Mei 04, 2013

Diskusi Tasawuf, Hakekat Belajar


----- Forwarded Message -----
From:
 Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 
Sent:
 Tuesday, 18 May 2010 5:43 PM
Subject:
 Bls: Thapa pertama

Ya betul, mantapkan, baru memasuki 'Aku' yang siap belajar membaca, dan siap untuk diajari. Belum masuk bagaimana cara membaca dan untuk apa kita bisa baca.. Secara kasar mungkin sudah, membaca adalah jendela ilmu. Sebagaimana di alam nyata seorang Einstein yang menemukan (mengkabarkan) hukum Alam (Allah)  E=mc2, bagaimana kira-kira ?. Kenali AKU dahulu secara perlahan-lahan. Kenalkan kepada seluruh atribut yang dimiliki dahulu. 

Kemajuannya terasa sama saya, saya mulai sedikit-sedikit bisa sholat. Maka mantapkan saja, jangan ada pikiran lagi mengapa kok saya yang kasih tau nggak begini nggak begitu, kok yang kasih tau malah nggak tau, sepertinya aneh. Allah mengajarkan hamba-hambaNYA, dengan cara yang tak terduga. Sulaiman diajari oleh seekor semut. Daud diajari oleh seekor ulat. Apakah yang mengajari lebih pintar dari yang diajari?. Maka kaidah sikap belajar sangat penting. APAPUN DAN DARIMANAPUN JADIKAN SEBAGAI PEMBELAJARAN. Saya juga sudah tulis kaidah ini lho. Nggak peduli dari pengemis, dari orang kafir, dari angin, dari kawan, dari istri, dari anak, dan lain sebagainya. Semua hanya perantara Allah bagi yang mau belajar. Mulai saat ini perhatikan semua itu, perhatikan apa yang terjadi dan jadikan sebagai pembelajaran adanya.  Inilah kaidah belajar dengan Allah. Jangan bertanya kepada GURU bagaimana cara DIA mengajar. Jangan pertanyakan Allah bagaimana dia mengajar kita. Ijinkan DIA mengajari diri kita, itu saja!. mantapkan kaidah ini, kalau tidak akan terombang-ambing nanti. Diskusikan saja materi belajar itu sendiri.


Dari: 
Kepada:
 Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
Terkirim:
 Sel, 18 Mei, 2010 12:52:28
Judul:
 Thapa pertama
Kaidah pertama; yakinkan diri kita dahulu bahwa Allah yang akan mengajari kita, ini sangat penting sekali. Ada keraguan sedikit, akan menghambat.
Kaidah kedua ; kita harus mampu menjawab 4W 1H (Who, What, When, Where, and HOW)
Jawab pertanyaan ini; Siapa yang membaca..? WHO...?

Ketika saya mulai dengan point ini, seolah mendadak sontak saya tersadar, seperti terbangun dari impian panjang, seperti diguyur air putih dingin menyegarkan. Seperti dada ini meluas, seluas alam semesta, mampu memasukkan apapun ke dalam dada ini.
Tenang, tentram, teduh, luas dan terasa sangat luas serta dalam.

Mengapa kok sederhana, gampang, dan nggak susah. terus mengapa kok saja tidak tahu sebelumnya, betapa bodohnya?. picik, tolol,
ini kan gampang, mudah sekalimengapa mencari-cari kemana-mana, sudah jelas sekali kepada siapa Allah itu berbicara, kepada siapa Al Quran itu ditujukan, untuk belajar.

Kepada aku, aku, aku, ya aku, tapi mengapa kok selama ini bingung, dan tidak mengerti dan mencari-cari aku itu mana, aku itu dimana,
terus mencari jiwa, jiwa itu seperti apa, lalu berputar dengan ruh, aku sejati, lalu hati nurani. Semua berbicara dari hal satu, dari banyak dimensi, atau dari sisi, atau dari arah. Sebenarnya semua itu ya aku.

Aneh, aneh, dan aneh, kok bisa nggak tahu ya, kok bisa mencari-cari siapa aku itu. Sekarang logika "aku" yang sedang menertawakan kebodohan "rasio".

Tapi kalau sekarang "aku" harus mendefiniskan "siapa aku", lho kok saya kehabisan kata-kata ya, mungkin yang lain yang saja jelaskan juga bengong, terlongong-longong.
Karena pengertian, pemahaman, tentang siapa "aku" yang disuruh belajar atu iqro, juga baru saja tahu.


Sambil geleng-geleng kepala, ketawa geli dan juga bingung, kok selama ini saya nggak tahu maksudnya "aku" ya.


Sempat terpikir berapa banyak ya, orang yang mengerti maksudnya, "siapa aku" ini.







From: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 
Sent:
 Tue, 18 May, 2010 8:37:36 AM
Subject:
 Bls: Bls: Mulai belajar
Yah..mulai arahnya sudah benar. Ingat bagaimana waktu kecil kita belajar membaca?.
Syukur mas sudah mengetahuinya sekarang, walau saya merasakan belum sepenuhnya, sebab masih kuat sekali pradigma lamanya.
Sangat penting mengetahui KAIDAH MEMBACA. Tanpa ini mas juga akan kesulitan nanti.Membaca adalahjendela pengetahuan. MULAI BISA MEMBACA saja dahulu, selebihnya akan gampang belajarnya nanti.
Maka sekarang baiknya perlahan saja, siapkan diri kita saja. Beberapa tips kadiah membaca mungkin akan berguna.
Ingat Allah akan mengajari kita membaca, membaca sunatulloh, membaca hukum-hukum pada diri kita, pada alam semesta, membaca kehendak Allah pada diri kita, dan lain-lain.

Kaidah pertama; yakinkan diri kita dahulu bahwa Allah yang akan mengajari kita, ini sangat penting sekali. Ada keraguan sedikit, akan menghambat.
Kaidah kedua ; kita harus mampu menjawab 4W 1H (Who, What, When, Where, and HOW)
Jawab pertanyaan ini; Siapa yang membaca..? WHO...?
Sering kita dengan JIWA, RUH, Hati nurani, temukan sendiri dan dimana tempatnya. Ini harus bolak-balik dikontempelasikan, sambil bekerja, sambil dzikir mohon diajari, mohon ditunjukkan, hingga nanti ada rasa KLEK yang pas, 'oh....ini....'
What ; mengenai materi yang akan dibaca, bisa juga pengenalan awal dengan materi bacaan melalui pemahaman pikiran, pengetahuan , misalnya biologi, dsb.
When ; mengenai kesiapan kita, kedua hal diatas sudah diketahui kapan kiat siap dan sungguh-sungguh mulai, dan ini bisa setiap detik kita belajar membaca, sambil bekerja, sambil olahraga, sambil apa saja, demi waktu bacalah...semuanya...sang waktu...
Where ; dimana saja kita bisa membaca, jangan batasi, jadikan apapun kejadian yang kita alami, apapaun yang kita dengar sebaagi pembelajaran.
How ; bagaimana membaca, setiap orang berbeda-beda, sangat spesifik jadi cari saja methodenya bersama Allah.
Baiknya hanya materi ini saja, belajar membaca dahulu, sebagaimaan waktu kita kecil bertahun-tahun diajari membaca hingga kita bisa sarjana. bagaiamana kalau kita tidak bisa membaca..?. Ini logika yang sangat rasional sekali. Kuatkan belajar disini, BELAJAR MEMBACA. Dan Allah yang akan mengajarinya sendiri, kalau sudah bisa gampang semuanya. Kita bisa membaca kehendak Allah. Kita mampu membedakan kehendak kita dan kehendak Allah. Kita bisa bertanya, kehendak saya begini bagaimana kehendak Allah...senantiasa Allah dalam kesibukan ini, mengatur kehendak-kehendak, sangat dinamis...(kalau demikian apakah kita pasrah..?. bukankah kita sangat aktif..?). Kita bekerja bersama Allah, maka Allah dalam al qur'an sering menyebutkan KAMI, AKU.

YANG TERPENTING TEMUKAN DAHULU SIAPA YANG MEMBACA..?. Ini yang harus senantiasa dalam setiap tarikan nafas kita tanyakan kepada Allah..!.

OKE. SELAMAT BELAJAR MEMBACA.
Jangan pindah ke lainnya, sebelum bisa membaca dahulu.



Dari:
Kepada:
 Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
Terkirim:
 Sel, 18 Mei, 2010 06:31:27
Judul:
 Re: Bls: Mulai belajar
Mungkin benar.

Ketika saya sedang bersemangat untuk mencoba ini dalam sholat.
Sepulang kerja, capai, mau istirahat sebentar, lalu sholat isha, malahan bablas ketiduran sampai shubuh.

Namun dengan ini menimbulkan kesadaran baru, untuk pasrah total atas kehendak Allah.
Ketika saya berkehendak untuk sungguh-sungguh ber - iqro, malah Allah menidurkan saya. Padahal
saya berniat sungguh-sungguh untuk iqro. Sesuatu hal yang tidak masuk dalam logika atau rasio, bahkan pemikiran saya yang berasumsi asalkan kita bersungguh-sungguh maka kita bisa.
Pemikiran itu berobah total, bergeser, masuk plong s\pas seperti jalur atau jalan yang selama ini selalu kamu bicarakan dan jelaskan, yang saya mengerti namun tidak saya fahami dengan rasionalitas saya.


Akhirnya bangun pagi, saya mulai bisa memahami iqro secara sedikit.

Saya yang berdiri saat ini disisni adalah saya yang sama dengan bocah kecil dulu, sama dengan bayi yang tidak bisa apa-apa dan sama dengan segumpal darah(zigot) ketika terbuai, tak berbentuk manusia. tetapi tetap saja saya yang ada disini saat ini, maka untuk apa kesombongan, angkuh, rendah diri atau marah, sedih dll. dan akan sama nanti ketika mati.



Ok, saya lanjutkan nanti



From: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Sent:
 Mon, 17 May, 2010 9:48:50 PM
Subject:
 Bls: Mulai belajar
Sebetulnya , jangan langsung ke sholat, kontemplasi itu tidak harus di sholat. Justru di keseharian kita, saat bekerja, saat makan, dsb.
Coba mulai padukan dengan Patrap, Iqro sebenarnya alasan ber patrap.
Kita mulai dengan memanggil Allah...perlahan...kemudian dengan hati...kemudian
Mulai dengan ingat Allah......kalau sudah ada rasa sambung...mohonkan untuk diajarkan, ..siapakah yang harus membaca ?...diam..dzikir..
dianatara mau perpindahan rasa coba...menyintai...sampaikan ya Allah...saya mau Baca...sebagaiaman perintahmu...bantulah saya, apa yang harus saya baca...ijinkan saya membaca ya Allah...dengan namamu ya Allah....dst.....kalau sudah dapat feelnya....seperti ada daya...mulailah dari setetes darah...mengalir, dari berisi sari makanan...ataom....ternyata tubuh hanya atom yang diarangkai...dst....amati terus...seluruh tubuh, organ, jaringan, hingga ke se-selnya...ke atom-atomnya....coba di renungkan adkah peranan kita disitu....kalau benar akan ada rasa ketundukan....ikut kehendak Allah....bersama mengalirnya peredaran darah...atom...dst...dst....cobalah agak santai saja...karena yang bekerja...yang mengajar bukan kita....serahkan semua...jangan ada peran apapun dari kita...kita hanya menyiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk diajari...dst...dst...

perlahan saja...tidak harus satu hari selelsai...boleh seminggu atau dua minggu...kok...


Dari: IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Kepada:
 Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
Terkirim:
 Sen, 17 Mei, 2010 18:17:51
Judul:
 Mulai belajar
Saya sudah mulai mencoba menerapkan Iqro, Bacalah dalam sholat, akibatnya kepala menggeleng terus nggak bisa ditahan, terus menggeleng,
saya coba baca dan resapkan ayat berikutnya sudah mulai melemah .

Ok. Saya sudahi dulu, saya coba memahami ayat ini. Gelengan kepala ini nggak bisa ditahan, benar-benar menggeleng, tidak mau.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar