April 02, 2013

Kisah Spiritual, Misteri Harta Karun Nusantara dan Para Pencuri Rahasia Langit


Meskipun langit pada malam itu tak ada cahaya bintang. Mas Dikonthole tetap berusaha menerawang. Menjadi pertanyaannya, mengapakah hingga saat ini kisah perjalanannya ke Dieng belum mampu diceritakan ?. Apakah tak layak sidang pembaca mengetahuinya ?. Entahlah yang jelas ada rangkaian yang masih perlu dimaknai agar tidak disalah arti. Begitu pesan sang Ratu Sima. Restu sang Ratu akan menjadi titik yang menentukan bagi pergerakan orang-orang masa lalu. Berita tentang harta kekayaan nusantara yang masih terpendam, semisal harta bung Karno, harta Raja-raja nusantara, dan harta kekayaan nusantara itu sendiri, masih  yang terpendam di dasar bumi, menjadi pertanyaan semuanya. 

Konon harta-harta tersebut  keberadaannya tertutup hawa ghaib dan dilindungi sebuah jala yang bernama Jalasutra, sungguh harta ini  telah banyak memakan korban. Banyak sekali masyarakat yang kemudian meyakini, bahkan membabi buta, dengan segala cara, juga  menghabiskan banyak waktu dan tenaga dan juga harta benda untuk mengungkap misteri keberadaan harta-harta peninggalan ini. Harta ini kemudian menjadi mitos yang tak habis-habisnya diburu masyarakat, informasi ini pun  seakan tak habis-habisnya turun temurun sejak nenek moyang kita. Anehnya banyak sekali yang percaya, kasusnya pyn akhirnya terulang lagi terulang lagi. Tak sedikit keluarga yang tercerai berai, yang bangkrut dan sebagainya karena mitos ini. Banyak sekali kisah sedih manusia yang dikisahkan seputar mitos harta karun ni. Entah dimana muaranya hingga kini tidak ada yang tahu. Jikalaupun itu suatu sindikat penip[uan, sungguh luar biasa keberadaan mereka, sebab sudah ratusan tahun kejahatan ini tidak bisa diungkapkan.

Apakah mereka yang meyakini keberadaan  harta peninggalan ini salah ?. Rasanya kita jangan terlalu menghakimi sebab menurut pengamatan Mas Dikonthole mereka sejatinya adalah para korban dari Para Pencuri Berita Langit.  Melalui Para Pencuri inilah khabar ini dihembus-hembuskan kedada manusia-manusia itu.  Informasi ini terutama masuk melalui orang-orang yang sedang belajar perdukunan, ahli ramal dan sebagainya. Orang-orang ini, para dukun dan ahi ramal, yang terlebih dahulu meyakini bahwa berita yang dibawa para jin ini sebagai suatu kebenaran. Ironisnya lagi, masyarakat terbawa ilusi, menganggap bahwa kemampuan berkomunikasi dengan para Jin adalah kemampuan luar biasa yang dapat dibanggakan. Sehingga mereka seperti terhipnotis. Maka kejadiannya akhirnya mereka sendiri yang tertipu berita ini, menjadi objek oleh ulah para jin-jin itu sendiri. Suatu ironi  bagi manusia yang ber-iman. (Tidakkah mereka tahu dahulu leluhur mereka mampu menaklukan jin, angin, syetan, dedemit, danyang, dan makhluk ghaib lainnya ?).

Oleh karena itulah maka Sang Ratu mewanti-wanti sekali agar jangan membuka rahasia yang memang belum diijinkan Allah. Lihatlah tanda alam saja begitulah pesan beliau. Harta itu pada saatnya akan dinampakkan kepada yang berhak. Berbentuk apakah itu, wolohualam, keadaannya masih menjadi rahasia alam. Bumi nusantara sangat kaya raya, banyak sumber kekayaan yang belum tergali. Banyak sekali yang belum terungkap dan dinampakkan. Banyak sekali harta peninggalan para leluhur bangsa ini, yang nantinya memang diperuntukkan untuk kita semua. Maka kewajiban kita manusia hanya diminta untuk merubah posisi hati, merubah kesadaran kolektif bangsa agar harmoni dengan alam, hanya itu saja. Jika sudah begitu, kita tinggal menunggu saatnya restu sang alam untuk menampakkan dimana saja harta tersebut dapat digali, untuk dapat dipergunakan dakam rangka mensejahterakan bangsa ini.  Berita ini benar keberadaannya, namun sekarang ini sudah banyak dimanipulasi oleh Para Pencuri Berita langit. Mereka sebenarnya tidaklah tahu, mereka hanya berniat menyesatkan manusia dari jalan Allah. Begitulah ilapat yang disampaiakn kepada Mas Dikonthole.

Siapakah pembawa (pencuri) berita langit ini. “Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri (berita) yang dapat didengar (di langit) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS. Al Hijr,  15:17-18). Setan jin dan setan manusia yang lolos dari kejaran semburan api inilah yang membawa khabar ini, dan tentu saja khabar ini sebelumnya telah dikontruksi terlebih dahulu oleh mereka sebelum dikonsumsi oleh manusia. Mereka sengaja berbuat seperti itu untuk menarik pengikut yang banyak. Sebab pemimpin mereka akan dianggungkan, dianggap sakti sebab  dianggap mampu membaca dan mengetahui rahasia langit.

Maka kisah berikut ini adalah bagian lainnya dari kisah perjalanan Mas Dikonthole ke Dieng. Mencoba merunut orang-orang yang menjadi korban Para Pencuri Rahasia Langit ini.


Sudah tak terbilang hari. Jika hidup terus mengarungi mimpi. Mimpi tentang sebuah negri. Negri yang gemah ripah loh jinawi. Kententraman melingkupi masyarakatnya  disana dalam balutan kebanggaan berbangsa dan bernegara. Kapankah itu ?. Telah dilintasi seluruh peradaban, telah diarungi lautan samudra pemikiran, telah diurai kalam dilangit yang berhiaskan bintang-bintang, dan telah pula  dipinang kesengsaran untuk dirinya sendiri. Tak lupa telah dibenamkan semua kesukaan dan gemerlapnya duniawi. Hanya untuk sebuah keyakinan. Keyakinan yang membuatnya ter-aliensi. Maka tak pelak lagi jika jiwa merayapi kesenyapannya sendiri, bersama hasrat  yang kadang tak mau menepi lagi.  Dalam gundahnya sendiri, dalam kesepian, dalam kesendirian dan kelangutan. Dia dalam menghitung waktunya sendiri.  Menunggu dan menunggu, menanti sebuah jawaban dari sang Illahi Robbi. Kapankah saatnya itu terjadi ?. Geriapnya negri, sebuah negri Nusantara Baru.

Seringkali pada malam, diamatinya langit, mencari pertanda. Pada bintang dia bertanya. Pada bulan dia bersapa. Lelahnya tak terkira lagi. Menjelang pagi, disapanya sang mentari. Sinarnya mungkin mampu memberi kehangatan sebuah pelukan. Pikirnya saat itu. Ketika sampailah di lautan, dipandangnya air yang tergelar,  nuansa, pesonanya  terus mengusapi hati. Betapa luasnya negri ini. Nyiur melambai dan dimana pantainya tidak pernah berujung. bagai senandung simponi yang tak pernah mati. selalu harmoni dinyanyikan burung , gunung, angin dan pepohonan. Menjadi mistis keadaannya. sebab suaranya hanya kediaman itu sendiri.  Namun semakin jauh melangkah, sepertinya kembalinya kesini lagi, dirumahnya sendiri. Bagaimanakah ini ?. Walau sudah tak terhitung banyak kota yang didatangi, tetap misteri masih terus melingkupi. Benarkah sudah saatnya ?.

Hati yang serasa beku menahan lamanya penantian. Angin yang bertiup, awan yang bergulung, hujan yang tercurah, seakan mengerti sebuah hati yang tengah menetapi. Lakonnya hanya sendiri membesut riaknya  alam. Seakan kekasih hati hilang tak mungkin tercari. Apakah sudah saatnya  ?. Bertanya sepanjang hari.  Nusantara ..ya nusantara. Pertanyaannya, hilang seiring bergantinya malam, seiring dentuman hingar bingarnya musik perkotaan yang selalu mengganggunya. Seakan riuhnya manusia, hanyalah riak yang tampil dimuka atas ketidak pedulian mereka semua. Manusia yang tak peduli bagaimanakah nanti nasib bangsa ini. Hidup sudah susah mengapa harus menyusahkan hati. Mungkin begitu sang alibi. Apakah hanya dirinya yang peduli ?. Entahlah itu, keadaannya itulah yang diarasakannya. Sampai saatnya Tuhan memebrikan teman, ya teman seperjuangan yang mengerti akan keadaan bangsa ini. Manusia yang sadar bahwa diri mereka hakekatnya adalah orang jawa. Mereka siap mengemban misi ini. Merekalah leluhur bangsa ini, peletak pondasi kesadaran bangsa ini dialah sang Ratu Sima, dan juga sang Prabu Siliwangi, yang siap mengawal dan membidani lahirnya kesadaran baru,  mereka telah menetapi diri menjadi paku bumi nusantara baru,  mereka diantara para kesatria alam.  

Merekalah hati yang mengerti. Mengerti bahwa bangsa ini bangsa yang besar. Bangsa ini  adalah bangsa yang bermartabat. Bangsa ini adalah bangsa yang pernah meraih kejayaan, bangsa yang ber-jiwa bukan bangsa yang nista yang menuruti nafsunya. Adalah bangsa yang menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan.. Bukan bangsa robot yang tak berjiwa. Namun kenapakah kejadiannya begini. Ayah menghamili putrinya, Ibu menzinahi putranya, Bayi dibekap dikubur hidup-hidup. Pejabat memakan hak-hak rakyatnya. Duh, inilah potret bangsaku, memang begitukah perilaku saudara-saudaraku ?.

Penguasa merajalela, mengumbar nafsu dengan suka, merambah yang bukan miliknya.  Inikah laku kita orang jawa ?. Bukankah kalau begini,  sama saja berjalan dimuka bumi bagai mayat-mayat hidup ?. Inikah sifat manusia jawa, apakah raga mereka sudah tergadai, bukanlah diri mereka yang mengendalikannya lagi ?. Bukan !. Mas Dikonthole yakin sekali bukan seperti itu tabiat orang jawa. Perilaku yang ditunjukan oleh mereka  tersebut lebih  mendekati perilaku siluman. Cobalah diamati, rasanya seekor binatangpun tidaklah memiliki jiwa serendah itu. Hik. Dimanakah bangsa ini yang  sering disebut sebagai bangsa JAWA , sepertinya rasanya keadaannya diri kita sudah  menjadi bangsa  yang  tak ber-jiwa lagi. Wong Jowo telah kehilangan Jowo-nya (jiwa). Duh, Gusti Allah, ampunkahlah diri ini.

Kejadiannya sungguh sangat memilukan, jika keadaannya begini.   Saking asyiknya  mereka, memuja kesaktian, kesenangan, kekuasaan, kemudian mereka diperbudak oleh itu semua. Kini mereka menjadi budak apa-apa yang dipujanya sendiri.  Dahulu bangsa ini pernah menaklukan para jin , syetan, makhluk jejadian, wewe gomble bahkan lainnya. Dan mereka makhluk-makhluk itu semua tunduk dalam perintah dan kekuasaan manusia, hingga mereka semua hidup harmonis dengan manusia. Kini keadaan justru malahan sebaliknya manusia lah  yang  memuja mereka, mereka dipuja sebagaimana mereka memuja Tuhan sebab disangkanya mereka dapat memberikan kesaktian, kesenangan dan kekuasaan.

Sekarang manusia jawa lekat dengan hal-hal yang begini. Mereka lebih percaya kepada hantu jejadian daripada kepada Tuhan mereka. Mereka sungguh  tidak mengerti jika apa yang dipuja mereka tidak membawa manfaat apa-apa bagi diri mereka. Mereka tidak sadar jika para jin, setan, dan hantu gentayangan, sekarang ini berbalik mengkhianati mereka. Mereka mengajak manusia kepada neraka. Mereka hendak menipu manusia. Sungguh manusia (kami-kami) ini lemah adanya tidak mengerti keadaan ini. Dan ketika mereka diberitahu perihal ini justru meerka akan sangat marah sekali. Peringatan ini hanyalah untuk kebaikan mereka saja, bagaimanakah menyampaikannya ?. 

....

Begitu rahsa yang berkecamuk didada Mas Dikonthole ,  yang sedang berdiskusi via SMS dengan Pak Aryo, yang kemarin akhirnya tetap melanjutkan pertemuan dengan orang-orang yang merasa dirinya mendapat titisan atau reinkarnasi. Sayang sekali keyakinan mereka tidaklah terbukti. Ternyata banyak dari mereka hanya dalam prasangka saja. Ketika dieksplorasi, bukanlah lelehur yang tampil. Justru yang keluar dari badan mereka adalah para siluman (binatang, kera, singa, macan, ular, buaya, ayam, dll), hantu gentayangan (pocong, kuntilanak, wewe gombel, genderuwo, dlll), hingga  para jin (penunggu makam, dll), para kodam (wiridan, amalan, dll). Makhluk-makhluk inilah yang pada hakekatnya yang menguasai raga-raga mereka. Sehingga saat dieksplorasi mereka semua yang tampil. Oleh karena itulah kisah ini disandingkan, sebagai pembelajaran kita, sebagai berita pembanding saja. 

…  

Saya pikir jadi nggak pakem pada misi awal yaitu untuk penyatuan bumi nusantara, tapi hanya larut pada ghaib-ghaib yang menempel pada orang-orang yang suka pergi ke dukun atau kuburan”

Begitu awal mula keresahan Pak Aryo melalui SMS. Beberapa kali dia memberitahukan Mas Dikonthole bagaimana hasil pertemuannya dengan beberapa orang di lereng Dieng sana.  Kejadiannya adalah saat setelah diri mereka diminta menghadapkan jiwanya kepada Allah. Akibatnya luar biasa, satu demi satu peserta  mengalami keanehan. Mereka kehilangan kesadarannya dan masing-masing berulah selayaknya binatang saja. Mereka mengalami keadaan kesurupan, Tidak ada yang tahu pasti penyebabnya, namun yang jelas ketika mereka mulai meditasi menghadapkan diri mereka kepada Allah dan saat bersamaan dengan itu para kesatria juga sedang mengeksplorasi energynya, terjadilah peristiwa tersebut. Radiasi energy inilah yang kemudian menyulut kemarahan para makhluk yang merasa terganggu keberadaannya. Sungguh menggiriskan sekali jika kita melihat tampilan mereka.

Ada yang melata seperti ular, ada yang terkikikik seperti kuntilanak dengan aksen sedang menggendong bayinya, ada yang seperti wewe gombel yang berulang kali membetulkan teteknya yang sepanjang 60 cm. Ada yang seperti tinngkah monyet meletik kesana kemari , bersalto muka dan  kebelakang,  ada lagi yang merayap seperti buaya. Ada yang mengaum seperti singa. Ada lagi yang berjalan seperti pocongan meloncat kesana kemari,. Ada juga yang bertingkah seperti penguasa. Dan sebagainya, dan sebagainya. Macam-macam sekali.  Pendek kata semua makhluk jejadian yang ada di sinetron kita tersaji di depan mata. Tampil melalui raga-raga mereka. Satu persatu makhluk-makhluk tersebut tampil, dari satu raga saja kadang muncul 5 sampai 10 penampakan mahkluk. Apa keadaan ini tidak membuat miris Mas Dikonthole.

Ketika mereka dengan sadar dan ikhlas memohon kepada Allah untuk ditunjukkan siapa jatidiri mereka, untuk dibuka hijab yang membelenggu diri mereka. Maka saat itulah Allah akan menunjukkan apa-apa saja yang ada dalam diri mereka itu. Pada diri kita manusia itulah tanda-tanda kekuasaan Allah. Saat kemarin  itu jatidiri mereka  dinampakkan.  Yaitu seperti apakah sesungguhnya yang berada didalam raga mereka tersebut. Tampilah makhluk dari antah barantah yang menghuni dan berada di dalam badan mereka masing-masing. Astagfirulloh. Sekarang ini, mereka membuktikan sendiri, seperti apa makhluk-makhluk yang bersarang di dalam raga mereka,  dikeseharainnya, yang menjadi penggerak (daya dorong) diri  mereka dalam  melakukan aktifitas sehari-hari.  Makhluk makhluk itulah yang mengatur diri kesadaran mereka, menjadi pembisik nya, saat bekerja, beribadah, dan lain sebagainya. Maka semisal itulah cara bekerjanya, maka  saksikanlah saja bagaimana drama parodi para petinggi negri ini yang terpampang dimata.

Bagaimana dengan yang lainnya, saat melihat penampilan rekan-rekannya. Jelas saja dengan keadaan itu, semua yang hadir jadi kalang kabut. Ketawa dan tangis mereka, serta geraman mereka sungguh mendirikan bulu roma, sangat nyata sekali. Hingga jauh kedengaran sampai ke rumah tetangga. Bagaimana orang yang di dalam rumah jadi ketakutan sekali. Bagaimana ketawa kuntilanak ?. Bagaimana terkekehnya wewe gombel ?. Waduh..jangan deh, sekali-kali kita yang tidak memiliki pondasi spiritual mencoba berkenalan. Tangisan dan suara mereka membetot sukma, menghanyutkan jiwa. Sungguh akan membuat siapa saja merinding bulu romanya. Sehingga bisa saja lepas jiwa orang yang tidak memiliki iman atau kekuatan spiritual.

Sungguh, kadang Mas Dikonthole menangis dalam perihnya, melihat saudara-saudaranya yang seperti itu. Begitulah keadaannya jika kita salah menghadapkan diri  kepada selain Allah. Hantu mereka sangka Tuhan. Mereka mencintai selain Allah sebagaimana mereka mencintai Allah. Mereka telah tertipu oleh pandangan mata mereka. Mereka silau akan kehebatan dan apa yang mereka dengar jika berguru kepada kayi A, kepada paranormal B, kepada dukun C, atau meerka percaya ataas kekuatan kuburan dan tempat angker lainnya. Padahal sesungguhnya yang berada disitu adalah makhluk jejadian. Yaitu golongan kelas rendah dari para JIN itu sendiri.

Ketika mereka tidak menghadapkan diri mereka dengan lurus kepada Allah. yaitu ketika mereka melakukan perbuatan sirik, dengan niat bukan karena Allah saat mereka  mendatangi makam, ngalap berkah ke kuburan, dengan segala macam ritual, dan lain-lain. Saat mereka   meminta kesaktian kepada kyai, mengamalkan wiridan dengan maksud untuk mendapatkan sesuatu, kesaktianlah, rejekilah, jodohlah. Dan lain sebagainya. Maka sama halnya diri mereka sedang mengundang jin syetan dan hantu jejadian untuk menghuni raga kita. Hal inilah yang tidak dipahami. Mereka dalam prasangka tengah ber spiritual, berprasangka sedang mendapatkan karomah. Sungguh keadaannya mereka tertipu.

Cobalah perhatikan. Saat makhluk ini berada di dalam raga kita ini, maka kita merasa seakan-akan hebat. Karena sebab raga kita dipenuhi dengan makhluk-makhluk jejadian, jin, syetan, dan lain-lainnya pola piker kitapun akan dipengaruhinya. Kita menjadi seakan-akan hebat, atau merasa menjadi orang sakti. Padahal kenyataannya tidaklah demikian, ketika berhadapan dengan para kesatria, mereka hanya dengan sekali kibas saja, sudah memohon ampun. Tidak sebanding dengan laku yang mereka jalani yang sampai bertahun-tahun, atau mengamalkan wiridan puluhan jam dalam seharinya, dsb dsb.

Mereka tidak sadar jika laku tersebut (sirik) tidak ada manfaatnya bagi mereka sama sekali. Bukannya kebaikan yang didapat namun  justru mereka akan terus mendapat kerugian, sebab manusia tersebut lama kelamaan akan berubah. Jika makhluk yang ada dalam raga berwujud binatang maka jiwa manusia yang didalamnya, sedikit demi sedikit akan mengikuti sifat kebinatangan seusia dengan jenis binatang apa yang di badan. Jika itu siluman ya, perilaku orang tersebut akan seperti siluman, tidak ada sifat kemanusiaan dalam hatinya. Hatinya keras membatu  persis seperti makhluk yang ada didalam raga tersebut. Namun sayangnya, banyak dari kita tidak sadar, sebagian dari kita justru  merasa bangga jika ada binantang yang berada di dalam raga mereka. Mereka ini merasa menjadi jawara, merasa sakti, dll. Maka akhirnya banyak orang yang kemudian mencari ilmu, atau amalan agar makhluk-makhluk tersebut mau hidup di raga mereka. 

Inilah pemahaman yang sungguh sulit sekali diuraikan muaranya. Mereka merasa suka dengan keadaan diri mereka itu. Maka jika ditunjukan bahwa hal tersebut salah, mereka pasti akan murka. Inilah dilematika kita bangsa Jawa.  Banyak dari mereka tidak mengerti, jikalau terlalu lama kita menyimpan makhluk jejadian didalam raga kita maka kita sedikirt demi sedikit akan mengikuti  perilaku binatang tersebut. Ini sudah hukumnya.   Maka sungguhpun, walaupun mereka sudah lama meninggalkan perbuatan tersebut, keadaannya entitas tersebut akan tetap tinggal di badan mereka, hingga Allah menghendaki.

Maka dengan adanya kasus Eyang Subur yang sedang ramai di media, setidaknya membuka mata kita. Bagaimana keadaan sesungguhnya, orang-orang yang sering menggunakan jasa duikun ini. Tak terbilang pejabat kita menggunakan jasa dukun untuk melanggengkan jabatannya, karenanya dapat dipahami sekarang ini, sesungguhnya makhluk-makhluk apakah yang telah disusupkan oleh para dukun ke badan mereka itu. Mas Dikonthole mengerti, sangat mengerti sekali, mengapa akhirnya kelakuan para pejabat kita menjadi seperti sekarang ini. Astagfirulloh.

...

Sekali lagi, sayangnya entitas yang sudah masuk ke badan tidak dengan serta merta hilang begitu saja meskipun kita sudah bertobat, meskipun kita sudah lama meninggalkan amalan sirik tersebut. Entitas yang sudah terlanjur masuk ke badan  akan terus mengendalikan raga. Mengendalikan atifitas kita. Menjadi daya dorong yang kuat. Sehingga karenanya kadang kita tidak mampu meninggalkan hal-hal yang buruk. Misal marah, iri, dengki, dan perbuatan mungkar lainnya. Hal itu memang tak bisa dihindari. Banyak sekali hijab yang membungkus diri manusia. Salah satunya adalah makhluk jejadian ini. Keadaan kita akhirnya hanya akan menjadi, seperti sebuah benang yang dipintal menjadi pintalan yang kemudian menjadi kepompong. Kepompong yang berlapis-lapis. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah untuk membuka hijab diri. Sebab manusia itu sendiri yang meminta agar makhluk-makhluk tersebut berdiam di raga mereka itu. Begitulah keadaannya, mengapa kemudian Islam memberikan panduan yang tegas sekali perihal ini. Jauhi perbuatan sirik !.

Keadaan ini menjadi frustasi tersendiri bagi Mas Dikonthole, menyoal keadaan mereka ini. Bagaimana caranya membersihkan raga-raga saudara-saudara seperjuangan ini. Sebab kebanyakan makhluk tersebut bersembunyi, semakin menyelusup ke raga. Ketika berhadapan dnegan para kesatria. Mereka akan semakin kedalam, bersembunyi di hati. Jika sudah begini, semakin sulitlah mengeluarkan mereka. Dari hati inilah mereka memberikan bisikan-bisikan yang sulit kita kendalikan. Maka salah satu cara mengatasi mereka, adalah dengan memaksa mereka keluar dari hati, yaitu dengan cara melakukan dzikir hati. Sampai mereka naik ke permukaan semua. Ketika sudah naik ke permukaan akan bisa dengan  menjadi mudah diatasi. Mungkin dengan sekali dua kali tepuk, atau dengan baik-baik mereka dapat diminta keluar dari raga, atau kalau sudah begini bisa dilakukan dengan cara membacakan Al qur an. 

Dzikir hati dan dengan menghadapkan jiwa kita kepada Allah adalah salah satu cara agar makhluk-makhluk tersebut keluar dari hati kita. Inilah salah satu cara yang diyakini Mas Dikonthole. Sebuah methode sederhana. Sayang banyak dari mereka tidak percaya dengan methode sederhana ini.  Andai saja mereka mau merendahkan diri dihadapan Allah, mencari pembuktian atas kebenaran pernyataan diatas ini. Insyaallah Allah akan menunjukkan kebenaran ayat-ayat-Nya ini. Menunjukan siapakah sejatinya diri kita ini. Siapakah saja penghuni raga kita ini. Jangan-jangan karena perbuatan sirik kita, yang kemudian membuat kita selalu resah. Resah karena sebab raga kita penuh dengan binatang dan siluman.

Maka karenanya menjadi jelas buat kita semua, mengapa Islam mengharamkan kita untuk mendekati dukun, mengharamkan kita untuk berlaku sirik. Sebab kejadiannya sudah pasti, para dedemit, hantu gentayangan, para jin, syetan dan wewe gombellah yang akan menemani dan menjadi penghuni raga kita semua. Maukah kita hidup berdampingan dalam satu rumah bersama hantu gentayangan ?. Jika mengerti ini, sungguh mereka pasti akan menolaknya. Semua dinampakan keadaan ini dimata Mas Dikonthole. Sungguh sangat nyata kebenaran ayat-ayat Allah, bagi orang yang mau berfikir.

Dengan fakta yang dinampakkan ini, kiranya sudah menjadi jelas untuk kita yang yakin, bahwasanya,  jika kita, atau  para pejabat menggunakan jasa semisal Eyang Subur atau dukun-dukun lainnya, sudah barang tentu dapat kita pastikan, seperti apakah makhluk yang akan berada di badan kita ini, di badan para pemimpin kita (pejabat). Ya, raga kita akan dipenuhi dengan makhluk jejadian, siluman, dan hantu gentayangan. Makhluk itulah yang kita anggap mampu menolong usaha kita. Sungguh kita telah ditipu mereka. Karena selanjutnya makhluk itulah yang menguasai seluruh instrument ketubuhan kita. Begitu kita sudah dikendalikan makhluk tersebut, maka orang ini jika berkuasa , tingkah polahnya akan sama dengan siluman atau sama dengan binatang (makhluk) yang ada di dalam badannya. Sungguh keadaannya memiriskan sekali. Inilah kepastiannya. Mengapa Islam mengharamkan perdukunan.

Maka keresahan pak Aryo sangat dipahami Mas Dikonthole. Sungguh keadaannya, sekarang ini begitu yang kita hadapi bukan hanya problematika realitas saja, namun dibelakangnya adalah keghaiban itu sendiri. Keghaiban itulah yang lebih berbahaya daripada realitas. Maka dia hanya berpesan agar senantiasa bersabar dan bersabar, sampai saatnya nanti kita bertemu dengan para  kesatria-kesatria sejati lainnya, yang memang telah dipilihan oleh alam itu sendiri. Mereka semua akan terpanggil dengan perjuangan kita ini. Mereka semua akan terusik dengan kisah yang diberitakan  ini. Mereka diturunkan, melalui reinkarnasi untuk mengemban misi suci. Ketahuilah para kesatria. Dan mereka suatu saat  akan membaca ini. Mereka para kesatria akan mampu mengurai simpul diantara tulisan-tulisan ini. Pesan yang tersirat akan mampu mereka baca. Tunggulah, sebentar lagi, mereka akan menampakkan dirinya.

Mas Dikonthole hanya mampu bertasbih, sungguh membahagiakan jika dirinya ditunjuk untuk menjadi salah satu saksi atas peristiwa ini. Yaitu lahirnya para satria piningit. Dan dia telah menyaksikannya sendiri,bahwa  satu demi satu para kesatria tersebut memang telah lahir. Untuk mengemban misi suci di tanah air ini. Nusantara.  Begitulah keyakinan yang coba ditularkan Mas Dikonthole kepada Pak Aryo.

wolohualam


4 komentar:

  1. Insyallah indonesia baru akan segera datang....

    BalasHapus
  2. salam kenal untuk mas Dikontole dan Pak Aryo

    BalasHapus
  3. saya ingin menanyakan 2x saya diberi ilapat tuk mengambilharta karun yang memang sudah ditakdirkan untuk saya katanya dengan alamat yang detail dan cara membukanya namun saya tak sedikitpun saya percaya dan tak berniat membuktikannya namun yang jadi pertanyaan setiap kali saya menolak mereka pasti marah dan mengatakan jangan salahkan saya kalo saya memberikan harta kamu kepada orang lain sebagai bukti bahwa harta itu memang ada lalu dia menyebutkan tempat dankepada siapa harta itu diberikan dan berupa apa hanya waktu yng tidak diberitahukan kepada saya, kapan harta itu kan diberikan. lalu sekali lagi saya menolak maka dia mengatakan kalo dia akan memberikan batu mulia berharga berwarna
    biru kesayangan saya kepada seseorang dan nanti saya akan mendengar kabarnya dari orang yang masih berkerabat dengan saya dan itu memang kejadian saudara jauh saya mengatakan bahwa seorang tukang ojek telah diberi batu mulia berwarna biru dan sekarang dia menjadi orang terkaya dikampungnya....trus lagi tiba tiba sayamerasakan kemarahan yang teramat sangat dan besoknya saya mendengar berita ada suatu kejadian para pejiarah yang terkubur dlm salah satu gua tempat dimana tukang ojek menemukan batu mulia itu....yang jadi pertanyaan benar tidaknya ada harta karun yang diwariskan para leluhur untuk saya namun kenapa saya tidak tertarik untuk mencarinya cuma herannya saya seperti ada keterikatan ketika ada seseorang yang berusaha menembus tabir harta karun itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf, baru ada daya dorong untuk membalas. Silahkan ke alamat email saya saja.

      budiutomo.arif@rocketmail.com

      salam

      Hapus