melempar..Allah yang melempar...Bukan sy yang membunuh Allah yang membunuh. Walau sudah dilahirkan berulang ulang...tetap saja mereka gak paham paham. Kalau mereka terus begitu...nanti mereka akan dilahirkan dalam satu keluarga...bisa jadi anaknya dengan ibunya...bagaimana jika mereka masih  bermusuhan trs?


"Seringkali yang ada dalam jiwa memberontak, mencari hal yang ada dengan ketiadaan. Seperti yang menjadi bagian pada setiap tapa brata niskala.
Jemari yang menari tak akan mengubah bumi, seperti bagian yang tak tertera dengan berbagai hal yang menjadi bagian dalam hal yang berbeda
Letaknya dalam jiwa"


***

Sedikit share pemahaman sebagai pembanding saja ya. Sebagai penyeimbang. Membaca kisah Baginda Rasulullah sendiri. Saat dicaci maki. Dihina. Bahkan dilempari kotoran. Beliau tidak membunuh yang menghina beliau.

Bahkan saat malaikat gunung sudah sedemikian marahnya kepada rakyat Thaif dan malaikat tersebut akan bersegera untuk menghancurkan negeri tersebut,  bilakah Rasulullah setuju? Tidak!. rosul justru menolak. Apakah hikmah ini dapat kamu pahami? Malaikat gunung sedemikian marahnya atas ulah manusia, ap[akah rosul marah kepada manusia yang menghinanya? Tidak! Rosul justru memohon ampunan kepada Allah. Sebab mereka itu tidak tahu.

Kelemahlembutan dan kasih sayang beliau mengatasi kemarahan dan kebencian. Terlepas dari benar salah *pembelaan kpd Rasulullah*. Klaim syurga atau pahala. Dan juga semua keyakinan tsb. Kita harus membaca sirah Nabi. Itulah contoh beliau.

Apakah sunnah (metode) yang beliau ajarkan ini sudah out of date?. Sudah basi?. Sudah tidak laku dan kita harus mengikuti cara modern saat ini?. Membaca sejarah Rasulullah dan mengerti metode beliau saat beliau dihina dilecehkan bahkan dilempar kotoran baik saat masih di Mekah maupun saat sudah di Madinah. Memilih metode mengikuti cara beliau atau memilih cara kita yang menurut kita terbaik. Itu pilihan. Wallahu alam.

Akhlak seperti beliaulah yang kita tuju...walau mungkin tertatih-tatih. Memaklumi...memaafkan..dan empati ...Kita marah atas perbuatan dosa...tapi bukan marah kepada orangnya..

Allah dengan mudahnya menukar kan posisi diantara mereka...Bagaimana jika bertukar posisinya?

“Nggak ada solusi berarti, kecuali kalau upaya mereka sendiri?”

Betul sekali...hidayah milik Allah...namun hidayah ini sulit turun kalau tidak ada kemauan dr diri sendiri

Kemauan membuka diri... instrospeksi diri...hal ini yang sangat sulit
Kita sibuk menyalahkan dan mengurusi urusan orang lain....sedikit mengurusi kekurangan diri sendiri.

Jika itu pembelajaran dengan Allah seharusnya kita siap melakukan penerimaan apapun..Bahkan jika kita dianggap debu sekalipun harusnya ga masalah

Di dasar hati kita ada penyakit. Semua orang ada penyakitnya. Kenali penyakit kita dan hadapkan kepada Allah. Terimalah apapun kejadian yang menimpa kita. Sebab semua terjadi atas ijin Allah.  Semua makhluk Dia yang menggerakannya. Berlatih melakukan penerimaan atas kejadian atas takdir agar kita tidak berada di golongan iblis yang tidak mampu menerima takdir Tuhan...selalu merasa bahwa dia yang benar sebab ilmunya yang tinggi.

Apapun yang mereka katakan adalah ujian....agar kita mampu melakukan penerimaan atas keadaan. Kalau Allah berkehendak membuat aku hina dina maka dengan sekejap mata semua manusia akan memandang hina...Apakah aku bisa menolaknya? Bahkan jika seluruh makhluk itu bersatu tidak akan mampu melawan kehendak Nya. Yang terjadi adalah kehendakNya.  Apapun itu...terimalah dan maafkan mereka yang tidak tahu. Trauma adalah tanda kelemahan hati kita.  Kuatkan lah dengan istighfar.

Selesaikan pembelajaran mu itu agar kelak lahir dari rahimmu generasi islami yang murni. Generasi Al Mukhlasin.

Isilah hati hanya dengan ingat Allah...baik saat tidur bangun ataupun berdiri.
Semoga Allah merahmati mu
Semoga Allah ridho

Wallohualam