Postingan

Sang Guru Bumi 8; Tanda Ke Sepuluh

Gambar
M empertanyakan kami seperti silogisme dalam kehidupan, yakin dan tidak, serta seperti rangkaian nasib yang bertolak belakang atau sebaliknya dengan realita yang ada. Seumpama Kami dalam hasrat yang memupuk rangkaian keduniaan, maka akan diberikan gunung emas sebagai pengganti keikhlasan, akan diberikan permata segudang sebagai pengganti keridhaan. Itulah realita yang dihadapkan seperti rangkaian tanpa seri yang terus mempertanyakan. Seumpama langit yang beratap tanpa tiang dipertanyakan, maka itu seperti berlarinya kuda ketika di dalam medan perang. Semua menjadi seolah kalut dan merasuk dengan hal-hal yang tak terukur oleh waktu dan ruang. Selamat jalan, semua berada dalam titiannya masing-masing, sehingga dalam pencapaiannya berada pada ujung kaldera yang menjadi genasti nispu niskala. Ada berbagai hal yang menjadi rencana dan terencana, semua karena Allah ta'ala Seiring waktu, maka semua berguliran dalam titian yang menjadi suatu hal yang berpadu dalam laku...

Sang Guru Bumi (7), Munculnya Patung Amurwha Bumi

Gambar
E ntah sampai kapan nyanyian angin dan burung akan didendangkan.   Apakah angin tetap bertiup? Seorang lelaki duduk merindukan. Sepertinya impiannya telah usang di makan jaman. Tiada lagi terlihat   burung-burung terbang di angkasa saat menjelang malam tiba. Tiada juga   lelawa hinggap di pelataran rumahnya memakan pohon jambunya. Hatinya tergantung tanpa pigura. Menatap bumi yang semakin sepi. Sungguh keramaian saat ini tak dimengertinya. Apakah angin dan burung mengerti irama ini? Adakah yang memahami bahasa angin dan burung? Adakah yang mengerti bahasa bumi? Mimpi telah terlewati. Seperti berlalunya misteri demi misteri yang menggayuti kesadaran diri. “Apakah yang tertinggal jika pengetahuan hanyalah angan dan pikiran yang berjalan?” Bisiknya tak dimengerti dirinya sendiri. Perjalanannya tetaplah misteri. Seperti menjelajah dimensi namun bukan. Sebab kenyataan dirinya tetaplah di bumi. Berjalan ke Gunung Surian, terus jauh merambah malam berdi...

Sang Guru Bumi (6); Sebuah Tanda

Gambar
H amparan rerumputan berbunga seperti kapas. Bagai permadani melayang-layang.  Diatas permukan tanah. Terbang, satu dua membubung ke angkasa, naik dan terus melayang hingga hilang di ujung perbukitan. Nampak awan mengintip dari baliknya, diantara selanya cahaya matahari membentuk lingkaran. Panorma padang ilalang diantara nyanyian angan dan tembang angin yang berkesiuran diatas dedaunan. Bumi putih. Sejauh mata memandang. Namun ilusi masih disini. Di bumi ini. Di Nusantaraku yang hitam. Di kamarku aku sembahyang. Mengkaji apa yang ku alami. Menempati bilik jantungku yang selalu berbunyi tak rapih. Membayang apa yang meski terjadi. Sungguh tak seperti yang kuingini. Disinilah di bumi ini meski aku menunggu dan berdiam diri. Jika kemudian terdengar suara dari kejauhan, saat mana bumi bergelatakan. Maka meski kutanyakan “Kapankah kita meski berangkat? ” Duduk menunggu hari dan melepaskan derita ini. Kapankah kita meski bersandar dari penatnya kehidupan. Bunga warna-warni ...

Sang Guru Bumi (5) ; Euphoria Kesatria Piningit

Gambar
Adakah manusia yang mampu menetapi lakunya di bumi ini? Adakah yang manusia yang ikhlas dan ridho menetapi takdirnya sendiri? Banyak tanya meratapi diri saat mana (jika) kemudian kehidupannya setelah menjalani laku spiritual ini ~ tidaklah sebagaimana yang mereka ingini.  Begitu keadaan para pelaku disini. Mereka yang disebut kesatria satu demi satu jatuh berdentam dimakan alibinya sendiri. Kemudian berbalik kebelakang saat harapannya semakin jauh di awang-awang. Kenyataan tidaklah sebagaimana yang diyakini. Sehingga satu per satu para kesatria undur diri dan bahkan berbalik  memusuhi padahal mereka telah banyak mendapat petunjuk. Sang Guru Bumi memahami kesulitan ini, tidak sedikit manusia yang terbawa euphoria kebangkitan nusantara baru, bahkan mereka sangat yakin akan adanya Kesatria Piningit . Keyakinan yang dengan mudah disusupi setan, sehingga mereka memandang perbuatan buruk mereka sebagai perbuatan baik. Mereka meyakini dengan membuta, tidak berdasarkan peng...

Sang Guru Bumi (4): Prasangka dan Anggapan

Gambar
D emi untuk menyempurnakan jiwa manusia. Telah disusupkan ilham kefasikan. Kecenderungan manusia kemudian mengikuti ilham ini. Beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya. Sayang sedemikian sulitnya membedakan ilham kefasikan ini. Sehingga semua merasa bahwa apa-apa yang diikuti melalui lintasan hatinya ~ dalam pemahamannya adalah sebuah kebenaran.  Semua manusia kemudian merasa benar. Demikian kemudian lahirlah anggapan bahwa semua yang menyakitkan adalah musibah bagi manusia. Kemiskinan adalah musibah, kehilangan adalah musibah, kehancuran adalah musibah, dll. Manusia kemudian merasa benar dalam anggapannya ini. Sulit baginya mengatakan bahwa semua itu datangnya dari Allah. Hingga pada akhirnya setiap diri merasa paling menderita dalam kehidupan di dunia ini. Musibah demi musibah yang datang silih berganti dianggapnya sebagai kutukan dan hukuman dari Tuhan. “Tuhan tengah menghinakannya!”  Sedemikian hebatnya anggapan ini dalam persepsi manusia. Sang Gur...