Januari 29, 2013

Kajian Mahabbah, Mengenali Jalan Cinta


Selepas kajian mengenai daya, telah di kupas di muka, ketika daya cinta berbicara kepada anak manusia. (Baca kajian Mahabbah dan Kisah Cinta Terlarang). Banyak sekali orang yang menafikannya. Mentertawakannya, jikalau toh memang cinta itu ada.  Hanyalah membuat orang malu membicarakannya. Anehnya. Seumur hidup cerita cinta,  terus diburu, dicari, berpacu dan berpicu  dengan waktu. Banyak kemudian di buat kisah-kisah antah barantah. Menjadi 'genre'. Semisal sinetron Korea atau lainnya.

Kemudian di jual lah kisah itu dengan harga murah. Sayangnya,  sejatinya banyak manusia tak mengenali, apa sebenarnya 'cinta', meski ada namun sebagaimana hantu penampakanya. Bahkan tak sedikit yang kemudian menjadi ketakutan bila 'jatuh cinta', munculah 'sinisme'. Untuk apa, dan akhirnya banyak sekali yang membuat 'parodi', romantisme anak manusia yang di landa demam cinta seperti itu.

Kisah cinta banyak dianggap sebagaimana nafsu manusia, di laknat dan di jauhi. Apalagi bila disandingkan dengan kisah-kisah para  resi dan rahib yang berpantang kawin. Kisah para ksatria yang menyepi menjauhi duniawi. Bertapa menjadi pilihan spiritual di jaman dahulu. Bahkan  menjadi 'trend' manusia masa kini, mereka menyiksa dirinya sedemikian rupa. Pemahaman seperti ini di kembangkan manusia menjadi aliran dan sekte di banyak agama, dalam bentuk dan manifestasi yang berbeda.

Sayang sekali pemahaman seperti ini menafikan sifat dasar manusia untuk mencintai dan di cintai, pemahaman seperti ini mengingkari kebutuhan manusia akan kasih sayang. Mereka selanjutnya mengharamkan perkawinan. Mereka anggap baik perbuatannya itu. Sungguh mereka lupa, bahwa pada diri Rosul terdapat teladan yang sempurna. Apakah para nabi dan Rosul memberikan contoh untuk menjauhi 'cinta' antara dua manusia ...?.

Mereka para nabi dan rosul, serta para orang sholeh, kawin layaknya manusia biasa. Mereka tidaklah bertapa. Mereka memahami cinta dan memahami nafsu. Mereka memohon perlindungan kepada Tuhannya dari pada nafsu yang tidak di ridhoi, bukan menjauhi atau malahan mengabaikannya. Karena sesungguhnya manusia masih memerlukan cinta dan nafsu itu untuk menjalani kehidupannya. Sebagaimana doa Nabi Yusuf, dalam paparan kisah yang sudah di tampilkan di muka. 

Dari sisi sebaliknya, memprihatinkan  kejadiannya,  jikalau betul memang ada cinta (baca; kasih sayang) dalam diri manusia, tentunya manusia di muka bumi ini tidaklah seperti ini ...?. Faktanya kekerasan dimana-mana, masih dengan atas nama cinta. Mulai dari perselingkuhan, hingga pelacuran ibukota. Belum lagi peperangan, dan kekerasan seksual lainnya. Dimanakah cinta kemudian berada..?. Benarkah mereka mengatas namakan 'cinta' ?. Slogan cinta dari Lelaki kepada wanita, dari ibu kepada anaknya, dari Pemerintah kepada rakyatnya, dan sebagainya. Hidup menjadi seperti fragmen buta. Tak nyana hasilnya, manusia terengah-engah memaknainya.

Apakah masih ada rahsa kasih sayang (baca; cinta) pada anak manusia dewasa ini..?. Cinta manusia kepada alam sekitarnya, kepada lawan jenisnya, kepada ibu bapaknya, kepada makhluk lainnya, baik yang nampak atau tak nampak yang di kenalnya atau tak di kenalnya, dan lain-lain sebagainya, masih banyak daripada itu.  Adakah manusia lupa bahwa sejatinya mereka menyandang nama Tuhan di muka bumi ini. 

Bahwa  Tuhan mereka adalah Dzat yang penuh dengan CINTA, adalah Dzat yang mensifati dirinya dengan sifat ar rohman dan ar rohiem, Dzat yang Maha pengasih dan Maha Penyayang. Sifat kasih sayang (baca; Cinta) adalah sifat yang mendasari di ciptakan mahluk-mahluk NYA. DIA menciptakan makhluk-Nya dalam liputan kasih sayang NYA. Agar manusia dan bersama makhluk lainnya saling mengenal dan ber kasih sayang. Bersama bertasbih mengagungkan Asma-NYA. Memahami kekuasaan NYA. Maha besar Allah yang maha pencipta maha tinggi segala perbuatannya. Maka ketika dipergilirkanlah rahsa kasih itu, rahsa sayang itu kepada hamba-hamba-NYA, Bagaimanakah manusia menceritakan dan mengkhabarkan kepada lainnya..?. Manusia mengalami kesulitan untuk meng khabarkan cinta.

Atas dasar cinta kasih, di ciptakan-NYA alam semesta ini. Mengapa kemudian kejadiannya jadi seperti sekarang ini..?. Hh. hh..  Maka cinta adalah selembar kertas putih yang di sediakan oleh yang Maha Pengasih dan Penyayang, terserah bagaimana manusia menyikapi dan bagaimana manusia akan menuliskannya. Maka layakah kita, manusia menuliskan CINTA..?. Bagaimanakah kemudian memilihnya, jika di hadapan kita ada dua jalan..?. Kebaikan dan kejahatan, semua atas nama cinta..?. dan bagaimanakah membedakannya ?. Manusia senantiasa, mengatas namakan Dzat Yang maha Pengasih dan Penyayang..?. (Setiap perbuatan selalu di awali dengan ucapan Bismillah hi rohmanir rohiem ). Benarkah mereka mengatas namakan Allah dengan ke maha kasih dan  sayang-NYA..?. Di sisi manakah diri kita..?.
Ketika manusia harus memilih (?)

Ketika manusia mencoba memilih keyakinannya, apakah yang terjadi..?.  Keyakinan seseorang tanpa di sadarinya, akan mlahirkan tampilan wajah manusia tersebut, apakah menjadi garang, menjadi gahar,  teduh, lembut, ataukah tampilan ramah lainnya. Bagaimana tampilan penganut keyakinan antara satu dan lainnya ?,  mungkinkah dapat kita amati perbedaannya ?.

Bila kita kaji contoh yang lebih sederhana lagi, misalnya senyuman. Meski terlihat sama tampilan sebuah senyuman, namun kita sering merasakan suatu perasaan yang berbeda. Dalam ungkapan rahsanya. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.  Semua akan muncul pada rahsa di jiwa manusia tersebut. Senyuman di gerakan oleh sebuah daya. Jika misalnya daya berasal dari Allah biasanya akan muncul rahsa sambung, atau  terasa nyaman dengan senyuman tersebut bagi lawan bicaranya. Bagi dirinya sendiri akan mengalir daya yang sering kita kenali sebagai ikhlas. Nah..kalau begitu bagaimanakah memilih suatu keyakinan yang mampu menumbuhkan sifat kasih sayang, yang menumbuhkan apa yang di katakan menjadi  manusia yang rahmatan lil 'alamin?.  Manusia yang muslim sejati..?.

Memang belumlah tuntas mengkaji semua daya, menarik untuk di kaji lebih jauh,  bagaimana implementasinya (?). Bagaimana ketika manusia di hadapkan kepada suatu pilihan, bagaimana relevansi dan peranan daya selanjutnya atas pilihan-pilihan manusia..?.

Manusia kelihatannya, seakan-akan, sepertinya mampu membuat pilihannya, kemudian  mereka memilih jalannya sendiri dengan akal dan logikanya. Manusia juga seolah-olah, dibuat untuk seakan akan  mampu memilih diantara dua pilihan jalan tersebut yaitu jalan kefasikan dan ketakwaan. Bukankah begitu..?. Dan begitu pulalah yang sering di dengungkan..?. Benarkah manusia itu sendiri yang memilih jalan ketakwaan itu sendiri..?.  Bagaimana memilihnya..?.

Bukankah setiap manusia fitrahnya akan selalu mencari dan memilih jalan ketakwaan ?.  Adakah yang keinginannya dengan sengaja memilih jalan kefasikan..?. Kalau begitu bagi manusianya sendiri, bagi dirinya, keinginannya tentunya, adalah hanya memilih jalan ketakwaan bukan..?. Nah loh !, Namun  bagaimana kenyataannya?, bagaimana kesudahannya ?. Bagaimana dengan pilihan-pilihan manusia yang kasat mata kita lihat dewasa inI..?.

Benarkah mereka memilih jalan ketakwaan ?. Kok hasilnya di Indonesia yang mayoritas muslim malahan seperti ini, korupsi, kekerasan, pelacuran, perselingkuhan, dan penyakit masyarakat lainnya semakin  merajalela..?. Hayo..!. Ataukah semua hanya merasa ke PeDe an saja..?!?. Ups..!. Karena faktanya yang kita lihat dewasa ini adalah kekerasan dan kekerasan lagi, di setiap level masyarakat kita. Kenapa teologi Islam belum mampu merubah tatanan masyarakat kita..?.

Hidup adalah pilihan.?. (Apakah cinta juga pilihan..?). Banyak sekali persepsi ini memasuki alam pikir kita..Bilamanakah kita harus memilih hidup dan bisakah ?. Disusupkan kepada jiwa manusia dua jalan; jalan kefasikan dan jalan ketakwaan ; jalan kebenaran dan jalan kesesatan;.jalan kebaikan dan jalan keburukan. Sebagaimana  dualitas alam semesta dan keberadaanya. Keberadaan baik dan buruk. Keberadaan Malaikat dan Iblis. Keberadaan siang dan malam. Keberadaan Senang dan sedih. Dan lain sebagainya. Dan sebagainya. 

Katanya  manusia di suruh memiilih. Pertanyaannya adalah, "Benarkah manusia mampu memilih dan membedakan dua jalan tersebut.?".  Bagaimana cara memilihnya. Apakah dengan memilih suatu keyakinan, kemudian manusia menjadi benar dalam segala tingkah lakunya..?.. Karena faktanya manusia yang melakukan klaim kebenaran bahwa mereka  telah memilih jalan yang benar, (jalan  ketakwaan), nyatanya hasilnya dapat kita tonton di berita sore ini. Sebagaimana kita lihat, bukankah banyak diantaranya, telah memiriskan kita umat Islam lainnya. Kalau begitu jalan siapa yang benar..?. Dia, aku, kau, kami, kita, atau jalan  mereka. Kemudian juga bagaimana kalau kita tidak memilih salah satu jalan mereka..?. Bagaimana memilih diantara 73 golongan itu, apakah salah satu diantaranya benar..?!?. Harusnya menjadi tanda tanya besar.

Jalan kesesatan dan ketakwaan menjadi tipis. Manusia menjadi sulit membedakan lagi. Ada manusia yang dengan lantang menyebut nama Allah yang Maha Pengasih nyatanya, membunuhi manusia lain dengan kejam, dan masih banyak contoh lagi lainnya. Benarkah hidup adalah pilihan manusia itu sendiri..?. Benarkah manusia itu  mampu memilih dan menentukan jalannya sendiri ?. 

Bagaimanakah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk memilih jalan yang benar..?. Fitrah manusia hanyalah ingin memilih satu jalan saja, yaitu ketakwaan. Kenapa hasilnya malahan kebalikannya ?. Manusia hanyalah mampu merasa telah memilih jalan yang benar. Bukan kebenaran yang sebenarnya. Setiap sekte, golongan atau mahzab akan merasa di jalan yang benar dengan dalil-dalilnya. Jangankan Islam, bagi para pemabuk, dan pelaku maksiat lainnya mereka juga akan merasa benar perbuatannya dengan alasan-alasan yang mereka buat sendiri dan mereka meyakini. Lantas bagaimanakah memilih jalan yang benar..?.

Bagaimanakah memilih salah satu dari 73 golongan yang di tawarkan kepada kita..?. Salah memilih adalah neraka jahanam akibatnya. Untuk inilah pilihan ada pada kita untuk hidup. Memilih surga atau memilih neraka di fase kehidupan berikutnya.  Walohualam.

salam
Arif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar