Juni 22, 2017

The Chronicles of Spiritualisme (1)

Hasil gambar untuk brahmana

Mobil Xenia putih nampak melaju dengan kecepatan sedang. Menembus kepadatan memasuki pintu tol Cikampek. Mobil itu terus melaju menuju tol Cipali. Rencananya mereka akan mengikuti jalan tersebut, keluar di Brebes Timur dan menuju arah Randu Dongkal. Terus melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah tempat yang sudah biasa mereka kunjungi setiap tahunnya. Yah, keluarga itu sedang menuju sebuah negri yang berada diatas awan. Dhieng orang-orang menyebutkannya. Sebuah  kota kecil dibawahnya  selalu menjadi daya tarik mereka untuk pulang. Keindahan yang ditawarkan dan suasana energi yang masih menyejukan membuat mereka tidak pernah segan untuk pulang. Pulang membawa nuansa tersendiri untuk mereka sekelurga. Tawa canda mereka sekeluarga menandakan bahwa mereka sangat menikmati perjalanan pulang tersebut.

Yah, mereka adalah keluarga Mas Thole yang sedang melakukan perjalanan pulang. Kepulangan yang senantiasa dirindukan oleh mereka semua. Sedikit ada hambatan di beberapa titik. Nampaknya itu tidak mengganggu keluarga mereka. Mereka asyik bercengkarama. Hingga terdengar suara chat masuk di HP. Takut berita penting istri Mas Thole membuka chat yang masuk. Wajahnya terlihat memerah, pupilnya sedikit membesar,  seperti menahan rahsa yang tidak disukainya. Sebagai seorang wanita dia merasa tidak nyaman atas chat yang masuk di HP suaminya itu. Tanpa sadar tangannya secara otomatis mengelus elus kepala suaminya dari belakang. Berulang kali dibelainya kepala suaminya. Sepertinya sedang berusaha menyalurkan kasih sayangnya. Tanpa berucap sepatah katamu, gerakan itu dilakukannya berulang-ulang. Tatapannya lurus ke depan. Berulang kali dia menghela nafas panjang.

Mas Thole sepertinya paham atas gerakan istrinya tersebut. Dipalingkan wajahnya ke samping dan bertanya penuh perasaan. Menanyakan ada apa gerangan. Mengapa chat yang masuk mengganggunya. Istrinya seperti enggan untuk memberitahu, namun karena sebab desakan suaminya, dia menyodorkan chat tersebut. Mas Thole seklias membaca chat kosentrasinya tetapa ke jalan di depannya. Kecepatan laju mobilnya diatas 80 km/jam, akan sangat berbahaya jika dia membaca chat tersebut dengan detai. Sekilas Mas Thole membaca, dari kilasan tatapan matanya, chat dari salah seorang putri yang pernah singgah di pondoknya. Energi chat yang hampir tak dikenalinya, jika tidak disebutkan namanya sudah barang tentu Mas Thole menganggap itu adalah entitas baru yang masih asing dalam kesadarannya. "Ada apa dengan chat ini"  Betapa tak terhitung rahsa terima kasihnya atas sosok yang satu ini. Dialah dewi dalam kesadaran. Ada apakah dirinya meluangkan waktu melakuan chat? Semoga dirinya diberikan keselamatan dan kesejahteraan. 

Dari hanya kilasan tatapan mata Mas Thole dapat menangkap isinya. Selanjutnya kembali diilanjutkan kosentrasinya kelaju mobilnya. Jalanan nampak sudah mulai ramai. Masuk pintu tol Cipali tersendat, ada kemacetan ruas tol disana. Banyak orang yang meminggirkan mobil untuk beristirahat. Disapanya istrinya, “Ibu tidak apa-apa?”  Penuh kasih dan harap-harap cemas Mas Thole bertanya kepada istrinya itu. Ada kekhawatiran disana, jika istrinya terluka hatinya sebab kata-kata chat yang masuk disana. Syukurlah istrinya hanya tersenyum, dan menjawab  “Tidak apa-apa Yah?”  Yah, Mas Thole sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Jika untuk dirinya, makian, cacian, dan hujatan masih tidak mengapa, namun jika anak dan istrinya sampai terluka, maka sungguh dia akan ber jihad karenanya.

Mendengar jawaban istrinya yang tidak apa-apa. Lega rahsa hati Mas Thole. Kemudian istrinya memohon ijin agar chat tersebut di hapus saja. Mas Thole menginjinkannya. Memang tidak ada keinginan Mas Thole menjawab ataupun merespon isi chat tersebut. Bukan hanya karena situasi dirinya sedang menyetir kendaraan. Namun lebih karena memang chat tersebut membutuhkan ketenangan dalam menanggapinya. Jika direspon saat itu akan panjang dan belumlah tentu menyelasaikan masalah. Ini tentang kebenaran dan keyakinan! Maka biarlah masing-masing orang dengan kebenaran yang diyakininya.   Waktu sendirilah yang akan membuktikan dan mengkhabarkan kebenarannya. Waktu yang akan menjawab semua gundah di hati. Seluruh luapan kekecewaan, kemarahan, kemasgulan, hanyalah lintasan rahsa yang akan lewat dan pergi seiring waktu berlalu. Menjadi orang yang menerima lemparan perasaan sudah menjadi bagian perjalanan spiritual Mas Thole. Hanya doa dipanjatkan agar jiwa-jiwa yang resah kembali ditenangkanNya.  

...

Mas Thole menghela nafas panjang. Tatapannya lurus ke depan. Kecepatannya masih  konstan di 100 km/jam. Laju kendaraan disekelilingnya perlahan menghablur. Jiwanya memasuki alam kesadaran. Dibiarkannya istrinya terus mengelus kepalanya. Elusan tersebut seperti memberikan kekuatan luar biasa kepada Mas Thole untuk membuka kembali kisah-kisah dari mulanya, sebab mengapa dirinya diperjalankan oleh Kami. Mengapa kemudian diirinya mengkisahkan pengalaman spiritualnya ini. Dan selanjutnya, mengapa kemudian dirinya membuat rumah singgah bagi para penempuh jalan spiritual. Yah, hanya rumah kecil tempat singgah sebelum para penempuh jalan melanjutkan perjalanan mereka dalam mencari kebenaran. Rumah atau lebih tepat pondok tersebut dinamakan ‘PONDOK CINDELARAS’. Sungguh itu sudah lama sekali. Entah sudah berapa puluh orang singgah disana dan kemudian pergi lagi melanjutkan perjalanan mereka.

Mas Thole pada akhirnya tetap sendiri di pondok tersebut, semua teman-teman yang pernah singgah, satu demi satu melanjutkan perjalanan mereka. Dan memang itulah maksud didirikan pondok tersebut. Pondok itu bukanlah komunitas, apalagi golongan. Bukan, bukan itu maksud itu diddirikan pondok. Pondok tersebut bukan untuk mencari kebenaran, namun pondok tersebut lebih kepada bagaimana semua orang dapat mengkisahkan pengalamanya masing-masing tanpa harus takut dihakimi oleh yang lainnya. Memang pondok tersebut hanyalah dimaksudkan untuk singgah, berbagi pengalaman, melupakan perasaan, dan emosi, kegundahan selama menempuh perajalanan. Pondok inipun hanya akan berkisah tentang alam-alam kesadaran. Disinilah positioning pondok disini. Berdasarkan kisah-kisah para pelakunya sendiri. Adminpun akan memohon ijin kepada mereka semua untuk mengkisahkan pengalamannya di blog ini.

Banyak yang datang dan pergi. Tidaklah menjadi persoalan, sebab pondok ini di bangun tidak dimaksudkan untuk menetap lama. Kontruksinyapun hanyalah pondok saja. Sangat tidak nyaman untuk bertempat tinggal. Inilah filosofinya. Jika kemudian pondok ini kosong bukanlah persoalan. Suatu saat akan ada saja yang singgah. Ada yang sangat puas, ada yang puas, dan ada yang sangat tidak puas dengan pelayanan yang minim pondok tersebut. Sungguh romantika kehidupan ada semua disini. maklum pondok itu seumpama terminal. Semua yang datang membawa referensi perjalanan masing-masing. Mas Thole mengkisahkan ini. Betapa sulitnya pondok ini untuk tetap berjalan di visinya dan tidak berpihak kepada salah satu mahzab dan golongan. Untuk tetap sebagai terminal sungguh amatlah berat, ditengah penghakiman antar golongan. 

Semangat itu yang terus di bangun di pondok ini, sesama pengguna jasa terminal ini. Apakah peran pondok ini berarti? Sekali lagi bukanlah menyoal itu, namun lebih kepada bagaimana setiap diri memberi arti kepada perjalananya sendiri-sendiri. Ada yang masih ingat dan kemudian mengkhabarkan kepadanya, bahwa di tempat barunya itu mereka menemukan kebenaran.  Rahsa bahagia menyelimuti dada Mas Thole melihat rekan-rekan  yang pernah singgah disini telah menemukan kebenaran yang dicarinya. Mas Thole akan selalu berpesan, jika sudah menemukan kebenaran yang dicari maka peganglah itu dengan keyakinan utuh. Jangan berpaling lagi. Teruslah pegang. Janganlah seperti air di daun talas yang terombang-ambing. Majulah terus ke depan. Yakini dan istikomah di jalan itu. Semua kebenaran datangnya dari Allah.  Allah akan menunjukan jalan-jalanNya bagi para pencari kebenaran. Itulah hukumnya.

Jika kemudian mereka melihat bahwa apa-apa yang mereka dapati di pondok yang pernah mereka singgahi disini ini, adalah kesesatan, maka janganlah melihat itu sebagai sebuah kesalahan. Sungguh jika kita amati hukum kesadaran adalah parakdoksal. Dengan mengenali Iblis kita akan tahu bagaimana keadaan malaikat. Dengan pernah melakukan kesesatan maka kita akan melihat kebenaran. Bersyukurlah jika pernah menyambangi kesesatan sebab kita selanjuutnya akan paham kebenaran. Jangan pernah menyesali dan menghukum diri pernah singgah Begitulah keadaan alam kesadaran di bangun. Dengan merasakan kepahitan kita akan mudah menemukan dan membedakan rahsa manis. Dengan merasakan panasnya padang pasirlah kita akan mampu merasakan indah dan sejuknya alam pegunungan. Dengan merasakan adanya daratanlah kita akan merasakan keadaan lautan. Begitulah pengajaranNya.

...

Kesadaran manusia dalam mencari kebenaran adalah semisal ikan yang mendengar indah dan nyamannya lautan. Sang ikan terus sibuk mencari lautan yang tidak pernah ditemuinnya. Dia akan terus berceloteh kesana kemari. Berkomentar tentang lautan yang ditemuinya, lautan yang sementara itu berada diangan-angannya. Kepada makhluk-mahluk yang sepanjang janlan ditemuinya, dirinya akan membanggakan apa-apa yang sudah ditemuinya. Dirinya akan selalu mengangankan kondisi lautan berdasarkan persepsinya. Namun keadaannya ksistem ketubuhannya tidak memahami dan mengerti apa itu lautan, sebab belum ada dalam referensinya. Sistem tidak mampu membedakan mana lautan dan mana daratan. Sebab sepanjang hidupnya dia ada dilautan. Kemudian sang ikan akan terus melakukan perjalanan.

Perjalanan sang ikan sudah ribuan mil, sudah melanglang buana, bertanya kesana kemari kepada sang guru sufi. Namun semakin di carai, kesadaran semakin sulit menemukannya. Hingga datanglah pengajaran KAMI. Kepada ikan tersebut diajarkan pengajaran yang belum pernah mereka alami. Pengajaran rahsa takut, pengajaran kehilangan, pengajaran yang dalam bahasa manusia disebut MUSIBAH. Pengajaran inilah yang kemudian akan menyadarkannya. Yah, seetlah datang pengajaran KAMI berupa  suatu musibah, yang melemparkan sang ikan ke daratan. Ikan baru tersadar bahwa lautan yang selama ini mereka cari meliputi dirinya. Demikianlah keadaan kesadaran manusia yang mencari kebenaran. Kebenaran ilahiah sebenarnya selalu menyelimuti diri manusia. Subgah Allah. Liputan kasih sayang Allah. Hanya saja manusia tidak pernah mampu melihat itu. Kesadaran manusia senantiasa terhijab alam alam materi. Begitulah yang dialami Mas Thole.

Setiap diri manusia akan dilemparkan ke suatu tempat yang baru. Suatu kondisi dimensi yang baru dalam kesadarannya. Sebagaimana ikan yang akan dilempar ke daratan. Bagaimanakah rahsanya ikan di lemparkan ke daratan? Yah, kita dapat bayangkan saat ikan kehabisan oksigen. Saat dirinya mau mati, ikan baru merasakan bahwa hidupnya sebelum ini sudah berada dalam kasih sayang lautan. Bahwa selama ini kehidupannya sudah dalam liputan rahman dan rahim Allah sang penciptanya. Selama ini dirinya lupa, selama ini dirinya tidaklah mengenal apa itu samudra kasih sayangNya. Sebagaimana ikan yang tidak pernah mengenal apa itu lautan. Demikianlah keadaannya. Maka janganlah heran jika kepada para pelaku jalan spiritual akan dibenturkan dengan musibah demi musibah. Sebab dengan cara itulah kita akan dipahamkan, apa itu kasih sayangNya. Apakah itu samudra kasih sayang Tuhan. Maka kepastianNya adalah siapapun yang akan menempuh jalan spiritual pasti akan ditunjukan dengan pengajaran ini.

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” ( QS; AL BAQARAH ayat 155)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” [QS; 3:186]

Lihatlah kepastianNya ini. Hukum-hukum yang berlaku di alam kesadaran. Bahwa kita pasti akan diuji dengan kehilangan harta. Kita akan diuji dengan pelbagai cara kehilangan harta, ada yang dirampok, dicuri, ditipu, merugi sebab usaha, dan masih banyak cara Allah untuk menguji hamba-hambaNya itu. Apakah manusia akan melekat kepada hartanya itu. Maka jika jiwanya melekat pada hartanya. Kehilangan harta ini akan sangat memukul jiwanya. Kesadarannya akan mengalami turbulensi. Dirinya akan menyalahkan apa saja dan siapa saja. Dirinya lupa bahwa ini adalah hukum-hukumNya. Jangan disangka kita akan dibiarkan saja oleh Allah dan tidak diujiNya. Keyakinanya atas kebenaran yang diyakininya akan terus diuji dengan ini. Apakah akan tetap lurus niatnya itu karena ALLAH ataukah karena sebab mahluk. 

...

Berikutnya, manusia juga akan diuji dengan dirinya sendiri. Manusia akan dihadapkan kepada keyakinan-keyakinannya sendiri. Kesadarannya akan dibenturkan kepada keyakinan orang lain. Kebenarannya akan terus disandingkan dengan kebenaran orang lain. Paradigmanya akan terus disanggah oleh paradigma lainnya. Apakah dia mampu bertahan terhadap keyakinan dan cara pandangnya itu? Ataukah dirinya akan lasngung berpaling dan akan mengikuti cara pandang orang lain. Ataukah dia akan seperti beo yang hanya ‘Ho oh’ saja. Diam tanpa banyak bertanya. Sungguh manusia selalu akan menghadapi pertentangan batinnya. Semua akan diuji dengan sebenar-benarnya ujian. Begitulah cara Kami menguatkan jiwa dan menyempurnakan kesadaran manusia.

Janganlah dikira pemahaman kita saat ini tidak diuji oleh KAMI. Perhatinkanlah, keyakinan akan berhadapan dengan keyakinan. Kebenaran akan berhadapan dengan kebenaran lainnya. Semua akan dipasangkan dengan sebaik-baiknya. Semua makhluk akan menjadi sparing partner bagi makhluk lainnya. Satu sama lainnya akan menjadi ujian bagi masing-masing. Istri menjadi ujian bagi suami, begitu juga sebaliknya. Belum lagi manusia juga berpasangan dengan makhluk ghaib. Masing-masing saling menjadi ujian. Apakah manusia mampu bertahan dan menjadi pribadi yang unggul di tengah era perang kesadaran ini. Perang model baru di era digital. Apakah jiwanya tidak terusik tetap tenang jika dihujat dan dicaci maki atas keyakinan dirinya? Semua akan teruji jika dirinya telah mendapatkan pengajaran KAMI. Pengajaran yang oleh manusia disebut sebagai MUSIBAH.

...

Jalan di depan mulai terhambat. Mas Thole melambatkan laju kendaraannya. Seiring dengan itu. Kesadarannya kembali ke dimensinya. Seiring kendaraan yang mulai jalan tersendat. Kesadaran Mas Thole mencoba memasuki tulisan dan kata yang baru saja di bacanya, rahsa keprihatainannya menyelusup jauh ke relung sanubarinya. Kesadarannya terus melaju mengikuti gelombang kata, memasuki siapakah entitas yang menuliskannya. Siapakah entitas yang menuangkan kata-kata yang berujung di layar kaca tanpa membawa rahsa, kehampaan yang terasa di kesadaran. Aduh, apakah dirinya salah membaca? Entahlah, terasa energi spirit yang kosong. Tidak ada energi masa lalu disana. Energi yang penuh kekecewaan atas nasib yang menimpa dirinya. Betapa sulitnya manusia memahami bahwa seluruh kejadian di alam semesta, telah di tuliskan sebelumnya. Manusia diminta tidak kecewa dengan apa-apa yang sudah lepas dari tangannya. Sebab KAMI hendak menyempurnakan jiwanya. Sungguh sulit memahami bahwa kesakitan adalah salah satu kehendakNya.

Hanya ada yang menggembirakan atas khabar chat disana bahwa dirinya telah menemukan kebenaran. Subhanalloh, itu kata kata indah yang pernah di dengarnya. Mas Thole pun tersenyum dan bersyukur karena sebab itu. Begitu juga ada nasehat lain yang sangat menyentuh. Begitu perhatian dirinya, mengingatkan bahwa perjalanan spiritual Mas Thole bisa membawa akibat kepada anak istrinya. Terutama adalah istrinya. Diingatkan agar Mas Thole sadar dan segera mengakhiri perjalanannya untuk kembali ke jalan yang benar. Sebab yang diikutinya adalah para JIN. Alhamdulliah. Inilah gunanya sahabat, saling mengingatkan dan memberikan khabar. Luar biasa sekali bagi  Mas Thole. Sebab inilah yang selalu dimohonkan kepada Allah setiap kali sujud sembahyang, untuk diberikan jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang diberikan nikmatNya.



...

Yah, apa yang dikatakannya benar sekali. Mas Thole terbayang berapa tahun yang lalu, saat dirinya diperjalankan oleh Kami. Semua kisah telah disajikan disini sebagai catatan perjalanan. Kata-kata di chat sangat benar. Mas Thole sangat paham. Yah, kehidupannya telah mengajarkan banyak hal. Tidak dapat disangkal bahwa Mas Thole lahir dari keluarga yang heterogen, ayah kandungnya adalah pengamal kebatinan Jawa. Penempuh jalan spiritual yang kokoh. Memiliki banyak kelebihan dimana orang menyebut kemampuan ini sebagai kesaktian. Mengambil pusaka dan harta dari alam ghaib itu adalah sebagian kemampuan ayahnya. Terbang diatas pohon-pohon itu juga dimilikinya. Menjelajah alam kesadaran sering dilakukan sang ayah. Pergi dari satu tempat ke tempat yang lain dengan seenaknya. Satu menit disana dan satu menit kemudian sudah ada di daerah lain. Hal yang sangat mudah bagi dirinya.

Namun apakah yang terjadi dengan ayahnya? Mas Thole terisak, dadanya terasa amat sakit mengkisahkan bagian ini. Yah, ayahnya sering kehilangan kesadarannya. Kesadarannya sering tertinggal di dimensi yang tidak diketahui Mas Thole. Katakanlah, apakah  kemampuan yang dimiliki sang ayah itu  adalah anugrah? Yah mungkin sebagian orang akan mengagumi kemampuan sang ayah, sehingga banyak sekali yang berguru kepadanya. Namun bagi Mas Thole ini adalah musibah dalam kehidupannya. Betapa tidak. Kehilangan kesadaran bagi masyakarat disana adalah sebuah aib luar biasa. Ya, ayahnya bisa dikatakan gila. Apakah ini yang disebut hebat? Maka ambilah kehebatan ini wahai manusia! Geram sekali Mas Thole saat itu, jika ada yang memuji ayahnya sebab kemampuan spiritualnya itu.

Betapa tidak, sering Mas Thole kecil harus mengikat ayahnya agar dirinya dapat pergi ke sekolah, dirinya khawatir kehilangan sang ayah. Jika sang ayah sedang memasuki alam kesadaran, maka raganya akan berjalan kesana kemari, tentu saja ini akan berbahaya bagi keselamatannya. Sungguh Mas Thole kecil sangat khawatir sekali dengan keselamatan sang ayah ini. Hhh....Mas Thole menarik nafas, menenangkan jiwanya. Membuka kenangan sang AYah, semisal membuka luka baru di atas luka lama. Perih dan sakit sekali. Masih teringat, manakala sang ayahnya sadar. Seperti tidak terjadi apa-apa, memandang Mas Thole dengan rasa cinta seorang ayah yang luar biasa, melihat anaknya menungguinya di samping ranjangnya. Dia melihat tangannya yang terikat, dan diapun  tersenyum maklum saja. Meminta Mas Thole untuk membuka ikatannya.  Seperti menenangkan Mas Thole kecil. Namun apakah Mas Thole mengerti senyuman tersebut. . Tidak! Mas Thole merasakan penderitaan luar biasa. Adegan demi adegan dengan sang ayah menorehkan luka yang amat dalam.

Tatapan kasihan dari masyarakat terhadap Mas Thole kecil, sungguh menyiksanya. Ingin rahsanya dirinya lari dari kenyataan di depan matanya. Persepsi manusia pasti akan linear, mana ada yang paham bahwa ayahnya tidaklah gila sebagaimana prasangkaan mereka itu. Sepertinya sang ayah paham akan penderitaan anaknya ini. Beliau memutuskan untuk meninggalkan dunia fana, i meninggalkan Mas Thole yang baru beranjak dewasa.  Tidak ingin dia menambah penderitaan anaknya yang masih panjang masa depannya. Hampir menangis Mas Thole mengkisahkan bagian ini. Pengalaman batin ini menjadi referensi kebenaran bagi Mas Thole. Semenjak saat itu dirinya bersumpah untuk tidak menyentuh dunia ghaib apalagi mempelajarinya. Cukuplah siksaan di realitas ini.

Namun rupanya sang ayah telah menanamkan benih-benih kesadaran dalam diri Mas Thole semenjak kecil. Semenjak bayi Mas Thole sudah digembleng sedemikian rupa tanpa sepengetahuan Mas Thole. Kondisi ini yang kemudian menjadi rangkaian panjang kisah perjalanan Mas Thole. Bertemu dengan entitas-entitas ghaib. Itulah musibah sebenarnya yang dialami Mas Thole. Menjadi sebuah cerita tersendiri bagaimana Mas Thole berhadapan dengan makhluk-makhluk lintas dimensi. Bagaimana Mas Thole kemudian paham atas apa yang sebenarnya terjadi dengan sang ayah. Mengapakah ayahnya memilih laku kesadaran dalam hidupnya. Mengapakah ayahnya kemudian disangkakan gila..dsb..dsb. Bagaimana kemudian Mas Thole harus berperang dengan makhluk lintas dimensi untuk mempertahankan kesadarannya. Semua seperti dijelaskan oleh KAMI. Namun apakah itu mudah menjalaninya? Jika ada manusia yang mau, maka silahkan ambil bagian ini.

"Ya..Allah..ya robb..jika hamba bisa memilih menjadi manusia normal, maka hamba akan memilihnya. Tiada satupun makhluk yang bisa memilih menjadi apa."  Batin Mas Thole menangis amat dalam. Tidak ada yang dapat dijelaskan, seperti apakah rahsanya. Penderitaan di jiwa. Seluruh amuk rajhsa bagai gelombang tsunami. Makhluk lintas dimensi yang terus berdatangan membuat kesakitan di badannya. Ingin rahsanya mati saja. Kesadarannya akan diambl oleh makhluk-makhluk lintas dimensi. Maka tidak ada kata lain, peranglah jawabanya. Perang kesadaran, harus dilakukannya mengikuti jejak ayahnya itu. Meskipun Mas Thole paham betul apakah resikonya.

Ya..KESADARAN INGAT ALLAH. Inilah harta paling berharga yang patut dipertahankan dengan segenap jiwa raganya. Semenjak saat itulah, kehidupan Mas Thole memasuki babak baru. Peperangan demi peperangan kesadaran dialaminya. Makhluk lintas dimensi satu demi satu berdatangan..mulai dari JIN, khodam, wewe gobel, siluman ular, harimau, sampai Iblis pun juga menyambangi kesadaran Mas Thole. Sungguh ini adalah penderitaan yang luar biasa, inilah neraka sesungguhnya! Mas Thole harus berjuang mempertahakankan kesadaran ini. Kesadaran harus tetap di realitas. Inilah tekad Mas Thole. Meskipun para makhluk datang dari muka dan belakan. Dan merka memastikan diri akan datang dari muka dan belakang, atas dan bawah, samping kanan dan kiri. 

Sungguh  mereka terus saja mengincar kesadaran manusia. Mereka tidak pernah diam, mereka selalu menunggu kelengahan manusia. Melenyapkan kesadaran manusia dari mengingat Allah, itulah misi Iblis dan para sekutunya.  Maka kesadaran ingat Allah harus dipertahankan dari mahluk lintas dimensi yang sudah memastikan diri sebagai musuh manusia. Dan inilah perang sesungguhnya. Kesadaran ini adalah harga mati!, Meskipun berapapun mahal harganya, tetaplah patut diperjuangkan. Demi terjaganya ras manusia dan lam semesta itu sendiri. 


“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).'” (QS. Al A’raf : 16-17)

Hari-hari yang sangat menenggangkan, peperangan tiada pernah usai...maka Mas Thole tidak menyalahkan orang yang mengirimkan chat kepadanya. Ya, banyak sekali entitas yang selalu mengkerubuti Mas Thole. Mereka ingin membawa kesadaran Mas Thole. Sungguh ini adalah medan perang. Bagi seluruh manusia jika mereka tahu. Kebanyakan dari manusia mengabaikan janji Iblis ini. Menafikan ayat kebenaran ini. Kebenaran sumpah Iblis yang akan datang dan selalu datang. Iblis bersama pasukannya yang terus saja mengincar kesadaran manusia. Mereka terus bersiap siaga, menunggu kesadaran manusia ini lengah dalam mengingat Allah. Nah, tiba saatnya itu, hilanglah kesadarn manusia. Dan nanti ras manusia akan habis dialam kesadaran. 

Kesadaran ingat Allah akan hilang. Tidak ada Allah lagi dalam kesadaran manusia, yang ada hanyalah harta, tahta, dan wanita.  Itu janji Iblis. Dan saatnya nanti tidak ada lagi manusia yang mampu bersyukur atas nikmat Allah. Saat itu akan datang. Maka berjuanglah wahai manusia. Berjuanglah bersama KAMI, selamatkanlah kesadaran ingat Allah ini. 

...

Bersambung....

Maka siapakah yang mau? Berjalan di jalan penderitaan ini? Siapakah yang memahami derita ini. Sebagaimana Mas Thole kecil saat itu yang tidak pernah memahami laku ayahnya yang berjuang dalam mempertahankan kesadarannya itu. Ya...KESADARAN INGAT ALLAH. Adalah kesadaran yang harus dipertahankan oleh seluruh umat manusia agar langit dan bumi ini tetap terjaga. Itulah laku sang ayah! Sungguh Mas Thole sekarang mampu memahami bagaimana penderitaan sang ayah, karena sebab keyakinannya itu, dirinya dijauhi oleh realitas kehidupan manusia.


Malam gelap... hawa dingin di dada menyeruak, sensasi rahsa masih ketara sekali, walau itu sudah berlalu tahunan.
Sosok ini pula yang pernah  hadir dihadapan Istri Mas Thole secara nyata. Sehingga membuat istri Mas Thole keesokan harinya bersimpuh mohon maaf kepada Mas Thole. Sosok itu pula yang dahulu mengingatkan istri Mas Thole agar senantiasa sabar dalam mendampingi suami yang sedang dalam pengajaran Allah. Jika mengingat peristiwa tersebut, ......


Juni 20, 2017

Kisah Spiritual; Penjala Nyala Jejak Mataram Kuno (2)

Hasil gambar untuk mataram kuno
Simpul-simpul perajalanan spiritual Mas Dikonthole seperti diarahkan untuk bertemu dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas peradaban nusantara. Mengapa kejadiannya begitu ?. Entahlah, tanpa dia meminta dan juga tanpa dirinya mengerti.  Merekalah yang meletakkan dasar-dasar kesadaran bagi peradaban nusantara ini. . Spirit mereka masih tertinggal di alam semesta ini sebagai energi rahsa. Semangat mereka masih bisa dikenali oleh manusia yang lahir kemudian nanti. Begitu besar jasa mereka, begitu berwibawa perbawaan mereka. Namun bagaimanakah ceritanya, jika kemudian Mas Dikonthole  mengetahui ada kisah cinta yang tersembunyi di balik kebesaran nama-nama mereka. Apakah kisah ini layak disajikan dalam sebuah cerita? Apakah tidak menimbulkan dendam dan benci yang lainnya lagi saat kisah ini terbuka?

Ugh. Mungkin iItu hanyalah penggalan bumbu saja. Sebuah penjelasan mengapakah begitu kuat sekali getaran rahsa yang ditimbulkannya. Ternyata sampai sekarang ini mereka semua masih membawa kisah cinta mereka, meretas hingga ke jaman ini. Demikianlah energy yang masuk ke inbox emailnya belum lama ini. Adalah  energi yang dikenali oleh Mas Dikonthole sebagai energi yang tersakiti oleh cinta. Kesakitannya oleh cinta sehingga memaksa dirinya berlaku tak biasa, memaksa agar Mas Dikontole mengakhiri kisah-kisahnya disini. Namun sungguh permintaannya tidaklah beralasan. Sebab apa? Apakah dirinya itu Tuhan yang bisa berbuat semaunya saja? Sungguh Mas Dikontole tidak memahami. Kalaupun (jika) kisah mereka diungkapkan toh juga sudah berlangsung ratusan tahun lamanya. Mengapa masih menjadi beban? Entahlah, sungguh sulit dipahami.

Menguak Misteri

Berkisah perihal Sanjaya, tidak mungkin dilepaskan dari asal muasalnya. Bagaimana disana ada sosok wanita perkasa namun hatinya penuh luka. Ya dialah Putri Shima. Wanita yang berkuasa di Kalingga. Kekasih hatinya telah menorehkan dendam dan sakit tak biasa, yang meremas sanubarinya. Kisah pengkhianatan sang kekasih telah melatar belakangi sebab mengapa dirinya begitu tegas, keras, dan dingin kepada manusia lainnya. Dendamnya atas sebuah makna cinta, membawanya kepada kisah tragis manusia. Cintanya telah berubah menjadi api dendam membakar siapa saja yang bersentuhan dengan dirinya. Tidak juga anaknya. Semua diperlakukannya sama saja. Meskipun dirinya kemudian menikah lagi dengan lelaki lainnya.

Shima, Sihma, atau sering dituliskan sebagai Sima, adalah putri seorang pendeta di wilayah Sriwijaya. Ia dilahirkan tahun 611 M di sekitar wilayah yang disebut Musi Banyuasin. Tahun 628 ia dipersunting oleh pangeran Kartikeyasingha yang merupakan keponakan dari kerajaan Melayu Sribuja. Menyeberangi laut Jawa, melewati pantai utara Jepara, ia kemudian diboyong ke daerah yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (Leluhur Agung), atau Dieng sekarang. Di sinilah kemudian Shima, sebagai pemeluk Hindu Syiwa yang taat, kemudian tinggal.

Saat Kartikeyasingha wafat tahun 674, Shima mengambil alih posisi suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Menurut sejarah, Ratu Shima, yang telah menjadi janda itu, kemudian sempat dipinang oleh Sri Jayanasa raja Sriwijaya, namun Ratu Sima menolaknya. Ia tidak bisa mentolerir sikap kerajaan Sriwijaya yang telah melakukan ekspansi besar-besaran menyerbu Melayu Sribuja, kerajaan kakak mertua sang ratu.

Inilah kisah yang tidak terungkap, bagaimana kisah kasih yang tak dimauinya. Terus mengikuti sepanjang kelahirannya, lagi dan lagi, termasuk kelahiran dirinya di dimensi terkini. Sejarah mencatat alasan penolakan Ratu Shima yang di pinang oleh Sri Jayanasa adalah alasan politik. Apakah sesederhana itu?  Rasanya tidak, mengingat residu rahsa yang tertinggal di alam semesta ini sungguh terlalu. Cinta, rindu dan dendam, sangat kental. Amarah atas pengkhinatan dan penipuan sang kekasih begitu pekat di alam kesadaran. Bagaimana kemudian dirinya akhiranya mau dipersunting oleh Kartikeyasingha kemudian mereka mengungsi ke Jawa dan tinggal di Dieng. Cinta menjadi alasan utama wanita perkasa ini. Siapakh laki-laki yang telah menggoreskan luka di hatinya itu? Ya, dialah Sri Jayanasa. Laki laki yang juga seorang brahmana. Kepada dirinyalah sesungguhnya cinta Ratu Shima.


Cinta yang tak disuka

Kesadaran Mas Dikonthole terguncang hebat, terseret  memasuki lorong waktu, sementara akal dan fikirannya tertinggal jauh dimasa kini. Dirinya meraba di kegelapan sana. Mengurai benang kejadian, bagian yang masih menjadi rahasia sejarah, rahasia Ratu Sima dan kerajaannya. Lengkap dengan kisah cintanya yang terbisukan. Tangisnya bersama angin. Rintihannya menantang malam. Keluhnya menyobek langit. Dia diam, sebab bisunya membekukan pepohonan. Kini di dirinya terpola karma yang berulang. Dia lahir untuk mengulang kisah yang sama. Kisah bagaimana cinta telah menghancurkan empatinya kepada sesama. Sehingga dia keras bagai batu dan baja. 

Tidak ada satupun musuh yang ditakuti di medan perang, biar mereka selaksa pasukan. Namun kini dia kalah pada hati. Rahsa cinta yang menusuki. Membuatnya harus reinkarnasi lagi. Dibalik ketegasan, dan kekerasan hatinya. Dialah sosok yang sangat lembut, cintanya telah menembus peradaban-peradaban  setelahnya. Kasihnya bertebaran bagai debu. Hanya kebisuan dan kesunyian yang dirasakan. Kekasihnya hilang entah kemana rimbanya. Maka dia sendirian memimpin kerajaannya. Kerajaan Kalingga. Kesakitan ini telah menembus peradaban meluncur ke peradaban terkini dengan raga barunya. Kisah cinta yang penuh misteri duka kecewa yang merusak sanubarinya

Lalu kenapa kisah ini menjadi bagian perjalanan Spiritual Mas Dikonthole ?. Apakah semua ada hubungannya dengan tatanan nusantara baru. Apakah sebab tokoh-tokoh yang tampil sejalan dengan sejarah peradaban yang menjadi cikal bakal peradaban nusantara ini ?.  Entahlah. Mas Dikonthole hanya bisa membaca saja. Diam mengamati dan kemudian membuat catatan untuk dikisahkan. Mengarungi perjalanan, membiarkan raga digerakan alam. Itu saja. Kembalinya terserah sidang pembaca untuk memaknai.

Rahsa  cinta mereka begitu kuat hingga mampu melintasi jaman dan  peradabannya. Sangat terasa sekali getarannya. Hingga Mas Dikonthole sangat yakin sekali,  tentu saja raga-raga yang ditempati pasti akan kebingungan sendiri.  Raga barunya pasti akan bertanya, “Ada apakah dengan dirinya, ada apa dengan hatinya. Mengapakah sepertinya hampa dan kosong ?” Cinta telah merayapinya disetiap pagi, hanya dia tidak pernah mengerti. Raga-raga terkini hidup dalam sunyinya sendiri, tanpa pernah dia mengerti, kenapa ?. Begitulah nanti keadaannya.


Perlahan kesadaran Mas Dikonthole dipahamkan. Dikisahkan bahwa pada masa mudanya Ratu Sima pernah terlibat  cinta segitiga yang sangat mengenaskan sekali. Begitu tragis pada akhirnya. Sebagaimana kisah-kisah cinta lainnya, semisal kisah cinta Nabi Yusuf dan Julaikha, semisal kisah cinta Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekaretaji. Takdir memisahkan cinta mereka, walau  akhirnya Ratu Sima menikah. Tentu saja bukan dengan tambatan hatinya.  Sang suami menyadari bahwa cinta Ratu Sima tidak sepenuhnya pada dirinya. Maka suaminya memilih pergi ke hutan belantara bertapa dan tragisnya kemudian dikhabarkan meninggal.  Sementara lelaki yang dicintainya menjadi Brahmana.

Bagaimana cintanya kepada sang Brahmana? Kesakitan dan kehancuranlah yang dirasakannya. Maka biarlah alam yang menjelaskan kepada diri mereka. “Mengapakah sejarah seperti berulang lagi, pada raga-raga terkini ?” Mas Dikonthole hanya bergumam tak mengerti. Sebagaimana tak mengerti dirinya atas apa yang akan dihadapi dengan takdirnya sendiri. Mas Dikonthole hanya mampu berdoa agar jiwa-jiwa yang berada pada raga terkini diberikan kesabaran, iman, dan kekuatan untuk menjalani hari-hari mereka yang serupa, sama kejadiannya namun tak sama  jamannnya. Berhentilah menyalahkan takdir. Terimalah itu kejadian yang diulang sebagai sebuah pembelajaran. Jadikanlah hikmah pelajaran. Janganlah memusuhi orang-orang yang sedang menjalani laku disini. Ketahuilah apa yang menimpa diri kita adalah sebab kesalahan kita sendiri. Jangan menyalahkan orang lain yang tidak tahu apa apa. Demikianlah Kami berpesan.

Lahirnya Peradaban Syailendra
Sanjaya. Selagi kecil ia bernama Rakean Jambri. Ia adalah cucu raja Galuh yang bernama Rahiangtang Mandiminyak. Disebutkan pula  bahwa Rahiangtang Mandiminyak ialah anak Rahiangtang Menir. Saudara Mandiminyak semuanya adalah dua orang. Yang sulung bernama Rahiangtang Sempakwaja, bergelar Batara Dangiang Guru di Galunggung, yang kedua bernama Rahiangtang Kidul bergelar Batara Iyang Buyut di Denuh dan terakhir adalah Rahiangtang Mandiminyak sendiri yang menjadi raja di Galuh. Selaku raja Galuh, ia menggantikan Rahiangtang Rawunglangit yang memerintah di Galuh selama 60 tahun.

Dari hubungan gelapnya dengan Pwah Rababu istri Rahiangtang Sempakwaja, Mandiminyak memperoleh seorang putra yang karena hasil perbuatannya yang tidak sah itu dinamakan Sang Salah. Kemudian anak inilah yang bergelar Sang Sena. Sempakwaja dari Pwah Rababu mempunyai dua orang putra, yaitu Rahiyangtang Purbasora dan Rahiang Demunawan. 

Sang Sena menggantikan ayahnya Mandiminyak menjadi raja Galuh selama 7 tahun. Pada masa pemerintahan Sang Sena ini, timbul perebutan kekuasaan yang dipimpin oleh putra Sempakwaja yaitu Pubasora. Pada hakekatnya kedua orang tersebut berdarah satu ibu, yaitu tetesan Pwah Rababu dan merupakan saudara misanan melalui ayahnya masing-masing. Sementara perebutan kekuasaan dapat dilakukan, Sang Sena kemudian dibuang ke sebuah tempat yaitu gunung “merapi”.

Di tempat itulah seperti telah disebutkan tadi, Sang Sena memperoleh putra selama dalam pengasingannya. Putra itu bernama Rakean Jambri alias Sanjaya. Setelah dewasa ia berhasil merebut kekuasaan dari tangan Purbasora, kemudian Sanjaya menjadi raja Galuh dan banyak melakukan penaklukan terhadap kerajaan yang dahulunya adalah kerajaan bawahan Raja Sena yang tidak mau tunduk lagi kepadanya.

Konflik internal kelurga melatar belakangi Sanjaya kecil. Dibesarkan di sebuah gunung berapi yang sekarang di kenal sebagai Gunung Cermai, Sanjaya kecil belajar ilmu kanuragan. Berdasarkan infromasi yang sedikit inilah. Mas Dikonthole melacak jejak-jejak Sanjaya. Menelusuri residu rahsa dari sisa sisa kesadaran yang diwariskan hingga ke peradaban sekarang ini. Kesadaran yang di canangkan Sanjaya menjadi titik balik utama perubahan peradaban dari kesadaran Sunda Galuh menjadi kerajaan Medang. Kerajaan yang mengusung kesadaran yang berbeda dengan Sunda. Sunda yang lebih mengendapankan olah hati, di bawa kepada kesadaran yang lebih mengutamakan olah akal. Lahirlah sebuah peradaban baru kala saat itu, yang kita kenal dengan MATARAM KUNO.

...


[18/6 22.40] Anonim: Mas...
[18/6 22.40] Anonim: Saya lg sakit
[18/6 22.40] Anonim: Mas lg prosesi apa dlm.2 hr ini..?
[18/6 22.40] Anonim: Kepala saya sakit dari kemarin..
[18/6 22.40] Anonim: Drop
[18/6 23.35] Mas Thole: Waduh....
[18/6 23.35] Mas Thole: Apa yg dirasakan?
[18/6 23.41] Anonim: Kepala sakit mas...lemes banget.
Pandangan kabur.. Spt berkabut.
Kliatan bbrp candi2.. Dan orang2  masa lalu yg berlari panik..
[18/6 23.47] Mas Thole: Berlari panik? Kenapa ya...? Hmm..🤔


Bersambung...


Langit telah berkabut..lauh mafzud terus menuliskan kisah adegan anak manusia..


"Sang hyang Dewangga mengubah pada setiap nada dengan sebuah catatan yang menyebutkan ada pada setiap perjalanan pada setiap titik yang berbeda. Maka, lihatlah pada persemaian yang sudah dilafalkan, lanjutkan dengan setiap pendakian dengan memancang tiang pada setiap titik wilayah yang menjadi alur.     
                 
Semua menyatu dengan paduan yang meresapi dengan sebuah sistem yang memang berbeda atau bertentangan, tetapi memiliki kemiripan, yang hanya dapat dilihat pada sikyat suakwa watya"

Salam

Kajian Sufisika; Malam Lailatul Qodar (3)

Masih di kajian sufisika, untuk memahami hakekat malam lailatul Qadr. Telah disampaikan bahwa di malam itu turunlah RuH membawa urusan Tuhan. RuH yang turun dengan  QaDR yaitu ukuran-ukuran yang sudah disesuaikan dengan sistem ketubuhan manusia.  Setiap manusia tidaklah sama QaDR nya. Setiap diri manusia memiliki peruntukan masing-masing. Oleh sebab itu sistem ketubuhan manusia juga tidaklah sama. Semisal manusia menciptakan mobil, maka ada mobil truk, ada mobil sedan, ada mobil mini bus, dan lain-lainnya. Semua mobil tentu saja ada maksud mengapa mobil itu diciptakan. Begitu halnya manusia. Semua manusia ada peruntukannya. Tidak ada yang sia-sia.

Oleh sebab itu , pada malam itu manusia diharapkan mampu membaca hikmah ‘penciptaan dirinya’. Untuk urusan apakah dirinya diciptakan dan dilahirkan ke dunia ini. Kadar ukuran urusan Tuhan yang diserahkan adalah sesuai dnegan maksud pencip[taan dirinya, tentu saja sebagaimana analogi penciptaan mobil tersebut. Mobil truk pengangkut sampah tidaklah semstinya digunakian untuk bergaya, atau untuk kebut-kebutan di jalan raya. Begitu juga mobil balap tidaklah pas jika Khabar inilah yang ingin disampaikan oleh Allah dalam wujud RuH Jibril yang memabwa pesan kepada seluruh umat manusia yang mau memikul urusan (tugas) dari Tuhannya.

Mengenal RuH

Alam ruh yg tak berupa... tak mengikuti ruang-waktu. Tak terikat dengan alam dunia. Alam Ruh inilah yg bisa dimaknai dengan *simbol*. Bila dari posisi simbol melihat alam Ruh maka yg nampak adalah ketakberaturan. Tetapi bila melihat alam dunia akan nampak keberaturan simbol.

Diri kita terdiri dari dua entitas ini yaitu entitas raga (dunia) dan entitas Ruh yang berasal dari alam chaos alam ketakberaturan yang kadangkala disebut juga alam alastu. Kondisi diri kita yg berada dalam dualitas dua alam yaitu alam dunia dan alam alastu ini pasti membuat *jetlag*. Kebingungan. Kehilangan arah. Kehilangan orientasi. Tertarik bolak balik di dua alam ini. Referensi dua alam inilah yg dilambangkan dengan simbol *B* (Ba). Referensi B yang benar diperlukan saat kesadaran memasuki alam alastu dan alam dunia.

Saat berada di alam dunia tentu harus menggunakan referensi B yg sesuai. Demikian pula saat berada di alam Ruh (alastu) harus mampu menepati petunjuk awal yaitu persaksian kepada Rab. Alastu bi rabikum. Bukankah aku Rabmu. Bala sahidna. Benar aku bersaksi. Bersaksi kepada Rab. Maka yg mampu menjadi saksi Rab adalah Ruh. Simbol akan mampu menjadi jalan menuju pemaknaan alam Ruh. Permisalan dg yg ada di alam dunia ini. Alam ketakberaturan yg dibaca dari sisi keberaturan. Pengetahuan tentang Ruh yg sangat sulit dimaknai dalam referensi akal manusia diberi kemudahan atau jalan yg bisa difahami akal yaitu dengan simbol.

Maka konteks lailatul qadar menjadi penting karena malam ini *terbukanya portal dimensi alam RuH*. Saat alam ruh memasuki alam simbol yg berdekatan dengan alam dunia. Sehingga alam Ruh mampu dimaknai dan difahami oleh akal. Atau mudahnya simbol bukan lagi sekedar simbol tetapi membawa makna. Membawa informasi dan energy. *Simbol terisi RuH.*

Simbol pertemuan dua samudra yang dicari oleh Nabi Musa dalam pencarian untuk menemukan Nabi Khidir. Semisal pertemuan samudra syariat dan samudra hakekat. Pertemuan dua lautan yg bisa dianggp sebagai makrifat. Demikian pula semisal samudra hidup dan samudra tak hidup. Atau semisal samudra nyata dan samudra gaib. Dan juga samudra keberaturan dan ketakberaturan (chaos). Pertemuan dua samudra keberaturan dan ketakberaturan inilah yg disebut samudra simbol.

Dari posiai samudra simbol saat melihat samudra teratur maka samudra simbolpun mengikuti pola keberaturan dan seolah sangat teratur. Tetapi bila memandang samudra ketakberaturan maka simbol ini menjadi tak teratur acak chaos tak bisa dimaknai apapun.


Pola simbol *tak teratur dan tak teratur* tergantung cara pandang. Karena dari simbol inilah muncul makna. Semisal dari huruf a sampai z maka bisa muncul jutaan novel jutaan journal puisi prosa berita bahkan tak hingga. Padahal hanya berasal dari 24 huruf saja. Dari mana asal ke 24 huruf ini?. Saat ketiadaan huruf?. Tetapi ada potensi munculnya 24 huruf. Saat pola chaos mutlak.

Demikian pula pola nama-nama Allah. 99 Nama Allah yang sudah teratur. Yang kita sebut samudra nama yang teratur yang bertemu dengan samudra tanpa nama. Samudra tanpa nama dan samudra 99 nama teratur. Di bidang batas kedua samudra inilah beradanya simbol. Simbol-simbol huruf yang menjadi potensi nama. Bila kita masuki ke lebih dalam yg dimaksud nama bukanlah sekedar nama tetapi wujud sifat-sifat Allah di alam semesta ini. Yang bertemu dengan  samudra Allah sebelum disifati yg disebut alam ilahiah. Pertemuan kedua samudra sifat Allah inilah yg bisa didekati dengan simbol. Bila kita sebut sebagai alam ruh dan alam dunia. Alam ruh inilah yg membuat dunia ini mewujud.
Sifat-sifat ketuhanan sebelum berbentuk ke alam nyata inilah yg merupakan *sumber awal sifat ketuhanan* seperti cahaya putih sebelum terdifraksi menjadi cahaya pelangi. Cahaya putih yg menjadi sumber berbagai warna inilah yg dimisalkan dengan cahaya seribu bulan. Sumber cahaya. Cahaya dengan kekuatan daya intensitas melebihi semua cahaya di alam ini. Cahaya penuh kekuatan dan informasi inilah yg menjadi isi atau inti kedatangan simbol malaikati wa ruh. Inilah yg disebut sebagai Nama Allah ke 100. Sumber dari 99 nama. Satu nama yg merupakan induk dari ke 99 wujud sifat Allah. Sumber dari ke 99 sifat Allah. Atau bisa juga diperluas merupakan sumber dari sifat yang 3999.

Maka mengenali entitas *simbol* adalah mengenali *rahasia sifat Allah* atau mengenali Ruh.

Sifat-sifat ketuhanan sebelum berbentuk ke alam nyata inilah yg merupakan *sumber awal sifat ketuhanan* seperti cahaya putih sebelum terdifraksi menjadi cahaya pelangi. Cahaya putih yg menjadi sumber berbagai warna inilah yg dimisalkan dengan cahaya seribu bulan. Sumber cahaya. Cahaya dengan kekuatan daya intensitas melebihi semua cahaya di alam ini. Cahaya penuh kekuatan dan informasi inilah yg menjadi isi atau inti kedatangan simbol malaikati wa ruh. Inilah yg disebut sebagai Nama Allah ke 100. Sumber dari 99 nama. Satu nama yg merupakan induk dari ke 99 wujud sifat Allah. Sumber dari ke 99 sifat Allah. Atau bisa juga diperluas merupakan sumber dari sifat yang 3999.
Maka mengenali entitas *simbol* adalah mengenali *rahasia sifat Allah* atau mengenali Ruh.
Apakah semua ini ada *dalilnya*?. Jawabnya tidak ada!.
Apakah ada yg mengajari dan memberitahukan?. Jawabnya tidak ada!.
Apakah perlu diyakini. Jawabnya tidak!.

Lalu mengapa dituliskan?.
Untuk menguji akal sehat kita. Untuk memperluas wawasan.
Agar Allah sendiri membuka rahasia simbolnya.

Memberi tahu nama rahasianya. Memberitahu sifat yg ke seratus.
Memberitahu sumber dari semua sumber sifat Allah yg mewujud ke dua ini.

Agar kita mampu bersaksi.
Bala Sahidna. Engkaulah Rab ku.
Menyaksikan entitas Rabul alamin.
Lalu mampu mengabarkan keberadaanNya.

Bertakbir. Allahu Akbar.
Allahu akbar wa lilla hil hamd. Bukan sekedar mengucapkan takbir. Berada di alam Rab (Takbir).

Inilah detik demi detik dimana portal dimensi Ruh semakin mendekati terbuka saat kita mampu membaca simbol. Saat kita diminta IQRO. Mengenali *Ra* dalam dimensinya dalam referensi *B*. Menjadi saksi *RaB*.


Kesadaran yg meliputi ini semua dalam sebuah *gerak gelombang cahaya* (semisal gelombang elektromagnetis. Yg selalu dalam getak vertikal dan horisontal. Gerak gelombang cahaya ini disimbolkan dengan *R MD N*. Simbol gerak cahaya.
Samudra *R*
Batas dua samudra *MD*
Samudra *N*
Bila kita melihat dari posisi *N* maka
Bidang batas pertemuan dua samudra NR (nur=cahaya) adalah *DM* (ADAM).
Maka adam adalah bidang batas antara samudra *N* dan samudra *R*.

Memahami gerak horisontal dan vertikal masing-masing entitas akan semakin mengenali makna dibalik gelombang ini.
Mari sedikit kita kembangkan agar lebih mudah membayangkan yg dimaksudkan dengan _samudra N_ dan _samudra R_. Dalam konteks gerak gelombang ini. Samudra *N* yg utama adalah *Nafs* kita gerak nafas kita. Gerak keluar masuk nafas. Selalu bergerak di antara diam. Di antara gerak ada sesuatu yg terus menerus bergerak. Gerak horisontal. Sedang *R* coba kita maknai sebagai *gerak Ruh*. Gerak vertikal ke alam alastu alam ilahiah.

Maka dua samudra yg dimaksud adalah *samudra Nafs (N) dan samudra Ruh (R)*. Bidang batas dua samudra inilah tempat beradanya *DM* atau ADAM. Entitas ini hanya bisa exis atau berada di dua samudra ini. _Samudra nafs dan samudra ruh_. DM tanpa Ruh hanya masuk ke Nafs. Dan tanpa Nafs maka akan memasuki alam Ruh. Ketika entitas Nafs diputuskan maka entitas DM ini akan lebur dan masuk ke samudra Ruh. Tentu saja saat berada di bidang batas ini kita bisa pula *menyengaja* berenang ke samudra Ruh dan bisa pula menyengaja berenang di samudra Nafs.

Maka kita mampu memahami _Gerak RMDN_. Atau *N (DM) R*.
Entitas ADAM yg berada di dalam *NR*. Atau cahaya *DM* dalam Cahaya *NR*. Cahaya di dalam cahaya. Cahaya di atas cahaya. Cahaya meliputi cahaya.
Bila DM dalam gerak horisontal maka NR dalam gerak vertikal. Bisakah berubah. Mungkin saja. Mungkin MD dalam gerak vertikal dan RN dalam gerak horisontal.
Samudra RMDN atau N (DM) R. Masing-masing berada pada referensi *B*. Yang terikat menjadi BR dan RB (rab) dan BN (Bani) dan NB (Nabi).
Alam rabbaniyah (RB) dan alam Bani (anak manusia). Alam ketuhanan dan alam manusia.

Perubahan *N ke B* hanyalah mengubah titik sang pengamat.

Tetapi bagaimana mengubah Ra dan Ba?.
Inila konsep awal Alastu!.
_Alastu Bi Rabbikum?._ (A)
_Bala Sahidna!_  ( *Ba*).

Sanggupkan kita belajar mengenali Ba di alam alastu yg tanpa wujud bentuk rasa. Ruang. Waktu. Tak berupa. Tapi mampu mengerti simbol B L S H D dan N.
N inilah sang *penghubung* simbol.
Semua pembelajaran dimaksudkan agar jiwa manusia mampu dalam keadaan *superposisi* (sempurna).

Adalah suatu keadaan makom ;
1. Jiwa mampu  kaya manakala raga dihimpit kemiskinan
2. Jiwa mampu merasa besar disaat raga dihinakan
3. Jiwa mampu merasa bahagia saat realitas raga dirundung kesedihan..
4. Jiwa mampu merasa kuat saat raga itu dilemahkan..

Dll...dll..
Semua itu realitas yang paradoksal. Jiwa harus mampu memaknai keadaan *musibah* bagi raga sebagai sebuah pembelajaran yang dimaksudkan agar jiwa mampu memetik hikmah. Sungguh hikmah adalah *anugrah* yang besar.
Ya...jiwa mampu mengambil sudut yang bijak saat raga dalam keadaan apapun.
Ya agar jiwa tenang menemani sang raga. Jiwa tidak dirisaukan saat terkini sebab kepastian bagi raga adalah kembali ke tanah.
Sementara keadaan jiwa masih akan terus melanjutkan perjalanannya kembali.
Kembali kepadaNya...
Ya..pembelajaran adalah memaknai semua kejadian yang dialami raga dengan sudut pandang yang benar. Sudut pandang ilahiah. Sudut pandang yang holistik.
Pemaknaan musibah yang selama ini di kontruksi oleh akal manusia harus dimaknai ulang oleh hati manusia.  Benarkah itu musibah? Atau jangan jangan kita tidak mampu melihat *anugrah* di balik musibah tersebut. Kita tidak melihat rencana Allah atas musibah yang menimpa raga kita. Kemudian kita berburuk sangka kepada Allah...
Kita tidak mampu melihat sebuah proses yang tengah di lakukan alam. Sebuah proses yang akan menciptakan kemuliaan bagi manusia. Dengan dimiskinkan kita akan menjadi kaya. Dengan dihinakan kita akan menjadi kuat. Dll...
Marilah kita berbaik sangka atas apapun kondisi raga kita. Marilah kita menuliskan kepastianNya. Bahwa Allah akan memuliakan manusia di atas makhluk lainnya. Tuliskanlah kepastian itu anggaplah sebagai harap dan doa. Sebab dengan itu kita telah menuliskan kebenaran atas takdir jiwa kita.
Marilah kita tuliskan harapan kita itu...
Perjalanan symbol, bisa di sebutkan sebagai salah satu perjalanan Tasawuf
Sebuah perjalanan menuju RAB..
Yang walaupun kita tidak memahami bahasa Arab, sementara Al quran isi adalah bahasa arab
Namun dengan symbol seolah menjadi paham maksud dan tujuan dari sebuah ayat.


 Bersambung...