Postingan

Sang Guru Bumi (2) :Manusia Masa Lalu

Gambar
P ada hari biru. Aku menunggu sang waktu. “Benarkah ini tentang kamu” Sejenak sergahan pertanyaan dalam bilik kalbuku. Yah, semua tentang rindu. “Kalau begitu siapakah yang kutunggu, apakah waktu ataukah dirimu? Hhh...ingatan ini memburuku dan kenangan juga mengejarku. Bukankah semua ini perihal waktu. “Apakah salah jika aku sedang menungu sang waktu bukan kamu!” Aku menghardik dalam kekesalan. Langit rapuh dalam kesadaran. Lobang disana sini membuat pikiran semakin jauh dari kenyataan. Apa yang kuingat menjadi nyata dalam kesadaranku. Apa yang kulupakan dan masih saja kurasakan sensasinya menjadi kenangan bagiku. Orang menyebutnya dengan 'dejavu'.   Lantas apakah kenangan lebih baik daripada ingatan. Ingatan membuatku hadir dalam prasangka dan iba. Sementara kenangan mampu kulihat dengan lebih jernih persoalannya. Kadang justru kenangan menjadi terasa lebih indah. Maka jikalau ditanyakan apakah aku manusia masa lalu atau manusia sekarang. Maka jelas akan kukatakan b...

Sang Guru Bumi (1): Misteri Kematian

Gambar
Hamparan ilalang kedukaan. Bentangan awan kesedihan serta turunnya  hujan.  Mengiringi air mata kedatangan. Membasahi rimba  dan gelapnya  jiwa.   “Aduhai kekasih dimanakah kau letakan hati” Ujarnya menghiba. Kematiannya telah membawanya ke dimensi yang tak diketahuinya. Sementara lekat pekat cinta akan kasihnya terus saja mencengkeramnya,   memakunya di bumi. Lengkingan kesedihan menyayat malam yang panjang.     +++     “Cinta model apakah ini”   Gumam lelaki setengah baya, yang entah mengapa dirinya terkoneksi dengan alam ghaib yang terbuka. Sehingga seharian perasaannya tidak tenang. “Cinta bukan hanya menerima namun cinta juga adalah keberanian untuk melepaskan”   Gerutunya kepada jiwa yang menyambanginya. Enggan rahsanya mengkisahkannya kejadiannya disini. Namun entah mengapa tangan ini tak mampu ditahannya. Kesendirian adalah sebuah perjuangan.   Bukan hanya mahluk itu ...

Kembalinya Sang Guru Bumi (1)

Gambar
B iarkan kisahku ini untuk aku sendiri. Biarlah yang hilang tetap hilang. Biarlah yang pergi tetap pergi. Biarlah akan kukisahkan kisahku sendiri. Biar menjadi catatan perjalanan dikehidupan terkini. Biarlah menjadi kenangan tentang sebuah diri yang terus berjuang dan berusaha mengenali makna keberadaannya di bumi. Perjalanan yang sungguh sepi. Tak bisa diri menerima. Tak bisa perasaan ini mengingkari semua terwujud begitu saja dalam kesadaran. Memaknai Cinta ini yang begitu tersembunyi.   Cinta yang sendirian. Hingga diri tak mengenali ujudnya. Meyadarkan aku. Bahwa ini adalah kenyataan. Kesaksian yang sulit diceritakan. Sebuah rahsa yang hilang dari peradaban. Rahsa kasih sayang. “Hhhh...benarkah hilang” . Tersungut diri dalam ingatan. Benarkah telah hilang kasih sayang dihati. Seperti angin yang pergi dan tak menyapa lagi. Tidak saja hawanya, bahkan aromanya pun tak terasa. Lantas harus kucari kemanakah? Sebab semua keadaan adalah menyoal keyakinan. Rasanya tidak ada yang ...

Paregreg, Perang Yang Tak Usai (2)

Gambar
K anvas putih di sudut ruang. Satu titik dalam kesepian. Merayapi kegelapan malam. Menggores perlahan, satu huruf demi satu huruf dalam bahasa kawi. Tekanan tak sama dari setiap hurufnya. Seperti menahan beban. Nafasnya tertahan diantara iga dan belikat.  Kemudian dihempaskannya dalam satu erangan. “Argh......!” Getaran hawa magic membangkitkan alam alam kesadaran. Kesedihan yang melumatkan hati. Erangan siapakah itu? Adakah Bhre Wirabumi? Kisah Menak Jingga dan Dhamarwulan yang terbangkitkan? Kisah Majapahit Timur dan Barat yang luput dari semua kajian. Kisah rindu dendam para penguasa kerajaan. Kisah yang dibadikan oleh perang. Perang Paregreg. “Dari sisi manakah keindahan perang?” *** Lolongan anjing bersahutan. Jemari gemetaran tak mampu ditahan. Tangan seperti ingin menuliskan. Namun diotaknya tidak ada referensi atas huruf dan bahasa yang ingin disampaikan.  Menangis dirinya terguguk, sementara dibiarkan tangan menggoreskan satu huruf demi satu huru...