Postingan

Sang Guru Bumi (1): Misteri Kematian

Gambar
Hamparan ilalang kedukaan. Bentangan awan kesedihan serta turunnya  hujan.  Mengiringi air mata kedatangan. Membasahi rimba  dan gelapnya  jiwa.   “Aduhai kekasih dimanakah kau letakan hati” Ujarnya menghiba. Kematiannya telah membawanya ke dimensi yang tak diketahuinya. Sementara lekat pekat cinta akan kasihnya terus saja mencengkeramnya,   memakunya di bumi. Lengkingan kesedihan menyayat malam yang panjang.     +++     “Cinta model apakah ini”   Gumam lelaki setengah baya, yang entah mengapa dirinya terkoneksi dengan alam ghaib yang terbuka. Sehingga seharian perasaannya tidak tenang. “Cinta bukan hanya menerima namun cinta juga adalah keberanian untuk melepaskan”   Gerutunya kepada jiwa yang menyambanginya. Enggan rahsanya mengkisahkannya kejadiannya disini. Namun entah mengapa tangan ini tak mampu ditahannya. Kesendirian adalah sebuah perjuangan.   Bukan hanya mahluk itu ...

Kembalinya Sang Guru Bumi (1)

Gambar
B iarkan kisahku ini untuk aku sendiri. Biarlah yang hilang tetap hilang. Biarlah yang pergi tetap pergi. Biarlah akan kukisahkan kisahku sendiri. Biar menjadi catatan perjalanan dikehidupan terkini. Biarlah menjadi kenangan tentang sebuah diri yang terus berjuang dan berusaha mengenali makna keberadaannya di bumi. Perjalanan yang sungguh sepi. Tak bisa diri menerima. Tak bisa perasaan ini mengingkari semua terwujud begitu saja dalam kesadaran. Memaknai Cinta ini yang begitu tersembunyi.   Cinta yang sendirian. Hingga diri tak mengenali ujudnya. Meyadarkan aku. Bahwa ini adalah kenyataan. Kesaksian yang sulit diceritakan. Sebuah rahsa yang hilang dari peradaban. Rahsa kasih sayang. “Hhhh...benarkah hilang” . Tersungut diri dalam ingatan. Benarkah telah hilang kasih sayang dihati. Seperti angin yang pergi dan tak menyapa lagi. Tidak saja hawanya, bahkan aromanya pun tak terasa. Lantas harus kucari kemanakah? Sebab semua keadaan adalah menyoal keyakinan. Rasanya tidak ada yang ...

Paregreg, Perang Yang Tak Usai (2)

Gambar
K anvas putih di sudut ruang. Satu titik dalam kesepian. Merayapi kegelapan malam. Menggores perlahan, satu huruf demi satu huruf dalam bahasa kawi. Tekanan tak sama dari setiap hurufnya. Seperti menahan beban. Nafasnya tertahan diantara iga dan belikat.  Kemudian dihempaskannya dalam satu erangan. “Argh......!” Getaran hawa magic membangkitkan alam alam kesadaran. Kesedihan yang melumatkan hati. Erangan siapakah itu? Adakah Bhre Wirabumi? Kisah Menak Jingga dan Dhamarwulan yang terbangkitkan? Kisah Majapahit Timur dan Barat yang luput dari semua kajian. Kisah rindu dendam para penguasa kerajaan. Kisah yang dibadikan oleh perang. Perang Paregreg. “Dari sisi manakah keindahan perang?” *** Lolongan anjing bersahutan. Jemari gemetaran tak mampu ditahan. Tangan seperti ingin menuliskan. Namun diotaknya tidak ada referensi atas huruf dan bahasa yang ingin disampaikan.  Menangis dirinya terguguk, sementara dibiarkan tangan menggoreskan satu huruf demi satu huru...

Paragreg, Perang Yang Tak Usai (1)

Gambar
Pengantar;  Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 berkat kerja sama Raden Wijaya dan Arya Wiraraja. Pada tahun 1295, Raden Wijaya membagi dua wilayah Majapahit untuk menepati janjinya semasa perjuangan. Sebelah timur diserahkan pada Arya Wiraraja dengan ibu kota di Lumajang. Perang Paregreg adalah perang antara Majapahit istana barat yang dipimpin Wikramawardhana, melawan istana timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi. Perang ini terjadi tahun 1404-1406 dan menjadi penyebab utama kemunduran Majapahit. *** Siang menunjukan warna merahnya. Panas membakar. Tubuh itu terhuyung, “Siang ini bukanlah siang yang kemarin.” Bisiknya menahan haru.  Seluruh kesadaran dicobanya dikumpulkan. Namun aneh tidak diketemukan jejaknya. “Bukankah langit ini masih sama dengan langit yang kemarin?” Melangkah seperti tak menapak. Sementara bumi terus memanas. Pertanyaan yang sepertinya tidak perlu dijawabnya lagi. Langit itu masih sama dengan langit semasa hidupnya di ribuan tahun la...