Rahasia SImbol (4), Kecerdasan Purba Sang Pencipta Waktu
Andai diri tak segan mendaki, tentu akan rasakan betapa bersahajanya alam. Pucuk pinus dan juga ilallang yang bergesekan seperti berjalin tangan, adalah nyanyian puisi yang menyenandungkan kehidupan. Ah, kehidupan yang terhampar dipelataran tak menyuarakan apa-apa. Lumpur kering bekas tapak kaki di halaman adalah jejak perjalanan diri yang menandakan bahwa diri sesungguhnya tak kemana-mana. Yah, nampaknya hanya kesadaran yang melanglang buana. Mengkais segala legenda untuk dituliskan. Rumput kering luruh, selaksa puisi bergayut didahan, lebur disini, menunggu datangnya hembusan kematian. Sempurnakah segalanya? Ah, tidak jika belum dituliskan. Terkubur dibatas langit, semua duka selayaknya ditinggalkan. Meski hanya sebuah kisah yang dituliskan, mari kita fikirkan sejarah usang. Sejarah yang ditinggalkan namun ada dalam kesadaran. Mari senandungkan satu lagu agar sebuah kembang mekar dan harumkan alam pikiran dan dengarkan diantara kisiur angin malam sebuah ikrar kas...