Maret 16, 2015

Dia Bernama Dewi Anjani


Hasil gambar untuk dewi anjani

“Kisahku bukan buaian atau hanya angan semata dalam lintasan. Banyak hikmah yang ingin disampaikan dalam uraian dan untaian pernyataan. Sampaikanlah kepada yang ingin mendengar kebaikan. Kepada orang-orang yang membutuhkan pembanding atas apa-apa yang di alami. Tugasmu hanya menyampaikan kisahku saja. Ikhlaskan ragamu dan juga seluruh pemahamanmu. Aku akan membantumu untuk menguraikan dan  menelusuri kisah dan juga kesadaran yang membingkai masa lalumu dan juga orang-orang diseputarmu”

Pesan tersebut seperti berkata kepada raga terkini Banyak Wide, yang seringkali berada pada posisi paradoks. Banyak sekali pesan yang harus disampaikannya bertentangan dengan keadaan ekologis yang ada. Bahkan seringkali membuat dirinya tidak enak hati. Siapakah dia? Apakah haknya berkisah disini dalam forum majelis yang sangat mulia. Adakah dirinya adalah orang yang diberikan kelebihan dari lainnya?   Sehingga dengan beraninya dia menuliskan pesan-pesan. Heeh…jika ada yang mengatakan dirinya adalah penipu, pendusta, pembohong, menipu publik, dan umpatan yang lain yang mungkin tidak terpikirkan siapapun bahkan oleh poikiran terliar sekalipun, rasanya cukup  pantas dia mendapatkan itu. Metodologi apa yang dipakai?

Dirinya bukan orang suci, bukan pula orang yang bisa menjalani syariat dnegan benar. Bukan orang yang bisa menjaga amanah. Kelemahan sebagai manusia semua melekat padanya. “Apalagi yang harus dikatakan..?” Teriakannya bisa menggugah langit. Yah, dia lelaki biasa sangat biasa yang lahir dari wanita biasa. Seorang Ibu sebagaimana orang kota yang penuh dengan dinamika. Pendek kata dia hanya orangkebanyakan saja. Bahkan namanya nyaris tak terdengar di alam semesta ini. Mungkin hanya anak dan istrinya saja yang kenal padanya. Itupun sebatas keterikatan secara emosianal. Hakekat sesungguhnya tidak ada satupun yang mengenal siapakah dirinya. Hanya keinginan yang kuat setiap detiknya untuk menetapi jalan-jalan-Nya. Kesungguhan untuk memperbaiki perilakunya sendiri. Yah, hanya itu modalnya. Membersihkan prasangka dan rahsa iba. Membersihkan syak dan juga praduga. Semua dikembalikan kepada Allah. Itulah laku spiritualnya. Laku yang biasa saja.
Maka wajar saja jika dia sering berteriak di tengah belantara kesadaran. Memandangi langit yang terbuka saat berjalan menuju masjid di subuh hari. Masjid yang berjarak 200 meter dari rumahnya itu. Pohon-pohon disana menjadi saksi atas gundah hati, manakala saban kali pesan harus dituliskan disini. Kesedihannya sering meracuni. Bertanya untuk apa, dan mengapa harus dirinya? Maka pesan tertulis diatas menjadi jawaban bagi kegundahannya.
“Benarkah ini cinta…”  Wanita itu menatap sendu kepada Banyak Wide
“Ambilah..Paman…tolong.. ambillah.!.” Wajah itu semakin memelas, menatap dengan menghiba
“Ya, sebab itu nyata..” Banyak Wide menjawab dengan menghela nafas dalam. Jiwanya larut bersama apa yang dirasakan wanita tersebut. Kesadarannya menerawang jauh menembus waktu disana.

 “Yah..benar, sebab  itu nyata..” Jawab Banyak Wide getuun sebab tidak mampu berbuat apa-apa.
Hmmm, dirinya paham bahkan menjadi saksi  cinta dan amuk rahsa yang menggila. Inilah mengapa dia tidak mampu menjawabnya. Selesai memeberiokan jawaban. Tanpa dikehendakinya, kesadarannya menerobos neuron otaknya. Mencari jejak yang tersisa dan membelenggu fikirannya. Masih sangat jelas terbayang. Manakala kepakan sayap cinta di amazon sana.Selayaknya adalah kepakan sayap kupu-kupu kecil,  namun bagaimanakah akibatnya?  Seluruh pertahanannya telah hancur di hantam badai yang diakibatkannya.

Hancurlah seluruh kota yang di bangun di hatinya. Peradaban yang selama ini mengisi kesadarannya telah porak poranda. Bangun rahsa tak mampu bertahan. Bahkan bangun kesadaran ingat Tuhan yang dipertahankannya nyaris tak bersisa.  Tidak menunggu lama hanya dalam hitungan detik saja. Tubuhnya telah meringkuk merata dnegan tanah. Blaaam…blaammm. Lelaki perkasa yang pernah berjasa mendirikan Majapahit itu terjungkal di hantam badai cinta. Jangan ditanyakan bagaimana sakitnya. “Duh, makhluk manakah yang mampu bertahan dari rahsa ini? Adakah orang yang percaya jika rahsa ini nyata?”
...
Tembikar menukar
Jejak rahsa terbakar
Dalam gelepar jiwa yang terkapar
Adakah sesal menjadi jangkar
Dalam lautan biduk
dan angin mati
Sesar menampar, selejar hingga tepar
Menjalar gelegar dan hingar
Nafas menjadi belukar
raga dalam selesar
sedetik  mati
satu dan satu
dalam sukar..
“Duhai, Anjani dewi lokananta
Nafasmu dawai angin
Dan lihatlah aku juga merindu..
Seribu purnama,
hati membeku..”

….Banyak Wide menatap sedih sosok yang menempati  tubuh raga terkini anak Mas Thole yang bernama Dewi Anjani ini. Seorang sosok masa lalu yang reinkarnasi di raga manusia.  Wajah yang memelas, menghiba, dan kesakitan sekali. Rahsa cinta telah menjadi racun yang menyerang sekuruh system ketubuhannya. Maka yang trelihat adalah raga terkini yang semakin melayu, kehilangan energi dan daya dukung kehidupan. Mengapakah hal ini biasa terjadi? Banyak Wide bertekad membantu menacari jawaban atas ini. Siapakah sosok Dewi Anjani ini? Benarkah dia salah satu leluhur dari keluarga ini? Mengapakah kepada dirinya wanita ini memanggil Paman? Sebagaimana yang lainnya. Ponakan yang reinkarnasi di tubuh anak raga terkjininya sendiri. “Ugh…hidup memang misteri”   
Kesakitan yang dialami Dewi Anjani meliputi raga terkini.  Akibatnya di alam nyata, terlihat tubuh anak Mas Thole semakin hari semakin kurus, hanya nampak kulit pembalut tulang. Kegiatannya hanya mengurung diri di kamar. Merisaukan sekali. Maka karena sebab itu, di sarankan agar dia tinggal di rumah saja, tidak usah kost lagi. Sudah beberapa minggu ini di jalani. Kuliahnya di laju dari rumah. Berangkat seminggu sekali ke Bandung. Walau sudah berada di rumah sendiri ternyata sama saja. Dewi Anjani yang meraga di tubuh anaknya tetap dalam kesedihannya.  Menjadikan suasana rumah dalam keadaan  nelangsa.  .
Bukan tanpa sebab Dewi Anjani begitu. Dalam realitas terkininya anak Mas Thole memang di sakiti 2 lelaki dalam waktu berdekatan ini. Ironisnya dia sendiri tidak pernah  mengerti apa salahnya,  ditinggalkan begitu saja tanpa alasan.  Sedlain menyedihkan raga terkini. Tentu saja hal ini juga turut menyulut kesedihan orang masa lalu yang ada pada raganya. Rahsa sakit tersebut menguliti kembali kesadaran mereka bersama-sama. Menjadikan rahsa sakit yang dialami  menjadi semakin berlipat ribuan kali. Keadaan inilah yang menyebabkan anaknya Mas Thole tidak mampu bertahan. Saban hari menangis, mengeluhkan sakitnya. Sakit yang menyerang  di ulu hati, begitu nyata. Maka hanya erangan, dan duka nestapa saja yang bisa dilantunkannya. Tentu saja halini menyedihkan bagi kedua orang tuanya.
Mengerang, menangis, tatapannya mulai melayu, kosong tiada ruh disana.  Begitulah keadaan raga terkini anak Mas Thole. Kurus sekali.  Menyebabkan nelangsa di jiwa Mas Thole. Banyak Wide mengerti dan memahami apa yang dirasakan Mas Thole. Mereka bagai satu mata uang. Maka apa yang dirasakan satu sisi akan menjadi rahsa disisi sebaliknya. Ingin sekali Banyak Wide membantu atas apa  kesulitan yang dialami oleh raga terkini. Namun apa daya, dirinyapun juga gagal memaknai rahsa yang satu ini. Karena sebab itulah dirinyapun harus reinkarnasi.  
Dewi Anjani adalah anak dari Raden Angga Wijaya. Masih satu trah dengan leluhur Majapahit.  Hidup pada jaman Empu Sendok. Suaminya seorang raja yang bernama Ganda Prawita, dari sebuah kerajaan kecil yang tidak memiliki catatan sejarah di nusantara ini, yaitu kerajaanan Damar Angkasa. Dia pergi  meninggalkan kerajaannya untuk menaklukan wilayah lainnya. Namun apa mau dikatakan suaminya justru takluk kepada seorang wanita yang Sekar Sari seorang putri yang berasal dari kerajaan Panarukan. Sepeninggal suaminya itu, Dewi Anjani bermuram durja sepanjang hidupnya. Cintanya merasa di khianati oleh kekasihnya. Suaminya bertekuk lutut di bawah ketiak wanita lain. Betapa pedih apa yang dirasakan, duka lara sebab cinta.
Belum habis sampai disitu. Anaknya yang semata wayang, baru berumur lima tahun meninggal karena sakit panas saat dalam perjalanan menyusul suaminya. Putrinya yang bernama Dyah Lara Kusuma satu-satunya yang menjadi harapan hidupnya pun juga meninggalkannya. Luar biasa sakit yang dirasakannya.   Pukulan terakhir itu mampu menumbangkan pertahanan dirinya. Cobaan yang bertubi-tubi membuatnya limbung. Dalam gundah dirinya maka diapun mengasingkan diri bertapa dalam sebuah hutan yang tidak diketahui namanya. Beratus-ratus tahun berlalu tidak diiangtnya lagi. Begitu terbangun dia mendapati dirinya berada di dalam raga seorang manusia baru. Rahsa yang dikenalinya itu telahmembangunkannya dari tidurnya. Karuan saja dia berontak, menangis sebagaimana dahulu kala. Dia merasakan sakit yang sama. Dia merasakan rahsa, sebagaimana dia baru bangun dari tidur kemarin sore saja. Perasaannya tidak ada yang berubah. Hanya lay out disekelilingnya saja yang berubah.
Tembikar menukar
Jejak rahsa terbakar
Dalam gelepar jiwa yang terkapar
Adakah sesal menjadi jangkar
Dalam lautan biduk
dan angin mati
Sesar menampar, selejar hingga tepar
Menjalar gelegar dan hingar
Nafas menjadi belukar
raga dalam selesar
sedetik  mati
satu dan satu
dalam sukar..
Semua hanya menunggu, bersama waktu, bersama keadaan semu, hingga jemu.

Salam

Maret 13, 2015

Kisah Banyak Wide-Apabila Langit Terbelah


Hasil gambar untuk langit terbelah
"Kita hanya menyaksikan ... Walau sakit, tp hanya bisa menyaksikan ��
Sebentar lagi
Gongnya sdh bertalu-talu
Cepatlah menuju koordinat itu
Titik itu akan bergeser pd waktu yg belum tentu kalian masih ada di usiamu
Bergerak cepatlah
Titik itu sdh mulai tampak dalam tumpuan waktu
Genderang kehancuran pertiwi sdh mulai bergaung setiap waktu
Aku siapkan semuanya untuk membantu kalian
Karena ini titik waktu yg sudah tertentu
Besok berangkat dalam urut waktu
Kalian akan mendapatkan semua tanpa ada yang menghalangi perjalanan Kami
Bersiaplah
Titik kordinat itu sudah di ufuk waktu
Satu
Dan menyatu
Itu satu
Dalam kurun waktu
Satu
Dalam waktu


Hanya itu..”
...
Tidak beranjak dari pertapaannya Banyak Wide terus menatap langit hijau yang terhampar. Kerinduannya pada malam-malam sebelumnya. Pada waktu yang sama saja keadaannya. Telah merusak jaringan fikirannya. Langit yang sama namun mengapa rahsa menjadi tak sama. Kini dirinya merasa sendirian. Menyepi tiada langutan. Impian sudah menjadikenyataan. Lantas apa lagi yang harus ditungguinya. “Sebentar lagi awan akan menghitam, langit akan dibalikan.” Begitu desahnya lirih.

Raga terkininya telah pasrah berserah, membiarkan kesadaran Banyak Wide yang menguasai pikirannya. Banyak Wide sangat berterima kasih kepada raga terkininya itu. Pemebelajaran untuk dirinya harus di ulang. “Pesannya Kami, setiap makhluk memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Ada yang menjadi tarik dan menarik seperti larik yang terjabarkan dengan gerak gerik.Ketika sidratul muntaha menarik, maka semua lepas dalam gerak larik. Berjalan di antara tarian jiwa yng dimengerti ataupun tidak. Jangan mengharap semua dalam perjalanan seperti kerikil dengan segala ketajamannya, lihatlah pada yang dirasakan dan perhatikan reaksinya. Yah pergi menjadi titah kami untuk kalian segera pergi ke tujuan yang sudah kami tetapkan. Uangnya besok kami siapkan, dan segeralah kalian berangkat sebelum gerak kordinat berputar dalam rotasi yang sdh ditetapkan.

Kami tetapkan untuk segera berangkat, dalam dua hari kalian akan mendapatkan semua transportasi dan akomodasi, dengan laku tersebut menjadi jalan yang sudah ditetapkan. Segera, dan laksanakan...Ini bukan dalam wacana perbincangan antara realita dalam kasus yang tak bertepi. Tetapi akan menjadi suatu hal yang pasti untuk menjalankan misi tersebut. Pesan sudah selesai. Gitarnya liat dalam garis lurus cakrawala biru
Negeri ini akan porakporanda... ��

Pembelajaran di awal


Pesan tersebut mengisyaratkan sudah saatnya dirinya harus terus berjalan. Pembelajaran akan terus dilakukan. Kami akan mengajarkan bagaimana memahami al qur an. Perhatikan dan amatilah serta resapi dalam keyakinan diri, bagaimana pembelajaran ini;

 “ A'udzubillahiminasysyaithaanirrajiiim. Bismillahirrahmaanirrahiim.  1) apabila langit terbelah.  ěž alif ada hamzah di bawahnya, dibaca "i" sebagai sebuah peringatan sekaligus perintah.  Dza dengan di depannya ada huruf alif sebagai petunjuk. Petunjuk yg mengarah ke arah jarak yg jauh.  Perpaduan huruf2 tersebut membentuk tulisan .... (hrs ditulis arabnya) dgn dibaca idza, yg terjemahan bebas Indonesia adalah apabila. Namun secara simbol huruf mengandung makna akan keyakinan dan menafsirkan ketidak yakinan makhluk atas perintah tersebut. Kata idza (hrs ditulis arabnya), menjadi suatu sistem dari keyakinan dan ketidakyakinan. Perintah sekaligus keraguan pd makhluk atas perintah tersebut.  Kenapa demikian? Karena perintah itu menunjukkan pd sesuatu yg jauh dr panca indra Tetapi dirasa oleh panca indra

Simbol ini akan selalu berdampingan dengan makhluk-makhluk tersebut. Yaitu, jauh dr panca indra tetapi dirasa oleh panca indra manusia. Kenapa ditujukan kepada manusia? Karena Al-Quran ditujukan bagi manusia. Pahami kata idza sebagai suatu keyakinan akan perintah. Dza dipatah sebagai simbol getaran. Sedangkan huruf alif yg bersyakal mati sebagai petunjuk arah akan tegaknya perintah tersebut. Maka, kata idza adalah perintah untuk percaya atau yakin akan kekuasaan Allah yg jauh dr panca indra, tetapi terasa oleh panca indra. Assamaau... Terdiri dari alif, lam sin, mim, alif dan hamzah. Secara arti bahasa Indonesia artinya langit.  Maka ingatlah simbol assamaau (hrs tulis dlm bahasa Arab) dengan penjabaran. Alif mati sebagai penegak yang lurus. Lam mati sebagai lapisan-lapisan yang membentang. Sin fatah dibaca sa sebagai simbol sinar yang terang. Mim sebagai makhluk Allah swt.  Alif mati tegak membentang. Hamzah sebagai penekanan dr bentangan sinar. Syakal yang membentuk bendera, maka itu juga sebagai penekanan sinar yang membentang dalam pandangan manusia.

Alif mati, nun mati, sya, qaf tasydid, dan ta mati. Dibaca ingsyaqqat, yg dlm bahasa indonesia diartikan terbelah. Alif mati sebagai penegak. Nun sebagai wadah. Sya fatah sebagai saksi-saksi.  Qaf fatah sebagai lekukan dalam sebuah wadah yang menunjukkan adanya kehidupan.  Tasydid sebagai penekanan akan wadah2 tersebut. Bukan satu, tetapi dua. Ta mati sebagai titik dari pertemuan.  Ingsyaqqat menjadi simbol keterpaduan dalam sebuah wadah yang tegak, namun ada titik yang menjadi mati dan hidupnya penghuni tempat tersebut. Dalam deskripsi simbol dari tiga kata simbol di atas membentuk suatu simbol bahwa adanya perintah Allah bagi penghuni langit atau sinar yang memudar dan menjadi titik-titik atau terbelah dalam pandangan manusia.

Memahami ayat pertama ini harus dengan keyakinan. Bahwa Allah yang memberi perintah atas langit. Begitu pula manusia harus sadar akan keterbatasan dirinya. Baik dalam ilmu atau raganya sendiri. Pemahaman yg biasa bg yg menganggapnya biasa. Tetapi menjadi titik poin dalam pembelajaran untuk mengenal perintah, keyakinan, dan keterbatasan makhluk. Segala sesuatu atas perintah Allah. Simbol2 di atas tidak mesti kau jabarkan, krn dalam pemaknaannya akan dibantah. Kami mengabarkan bahwa setiap kata dlm al Quran adalah simbol. Termasuk huruf. Namun dalam penjabarannya harus paham dr setiap huruf dan titiknya. Kembali pd terjemahan apabila langit terbelah.... Itu seperti "jika", padahal itu pasti. Langit terbelah. Secara ilmu pengetahuan bisa dibawa pada teori-teori fisikia. Adanya benturan benda-benda langit sehingga berguncang penghuni bumi. Namun secara kejiwaan, pada dasarnya pandangan atau pikiran yang melihat atau memandang sesuatu keyakinan yg jauh dr indera tetapi dirasakan oleh indera yg cahayanya pedar. Sering menjadi ragu. Maka itulah yang dimaknai dlm terbelah.

Allah menciptakan para makhluknya. Berinteraksi satu dgn lainnya menjadi belahan dalam proses kehidupan. Demikian pemaknaan ayat pertama. Dan berkaitan dgn ayat kedua.  Apakah masih siap menerimanya?

Dan langit patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit patuh.  Dalam setiap gerak makhluk atas ijin atau kehendak Allah. Dan mereka bergerak sesuai dengan ketetapan yang telah Allah tetapkan.  Langit sebagai salah satu makhluk yang memiliki rotasi yg sesuai dengan porosnya. Ketika titik pion rotasi bergeser bukan pd poinnya, maka benturan akan terjadi.  Namun, semua yg terjadi atas kehendak Allah.

3) dan apabila bumi diratakan; Kembali pada bentuk perintah ketika bumi diratakan. Rata tanpa ada tiang penyangga, yaitu gunung2...Tentu dalam sekilas pandang bahwa bumi itu rata. Sekali-kali tidak, bumi memiliki pancang-pancang penyangga yang mengelilingi bumi.  Yaitu gunung-gunung yg betebaran dengan susunannya yang telah Allah tetapkan.  4) dan dilemparkan apa yg ada di dalamnya dan menjadi kosong. Isi bumi dimuntahkan keluar semuanya. Tahukah kamu amteri apa yg berada di dalam isi bumi?  Api, gas, batu, air, dan tanah berhamburan keluar untuk mengosongkan setiap lapisannya.  5) dan patuh kepada Tuhannya dan sudah semestinya bumi itu patuh. Pergerakan bumi atas ijin Allah swt. Benturan-benturan yang terjadi atas kehendak Allah swt. : 6) Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dgn sungguh2 menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. Berkenaan dengan kehidupan manusia yang menjalankan proses hidupnya.  Takdir yang telah ditentukan

Tetapi manusia harus tetap dlm usaha dan niat kesungguhannya.  Keraguan seringkali menjadi penghalang bagi manusia itu sendiri dalam menemui Tuhannya.  Langit dan bumi disebutkan di awal menggambarkan bahwa mereka adalah makhluk-makhluk Allah.  Setiap geraknya atas ijin dan kehendak Allah. Ketika terjadi benturan gerak atau pergeseran titik poin, maka mereka patuh atas perintah Allah. Benturan gerakan tentunya akan memberi efek juga kepada makhluk2 tersebut. Namun, kepatuhan dan keyakinan atas semua yg terjadi atas kehendak Allah, maka mereka patuh. Begitu pula dgn manusia. Bila dihadapkan pd benturan2 atau interaksi, tetap dlm kepatuhan dan keyakinan kpd Allah dlm proses perjalanan hidupnya, maka manusia itu dapat menemui Allah.  Dalam perputaran lintas dimensi makhluk, pemahaman ini bisa dlm terapan-terapan kepatuhan mengikuti sistem dan kehendak Allah. Meski diturunkan ke bumi, atau berada dlm raga tak berarti, maka makhluk tersebut akan mengikuti petunjuk Allah. Jejak-jejak manusia dlm perputarannya kadang dlm lintasan yg dekat, kadang jauh dr titik poros. Tetapi bila terus mengikuti rotasi, maka akan bertemu dengan ilahi rabbi.

Ayat 7 menjelaskan catatan kitab yg menampilkan saksi-saksi atas setiap kitabnya.  Kesaksian yang memudahkannya utk kembali dan bersama Kami dlm anugerah ilahi, itu ayat 8. Dan ayat 9. Adapun ayat 10 tentang kitab dr belakang, maksudnya banyak saksi yg berpaling dan enggan menjadi saksi atas perbuatannya. Kitab di sini adalah alam semesta yg menjadi saksi atas perbuatannya...Kitab ini sangat enggan dan berpaling dr manusia yang durhaka.  Sehingga memilih utk membelakanginya.  Menghindar dr orang tersebut.  Kitab setiap diri manusia? Krn pada dasarnya alam semesta berada dlm kesadaran ilahi rabbi. Penjelasan tentang ini bisa dibuka dlm QS Al Hijr. Penjelasan tentang manusia dan kitabnya.  Ingin dilanjutkan Surah Al Insyiqaq atau beralih ke surah Hijr?

Belajar kitab dan manusia, lihat surah Al Hijr. Ayat 11... Dengan keengganan para saksi utk hadir menjadi tanda bahwa dia dlm keadaan celaka.  Manusia paham akan hal tersebut.  Namun kadang, paham bukan berarti sadar. Inilah yg menjadi masalah. Banyak yg paham akan sesuatu makna atau peristiwa, tetapi sayang dia tidak menyadarinya.  Tidak tergerak hatinya. Tidak dalam kesadaran utk dapat melaksanakan atau menjauhinya. Begitu pula dengan tanda tersebut...manusia paham, dan baru sadar bahwa dia dlm keadaan celaka. Sayang hal tersebut akan terasa sia-sia bila itu terjadi pd saat perhitungan amal.

 Lanjut ayat 12
Dalam keadaan tersebut, maka manusia menjadi kacau. Seumpama api yang menyala dia masuk ke dalamnya.
Pada dasarnya, kegundahanlah yg membuat hatinya bak api yang panas, dan itu akan menghanguskannya sendiri.

Ayat 13, pada masa dalam perjalanan hidupnya, dia mengikuti hawa nafsunya. Segala emosi yang ada ia ikuti, padahal hal tersebut adalah fana.
Masrura yg sering diartikan bergembira, Kami maknai sebagai mengikuti hawa nafsu atau kemudahan dalam menjalankan nafsu dan emosi.
Di dalam keluarga atau lingkungannya, orang tersebut cenderung mengikuti hawa nafsu atau emosinya sendiri.
Sifat-sifat itulah yang menguasai raganya.

Ayat 14, Orang tersebut dalam arus hidup mengikuti emosinya, tanpa sadar bahwa hidupnya adalah perjalanan.
Perjalanan dalam menjalankan takdir Allah swt.

Berlanjut ayat 15, karena dikuasai oleh nafsunya, maka ia tidak sadar sedang menjalankan takdirnya sebagai hamba dan khalifah
Dan Allah melihat atau menyaksikan apa yang diperbuatnya

Ayat 16, Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja...
Aku di sini bukan khaliq. Tetapi aku saksi dan yang menyaksikan.
Kenapa cahaya merah senja atau lembayung dijadikan sumpah? Karena di sana ada proses peralihan atau perpuataran matahari.
Siang dan gelap
Batas waktu itu terkhibar dalam cahaya merah
Pantulan cahaya merah yg diterima oleh panca indera
Maka, Kami menyebut aku di sini sebagai saksi dan penyaksi, bukan khalik
Masa peralihan ini sering menjadi proses yang dinikmati atau diingkari
Tergantung dr panca indera yang menerima hal tersebut.

Ayat 17, Malam yang menyelebungi berada dlm rasa manusia
Adanya malam sebagai bukti keterbatasan manusia
Perputaran matahari sehingga bagian yg tidak disinari menjadi gelap, bak selubung yg menyelimuti
Dalam kegelapan itu, satelit bumi hadir dlm pendar cahaya dr pantulan sang bintang
Bulan pun sama berputar dlm rotasinya.
Sehingga dapat membentuk binar cahaya terang yg dinamakan bulan purnama

Ayat 20, Dari pelajaran cahaya...
Merah, kemudian gelap, dan terang dlm redup cahaya bulan...
Ada proses dan tingkatan alam
Begitu pula dengan manusia
Sinar itulah yang terang bersinar
Kemudian keterbatasa panca indera, melihatnya dalam tahapan-tahapan cahaya
Lapisan-lapisan yg dilewati, menjadi tahapan-tahapan kehidupan
Namun semua berada dalam satu sistem
Langit, bumi, dan manusia berada dlm sistem alam semesta.
Ayat 20, Menunjukkan penekanan
Bahwa orang yang paham dan mengetahui semua hal dengan ilmu pengetahuannya, mengapa masih belum sadar untuk beriman?
Padahal Allah sdh menjelaskan semuanya
Baik tertulis maupun tidak
Bahkan, banyak manusia yg paham tetapi tidak sadar

Ayat 21, Apabila mereka dibacakan akan kesadaran, mereka mengingkarinya...
Mereka tidak mematuhinya
Padahal mereka mengetahui bahwa mereka harus patuh

Ayat 22, Mereka lebih memilih berdusta atas pengetahuan dan pemahaman yg mereka ketahui
Dan hanya kembang dalam hidup mereka tanpa sadar
Padahal dlm ayat berikutnya disebutkan, Allah Maha Mengetahui atas hati dan niat mereka.
Sekali-kali tidak. Hati itu hanya Allah dan pemilik hati yg mengetahuinya.

Ayat 24, Keadaan mereka yg demikian, dapat menjadi bumerang dalam setiap apa yg dilakukan.
Siksa yg pedih dianggap bualan
Padahal mereka sudah merasakannya sendiri
Buaian-buaian nafsu mereka menjadi kabar gembira bagi mereka, tetapi sebetulnya itu adalah siksaan bagi mereka.

Ayat 25, Tetapi bagi orang yg beramal saleh dan beriman, kebahagian mereka tidak akan terputus.
Mereka yakin akan kasih sayang Allah, maka Allah pun menyayangi mereka.
Pahala di sini bukan seperti transaksi jual beli.
Tetapi pahala yg tidak putus-putus adalah keikhlasan dalam setiap ketetapan yg Allah berikan.
Shadaqallahul'adzhim”

Nafas menjadi belukar
raga selesar telah mati
dalam sukar..
Perhatikanlah dan 5 menit ini misteri…


Salam

Orang-Orang Masa Lalu-Episode Banyak Wide



Episode LangkahYang Diulang
Jelas menatap awan berarak. Wajah murung semakin terlihat. Sekian tahun lamanya bergelut dengan entitas dari alam tak kasat mata. Ternyata kata sama dia dapatkan.
“Layaknya musim ini berkaca pada sikapmu ?!?”
Suara itu terdengar lirih saja,  desahan nafas tertahan. Seperti hanya ingin berbicara kepada dirinya sendiri. Tidak ada ekspresi dalam wajahnya. Alam sekitar senyap menahan gelisahnya,  bahkan suara anjing yang biasa melolong dari rumah tetangga kini lenyap. Begitu juga makhluk tak kasat mata yang biasa lalu lalang di dalam rumahnya, kini diam seakan mereka paham tuan rumah sedang tidak ingin diganggu. Mereka menahan langkah. Memberikan kesempatan lelaki tersebut memasuki dimensi ghaib mereka. “Jelas menatap awan berarak dan wajah murung semakin terlihat.” Desah nafas memberat menyisakan kehampaan udara di seputar dada dan lehernya.
Pandangan lelaki tersebut menatap  lurus ke depan. Dari bibirnya kembali berdesah, mengucapkan perkataan yang sama. Tidak menghiraukan apakah pernyataannya tersebut akan ada yang mendengar . Lantas sebenarnya kepada siapkah dia berkata itu? Entahlah… mimik wajahnya terlihat sekali apa yang disampaikannya itu mengandung bobot dan isi kedalaman yang yang luar biasa. Sesekali dia meringis seraya sedang menahan kesaktian yang menyelinap di dadanya. Otot-otot syaraf yang muncul di keningnya terlihat bergerak-gerak. Menahan sensasi yang terus semakin dalam menyentuh syaraf disana.
Jantungnya membengkak sudah dirasakan beberapa hari lalu. Itulah penyebab sesak nafas, dan bersin-bersin sepanjang hari. Tubuh lemah, nyaris tak bertulang. Waktu menjadi diam menanti keadaan,menunggu apakah yang akan terjadi setelahnya. Jeda serasa lama,  menimbulkan kekosongan suara. Nampak pusaran udara hampa terbentuk disana. Energi kesadaran yang terpancar dari hati yang dilontarkan lelaki tersebut. Menerobos diantara detik ke detik,  jeda kosong yang diam. Celah lorong waktu yang meliuk  bagi kesadarannya. Semisal inilah lubang cacing yang menembus ujung dimensi sebelahnya.
Sosok  Banyak Wide nampak jelas diujung sana. Berada dalam kesadaran lelaki setengah baya yang rupanya adalah sosok Mas Thole. Terlihat sekali Mas Thole menghela nafas yang apa boleh buat. Dadanya terlihat naik turun diterpa gempuran kesadaran Banyak Wide. Yah,  Seperti udara kasih yang diberikan Banyak Wide kepada para ponakan. Hingga didetik ini, meskipun telapak kakinya telah  penuh darah dan penuh nanah. Dia ingin kembali ke mayapada. “Alam semesta dalam titik kulminasinya, putaran magnet bumi demikian cepatnya. Bagaimanakah jadinya dengan keselamatan para ponakannya” Itulah alasannya, dia tetap tidak tega meninggalkan para ponakannya. “Bukan-bukan salah para ponakannya. Hanya saja dia memang kurang sabaran menghadapi para wanita.“  ujar Banyak Wide dalam gundahnya, menunggu kepastian lelaki setengah baya itu.
Ada guratan kesedihan yang sulit dijelaskan mengapanya,  pada wajah tua Banyak Wide. Penemuan monster  black hole  beberapa hari ini sungguh mengkhawatirkannya, makanya dia memaksa untuk bertemu dengan raga terkininya. Meminta diberikan kesempatan sekali lagi untuk membereskan tugas-tugasnya. Dia sadar bahwa sudah bukan bagiannya. Tetapi alam telah mengijinkannya. Phrameswara tetap akan berkidung pada dimensinya. “Tidak usah  khawatirkan akan dirinya” Banyak Wide memberikan keyakinan. Maka tidak ada alasan bagi Mas Thole untuk menolaknya. Terlihat jelas dialog mereka tergambar disini. Menjadi rangkaian kisah terbarukan kisah “Kembalinya Banyak Wide” dalam sebuah tugas baru. Menyusuri peradaban Majapahit dan Sunda. Inilah dialog diantara mereka dan KAMI.
 “Sang penjaga alam hadir dalam hidup dan kehidupan. Kepingan-kepingan yang tersebar harus tumbuh dengan kesadaran alam. Aku dan kamu bagian alam. Menyiraminya seperti memberi siraman kesadaran. Jejak berbeda bukan halaman dalam denyut perjalanan. Seringkali jalan dan genta dlm api asmara tanpa warna. Serpihannya menyengat membumi hanguskan sekitarnya. Seiring perjalanan, berjalan tanpa jeda menjadi bahasa tanpa irama. Arrahman arrahim itu tanpa batas. Kasih sayang Allah tidak bisa dibatasi oleh definisi. Karena kalau diterjemahkan, maka sama dengan menyempitkan arrahman arrahim. Merasakan Arrahman arrahim adalah tugas Kami. Kami itu termasuk dirimu. Kamu adalah Kami, dan Kami adalah kamu. Arrahman arrahim bg segenap makhluk Allah. Hanya yg merasakan Arrahman Arrahim Allah, maka itu adalah Arrahman Arrahim Allah.
Debur ombak yang meninggi seperti percikan dalam setiap raga yang memancar dalam hati. Ada kata dan laku. Sikap dengan hati menjadi satu kesatuan.  Bukan mengada-ada atau tidak ada. Satu entititas dalam perjalanan kehidupan. Bukan untuk dicari atau mencari. Dalam bayangan imajinasi. Mengembalikan pada rangkaian entitas yang menjadi sejatinya jati. Bila pembelajaran kesadaran dgn hal tersebut menjadikan jiwa dlm raganya mengenal Tuhan. Kami mengijinkan. Tetapi tetap kesadaran ditetapkan.Harus ke Kawalu dan Triwulan.  Meluruskan kabar kesadaran. Keputusan telah ditetapkan menjadi tugas perjalanan.  Merangkaian rangkaian kehidupan dengan kesadaran. Bukan emosi atau prasangka. Menjadi aku dalam mengaku2.  Karena nanti akan menjadi batu, batu yang menjadi bahan kayu bakar.  Aku dalam putaran waktu akan melibas pusaran masa lalu, maka lihatlah dengan berjalan pada sejatinya kesadaran. Ketika raga sudah merasa-rasa, maka rangkaian emosi dan aku membatu. Selama ini hanya itu dulu. Rangkaiannya akan menyusul seiring waktu. Itu kabar dr Kami.”
 Kami telah memberikan isyarat agar lelaki setangah baya itu kembali kepada jatidirnya dan membiarkan Banyak Wide turun ke  mayapada. Seluruh makhluk berada dalam liputan arohman dan arohiem maka bagi makhluk yang bersungguh-sungguh ingin menjalani perannya maka Allah akan memberikan kesempatan kepadanya. Begitulah pesan itu kuat terasa. Datang bagai gelombang dan berulang-ulang.  Memberikan keyakinan kepada lelaki setengah baya itu untuk percaya. Meniti jalan bersama rekan lainnya kembali untuk berjuang dan terus bersabar dalam menyampaikan setiap pesan-pesan alam. Apalagi dengan situasi sekarang ini dimana para siluman semakin gencar memasuki dimensi kesadaran manusia. Tidak ada pilihan bagi lelaki tersebut untuk bersiap menerima kembalinya Banyak Wide.

...
“Pesan itu ada di mana2. Bahkan, secara jelas Al-Quran berisi pesan dalam kesadaran.  Namun, tidak sedikit yg menyalahartikan atau menfasirkannya. Poin yang harus diingat adalah pemahaman dgn kesadaran. Kami hanya mengarahkan pesan-pesan tersebut, karena yg menerima atau menolaknya adalah diri kalian sendiri. Jadi jangan khawatir dengan ulah siluman yang menguping pesan. Pesan Kami tetap terjaga. Semalam adalah benturan energi siluman dengan Kami. Kami mempercepat proses penebalan pada raga dan energinya, karena kekuatan energi yang akan dihadapinya akan semakin besar. Para pencuri itu akan berusaha dgn segala upayanya untuk mengambil kabar. Padahal apa yg dia lakukan akan sia-sia.  Sangat sia-sia. Terapannya menjadi makhluk yg menjadi nafsu dr makhluk tersebut. Untuk menghadapinya harus dengan pelan.”
Benturan energi. Raga yang letih dan sakit yang sudah mengeram hampir 10 hari, menjadi kelelahan tersendiri. Inilah keadaan yang harus dijalani. Namun semua tidak mengecilkan hati. Semangat ingin terus berbagi menjadi obat dihati. Dan kisah ini dibuka dengan sebuah pesan Kami. Agar manusia membuka hatinya. Pesan berada dimana-mana. Pada daun yang jatuh, pada kelopak yang membisu. Pada deru angin yang saru. Pada serpihan masa lalu. Pendek kata dimanapun aku kita memandang disitulah pesan dihamparkan. “Dimanapun engkau memandang disanalah wajah Allah.” Maka yang menolak pesan adalah diri kita sendiri. Karena itu janganlah pernah khawatir bahwa pesan itu tidak sampai. Pesan akan terus menetap di alam semesta ini. Sebagaimana kita sekarang ini menatap alam semesta dan melihat keadaan diri kita sendiri. Itulah pesan dan kita hanyalah penyambung pesan. Menjadi penerus rangkai para penyampai pesan-pesan sampai hari kemudian. Adapun para pencuri rahasia langit yang terus mencoba memasuki raga-raga manusia guna melakukan penyadapan, tidak perlu terlalu dirisaukan. Serahkan urusannya kepada Allah.
“Kami tdk bisa menghukumnya. Hanya Allah yg dapat menghukumnya. Kalian hendaknya memohon perlindungan Allah swt dan tetap waspada.  Kaitkan semua peristiwa atau kejadian kepada Allah swt.  Serahkan semua kepada-Nya. Siluman tak jauh berbeda dengan iblis, halus dan tidak terlihat. Serahkan semuanya kpd Allah.  Kami menjadikan kalian para penyampai pesan sebagai manusia biasa, seperti halnya orang-orang terdahulu. Muhammad, Rasulullah juga manusia biasa. Benturan yg dirasakan sangat terasa, terutama dalam emosi atau hati.  Babak belur raga itu menjadi lebih baik daripada emosi atau hati yang terkoyak oleh mereka. Pesanku hanya waspada, krn kalian sekarang sudah tau. Dan tetap, segalanya serahkan kepada Allah swt.  Ksatria atau bukan, akan terlihat dalam perjalanan.”
Banyak Wide  berkata dalam tiwikramanya. “Tak pernah letih raga untuk setia. Tak pernah lelah jiwa untuk merasa. Bersama derita, bersama air mata. Bersama duka nestapa. Untuk senantiasa ada, menantikan sepenuh jiwa dalam pengajaran cinta. Biar dicerca dan dicela. Biar dibenci dan dihina. Biar didera disiksa. Relakan raga menderita demi satu kata dalam pemahaman-Nya. Menantikannya sepenuh jiwa. Pengajaran CINTA dari-Nya. Karena cinta demi cinta dari cinta dengan cinta dalam cinta. Meski itu tak semudah kata. Meski hari hari kian sepi. Tiada yang menemani. Merasa kelam betapa kelam hidup. Betapa suram nasib diri. Mungkin sudah suratan dalam tingkatan pemahaman dalam kasih. Terjebak di dalam lorong kesadaran. Hitam terlalu hitam. Terlalu sayang terlalu cinta.  Langkah mana yang harus di tempuh dalam menempuh jalan. Kelam betapa kelam hidup. Suram betapa suram hidup. Terlalu dalam mendamba.”   
Apa yang dirahsa telah dilontarkannya, merasa rahsa di jiwa. Menebus mega dan pekatnya prasangka. Perjalanan menembus raga terkini melelahkannya. Sesaat setelahnya, jiwanya kemudian menjelajah kerangkaian DNA nya. Mencari serpihan yang terasa. Disana rangkaian kesedihannya serentak saja  terbaca, mengisi langit. Derita! Betapa cinta telah membutakan dirinya. Kecintaannya kepada anak-anaknya, dan juga kepada para keponakannya, telah menghancurkan hidupnya. Kesaktian dan pengabdiannya kepada Raja menjadi sia-sia di mata alam semesta.  Sebagaimana  Pendeta Dorna pada kisah Mahabarata yang dibutakan kecintaan kepada Aswatama. Sehingga pada saat perang di padang Kuruseta Kresna meminta kematiannya untuk menebus kesalahannya. Jika Pendeta Dorna tersadar atas kesalahnnya dan menebus dengan kematiannya.
Maka tidak dengan  Banyak Wide kematian Ragalawe anaknya terus menghantui dirinya. Disamping itu sisa kesadaran atlantis yang masih terus menghujam di dalam relung alam pikirannya selalu mengganggunya. Tanggung jawabnya kepada ponakannya para putri raja memburunya hingga kemanapun dirinya bersembunyi. Dirinya masih memiliki tujuan yang belum terlaksanakan. Ada sebuah keinginan yang harus dilaksanakan. Maka jikalaupun dirinya menyerahkan kematiannya kepada Raden Wijaya, pada saat itu, hal itu lebih disebabkan rasa putus asa karena sebab kematian Rangga Lawe dan juga para ponakannya.  Para ponakan yang tidak mengerti apa-apa di kaputren saat itu, telah diserang dibunuh oleh pasukan Majapahit yang dipimpin Mahapati. Satu Kadipaten diluluh lantakandiratakan dengantanah dan Lembu Sora pamannya setrta Patih Nambi pun turut gugur bersama ribuan pasukan pilihan yang turut mendirikan Majapahit.  Majapahit yang telah diperjuangkannya, justru berbalik menghancurkan orang-orang yang dicintainya. Dialah pendiri Majapahit dan sekarang dirinya hancur oleh kerajaan yang didirikannya sendiri. Betapa tidak kelu merindu kesahduan kisah yang membiru ini?
Sungguh menangispun tak akan memburu waktu. Apalagi kemudian mengulang kisah masa lalu dengan episode yang baru. “Tidak..tidak mungkin itu.” Banyak Wide pun mengerti dan memahami iu. Karena sebab itulah dia hanya ingin memastikan hal itu tidak terjadi lagi di masa kini kepada para ponakannya. Hanya itu, dia tidak tahu bahwa itu adalahcinta terlalu. Baginya itu adalah kewajaran saja. Karena sebab itulah alam terus memberikan pengajaran melalui serangkaian pengajaran rahsa dalam putaran masa. Karena sebab itulah bisa dipahami mengapa dirinya terus ber reinkarnasi. Alam membiarkan Banyak Wide memasuki alam-alam  kesadaran lainnya.  Membiarkan Banyak Wide menemukan mencari jawaban dan kepastian. Benarkah kesedihannya terlalu?
“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat, merupakan dalam setiap susunan atau sistem ada tingkatan-tingkatan. Setiap tingkatan ini menjadi siklus dalam perjalanan. Pendaran cahaya yang menebar dalam setiap sistem akan menjadi proses. Ada banyak hal yang tidak dipahami dalam perjalanannya, ketidakpahaman inilah menjadi titian yang tak terbendung seperti irisan dalam perputaran.  Sebuah perjalanan menjadi kasih dan benci sebagai penyeimbang dalam tahapan-tahapan yang menjadi saksi. Tanpa ada hidup dan kehidupan menjadi padanan yang menyimpan dalam setiap haluan. Jejak itu bukan dalam sebuah kendaraan tetapi seperti ketika angin yang membekas dengan kerlipan debu yang hinggap tak menentu.  Jaring yang menyebar, seperti rangkaian yang tidak teridentifikasi.  Cerita hanya seperti angon bila dalam tatapan menjadi siklus dalam perjalanan. Antara ada dan tidak ada seperti rangkaian. Semua dlm proses, maka perhatikan dan amati.
Setiap perjalanan, kami yg membawamu kembali.  Setiap perjalanan ada dalam ketidaktauan dan pengetahuan. Jaman yg mengantarkanmu kpd Kami. Perjalanan kemarin menjadi saksi.  Karena dalam prosesi, kami lakukan hari ini. Ratu Kidul sudah menerima semuanya. Dia ada dan hadir dimana saja kamu memanggilnya.  Secarik kertas dalam goresan tinta, bukan berasal dari min ruuhi.  Ruh-Ku. Kami memahami banyaknya entititas dalam setiap perjalanan. Tak ada yg mengetahui beda warna atau rasanya. Seperti jejak tanpa alas kaki. Seringkali dalam iring waktu yg tidak dimengerti.”
Yah, kesedihannya begitu hebat manakala tidak ada yang mengerti apa-apa yang dimaksudkannya. Bahkan niat baiknya kadang lebih sering dipahami keliru oleh para ponakannya. Dalam prasangka dalam iba dan nelangsa sebab ketiada sepahaman disana. Bukankah ini dukalara dibelantara rahsa? Lebih hebat sakitnya daripada saat kematiannya saat di tarik oleh empat ekor kuda?!?  Perjuangannya menjadi serasa sia-sia. Katakanlah, “Sedihku mengalahkan langit yang biru.” Maka wajar saja jika kemudian dirinya meminta kepada Kami untuk kembali ke alam dimensi asalnya. Jejak yang berliku, rasa khawatir yang berlebihan atas jiwa-jiwa orang-orang yang dikasihinya telah mengabaikan kenyataan bahwa atas jiwa-jiwa manusia ada yang lebih berkuasa. Allah yangberkuasa atas jiwa manusia. Maka betapapun inginnya Banyak Wide menyelamatkan orang yang dicintainya tidaklah sepantasnya jika dirinya mengabaikan kekuasaan Tuhan atas jiwa manusia.   Seharusnya dirinya mampu menyerahkan urusan jiwa manusia ini kepada Tuhannya. Tidak ada satupun yang mampu diperbuatnya tanpa ijin-Nya. Bukankah kepastian ini sudah diketahuinya? Mengapa kesedihannya masih saja merajai hatinya?
“Jejak perjalanan itu berliku dan terjal, tak ada yang meragukan ketika Muhammad bersedih pilu dalam relung malam memikirkan umatnya. Begitulah jalan… Benturan dan reaksi akan selalu berhadapan. Maka serahkan semuanya kepada Allah swt.  Mengabarkan pada yang sudah mendapat kabar, seperti pengajaran Muhammad pada kaum Yahudi atau Nashrani yang sdh mendapat berita. Mereka ada yang menerima, aada yang pergi dan berpaling. Dan ada yang membantah dan melawan. Itu pelajaran emosi, perjalanan kekuatan hati.  Tahu dan tidak tahu tiada berarti bagi orang yang belagu. Sering mengutuk dan menyeru. Liat dan pahami kembali surah Al-Insyiqaq. Karena kabar ghaib sering menjadi sandaran pada keraguan dan ketidaktahuan. Kami tidak dalam perjalanan yang tidak diketahui. Setitik hati tak berarti dalam rangkaian perjalanan. Lihat dan baca, maka akan paham dalam setiap ayat yang terkabarkan. “
“Setitik hati tak berarti dalam rangkaian perjalanan.
Lihat dan baca, maka akan paham dalam setiap ayat yang terkabarkan!”
Banyak Wide tertunduk lesu. Ribuan tahun telah berlalu. Semua dalam kehampaan dan keriangan semu. Kini ketetapan sudah tentu. Dirinya sudah bersatu dalam raga terbaru. Dalam susunan yang tak mungkin saru. Meniti kembali jalan-jalan-Nya yang  pernah dulu dia jemu. Berharap dalam kehidupan terkini selesailah pengajaran hakekat malu pada rindu.  “Setitik hati tak berarti dalam rangkaian perjalanan. Kemanakah berpijak. Bila selalu dibawa rahsa di jiwa. Ku rangkai kata sebagai pembuka  jalan di mayapada? Duh, seandainya diri mampu membuat orang-orang yang dicintai kembali. Hati ini tak akan beku merasa sendiri.” Begitu Banyak Wide membatin sendiri.
Langit terbuka. Dalam tarikan nafas.  Tercurah hujan dari atasnya. Berkata langit kepada para penyaksi, yang menyaksikan. Mereka yang menyaksikan dan menyangsikan ilah-ilah dalam jiwa. Ilah yang berbentuk rahsa. Rahsa yang menjadi Tuhannya. Maka…” Ya sin bukan dalam penerjemahan makhluk. Setiap yang memahaminya ada dalam tahapan ketiadaan.  Meniadakan ilah-ilah yang menghangatkan jiwa2 yang pekur dalam larut waktu.  Pengajaran dan pembelajaran menjadi bagian perjalanan. Termasuk saksi dan menyaksikan.  Masih ingat akan pendapat karakter dlm Quran. Penjabaran diri dengan mengambil penggalan-penggalan ayat.  Seluruhnya berada dalam entitas di antara aksara dan kata.  Serahkan semua kabar kpd Allah swt. Tiada yg mengetahui hanya Allah yg Maha Tahu. Nanti kalian akan mengetahuinya.” 
Begitulah pesan kepada Banyak Wide, kesaksian bukanlah penyaksian. Kata tiadalah berguna di pengadilan akhir nanti. Akankah rahsa di jiwa tetap menjadikan Tuhannya? Menjadi tujuan dalam hidupnya. Menjadi pengejaran dalam ber spiritual? Tidakkah ada yang menyadari bahwasanya pengejaran rahsa khusuk saat sholat adalah  sama saja keadaanya. Menjadi bagian dari pengejaran rahsa? Akankah begitu seterusnya kesadaran diajarkan, kepada lainnya? Banyak Wide hanya terpekur tak pahami realitas keadaan sebenarnya. Baginya tujuannya ke mayapada adalah dalam rangkai sebuah urusan rahsa di jiwa. Itu saja.
Sembilu rahsa terikat di jiwa. Berharap rembulan malam berpijak di bumi yang berdebu. Hamparannya pasti akan mengkisahkan kembalinya  orang terdahulu dan sekarang. Menuai impian yang tak kuasa di analogi lagi. Lautan bergelora, menahan gejolak buncah gembira rahsa cinta mendalam. Menanti  langit terbuka bagi manusia sebab cahaya-Nya pasti akan datang menerangi hati. Temaramnya luka siangnya panas bara. Semoga akan sirna menjadi kuasa atas cinta. Maka pesan terbaca, “Sudah saatnya kembali berjalan ke utara, menuju ke selatan dan juga barat daya. ” Kami telah memilih bukan dalam anggapan diri siapa. Tidak ada yang tahu sebab kenapa dan siapa terpilih diantara makhluk alam semesta lainnya. Apakah karena niat semata. Tidaklah ada yang tahu, yang jelas Allah Maha Kuasa. Maka siapa saja mulailah rapikan diri dan tetapi saja apa yang menghampiri. Amati dan ikuti nurani. Bagai lagu senandung rindu, melodi yang akan menghantarkan perjalanan dalam terpaku. Maka kesanalah setiap manusia di tunggu.
“Semesta dalam proses pemutarbalikan. Seperti dalam jalan arti seperti kendari dalam serpihan api. Ada dalam keretakan menjadi pedar. Lihat dan amati. Dalam dekap jantung sejap seperti kerikil dalam kendi. Menyusup dalam sulap seperti air yang merembes dalam jejak sanubari. Lihat dan amati, karena pergerakan emosi seperti retakan bumi, getaran alam dalam detak alam tak berkaca.  Sekali lagi, pahami al Insyiqaq, nanti ada jawaban dlm kegundahan”
Lelaki setangah baya itu menatap meratapi. Bertanya mengapakah raganya terpilih dan menjadi tepat para Raja bersinggasana. Bukankah akan perih terasanya di jiwa? Bukankah sama saja dirinya harus bersiap atas perjalanan rahsa sebagaimana dahulu. Menjadi media reinkarnasi bagi  leluhurnya dahulu. Sungguh itu  tidaklah seenak angapan manusia.  Bagaimana menjelaskan jika Banyak Wide  hanyalah salah satunya. Dan berapa banyak lagi para raja yang diulang pembelajarannya, sehingga melakukan reinkarnasi? He..eh. Entahlah itu..yang bisa dilakukan hanyalah meyakini atas takdir di jiwa. “Semua sudah dalam ketetepan-Nya!”
Karena Kami sudah memilihmu. Para raja itu bukan dilihat dr kesaktian atau kedudukannya.  Tetapi lihatlah dr pembelajaran mereka yg diulang. Kenapa mereka juga memilihmu?  Karena mereka ingin kembali ke ilahi rabbi. Maka mencari jiwa-jiwa yang berada dlm perlindungan Kami.”
Episode Jejak Dalam Penantian
Jendela dunia terbentang, seperti terbangun dari mimpi. Lelaki itu memandang sekelilingnya. Takjub dan entah apa yang dirasa. Melihat langit serasa dirinya ada disana. Melihat awan seakan dia gerak bersama sang awan. Melihat ujung ufuk, serasa dirinya juga berada di titik terjauhnya. “Apakah yang terjadi..?” Kesadarannya menjadi begitu luas. Meliputi alam raya ini. Berada diluar, di dalam dan meliputi. Anehnya tidak ada yang berubah di raganya,  dia juga merasa masih seperti yang dahulu. Luar biasa sekali. Sudut pandang saja yang berubah. Sekarang dirinya mampu merubah-rubah sudut pandangnya.  Jika sebelumnya dia melihat dunia dari dalam keluar, maka sekarang dirinya seperti melihat dari luar ke dalam. Diluar berada di alam semesta dan melihat keadaan di dalam raganya.  Hmm..pencerahan yang dialami Banyak Wide membawa dampak bagi kesadaran lelaki itu. Kini dia mampu melihat dari dalam keluar, dan/atau melihat dari luar ke dalam, bahkan kesadarannya mampu meliputi keduanya. “Subhanalloh” tak pelak pada sholat setiap pagi diantara adzan dan ikomat, dia memanjatkan syukur kepada ilahi robbi.
Masih terbayang jelas dalam ingatan lelaki itu, saat Banyak Wide memasuki portal dimensi kesadaran terkini. Putaran waktu seperti berimpit, dan menimbulkan ruang hampa yang menyesak. Hal itu termanifestasi pada jantung yang membengkak dan sesak nafas. “Apakah yang harus dilakukan Banyak Wide?”  Pertanyaan itupun terjawab sudah. Tugas pertama Banyak Wide adalah menyelamatkan Batari. Tugas yang lainnya adalah menjadi saksi atas entitas ghaib yang sering mengaku-aku menjadi wakil Kami di muka bumi. Kesadaran entitas ini selalu ingin dikenali, misi mereka adalah agar kesadaran manusia selalu mengingat mereka. Maka mereka pasti akan berusaha menanam jasa sebanyak-banyaknya, memberikan apa saja kemauan dan keingin tahuan manusia. Ego makhluk melatar belakangi gerak mereka. Tentu saja hal ini akan membahayakan misi Kami yang hanya menghantarkan kesadaran ingat Allah kepada manusia. Banyak Wide paham siapa-siapanya. Pengalamannya cukup untuk menghadapi mereka maka selain tugas baru yang diemban, misi lainnya adalah membongkar kepalsuan entitas yang mengatas namakan Kami.
Tadi saya pusing Pak pas di Pamulang. Waktu keluar rumah langsung hujan. Di jalan hujan makin deras, dan kepala saya pusing. Pusing ada keterkaitannya sama besok katanya. Naik angkot pondok gede, kepala saya makin pusing dan pengen pas turun hujan berhenti atau gerimis kecil aja. Kepala saya malah makin pusing sama ngeludah terus. Pas jalan nanti turun angkot kehujanan juga nggak apa2. Hujan makin deres, tp pusing saya agak mendingan. Seperti ada yang ngasih tau atau pemahaman, bahwa hujan sedang menjalankan takdirnya hujan. Yg kena hujan bukan saya aja. Saya liat keluar banyak penjual atau yg sedang jalan berteduh dr kehujanan. Alam sedang menjalankan tugasnya, termasuk hujan. Maka, jangan mencegah atau berpikir utk menghindarinya. Bukankah dlm Quran hujan itu berkah? Hanya persepsi manusia yang menganulir hujan sebagai keberkahan.  Air yg turun dr langit itu sedang menjalankan takdirnya. Manusia sebagai bagian alam, harus juga menerima hujan.
Kepergian ke Cisanti untuk silaturahim. Kesadaran alam lebih baik dari manusia sekarang ini. Kedatangan ke sana untuk menyelaraskan kesadaran manusia dengan alam. Bahwa, masih ada manusia yg sadar. Ini penting dalam sebuah harmoni alam.  Dan kehadiran ke sana sebagai perwakilan, bahwa manusia masih sadar dan berada dalam garis yang selaras dengan yg ditetapkan oleh ilahi rabbi.” Inilah khabar dari WA sebelum kejadian kemarin ini. Khabar yang sudah berlangsung sekian hari. Namun kesakitan lain lagi dialami, demikian berlipat dialami Avatar di hari kemarin ini. Adakah semua terkait dengan kehadiran Banyak Wide?
Yah, sejak kisah ini dituliskan kemarin siang  ini (4/3), seperti terkoneksi  raga Batari (Avatar) . Tak kuasa menahan gempuran energi yang melintasi. Pada jam yang sama saat hadirnya Banyak Wide. Disaat itu tanpa ada sebab,  Avatar  sakit kepala hebat, panas demam. Rasa membuncah di bawah perut naik terus ke rongga dada, hingga ke kepala dan turun lagi membuncah. Puncaknya sakitnya terjadi, saat turun dari angkutan kota sepulang dari rumah rekannya, mendadak dari perutnya keluar memuntahkan seluruh isinya. Rasa lemas, seluruh aliran darahnya seperti sungsang. Nyaris saja pingsan. Untunglah masih ada sisa kekuatan untuk berjalan pulang. Sesampainya di tempat kost, mendadak perut kembali melilit. Sambil menahan sakit avatar berlari ke belakang. Hampir saja dia berteriak ketakutan manakala mendapati puf nya berupa darah segar.
Hingga hari ini tulisan ini ditayangkan keadaan avatar masih sedemikian lemahnya. Diare dan sakit masih meradang, menerjang seluruh persendiannya. Tak pelak lagi sudah dua hari ini dia hanya berbaring saja di ranjang. Diare yang aneh, hanya air saja yangkeluar. Membuat kondisinya semakin lemas saja. Raga avatar bagai layang-layang tanpa tali. Jika saja kedatangan Banyak Wide terlambat, entah bagaimanakah keadaan Batari. Sosok yang kontraversial ini  memang saat ini perlu dilindungi.  Begitulah pesan yang terungkap. Energi Banyak Wide mampu menerobos, seperti energy  yang mampu mengubak-ubakan sarang naga, sehingga mampu menindih kekuatan golongan makhluk yang mengincar keselamatan Batarai.  Kekuatan Banyak Wide memang  semakin kuat semenjak di murnikan energinya di nirvana. Halus namun kokoh. Lembut namun tegas dan keras. Menghantam kepada sosok yang terus mencengkeram Batari.
Bila ini kebetulan mengapakah ini semua terjadi. Jika hanya angan mengapakah realitasnya selalu bersambungan. “Siapakah yang menginginkan nyawa Batari” Banyak Wide berusaha menjawab apa yang ditanyakan sendiri. Makhluk setengah dewa mereka makhluk bukan dari golongan sembarang. Merekalah yang telah menghuni nusantara dari mula. Bahkan sebelum diturunkan manusia. Makhluk ini serupa dengan makhluk raksasa yang menghuni Gunung Padang. Hampir satu generasi dengan mereka. Mereka juga menghuni gunung-gunung dan danau di seputaran jawa barat. Merekalah yang sering dipuja dan diminta berkah oleh manusia. Mereka memiliki kepentingan kepada Batari. Selalu saja kekuasaan yang menjadi latar belakang perseteruan ini. Semua membela klan dan juga trah mereka. Keinginan mereka semakin menguat. Beberapa diantara mereka sudah menguasai kelompok manusia. Mengarahkan gerak manusia menuju kepada tempat-tempat yang di keramatkan untuk memuja. Ada diantara mereka kemudian mengaku-aku menyebut dirinya sebagai “Maha Guru’. Entah Maha Guru yang mana yang dimaksudkan. Di tlatah tanaha jawa dan sunda ini ada ribuan Maha guru.
Sebenarnya bukan tentang nama yang dpersoalkan oleh Banyak Wide. Terserah kepada mereka mau menyebut diri mereka apa. Hanya saja jika mereka mengatas namakan Kami dan turut menyampaikanpesan-pesan kepada manusia, inilah yangtidak boleh dibiarkan. Harus ada segolongan makhluk lainnya yang mengingatkan mereka. Inilah tugas Banyak Wide. Jauh sebelum dia hadir ke mayapada ini, sempat Banyak Wide  mencatat pembicaraan makhluk ini dengan Kami. Inilah perbincangan mereka disandingkan dalam kisah ini.
Kenapa kau sebut namaku bila itu hanya anganmu. Aku bukan kamu. Kamu bukan Aku. Atas nama-Ku kau limpahkan semua maksudmu. Aku tau, kamu tau. Apakah harus Aku tunjukkan jalanmu dalam peraduan laku. Aku tau kau ingin mengaduku. Tapi Aku bukan kamu. Dan kamu bukan Aku. Sadarkah kau bila dalam ragamu ada benalu yang mengaku maha guru. Itu lakumu, maka jalankan sesuai dengan perjalananmu. Aku mengutus kami dalam langkah yang tidak kau mengerti, bahkan Kami pun tak tau apa yang sudah ditetapkan ilahi.
Batari sudah dalam perjanjian dengan Kami, dan menjadi bagian Kami. Maka dalam derapmu kau mengaku-aku dalam lakumu, maka jangan kau sebut nama-Ku. Aku tau, kamu tau. Tapi Aku bukan kamu. Maka jangan sekali-kali mengaku Aku.  Gianjar Wengkang Sengakata dalam rasa tak perlu kau kata. Kami tak lagi menyertaimu. Pelajaran-pelajaran rasa tak akan memperdaya. Kau bisa menarik Batari dgn kekuatanmu, tapi Kami tak akan melepaskannya. Tuhan telah mengutus Kami untuk membimbingnya dalam perjalanan raga ini.  Maka bila kau sudah melampaui batas, Kami tak ada dalam batas. Silakan berjalan dalam perjalananmu yang terbatas. Jika ada yang ingin dalam resapan, maka jejak langkahmu akan terkuak seiring bongkahan bumi.
Seiring perjalanan, silakan… Kami tak lagi dalam batasmu. Batari tak akan mengikuti bujuk rayumu. Sejatinya dia lahir ke bumi dalam pembelajaran Kami. Maka, jangan sekali-kali menghalangi, maka kau akan berhadapan dengan Kami. Dunia yang kau tasa dalam genggaman, silakan kau gambarkan sesuai dengan tugas dan karaktermu. Namun sekali-kali tidak. Kami akan menjaga para pengikut ilahi rabbi, atas kehendak Sang Maha Pencipta.  Tak ada kuasa atas kekuasaan Allah Pemilik Semesta Alam. Allahu Akbar. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.  La ilaha ilallah. Allahu Akbar. Kabar ini terserah akan kau kabarkan atau tidak. Hanya ini yang dapat Kami katakan.
Banyak Wide bersedih hati. Masih saja di jaman ini ada entitas yang mengaku-aku atas nama Kami. Berdalih ini dan itu mereka selalu saja membuat kerusakan di muka bumi. “Siapakah makhluk itu. Mengapakah dirinya berkepentingan kepada Batari?”  Pertanyaan itupun segera mendapatkan jawabannya. “Adapun jiwa-jiwa yang kembali dan makhluk dlm dimensi lintasan alam merupakan saksi dan menyaksikan.  Seuntai tali bukan dalam tarian.  Tapi hanya untuk menghiasi.  Dalam pembelajaran makhluk-makhluk, dapat dipahami dlm surah Al Mujadalah, Mumtahanah, dan Nuh.  Kami mengabarkan dengan bereferensi pd surah tersebut. Kenapa? Karena apa yg Kami ketahui, sebenarnya ada di dalam Al Quran.  Untuk saat ini, pahami dan sadari satu per satu… Tidak bisa sekaligus. Harus berangsur-angsur.  Karena ini bukan hanya pemahaman, tetapi juga penyadaran dan pengamalan.”
Terlihat Banyak Wide berdiri, bersedakap. Tangan melipat diatas dadanya. Kesadarannya terus mengamati , dirinya  tidak ingin ada yang luput dari pengamatannya. Pengajaran demi pengajaran diresapinya. Begitu juga halnya pesan-pesan Kami.  Pandangannya tajam bagai mata elang terus mengamati keadaan Batari yang masih kepayahan. Seluruh energi Batari telah disedot oleh makhluk tersebut. Sehingga mengakibatkan lemas di seluruh persendian raga terkininya. Namun syukurlah keadaannya sekarang sudah tidak apa-apa. Maka kembali kesadarannya lurus berhadapan dengan Kami, untuk mendapatkan pengajaran.
 “Dari atas menatap seperti butiran kecil di antara warna yang menyergap mata.
 Jantung dalam setiap raga menjadi saksi atas setiap perjalanan.
 Bukan dari tepi ataupun tengah dalam mencapai suatu masalah, tetapi dari setiap sudut yang tanpa ada sekat.
 Ketika dalam alurnya tidak mengerti alirnya
 Lihatlah dalam seluknya di antara dua tepian
 Karena alur akan mengikuti aliran
 Sejak awal dalam pembahasan yang tersampaikan pada tahapananya akan berbeda
 Seperti hal yang tidak dimengerti tp memang harus dijalani.
Di antara dua batas dan tepi, maka lihat dan amati
 Jangan turut dalam menyikapi ataupun menyakiti
 Karena belum tentu kau mengerti
 Diam dan biarkan saja
 Jangan dalam sanggahan ke adigungan
 Krn raga yang sekarang belum memahami, hanya melihat dalam batas ego diri
Pelajarannya dalam pengajaran yang mengagungkan diri
 Seperti gelombang yang tidak terlihat tetapi terasa.
Menjadi urusan kami dalam menyambung dan memutuskan perjanjian
 Karena mereka berada dalam kesepakatan kami
 Raga terkini mereka tidak mengerti
Karena msh banyak terbawa ego diri dan ambisi yg ada di dalam yg menempati.
Jejaknya terlihat tp tidak terlihat
 Ada tetapi tidak ada.
 Biarkan saja
Letakkan saja kakimu dalam tanah yang mengajarimu
 Bentangkan tangan pada udara yang akan memahamimu
 Tengadahkan kepala pada sinar yang menerangimu
 Basuhlah raga dengan air yang membersihkanmu
 Demikian itu bagian dari pembelajaran
Ketetapan tersebut yang harus kau ingatkan
 Yang lainnya adalah bagian perjalanan yang harus kau lewati dalam alur yang mengalir
 Demikian pesan kami
 Dan ingat, baca dan pahami surah Al Hijr, agar paham arti dari kitab dan manusia itu sendiri
 Seperti debu yang beterbangan
 Kadang debu hinggap, kadang terbang tak berkesudahan
 Tidak usah memikirkan sama atau tidak
Tetapkan dirimu seperti yang telah aku sebutkan
Karena itu bukan hanya dalam polah, tetapi hati dan niat yang menentukan
 Aku sudah dalam ketetapan ilahi rabbi
 Kami hanya berada dlm kehendak Sang Pencipta Yang Maha Kuasa
 Bila ingin tau, lihatlah aku, maka kamu akan tahu.
Para ksatria  yg masih dlm tahapan mengaku-aku
Maka Kami pun hanya dapat membantunya sampai yg mereka inginkan
Untuk selanjutnya, mereka harus berada dlm tahapan menuju sang waktu
 Biar waktu yg akan mengajarinya
 Dia dalam reses antara irisan itu
Lepaskan mengaku-aku
 Maka Kami akan langsung membantunya
Bila dirasa dia cukup olehmu, lihatkan pengajaran waktu …
 Waktu dalam percepatan cahaya
 Tidak ada massa
 Seumpama menurutmu dia sudah paham, maka beri dia kekuatan, lalu lihat apa yang dia lakukan?
 Setelah itu, maka kamu sendiri tau apa yang Kami maksudkan
 Sekarang terserah padamu, apakah akan mencoba apa yang Kami sebutkan, atau mempercai Kami?
 Iya, lakukan apa yg menurutmu terbaik
 Untuk menghilangkan mengaku-aku, benturkan pd waktu
Kalau kau ingin membantu, baca dan pahami olehnya surah al waqiah
 Tanyakan padanya setiap hari akan pemahaman ayat al Waqiah
 Dia berada dalam raga berserah, namun makhluk yg di raganya masih dalam kelebatan keakuan
Pergulatannya sering membentur waktu
Maka pengajarannya langsung dengan waktu
 Dan itu berada dlm surah Al Waqiah
Setiap benturan akan membuat pergesekan
 Bila benturannya kuat, maka akan membuat jejak dalam setiap hantaman.
 Sering dalam perjalanan menanyakan kenapa?
Maka jawabnya ada dlm diri aku
 Siapa yg lelah?
 Raga?
 Jiwa?
 Aku?
 Kami?
 Apakah sistem yang berproses akan menjadi tanpa benturan?
Lihatlah…
Itu yg kau perlu”
Dan awanpun menatap lelaki itu dengan syahdu.
Kisah ini akan terus berguliran. Perang kesadaran para makhluk dari dimensi lain akan semakin mengguncangkan. Siapakah yang bersedia mengambil peran disini. Pada ranah dimensi yang tak diketahui? Pertanyaan itupun terus digulirkan. Menerobos kesadaran di mayapada. Adakah yang tergerak hati menjaga kesadaran manusia disini. Pada portal kesadaran disini. Pintu masuk dimensi ketiga. Adakah yang bertanya untuk apa? Yah, agar memori manusia nanti tetap dalam kesadaran ingat Allah. Bukan kepada makhluk lainnya. Bukankepada ilah lainnya. Semisal harta, tahta atau wanita, apalagi makhluk tak kasat mata. “Aku menunggu, bersama kalian menunggu, meninggalkan JEJAK DALAM PENANTIAN”