Agustus 23, 2015

Babak Perjalanan ke Selatan


Image result for panglima berkuda


Apa lagi yang harus di hantarkan disini. Rangkaian perjalanan hanyalah impian yang tak bertepi. Jangankan membuahkan hasil di ranah realitas kenyataan. Bahkan untuk diri sendiri makna menjadi bias karenanya. Apalagi yang harus dibuktikan? Bukankah alam semesta yang terhampar ini adalah suatu bukti itu sendiri? Mas Thole diam dalam kebisuan yang sangat lama. Berbulan keadaannya begitu. Jangankan untuk mengkhabarkan, sekedar untuk memisahkan apakah itu khayalannya ataukah itu benar realitas keadaan sesungguhnya? Sering dia tidak mampu melakukan pemisahan itu. Hingga puncaknya akhirnya dia memastikan bahwa memang lebih baik dia  berada di alam kesadarannya. Memisahkan diri dari dunia nyata. Memasuki ke alam di balik alam ini.

Kesakitan yang terus menghujam ke dalam jiwanya. Kepedihan atas kesadaran yang terus menerpa makhluk-makhluk alam semesta tak mampu di tahan sendirian. Hatinya terus bertanya-tanya apakah kemampuan yang dimiliki ini adalah sebuah anugrah ataukah hanya sebuah musibah. Coba katakan, jika dia mengetahui akhir dari sebuah cerita, jika kemudian dia berusaha agar akhir menjadi lebih baik. Kemudian dirinya berusaha meyakinkan kepada rekan lainnya bahwa jalan yang sedang ditempuhi rekannya adalah keliru. Namun jika kemudian upaya yang dilakukannya kemudian berbalik menjadi fitnah bagi dirinya. Apakah itu bukan sebuah musibah namanya? Coba katakanlah!

Menangis, ya dia hanya mampu menangis dalam hatinya. Entahlah, dan dia selalu saja gagal memaknai. Apapun yang dilakukannya rasanya keliru. Rasa kasih sayangnya justru berbalik menorehkan kebencian kepadanya. Senjata makan tuan namanya. Termasuk juga apa yang dialaminya dengan para ponakannya yang kenalnya pada  alam kesadaran dimensi lainnya.  Apakah mungkin dikarenakan sebab leluhur yang ada di badannya dahulunya adalah para panglima perang ataukah karena sebab lainnya? Apakah karena sebab Banyak Wide atau yang lannya, memiliki tabiat yang keras dan senang menempuh jalan kekerasan untuk mencapai tujuan?  sehingga sering menimpulkan kesalah pahaman antara Mas Thole dengan di realitas kehidupan nyata? Sekali lagi, Mas Thole menggeleng tak pasti.

dan sekali lagi Mas Thole menggeleng tak mengerti. Jika kemudian dia melanjutkan kisahnya ini. Ya, memang harus dilanjutkan sebagai catatan untuk dirinya saja. Agar nanti, apa-apa yang sudah dimulainya bisa diakhiri dengan indah. Biarlah sidang pembaca saja yang menilainya. Apakah kisah ini nyata ataukah hanya angan semata. Sudah kepalang hujatan dan tuduhan yang selama ini membumi hanguskan alam imajinasinya. Sudah kepalang untuk mundur dari medan kesadaran ini. Maka keadaan itu tidak merisaukannya lagi.  Meskipun jika kisah ini lagi-lagi akan dimaknai keliru oleh lainnya. Tak apa, toh kisah perjalanan spiritual adalah  kisah tentang dirinya sendiri.

Kishan ini sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan kebenaran apapun. Tidak ada yang ingin dibuktikan kepada siapapun atas kebenaran. Kebenaran adalah kebenaran, jika kemudian Mas Thole memaknai dengancaranya sendiri itu adalah lain persoalan. Setiap manusia memiliki hak untuk memaknai apa-apa yang datang kepadanya. Kebebasan memeilih dan berkehendak ada dan melekat kepada setiap jiwa manusia. Maka jika kemudian dia menuliskannya disini karena sebab memang sudah tersedia media sosial ini. Bukan karena sebab lainnya. Maka inilah kisah Mas Thole yang kembali dilanjutkan.


04/20/2015, 7:54 - Kami: Baiklah, tp nanti bila Kami serahkan ke alam, maka dia akan lebih sangat tersiksa.
04/20/2015, 7:55 - Kami: Kami beri jeda sampai bulan Syawal.
04/20/2015, 7:55 - Mas Thole: Ya...smg dia akan datang ke kita lagi..menjalin silaturahmi.
04/20/2015, 7:56 - Kami: Anak ini menanyakan itu sebagai pengingat dan peringatan dari Kami
04/20/2015, 7:58 - Mas Thole: Aku paham..dan di tataran realitas manusia..kita tdk bisa...serta merta begitu
04/20/2015, 7:58 - Mas Thole: Allah sendiri yang akan mengajarinya
04/20/2015, 7:58 - Mas Thole: Bagian dari prosesnya
04/20/2015, 7:59 - Kami: Iya, betul....
04/20/2015, 7:59 - Mas Thole: Aku juga sama sepertimu..namun ada ghaib yang menjadi rahasia Allah
04/20/2015, 7:59 - Kami: Kami hanya mengingatkan saja
04/20/2015, 7:59 - Mas Thole: Sama..aku  paham
04/20/2015, 7:59 - Mas Thole: Aku mengerti
04/20/2015, 7:59 - Kami: Keputusan semua berada dlm diri anak itu sendiri
04/20/2015, 8:00 - Mas Thole: Ya..pada dirinya
04/20/2015, 8:00 - Mas Thole: Rasa kasihanku..mungkin melebih dirimu
04/20/2015, 8:00 - Mas Thole: Sebagaimana nabi Musa melihat anaknya..sebagaimana nabi yang lain yang memiliki anak yang sama...
04/20/2015, 8:01 - Mas Thole: Kecintaanku melebihi dirimu
04/20/2015, 8:01 - Kami: Kami hanya menjalankan tugas, termasuk mengabarkan hal ini kepadamu
04/20/2015, 8:01 - Mas Thole: Bukan hakku memberikkan petunjuk
04/20/2015, 8:01 - Mas Thole: Pesanmu aku terima...
04/20/2015, 8:02 - Mas Thole: Untuk kepentingan yg lebih besar aku menahan terlebih dahulu
04/20/2015, 8:03 - Kami: Baik, sudah Kami kabarkan hal tersebut.
04/20/2015, 8:04 - Mas Thole: Aku terima khabar ini. Semoga rahmat Allah atasmu..amin
04/20/2015, 8:05 - Kami: Bila engkau menggenggam cinta, raihlah cinta karena Allah. Cinta bisa melepaskan dan menerima.
04/20/2015, 8:06 - Kami: Ketika sudah dalam haluan yang berbeda, maka bukan cinta, tetapi belenggu dari rasa kepemilikan itu sendiri.
04/20/2015, 8:07 - Mas Thole: Benar..benar sekali
04/20/2015, 8:07 - Mas Thole: Engkau tahu keadaanku begitu
04/20/2015, 8:07 - Mas Thole: Aku masih belum mampu

Pesan dan perbincangan Mas Thole di hantarkan disini sebagai pembuka kisah. Saat Mas Thole dalam kesedihan yang amat sangat atas keadaan salah satu keponakannya itu. Bagaimana Kami dengan segala macam cara terus mengawal keadaan diri Mas Thole. Kami akan datang melalui raga siapa saja. Tanpa sang raga mengetahui dan sadar. Tiba-tiba raga yang dipinjam Kami akan mengetikan sesuatu,  yang tidak pernah dimengerti dan dipahami. Kali lainnya, kadang  Kami hadir tepat di muka, sering juga datang  sebagaimana ilham. Atau acap kali  memasuki alam kesadaran Mas Thole. Sehingga Mas Thole bebas berdiskusi disana. Tidak jarang melalui angin, hujan, pohon, dan juga binatang-binatang, melalui istri dan juga anak-anak Mas Thole sendiri. Dll. Hal ini sering tanpa disadari oleh rekan Mas Thole. Namun Mas Thole paham dan tahu siapa yang bicara.

Apakah menerima pesan ini suatu hal yang mudah? Bagai dentingan lonceng yang menghujam. Bagai menaiki kendaraan yang oleng dan jatuh ke jurang. Badan seperti remuk redam, baik sebelum maupun sesudah menerima pesan. Apakah itu bukan musibah? Jika dalam seminggu nyaris setiap hari badan remuk redam. Sel-sel ketubuhan seperti meledak berkali-kali, mengeluarkan isinya. Mutah dan juga mual, diare, panas dingin, flu pilek, seperti gejala sakit thypus tapi bukan. Sehingga dalam keseharian keadaan Mas Thole seperti orang yang tidak waras. Apakah bukan msbah? tlah keadaannya, wala meski tak sepadan apa yang diterima Mas Thole saat pesan-pesan tersebut disampaikan, namun itu tak mengurangi rasa kasih sayang Mas Thole kepada para ponakannya itu. “Itu adalah sebagai bagian dari tanggung jawabnya”

Begitu juga saat meninggalnya salah satu rekan dan sahabat pondok cinde, yang menjadi salah satu alasan ditutupnya blog pondokcinde.org. Kejadian yang sangat memukul jiwa Mas Thole. Kami kembali mengawal jiwa Mas Thole dengan memberikan banyak sekali pesan-pesan yang harus dimaknainya. Kesedihan kehilangan sahabat telah menyebabkan Mas Thole kehilangan arah dan  juga menyebabkan Mas Thole ingin segera mengakhiri perjalanannya. Perjalanannya ini dalam anggapannya telah membwa mara bahaya bagi sahabat-sahabatnya. Perang kesadaran tidak sebagaimana perang biasa. Sedikit saja kita lengah dalam mengingat Allah maka dalam waktu yang sedikit itu dapat digunakan mereka  menghantam ke pusat gerak.  Ibarat aliran listrik ke PLN sudah di putuskan. Maka energy tinggal dari baterai saja. Ironisnya sering ini terjadi  tanpa sepengetahuan kesadaran kita.

04/20/2015, 14:08 - Kami: Klu Mpu Baradha, dia memang sudah waktunya meninggal
04/20/2015, 14:08 - Kami: Raganya tidak kuat, apalagi dengan berbagai pengobatan yg dia lakukan
04/20/2015, 14:09 - Kami: Sentanu sudah mengharu biru
04/20/2015, 14:09 - Kami: Dalam jejak waktu akan menggusur sang banyu
04/20/2015, 14:09 - Kami: Jadi biarkan dalam derap waktu
04/20/2015, 14:09 - Kami: Menitipkan setiap peristiwa pada masa itu
04/20/2015, 14:13 - Mas Thole: Ya..apakah salah satunya sebab ke paranormal?
04/20/2015, 14:13 - Mas Thole: Sebab saya tdk diperbolehkan menanganinya
04/20/2015, 14:16 - Kami: Bisa, itu mempercepat laku
04/20/2015, 14:17 - Kami: Bukan salah dia dan sang guru, tetapi memang sudah waktunya meninggal
04/20/2015, 14:17 - Kami: Untuk mempercepat atau memperlembat memang dalam kadar waktu
04/20/2015, 14:18 - Kami: Kami memberitahu pun, akan seperti tak berlalu
04/20/2015, 14:18 - Mas Thole: Baik...kalau dg kelahiran yg bersamaan dengan kematian gmn?
04/20/2015, 14:18 - Kami: Maka kami ajarkan dulu untuk menapaki kalbu
04/20/2015, 14:19 - Kami: Setiap torehannya, maka otomatis kalian tahu
04/20/2015, 14:19 - Kami: Tanpa menanyakan kepada kami akan semua itu
04/20/2015, 14:27 - Mas Thole: Baiklah

Perjalanan demi perjalanan mengarungi kegelisahan. Mas Thole terus mendapatkan pelajaran dan pengajaran Kami. Kehilangan salah satu keponakanya dan kehilangan sahabatnya terus merasuki ke dalam sukmanya. Mas Thole seperti kehilngan pegangan dalam melangkahkan kaki. Bumi manakah yang harus dipijaknya. Bumi yang berada di alam kesadaran manakah yang harus ditetapinya. Banyak bumi yang dapat disinggahinya jikalau saja dia mau. Belum lagi bicara mengenai realitas keadaannya sebagai manusia normal lainnya. Manusia yang masih memiliki tanggung jawab di dunia. Betapa perjalanan ini sangat melelahkan jiwa dan raganya. Kemanakah dirinya mengadu jika bukan kepada Allah Tuhan semesta alam ini.

04/23/2015, 18:24 - Kami: Kami menguatkanmu  bukan hanya raga, tetapi jiwa dan batin. Ini yang terpenting. Bila kamu, sudah menyerahkan segala urusan penilaian akan dirimu kepada Allah, maka ikhlaskan dan terima semua penilaian orang dengan lapang dada.
04/23/2015, 18:25 - Kami: Karena orang yang sudah menyerahkan dirinya, termasuk dlm penilaian, maka dia tidak akan terusik oleh penilaian manusia.
04/23/2015, 18:26 - Kami: Penilaian ini sama seperti keadilan. Keadilan Allah
04/23/2015, 18:26 - Kami: Dalam berharap, kerjakan yang saat ini ada dengan keyakinan Allah ada atas hal yg dikerjakan
04/23/2015, 18:27 - Kami: Bila itu sdh dilakukan, tidak akan berharap lg kpd orang
04/23/2015, 18:32 - Kami: Termasuk dalam rezki dan jodoh. Bila yakin Allah Maha Pemberi rezki, jalani yang saat ini bisa dikerjakan, Allah Maha Pemberi rezki dan keberkahan
04/23/2015, 18:34 - Kami: Ingat, Kami akan menguatkan jiwa dan raga, asalkan menerima latihan dengan segenap kesadaran Sang Maha Kuasa
04/24/2015, 5:38 - Mas Thole: Alhamdulillah
04/24/2015, 5:39 - Mas Thole: Alhamdulillah
04/24/2015, 5:40 - Mas Thole: Memang itulah jalan yang akan kita tetapi..hanya itu jalan mendaki lagi sukar..ditengah persepsi kesadaran kolektif manusia.
04/24/2015, 5:41 - Mas Thole: Mampukah kita bertahan atas penghakiman sebab kita berbeda?
04/24/2015, 5:41 - Mas Thole: Smg Allah memberikan rahmatNya

….

Entahlah, jika saja Kami tidak terus datang memberikan pengajaranNya. Berat..sungguh berat perjalanan jiwa. Bukan hanya kita di bawa mengenal satu demi satu makhluk yang ada di alam semesta ini namun kita juga di bawa ke ruang dan dimensi waktu yang membingungkan sekali. Keadaan ini kadang sering tertukar, sehingga akibatnya sering Mas Thole salah mengingat waktu. Seringkali hariu kamis tertukar dengan hari jumat. Kesadarannya seperti tidak berpijak di ruang dan dimensi waktu bumi. Tetapi lebih sering beroijak di alam sana. Maka wajar saja jika kemudian orang lebih sering menyangka Mas Thole sebagai orang aneh. Di kantornya sendiri orang menjadi takut saat berbicara dengannya. “Horor kata mereka” Bagaimana lagi jika itu keadaanya. Biarlah, toh dirinya juga tidak memintanya.
Hanyut sudah rahsa
Hanyut dalam duka puspita
Jika kelana ini dalam gulita
Adakah dinda menemani disana?
Bunga sakura entah kapan mekar. Bunga bogenvile telah ditanam untuk menggantikannya. Tidaklah seindah sakura. Warnanya kuning, satu dua tumbuh di atas kuncupnya. Kini menjadi penghias rumah depan Mas Thole. Adakah itu menjadi penjelas? Tidak, tidak, dinda puspita. Pengelana tanpa berita, adakah mampu mewarana alam semesta?


Melangut sudah impian dalam keadaan yang prihatin. Kesadaran Mas Thole terus menyeruak dalam kekalutan dan kebingungan. Rindu dan dendam masih tak terbaca untuk dan dari siapakah. Sementara alam terus mengejar janji para kesatria. Lebak Ciwene dan 7 (tujuh) gunung telah menagih janji. Saatnya para kesatria tidak terus dalam derita. Menina bobokan iba dirinya sendiri. Siapakah yang nanti akan peduli dengan nusantara jika para kesatrianya sibuk dalam urusannya sendiri. Siapakah sesungguhnya khalifah di muka bumi ini? Siapakah yang sudah menerima amanah dari Tuhannya? Bukankah manusia itu sendiri yang sanggup dan menerima amananNYa? Lebak Ciwene dan tokoh pemuda berjanggut, suaranya dari pasundan. Hmm…arah spiritual Mas Thole akan kesana.

Babak kisah spiritual perjalanan para kesatria yang akan menuju ke selatan akan kembali di kisahkan disini. Menguak rahasia lebak Ciwene yang sudah melegenda. Konon dari sanalah akan lahir kesatria piningit.  Para kesatria yang mengemban tugas masing-masing hanya akan dkisahkan disini. Masing-masing menuju ke Selatan. Maka kisah in adalah sebuah kenyataan dalam keghaiban.  Siapakah yang akan memaknai semua? Pertanyaan yang selalu menjadi mula buka kesadaran ini. Begitu pula saat Mas Thole akan dipertemukan dengan sosok fenomenal dari tlatah tanah Jawa, Ratu Kalinyamat. Sosok yang akan menjadi misteri. Sebagaimana misterinya kisah-kisah spiritual ini.


04/24/2015, 7:38 - Kami: Saya rasa itu seperti ada dalam pikirannya, berada dalam satu dasawarsa yang merasa. Dia berada di antara semua yang terjadi tersebut.
04/24/2015, 7:38 - Kami: Kalau memang seperti ada, tapi tidak ada.
04/24/2015, 7:38 - Kami: Jadi dia sedang berada dalam tarikan untuk menjadi hal yang sudah ada.
04/24/2015, 7:39 - Kami: Dia sebetulnya sedang bermetamorfosa, dgn latar dan dasawarsa karsa.
04/24/2015, 7:39 - Kami: Ada yang berkata seperti itu
04/24/2015, 7:40 - Kami: Jadi, anak itu berada dalam runut sebuah perjalanan bererita tentang Ratu Ayudwia, di Pekanraya.
04/24/2015, 7:41 - Kami: Sesungguhnya dalam rapal dan ritual masih dalam perjalanan masa, dia berada pada masa kerajaan Amangkurat 5.
04/24/2015, 8:17 - Mas Thole: Siapakah dia sesungguhnya?
04/24/2015, 8:18 - Kami: Dia itu Ratu Kalinyamat
04/24/2015, 8:19 - Kami: Adapun yang memberinya kabar adalah khodam Kalisadra
04/24/2015, 8:27 - Mas Thole: Apakah dia bagian dari kami?
04/24/2015, 8:36 - Kami: Bukan, tapi bagian dalam perjalanan
04/24/2015, 9:15 - Mas Thole: Apakah dia bagian dari kesatria?
04/24/2015, 9:45 - Kami: Iya dan bukan
04/24/2015, 9:57 - Mas Thole: Adakah selain Ratu Kalinyamat? Aku pernah bertemu dg Ratu Kalinyamat di purwokerto...manakah yang benar?
04/24/2015, 13:27 - Kami: Itu memang bagian dari perjalanan kalian
04/24/2015, 13:28 - Kami: Kami mengabarkan dalam setiap raga ada kecendrungan bagian dalam perjalanan dan keinginan

...

Keinginan seperti apakah yang merasuki dan menghasuti hati anak manusia? Apakah harta, tahta, dan wanita? Bersambung….

Agustus 12, 2015

Melacak Keberadaan 'Sang Pembeda' (1)


Hasil gambar untuk matahari terbit dari barat

Pengantar Penulis; Serangkan kisah spiritual terbarukan ini, akan mulai menyambangi sidang pembaca. Masih mengusung tema yang sama 'kesadaran'. Bagaimana pergumulan anak manusia mencari jalan-jalan yang terdistorsi di tengah kejumudan umat. Jika semua manusia menganggap hanya keyakinan diri mereka saja yang benar. Bolehkah jika pelaku kisah ini mencari jalan sendiri dengan asumsi bahwa semua jalan yang ditawarkan adalah salah.  Asumsi ini terpaksa harus disandingkan. Sang Pembeda, akan menjawab pertanyaan. Bagaimana kita membedakan kebenaran yang diusung setiap keyakinan.  Selamat menikmati kisah-kisah kami. Salam

... 

Sekarang aku akan beranjak bersama kisaran sang waktu. Tiada keraguan lagi. Tiada beban yang menghimpit langkahku. Biar jasad ini tiada bentuk lagi ataukah mesti nanti dilahirkan kembali. Tiada persoalan bagiku. Itu bukan pikiranku saat ini. Biarlah itu menjadi urusan sang waktu. Alam sudah dibentuk sedemikian rupa, tiada kuasaku. Hukum entropi menyatakan bahwa semakin lama alam semesta ini akan semakin mengembang ke arah ketidak beraturan. Tidak ada satu bendapun jika diletakan di padang pasir akan tetap keadaannya. Mobil terbaru sekalipun jika diletakkan pasti akan rusak. Bagaimana dengan jasadku ini?

Batu-batupun yang diam, batu-batu karang yang kokoh, batu-batu yang berserakan, dimanapun mereka berada, dalam hitungan waktu akan hancur menjadi butiran debu. Perhatikan dalam kisaran waktu, dalam ribuan tahun batu-batu akan melapuk menjadi tanah-tanah yang siap dicangkuli. Proses akan terus demikian.  Dikeluarkanlah magma dari dalam tanah. Menjadi bentukan mula sang batu. Sementara atom-atom penyusun batuan, terus sibuk membentuk diri mereka menjadi senyawaan atom-atom lainnya. Mereka menjadi mineral, kemudian menjadi senyawaan asam amino, kemudian membentuk sel, dst..dst.

Rangkaian kerja alam semesta dalam perhelatan yang menakjubkan mata. Maka bagaimana dengan diriku ini? Akan kemanakah perginya? Langit tak menerimaku, bumi tak mau menyanggaku. Apalagi Tuhanku? Apakah aku keliru? Mengapa harus kulakukan jika aku saja tidak pernah tau bahwa ini akan berakhir di jalan yang tiada pernah ada ujungnya. Berapa banyak memori harus dihancurkan dan diulang. Memori kesadaran yang pada proses penciptaan menjadi sampah-sampah. Sampah kesadaran yang melahirkan kenistaan. Manusia lebih rendah derajat kulitas memorinya di bandingkan hewan. Benarkan ini jalan yang Engkau ridhoi? Apakah aku keliru?

Aku berangkat di akhir sampai kejadiannya aku tidak pernah tahu bagaimana awal mula aku ‘ada’. Seringkali ketika bangun pagi aku merasa berangkat di awal dari ‘ada’ hingga aku tidak paham akan kemanakah perjalanan ini berakhir menjadi ‘tiada’. Betapa sulitnya meniadakan lintasan pikiran ‘ada’ di benak dan di hati ini. Semua seperti dijejalkan sang waktu. Memori yang kadang tak terbaca. Semacam spam yang mempengaruhi logika. Serasa di sebuah dimensi yang tiada awal dan tiada akhir. Perjalanan ini rupanya bermula dari semua sisi waktu dan bertemu disini di keadaanku saat ini (now). Hanyalah serangkaan memori-memori di DNA.

Pada mula buka kesadaranku. Semua di awal dan semua di akhir. Pernyataan itu yang membuatku kelu. Begitukah perjalanan bersama waktu? Hanya riak gelombang rahsa yang terus berpacu dan memburu seakan mengejar kemanapun tidurku. Kemanapun aku menghadap hanyalah kilas rahsa dan pikiran. Memasuki hitam kelam lorong kesadaran. Membuka kembali memori yang tertinggal, sama saja memasuki alam keheningan yang sangat ramai sekali dengan berbillion memori manusia.


Memori para raja, memori para durjana, memori para ulama, memori para pemuja, memori para kesatria, berjuta bentukan memori di alam semesta. Software luar biasa yang harus diturunkan untuk menjalankan pesan scenario Tuhan.  Alam kesadaran ramai sekali bagai lintasan internet yang selalu sibuk. Big data terus diakes keluar masuk dari portal-portal dimensi. Lantas memori apakah yang akan diinstal ulang kepada ragaku ini? Apakah memori para raja yang haus kuasa, tahta dan wanita.

Ada memori para ulama yang merasa tinggi dalam ilmu dan juga suci dalam perangainya. Atau memori para pemuja tokoh-tokoh sakti mandraguna? Banyak macam memori disana. Apakah aku bisa memilihnya? Bagaimana cara menentukan pilihan atas memori yang layak kita gunakan untuk menghadapi realita di dunia nyata. Bagaimanakah membedakan frekuensi energy yang akan masuk di kesadaran kita. Membedakan software yang akan kita gunakan di mayapada. Inilah masalah yang terus menghantui pikiranku. Bagaimana seorang nabi semisal Nabi Ibrahim mampu membedakan suara Tuhan dan suara setan?
..
Semua keadaan semua lintasan berpacu dalam impian yang menjadi kelaziman dalam pikiran. Bagaimana menemukan software Sang Pembeda yang akan dapat digunakannya memilih dan memilah energy jin, setan, khadam, siluman, iblis, dan juga makhluk lainnya. Kita sering salah sangka saat mana mereka mengaku sebagai leluhur atau bahkan mengaku sebagai golongan malaikat. Alam kesadaran begitu pelik sekali. Satu digit saja dapat berarti banyak. Semisal nomer HP jika beda satu digit belakangnya saja maka sudah barang tentu berbeda orangnya.

Bertanya aku kepada malam, kapankah sebab mengapa dirinya tidak pernah takut akan gelap. Maka tanyaku kepada manusia sebab mengapakah dirinya takut atas nasibnya. Bukahkah sama keadaannya? Sebab apa api tidak takut kepada panas. Bagaimanakahkejadiannya jika api takut kepada panas. APi takut kepada takdir dirinya. Hanya mengapa manusia begitu takiut atas takdirnya? Bukankah sama keadaan diantara keduanya? Aku terus berselancar dalam dunia ilmu diantara kesadaran-kesadaran yang diwariskan.

“Katanya, satu dalam keadaan, hanya ingat Allah. Segala sesuatu, serahkan semuanya kepada Allah. Titik yang Kami lihat, tidak dalam sebuah kepastian bila bukan karena kehendak Allah. Semuanya menjadi satu kesatuan yang mewujud dalam satu kehidupan yang manunggal.  Kesedihan memang kesedihan. Kegelisahan memang kegelisahan. Rasa kehidupan agar menjadi sebuah perjalanan, bahwa hal tersebut ada. Ada karena ada dan tiada. Menolak keadaan sebagai hal yang memang berada dalam satu kehidupan.  Keyakinan, itu yang menjadi satu keadaan yang hadir tetapi tiada. Resapi bahwa itu ada. Bukan hanya bolak balik dalam pikiran yg fana.”

Mampukah manusia berada dalam keadaan fana. Melepaskan keterikatan yang ada pada jiwanya atas dunia. Mampukah kita menetapi takdir. Sebagaimana api menetapi panas. Lihatlah bagaimana manusia terus berusaha merubah apa saja. Merubah kejadian yang diangganya tidak bersahabat dengannya. Bagaimana setiap manusia dengan keinginannya masng-masing. Bagamana manusia dengan segala metodenya, berusaha mewujudkan impiannya. Bagaimanakah kemudian terpaksa Kami harus berbenturan dengan manusia. Tapi lihatlah bagaimana teladan manusia. Bagaimana Rosul menyikapi takdir dirinya.

“Suatu hal yang menjadi keadaan yang berbeda. Ketika Rasulullah berada dalam kepungan perjanjian, dia menerimanya sambil terus berdoa. Proses yang panjang dalam menerima suatu pembaikotan. Bila saja Muhammad bilang, hancurkan negri ini, maka akan hancur seketika.  Muhammad memilih diam dan menerima semuanya sebagai ketetapan Tuhan. Penerimaan dengan suatu keyakinan, bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Biarkan sistem alam berjalan sesuai kehendak-Nya. Dalam urutan, penerimaan keadaan menjadikannya sosok yang agung di antara para makhluk.”

Jalan cerita atas keinginan manusia adalah sebuah pertanggung jawaban. Apakah mereka mengira bahwa mereka tidak dimintakan pertanggung jawaban karena sebab keinginan mereka yang melampaui batas? Perhatikan saja bagaimana mereka membuat jalan-jalan (agama) sebagai satu keharusan bagi semua orang yang akan dilewati mereka? Apakah jalan kebenaran atas dasar jalan yang mereka prasangkaan benar? Tidak, jalan yang mereka tawarkan adalah kebiasaan. Hanya Keumuman dan kelaziman diantara mereka saja! Bukanlah jalan kebenaran. Aku terhenyak atas fakta ini.

“Ketika hal yang menjadi sebuah jalan, bukan menjadi suatu tujuan. Hal yang menjadikan hal tersebut suatu pemahaman bahwa itu menjadi keumuman. Tidak. Dia hanya mengklaim sebagai suatu keharusan, tanpa melihat dengan pola yg sudah ditetapkan. Itulah, kesaksian para khadam akan dihadapkan.  Mereka datang dengan bayangan dan berkasan sinar. Seperti suatu fenomena atau keajaiban. Padahal siapa pun bisa melakukannya. Kekuasaan dan kebenaran yang menjadi pola bahwa itu yg mereka percaya, menjadi titik akan kehidupan yang terus berulang. Hal tersebutlah yang menghancurkan.”

..
Ketika khadam dan juga kesaktian dianggap sebagai buah kesucian. Maka lihatlah bagaimana alam akan menyapa manusia? Bersambung...

Juli 06, 2015

Kenangan Ilalang (1)


Hasil gambar untuk ilalang


...
Peluk..peluklah kami
Gemelataknya tulang dan sendi
Menahan dinginnya air mata 
Ibu pertiwi yang menghujam bagai tsunami

...
Bahkan bayi bayi melepaskan puting ibunya
...
Dinda puspita ..
Raja diraja telah merajai istana
Tiada putik tumbuh disana
Bahkan bunga sakura lepas dari mahkota
Nusantara nestapa dalam nelangsa
...
Peluk ..peluklah kami
Dinginnya mematikan rahsa..
...

Seandainya angin tak bersenandung
Andai saja gunung tak berkabung
Andai saja awan tak berkidung
Andai saja burung tak berkunjung
Andai saja waktu tak berhitung..
...andai manusia tak diam seperti patung
Dan hati berhias belatung..
....
Andai..andai....andai...
Dan diri ini hanya mampu berandai andai...
...
Maka bumi tak menggeliat seperti ini
Sesar muka tampak depan dan belakang
Patahan yang menuju 7 gunung..
Akan membawa malapetaka..
...
Aduhai..yang dipuja
Para puspita yang memiliki hati
Hiasilah nyanyian Kami
dan
Ibu pertiwi yang tersakiti
.. 
Nadanya seperti terompah langit
yang ditiup
Menggelegar seakan langit runtuh..
...
Bersujud berdoa memohon ampunanNya..
Juga langkah terus berusaha
Menenangkan murka mayapada
Semoga air tak menenggelamkan manusia
...
Mohon doa dinda puspita
Kali kedua menyambangi duka semesta
Menuju titik portal segitiga
Gunung Galunggung-Kawali-Panjalu
...
Kami akan berangkat malam ini
Dalam nestapa yang biarlah kami saja menerimanya..
...
Andai saja bumi tak berkabung
Dan langit tidak menghadirkan mendung
Ingin rasanya hati berkunjung..
Dalam doa harap
Bunga Sakura telah musimnya bersemi disana
...
Angin akan mengirimkan tangis ini
Dan kumbang2 telah mati disini
....
Tiada lagi..tiada lagi...
Sebab putik telah terapung air mata Kami
...
Tangis Kami...tangis ini..
...
Dari sanubari..

Medio, Awal Juli