Postingan

Sang Guru Bumi (5) ; Euphoria Kesatria Piningit

Gambar
Adakah manusia yang mampu menetapi lakunya di bumi ini? Adakah yang manusia yang ikhlas dan ridho menetapi takdirnya sendiri? Banyak tanya meratapi diri saat mana (jika) kemudian kehidupannya setelah menjalani laku spiritual ini ~ tidaklah sebagaimana yang mereka ingini.  Begitu keadaan para pelaku disini. Mereka yang disebut kesatria satu demi satu jatuh berdentam dimakan alibinya sendiri. Kemudian berbalik kebelakang saat harapannya semakin jauh di awang-awang. Kenyataan tidaklah sebagaimana yang diyakini. Sehingga satu per satu para kesatria undur diri dan bahkan berbalik  memusuhi padahal mereka telah banyak mendapat petunjuk. Sang Guru Bumi memahami kesulitan ini, tidak sedikit manusia yang terbawa euphoria kebangkitan nusantara baru, bahkan mereka sangat yakin akan adanya Kesatria Piningit . Keyakinan yang dengan mudah disusupi setan, sehingga mereka memandang perbuatan buruk mereka sebagai perbuatan baik. Mereka meyakini dengan membuta, tidak berdasarkan peng...

Sang Guru Bumi (4): Prasangka dan Anggapan

Gambar
D emi untuk menyempurnakan jiwa manusia. Telah disusupkan ilham kefasikan. Kecenderungan manusia kemudian mengikuti ilham ini. Beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya. Sayang sedemikian sulitnya membedakan ilham kefasikan ini. Sehingga semua merasa bahwa apa-apa yang diikuti melalui lintasan hatinya ~ dalam pemahamannya adalah sebuah kebenaran.  Semua manusia kemudian merasa benar. Demikian kemudian lahirlah anggapan bahwa semua yang menyakitkan adalah musibah bagi manusia. Kemiskinan adalah musibah, kehilangan adalah musibah, kehancuran adalah musibah, dll. Manusia kemudian merasa benar dalam anggapannya ini. Sulit baginya mengatakan bahwa semua itu datangnya dari Allah. Hingga pada akhirnya setiap diri merasa paling menderita dalam kehidupan di dunia ini. Musibah demi musibah yang datang silih berganti dianggapnya sebagai kutukan dan hukuman dari Tuhan. “Tuhan tengah menghinakannya!”  Sedemikian hebatnya anggapan ini dalam persepsi manusia. Sang Gur...

Sang Guru Bumi (3) : Kemenangan Manusia

Gambar
Telah luruh diri, menghablur membekap bumi. Nelangsa jiwa meraup duka semesta. Fatamorgana telah menjadi nyata. Lantas apakah yang bersisa? Kelopak bunga mayang kini telah  lunglai menahan duka manusia. Ada apakah dengan diri ini? Ada apakah dengan bumi ini? Bidadari itu diam menatap kesatrianya. Wajah lusuh dengan air mata.  “Bukankah ini sudah saatnya?” Bertanya kepada langit untuk apa mengetahui dan memahami hikmah kejadian. Untuk apa menghabiskan waktu menjelajahi peradaban. Mengapa harus berjalan ke seluruh muka bumi, jika muaranya hanyalah kesakitan yang berulang. Aduh, bagaimana menuliskan ini. Bukankah kebenaran yang disampaikannya hanya akan menambah permusuhan? Setiap manusia enggan dan sulit menerima kenyataan. Bahwa setiap perbuatan akan menerima balasan. Demikian juga diri ini. Tiada sadar meluapkan perasaan. Bukankah malam tiada meninggalkan siang? Demilkianlah duka manusia. Tiada jua manusia ditinggalkan. Duka akan datang sebagaimana malam...

Sang Guru Bumi (2) :Manusia Masa Lalu

Gambar
P ada hari biru. Aku menunggu sang waktu. “Benarkah ini tentang kamu” Sejenak sergahan pertanyaan dalam bilik kalbuku. Yah, semua tentang rindu. “Kalau begitu siapakah yang kutunggu, apakah waktu ataukah dirimu? Hhh...ingatan ini memburuku dan kenangan juga mengejarku. Bukankah semua ini perihal waktu. “Apakah salah jika aku sedang menungu sang waktu bukan kamu!” Aku menghardik dalam kekesalan. Langit rapuh dalam kesadaran. Lobang disana sini membuat pikiran semakin jauh dari kenyataan. Apa yang kuingat menjadi nyata dalam kesadaranku. Apa yang kulupakan dan masih saja kurasakan sensasinya menjadi kenangan bagiku. Orang menyebutnya dengan 'dejavu'.   Lantas apakah kenangan lebih baik daripada ingatan. Ingatan membuatku hadir dalam prasangka dan iba. Sementara kenangan mampu kulihat dengan lebih jernih persoalannya. Kadang justru kenangan menjadi terasa lebih indah. Maka jikalau ditanyakan apakah aku manusia masa lalu atau manusia sekarang. Maka jelas akan kukatakan b...

Sang Guru Bumi (1): Misteri Kematian

Gambar
Hamparan ilalang kedukaan. Bentangan awan kesedihan serta turunnya  hujan.  Mengiringi air mata kedatangan. Membasahi rimba  dan gelapnya  jiwa.   “Aduhai kekasih dimanakah kau letakan hati” Ujarnya menghiba. Kematiannya telah membawanya ke dimensi yang tak diketahuinya. Sementara lekat pekat cinta akan kasihnya terus saja mencengkeramnya,   memakunya di bumi. Lengkingan kesedihan menyayat malam yang panjang.     +++     “Cinta model apakah ini”   Gumam lelaki setengah baya, yang entah mengapa dirinya terkoneksi dengan alam ghaib yang terbuka. Sehingga seharian perasaannya tidak tenang. “Cinta bukan hanya menerima namun cinta juga adalah keberanian untuk melepaskan”   Gerutunya kepada jiwa yang menyambanginya. Enggan rahsanya mengkisahkannya kejadiannya disini. Namun entah mengapa tangan ini tak mampu ditahannya. Kesendirian adalah sebuah perjuangan.   Bukan hanya mahluk itu ...

Kembalinya Sang Guru Bumi (1)

Gambar
B iarkan kisahku ini untuk aku sendiri. Biarlah yang hilang tetap hilang. Biarlah yang pergi tetap pergi. Biarlah akan kukisahkan kisahku sendiri. Biar menjadi catatan perjalanan dikehidupan terkini. Biarlah menjadi kenangan tentang sebuah diri yang terus berjuang dan berusaha mengenali makna keberadaannya di bumi. Perjalanan yang sungguh sepi. Tak bisa diri menerima. Tak bisa perasaan ini mengingkari semua terwujud begitu saja dalam kesadaran. Memaknai Cinta ini yang begitu tersembunyi.   Cinta yang sendirian. Hingga diri tak mengenali ujudnya. Meyadarkan aku. Bahwa ini adalah kenyataan. Kesaksian yang sulit diceritakan. Sebuah rahsa yang hilang dari peradaban. Rahsa kasih sayang. “Hhhh...benarkah hilang” . Tersungut diri dalam ingatan. Benarkah telah hilang kasih sayang dihati. Seperti angin yang pergi dan tak menyapa lagi. Tidak saja hawanya, bahkan aromanya pun tak terasa. Lantas harus kucari kemanakah? Sebab semua keadaan adalah menyoal keyakinan. Rasanya tidak ada yang ...